Chapter Nine

Kemeja Biru Tua

POV: Helena

Aku melihat kemeja biru tua itu di etalase saat sedang membeli hadiah untuk Papa. Potongannya sederhana, warnanya tenang, dan tanpa alasan masuk akal aku langsung membayangkan Aries memakainya.

Aku masuk ke toko hanya untuk melihat harga. Lima belas menit kemudian seorang pramuniaga membungkusnya.

“Hadiah untuk suami?” tanyanya.

“Bukan. Maksudnya, iya. Tapi bukan hadiah khusus.”

Pramuniaga tersenyum seperti sudah mendengar penjelasan serupa berkali-kali. “Ukuran suaminya berapa?”

Aku menjawab tanpa berpikir. Baru setelahnya aku sadar aku hafal ukuran bahu Aries dari kemeja-kemeja yang tergantung di lemari laundry.

Di kantor, kantong belanja itu berusaha kusembunyikan di bawah meja. Nadia menemukannya dalam waktu kurang dari tiga menit.

“Untuk siapa?”

“Papa.”

Dia melihat ukuran pada nota. “Sejak kapan Om mengecil sepuluh senti dan membentuk bahu seperti Kak Aries?”

Aku merebut nota. “Aku kebetulan lihat.”

“Kebetulan beli, kebetulan tahu ukuran, kebetulan pilih warna yang bikin suami kamu makin ganteng.”

“Dia belum tentu cocok.”

Nadia menyandarkan dagu di tangan. “Kamu berharap cocok.”

Aku menyuruhnya bekerja, tetapi kalimat itu ikut pulang bersamaku.

Aries sedang memasak ketika aku memberikan kantong tersebut. Dia mematikan kompor sebelum membukanya, seolah apa pun dariku pantas mendapat perhatian penuh.

“Ini apa?”

“Kemeja. Aku lihat waktu beli hadiah Papa.”

“Kenapa buat aku?”

Pertanyaan sederhana itu membuat semua alasanku terdengar buruk. Aku tidak bisa mengatakan diskon karena harganya penuh. Tidak bisa menyebut kebutuhan karena lemarinya cukup.

“Warnanya cocok sama kamu,” jawabku akhirnya.

Aries mengangkat kain itu, lalu menatapku. “Kamu membayangkan aku pakai ini?”

Nada suaranya datar, tetapi godaannya tepat sasaran.

“Aku membayangkan warnanya. Bukan kamu.”

“Kemejanya melayang sendiri?”

“Kalau nggak suka, kembalikan.”

“Aku suka.” Dia melipatnya kembali dengan hati-hati. “Terutama alasan belinya.”

Aku pergi ke ruang tengah sebelum wajahku membocorkan terlalu banyak.

Dua hari kemudian kami harus menghadiri makan malam keluarga. Aku turun sambil memasang anting dan menemukan Aries menunggu di dekat pintu memakai kemeja itu.

Aku berhenti.

Biru tua membuat kulitnya terlihat lebih hangat. Lengan kemeja digulung sampai siku karena ia sedang memperbaiki tali jam. Perhatian mataku tertahan pada urat di punggung tangan dan garis lengan yang biasanya tidak kuperhatikan.

Aries mengangkat wajah. “Ada yang salah?”

“Nggak.”

“Kancingnya?”

“Bagus.”

Dia melihat dirinya sendiri. “Celana?”

“Bagus.”

“Suaminya?”

Aku terlambat menjawab. Senyumnya muncul perlahan.

“Lumayan,” kataku.

“Tatapan kamu bilang lebih dari lumayan.”

Dia mengambil dua dasi dari meja dekat pintu. “Yang mana?”

Aku menunjuk abu-abu, tetapi ketika ia memasangnya, simpulnya sedikit miring. Tangan Aries sibuk mencari kunci mobil, jadi aku berdiri di depannya dan merapikan dasi itu tanpa berpikir.

Jarak kami tinggal beberapa sentimeter. Aroma sabun dan parfum tipisnya membuat konsentrasiku lebih buruk daripada gulungan lengan tadi.

Aries berhenti bergerak. “Aku bisa sendiri.”

“Simpulnya jelek.”

“Tadi katanya lumayan.”

“Orangnya. Dasinya gagal.”

Jari-jariku menyentuh kerahnya. Detak di lehernya terasa cepat, atau mungkin itu hanya detakku sendiri yang terlalu keras. Saat simpul selesai, aku seharusnya langsung mundur. Aku malah meratakan bagian depan kemeja di dadanya.

Tatapan Aries turun ke tanganku. “Kalau terus begini, yang bikin kita terlambat bukan aku.”

Aku mundur seketika dan mengambil tas. “Berangkat.”

Dia tidak mengejar dengan godaan lain. Senyum kecilnya sudah cukup membuat perjalanan dari pintu ke mobil terasa terlalu panjang.

Aku mengambil tas. “Kalau terus bicara, kita terlambat.”

Di mobil, aku berusaha melihat jalan. Setiap kali Aries memindahkan persneling, lengan bajunya tertarik sedikit. Aku mulai menyesali pilihan warna yang terlalu berhasil.

Makan malam berlangsung ramai. Seorang tante memuji kemeja Aries dan bertanya siapa yang memilih. Sebelum ia menjawab, Nadia menunjukku dari seberang meja.

“Kak Helena. Pakai riset ukuran segala.”

“Aku nggak riset.”

“Benar,” kata Aries. “Istri aku hafal.”

Meja langsung dipenuhi suara godaan. Aku menendang kaki Nadia di bawah meja, tetapi malah mengenai Aries.

Dia menoleh. “Kalau mau sentuh, bilang. Nggak perlu pura-pura salah sasaran.”

Aku hampir tersedak air. Sementara keluarga tertawa, Aries kembali makan dengan wajah tenang seolah tidak baru saja menghancurkan kemampuan bicaraku.

Mama yang duduk di sebelahku berbisik, “Pilihan kamu bagus.”

“Kemejanya?”

“Dua-duanya.”

Aku menatap piring agar Mama tidak melihat wajahku. Dulu komentar seperti itu akan membuatku menjelaskan bahwa pernikahan kami hanya sedang dijalani dengan baik. Malam itu aku tidak ingin memberi penjelasan apa pun.

Ketika seorang sepupu meminta Aries membantu mengambil foto keluarga, ia berdiri dan menggulung lengan lebih tinggi agar tidak mengenai saus. Mataku mengikuti lagi. Nadia menangkap basah dan mengangkat alis.

Ia mengirim pesan dari seberang meja: Kebetulan lihat lagi?

Aku membalas: Blokir.

Nadia mengirim emoji teropong. Aku menyimpan ponsel dan memaksa diri berbicara dengan Mama, tetapi kesadaran terhadap Aries tidak hilang hanya karena aku mengalihkan wajah.

Dalam perjalanan pulang, aku memutuskan menyerang balik.

“Kemejanya memang bagus,” kataku.

“Terima kasih.”

“Tapi gulungan lengannya terlalu tinggi.”

“Kenapa?”

Aku menatap tangannya sebentar, sengaja membiarkan ia menangkap arah pandangku. “Mengganggu konsentrasi.”

Aries hampir melewatkan belokan. Untuk pertama kalinya malam itu, ketenangannya retak.

“Itu balasan?” tanyanya.

“Aku cuma menyajikan fakta.”

Dia tertawa dan menurunkan gulungan lengan pada lampu merah. Aku justru menahannya.

“Nggak usah.”

Jari kami bertemu pada kain di lengannya. Tatapan Aries turun ke tanganku, lalu kembali ke wajahku. Udara di mobil berubah padat.

Aku melepaskan lebih dulu. “Sudah hijau.”

Sepanjang sisa perjalanan, Aries tidak menggodaku. Diamnya justru membuatku sadar ia sedang memberi ruang agar aku tidak malu atas keberanianku sendiri. Ketertarikan itu tidak dipakai untuk mendorongku lebih jauh.

“Kamu boleh ketawa,” kataku akhirnya.

“Kenapa?”

“Karena berhasil bikin aku salah tingkah.”

“Aku juga hampir melewatkan belokan.”

Pengakuannya membuatku menoleh. “Jadi seri?”

“Nggak. Kamu yang mulai dengan kemeja.”

“Kamu yang pakai.”

“Karena kamu memilihnya.”

Untuk sesaat, godaan kami berhenti menjadi permainan menang-kalah. Di balik kalimat itu ada pengakuan kecil: ia memakai sesuatu karena aku memikirkannya, dan aku senang melihat pilihanku tinggal di tubuhnya sepanjang malam.

Sesampainya di rumah, Aries tidak langsung mengganti baju. Dia berdiri di depan cermin ruang tengah dan merapikan kerah.

“Kayaknya kemeja ini akan sering dipakai,” katanya.

“Terserah.”

“Karena nyaman.”

“Bagus.”

“Dan efektif mengganggu konsentrasi.”

Aku mengambil bantal untuk melemparnya, tetapi dia sudah naik tangga sambil tertawa.

Malam itu bukan pertama kalinya aku mengakui Aries tampan. Yang berubah adalah tubuhku mulai bereaksi sebelum pikiranku bisa memberi nama: napas tertahan, mata mengikuti, dan jarak terasa lebih pendek daripada biasanya.

Kemeja itu kubeli karena kupikir warnanya cocok. Ternyata yang kutemukan adalah kesadaran yang jauh lebih merepotkan—aku menyukai cara suamiku terlihat di dalamnya, dan aku ingin melihatnya lagi.