Chapter Four
Sisi Luar Trotoar
POV: Helena
Acara ulang tahun Mama diadakan di restoran yang terlalu mewah untuk porsi makanan sekecil itu. Aku turun dari mobil sambil membetulkan gaun, lalu mendengar Aries berkata, “Tunggu.” Dia berjalan memutari mobil dan berdiri di sisi yang menghadap jalan sebelum mengulurkan tangan.
“Aku bisa turun sendiri.”
“Aku tahu.”
“Kamu sering bilang itu.”
“Karena kamu sering mengira dibantu berarti dianggap nggak mampu.”
Tangannya tetap terulur. Aku akhirnya menerimanya. Telapak tangannya hangat, genggamannya ringan, dan dia melepaskan begitu kedua kakiku stabil. Tidak ada gaya berlebihan. Tidak ada upaya mempertahankan sentuhan. Anehnya, justru pelepasan itu yang membuat tanganku terasa kosong.
Di dalam restoran, beberapa kepala menoleh ketika kami masuk. Pelayan yang sedang bicara kehilangan satu kata, sepupuku berhenti mengunyah, dan Nadia mengangkat kedua alis sambil menatap gaunku. Aku sudah terbiasa dengan reaksi semacam itu sejak lama. Aries hanya mendekat untuk berbisik, “Kalau mereka terus lihat, kita tagih tiket.” Aku menahan tawa.
“Kamu nggak cemburu?”
“Aku lebih khawatir makanannya keburu dingin.”
“Romantis sekali.”
“Aku suami praktis.” Namun ketika seorang kerabat jauh menyentuh punggungku terlalu akrab saat menyapa, Aries berpindah posisi dengan begitu natural hingga tubuhnya menjadi batas di antara kami. Dia tidak memasang wajah marah. Dia hanya menawarkan kursi dan mengalihkan percakapan. Orang lain mungkin tidak sadar. Aku sadar.
Nadia menarikku ke meja dessert.
“Suami kamu kalau menjaga orang halus juga, ya.”
“Dia cuma sopan.”
“Tentu. Dan aku cuma datang demi salad.” Piring Nadia memuat tiga jenis kue.
“Dia tadi tiga kali tukar posisi supaya kamu nggak di sisi lorong pelayan.” Aku melirik ke arah Aries. Dia sedang bicara dengan Papa, tenang dan sesekali tersenyum.
“Kamu menghitung?” tanyaku.
“Aku bosan.”
“Cari hobi.”
“Hobi aku mengamati perempuan yang menikah tanpa cinta tapi mulai hafal gerakan suaminya.” Aku memasukkan satu sendok cake ke mulut Nadia agar dia diam. Dia tetap tertawa sambil mengunyah.
Sepanjang makan malam, aku mulai melihat pola yang sebelumnya luput. Aries menarik kursiku tanpa membuatnya seperti pertunjukan. Dia menukar gelas ketika pelayan hampir memberiku minuman yang terlalu manis. Saat pendingin ruangan membuatku menggigil, jasnya sudah berada di sandaran kursiku sebelum aku sempat meminta. Semua dilakukan sambil tetap mengikuti percakapan keluarga.
“Kamu memperhatikan aku terus,” katanya tiba-tiba. Aku hampir menjatuhkan garpu.
“Nggak.”
“Oke.”
“Jangan jawab oke kayak gitu.”
“Kayak gimana?”
“Kayak kamu tahu aku bohong.” Aries mengambil air minum.
“Aku nggak bilang apa-apa.”
“Wajah kamu bilang.”
“Wajah aku dari lahir begini.”
Aku menendang sepatunya pelan di bawah meja. Dia sama sekali tidak bereaksi, hanya sudut bibirnya terangkat. Beberapa menit kemudian ujung sepatunya menyentuh sepatuku sekali—balasan yang sangat kecil, tetapi membuatku duduk lebih tegak.
Setelah acara selesai, hujan turun. Mobil diparkir di seberang jalan. Aries membuka payung, memosisikannya lebih banyak di atasku, lalu mengambil sisi luar trotoar. Sebuah motor melintas melalui genangan. Percikan air mengenai celana Aries, sementara gaunku tetap kering.
“Celana kamu kena,” kataku.
“Bisa dicuci.”
“Kamu sengaja jalan di luar?”
“Di dalam sempit.”
“Bohong.” Dia menatapku, mungkin baru sadar aku memperhatikan.
“Kalau aku di sisi ini, kamu nggak kena kendaraan dari belakang.”
“Aku bisa jaga diri.”
“Aku tahu.” Jawaban yang sama, kali ini terdengar berbeda di bawah hujan.
Aku berhenti di bawah payung. Aries ikut berhenti.
“Mengetahui aku bisa bukan berarti kamu berhenti membantu, ya?” tanyaku.
“Harus?”
“Nggak tahu.”
“Kalau kamu mau aku berhenti, bilang.” Lagi-lagi dia menyerahkan keputusan kepadaku. Tidak defensif, tidak membuat kebaikannya menjadi alasan agar aku tunduk.
“Nggak usah berhenti,” kataku akhirnya.
“Tapi payungnya tengah. Kamu basah.” Aries menggeser payung sedikit. Bahu kami menjadi lebih dekat.
“Begini?”
“Masih terlalu ke aku.”
“Kepala kamu lebih mahal.”
“Dasarnya apa?”
“Riset investasi.”
Aku tertawa sampai harus memegang lengannya agar langkahku tidak goyah. Tangan itu hanya menempel beberapa detik, tetapi Aries langsung memperlambat langkah supaya aku nyaman. Dia tidak melihat tanganku. Kesengajaan untuk tidak melihatnya terasa lebih intim daripada jika dia menggenggam balik.
Di mobil, Nadia mengirim pesan: SUDAH PEGANG LENGAN SUAMI SENDIRI, BU? Aku buru-buru mematikan layar. Aries yang duduk di samping bertanya, “Kenapa?”
“Nadia butuh pekerjaan baru.”
“Aku bisa kirim lowongan.”
“Jangan. Dia akan melamar jadi auditor pernikahan kita.”
Aries tertawa. Lampu jalan bergerak di wajahnya saat mobil melaju. Aku menatap noda air di celananya, jas yang masih menyelimuti bahuku, dan tangannya yang kini santai di atas paha. Semua yang dia lakukan malam ini bisa disebut sopan santun. Namun sopan santun biasanya diberikan merata. Perhatian Aries selalu menemukan jalannya kepadaku.
Ketika sampai rumah, dia kembali berjalan di sisi luar meski jalan kompleks kosong. Aku tidak mengomentarinya. Aku hanya berjalan sedikit lebih dekat, cukup sampai lengan kami beberapa kali bersentuhan. Dan untuk pertama kali, aku tidak buru-buru menciptakan jarak.
Sebelum tidur, aku menggantung jas Aries di depan kamarnya. Noda hujan di bahunya lebih banyak daripada yang kusadari. Aku mengetuk pintu dan dia membukanya dengan kaus hitam.
“Jas kamu.”
“Taruh aja di bawah tadi.”
“Nanti kusut.”
“Aku punya jas lain.”
“Kamu selalu punya cadangan untuk semuanya?”
“Untuk jas, iya. Untuk istri, nggak.” Dia mengatakannya begitu saja, lalu mengambil jas dari tanganku.
Aku menatapnya terlalu lama. Aries berdeham pelan.
“Itu bukan flirting terencana.”
“Lebih bahaya kalau spontan.”
“Aku tarik kembali?”
“Nggak bisa. Sudah masuk telinga.”
“Kalau begitu simpan baik-baik.” Pintu kamarku hanya dua langkah di belakang, tetapi kakiku tak segera bergerak. Ada setetes air masih menempel di rambut dekat pelipisnya. Tanganku hampir terangkat untuk menghapusnya sebelum akal sehat kembali.
“Besok jasnya aku bawa ke laundry,” kataku.
“Nggak perlu.”
“Aku tahu.” Aku sengaja mengembalikan kalimat favoritnya.
“Tapi aku mau.” Aries memandangku, dan sesuatu yang hangat sekaligus hati-hati bergerak di matanya.
“Oke,” jawabnya. Satu kata itu terasa seperti dia baru memberiku ruang untuk melakukan sesuatu bagi dirinya.
Pagi berikutnya, Nadia menelepon hanya untuk bertanya apakah aku bermimpi tentang trotoar. Aku memutus panggilan. Dia mengirim pesan bertubi-tubi dan menyebutku pengantin denial. Aku mengetik bahwa seorang suami berdiri di sisi luar jalan adalah hal biasa. Nadia membalas: Kalau biasa, kenapa kamu bikin esai tiga paragraf ke aku semalam? Aku menatap riwayat chat dan baru sadar benar. Tanpa diminta, aku telah menceritakan seluruh perjalanan dari restoran sampai rumah.
Saat berangkat kerja, aku mendapati jas Aries sudah masuk kantong laundry di dekat pintu. Aku menempelkan catatan: Jangan protes. Sorenya dia mengirim foto catatan itu di meja kantornya. Rupanya dia melepasnya dan membawa kertas kecil itu. Pesannya berbunyi: Bukti bahwa aku mendapat perintah resmi dari istri. Aku membalas: Bingkai saja sekalian. Aries menjawab: Jangan kasih ide. Aku tertawa sendiri di tengah lift sampai dua rekan kerja menatap heran. Sepanjang hari, setiap ponselku menyala, ada bagian kecil dalam diriku yang berharap namanya muncul lagi.
Nadia menelepon lagi malam itu. Kali ini aku tidak memutus panggilannya. Aku membiarkannya meledek selama lima menit sebelum berkata Aries hanya sedang bersikap baik.
“Kalau cuma baik, kamu nggak akan tersenyum kayak orang baru dapat pesan rahasia,” jawabnya. Aku memeriksa pantulan wajahku di kaca jendela dan buru-buru meratakan bibir. Nadia tertawa makin keras. Setelah telepon berakhir, aku membuka kembali foto catatan yang dikirim Aries, lalu menyimpannya tanpa alasan yang bisa kujelaskan.
Ketika Aries pulang, aku sedang duduk di ruang tengah dengan laptop. Dia berhenti sebentar, mungkin heran melihatku belum masuk kamar.
“Sudah makan?” tanyanya.
“Sudah. Kamu?” Dia menggeleng. Aku menunjuk kotak makanan yang sengaja kusisakan.
“Ada di dapur.” Aries memandangku cukup lama hingga aku salah tingkah.
“Jangan lihat begitu. Aku cuma pesan kebanyakan.”
“Aku belum bilang apa-apa.”
“Wajah kamu bilang.” Dia tertawa karena kalimatnya kukembalikan. Saat dia berjalan ke dapur, aku sadar perhatian bisa menular. Mungkin terlalu mudah.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar reading
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 35 Pulang