Chapter Six

Sarapan yang Kutunggu

POV: Helena

Alarmku berbunyi pukul enam, empat puluh menit lebih cepat dari biasanya. Aku mematikannya sambil menatap layar dan bertanya-tanya kenapa semalam aku merasa perlu mengubah jadwal hanya karena Aries pernah bilang dia sarapan pukul setengah tujuh.

Aku bisa tidur lagi. Kantorku baru mulai pukul sembilan.

Dari lantai bawah terdengar bunyi ketel dan pintu lemari dibuka. Tubuhku bangun sebelum harga diriku sempat menyusun alasan.

Ketika masuk dapur, Aries sedang membagi telur ke dua piring. Dia melihatku, lalu melihat jam dinding.

“Ada rapat pagi?”

“Nggak.”

“Insomnia?”

“Aku memang biasa bangun jam segini.”

Aries menatap rambutku yang masih kusut dan kaus yang kupakai terbalik. “Tentu.”

Aku duduk dengan kesal. Di depanku sudah ada kopi dengan susu sedikit, persis seperti yang kusukai. Aries tidak bertanya kenapa aku datang. Dia hanya mendorong piring kedua ke arahku dan kembali membaca berita di tabletnya.

Lima menit pertama kami makan dalam diam. Bukan diam canggung seperti minggu pertama pernikahan. Diamnya terasa seperti kami tidak perlu mengisi setiap ruang untuk membuktikan keadaan baik-baik saja.

Aries kemudian membacakan judul berita tentang pria yang kehilangan mobil setelah lupa lokasi parkir selama tiga hari.

“Itu bisa terjadi sama kamu,” kataku.

“Aku hafal lokasi parkir.”

“Kamu menyimpan cadangan kunci di tiga tempat karena sering lupa.”

“Itu mitigasi risiko.”

Perdebatan kecil berlangsung sampai kopi kami habis. Saat berdiri, aku sadar sudah dua puluh lima menit tidak menyentuh ponsel. Biasanya sarapan adalah kopi yang kuminum sambil menjawab surel. Pagi itu aku berangkat tanpa merasa sudah bekerja sebelum hari dimulai.

Besoknya aku turun lagi pada waktu yang sama. Aries tidak berkomentar, tetapi ada dua telur di meja.

Hari ketiga, dia bertanya mau roti atau bubur untuk besok. Aku menjawab bubur sebelum menyadari pertanyaan itu mengandaikan aku akan kembali.

Hari keempat, kursinya kosong.

Kopiku tersedia di meja bersama catatan singkat: rapat dimajukan. Makan dulu.

Aku duduk, mencoba sarapan sendirian. Rasa kopinya sama, kursinya juga sama, tetapi meja mendadak terlalu luas. Setelah tiga suapan, aku mengambil ponsel.

Rapatnya sampai kapan?

Pesan terkirim sebelum sempat kuubah menjadi pertanyaan yang lebih netral.

Aries membalas beberapa menit kemudian: Mungkin sampai siang. Kenapa?

Aku mengetik tidak apa-apa, menghapusnya, lalu menulis: Buburnya kebanyakan. Besok beli satu porsi saja.

Padahal porsinya sama seperti kemarin.

Di kantor, Nadia menemukan aku sedang membaca ulang balasan Aries yang mengatakan ia akan mengurangi pesanan.

“Kamu kenapa senyum lihat chat?”

“Nggak senyum.”

“Mau aku panggil saksi?”

Aku meletakkan ponsel. “Aku cuma memberi evaluasi sarapan.”

“Tentu. Pernikahan kalian sangat profesional.” Nadia menarik kursi. “Kalau dia nggak ada tadi pagi, kamu kecewa?”

“Nggak.”

“Jawabannya terlalu cepat.”

Aku membuka laptop agar dia berhenti. Nadia justru menunjuk jam di pojok layar.

“Kamu sekarang datang kantor tiga puluh menit lebih pagi.”

“Bagus, kan?”

“Kamu bangun pagi, sarapan teratur, dan nggak lagi marah ke printer sebelum jam sepuluh. Aku harus kirim ucapan terima kasih ke suami kamu.”

Aku melempar pulpen. Nadia tertawa sambil pergi, meninggalkanku dengan satu kesimpulan yang tidak kusukai: kehadiran Aries di meja sarapan sudah mengubah bagian lain dari hariku.

Sore itu rapatku selesai lebih cepat. Biasanya aku akan membuka pekerjaan berikutnya, tetapi tanganku malah mengambil ponsel.

Sudah makan siang?

Aku menatap pesan yang baru kukirim. Selama ini pertanyaan itu hampir selalu datang darinya. Mengirimkannya kembali terasa seperti melangkah ke sisi rumah yang belum pernah kumasuki.

Aries membalas foto kotak makan kosong: Sudah. Terima kasih sudah tanya.

Tidak ada godaan. Justru kesederhanaan jawabannya membuat dadaku hangat.

Malamnya dia pulang membawa sebungkus roti kesukaanku. Aku sedang di sofa, menunggu tanpa mau mengakuinya.

“Kompensasi karena meninggalkan partner sarapan,” katanya.

“Siapa bilang aku partner?”

“Orang yang mengirim tiga pesan sebelum jam delapan.”

“Dua. Satu lagi koreksi bubur.”

Aries duduk di sampingku dan membuka bungkus roti. Kami meraih potongan terakhir bersamaan. Jemari kami bersentuhan.

Biasanya aku akan segera menarik tangan. Kali ini tidak. Aries juga diam, membiarkan keputusan ada padaku.

Aku mengambil roti itu, membelahnya, lalu memberikan setengah kepadanya.

“Besok jangan rapat pagi,” kataku.

“Itu permintaan?”

Aku bisa menyangkal. Sebaliknya, aku mengangguk. “Kalau bisa.”

Senyumnya kecil, tetapi cukup membuatku sadar ia memahami lebih banyak daripada yang kuucapkan.

“Besok aku di rumah,” katanya.

Lutut kami bersentuhan saat ia bergeser mengambil tisu. Tidak satu pun menjauh. Kontak kecil itu bertahan sampai roti habis, mengubah sofa luas menjadi ruang yang hanya cukup untuk dua orang.

Pagi berikutnya aku turun pukul setengah tujuh. Dua piring sudah tersedia, tetapi kopinya belum dibuat.

“Aku tunggu kamu,” kata Aries. “Biar kita mulai bareng.”

Aku mengambil dua cangkir dari lemari. Untuk pertama kalinya, sarapan itu bukan sesuatu yang disiapkan Aries lalu kuterima. Kami membuatnya bersama.

Ketika kopi hampir jadi, telepon kantor Aries berdering. Ia melihat nama penelepon, lalu mematikannya.

“Kalau penting?” tanyaku.

“Dia akan menelepon lagi.”

Benar saja, telepon berbunyi kedua kali. Aries mengangkat dan menjawab singkat bahwa ia akan mengirim dokumen setelah sarapan. Tidak ada permintaan maaf berlebihan atau janji meninggalkan meja saat itu juga.

“Kamu bisa kerja dulu,” kataku setelah panggilan selesai.

“Bisa. Tapi aku memilih sarapan dulu.”

Kalimat itu memantulkan pilihanku sendiri. Aku turun lebih pagi bukan karena ia meminta. Ia menyisihkan waktu bukan karena aku menuntut. Kebiasaan ini memiliki arti justru karena kami berdua bebas tidak melakukannya.

Aries mengeluarkan bubur dari wadah dan membaginya. Porsiku lebih sedikit daripada kemarin.

“Kamu benar-benar kurangi?”

“Ada evaluasi pelanggan.”

“Aku bukan pelanggan.”

“Partner?”

Aku memutar mata, tetapi tidak membantah.

Saat makan, aku bercerita tentang presentasi yang membuatku gugup hari itu. Biasanya aku menyimpan kecemasan kerja sampai masalahnya selesai. Aries tidak menawarkan solusi sebelum diminta. Ia hanya mendengarkan, lalu bertanya bagian mana yang paling membuatku khawatir.

Pertanyaannya memaksaku menyusun rasa takut menjadi sesuatu yang bisa dijawab. Setelah menjelaskan, beban di dadaku terasa lebih kecil.

“Mau aku cek materinya?” tanyanya.

Aku mempertimbangkan, lalu menggeleng. “Nggak perlu. Aku cuma mau cerita.”

“Oke.”

Tidak ada desakan untuk membantu. Ia menerima bahwa didengarkan sudah cukup. Aku sadar inilah alasan meja sarapan menjadi penting: bukan makanannya, melainkan ruang tempat aku boleh membawa bagian hidup yang biasanya kutangani sendiri.

Sebelum berangkat, Aries mengangkat cangkirnya. “Semoga presentasinya lancar.”

Aku menyentuhkan cangkirku ke miliknya. “Nanti aku kabari.”

Janji kecil itu keluar alami. Untuk pertama kalinya, aku tidak hanya menunggu bertemu lagi besok pagi. Aku sudah menyiapkan alasan untuk kembali kepadanya sore nanti.

Belum cinta, kataku dalam hati. Mungkin baru kebiasaan.

Namun ketika kursinya terisi dan meja kembali terasa pas, aku berhenti berpura-pura bahwa kebiasaan itu tidak penting.