Chapter Fifteen
Jangan Terlalu Baik Sama Aku
POV: Helena
Setelah Aries menyebutku rumah, semua kebaikannya mendadak memiliki berat. Pagi itu ia sudah mengisi bensin mobil pengganti, memperbaiki tali tasku, dan menyiapkan bekal sebelum pukul tujuh.
Aku berdiri di dekat pintu sambil memegang tas. “Jangan terlalu baik sama aku.”
Aries berhenti mengikat sepatu. “Selamat pagi juga.”
“Aku serius.”
Ia berdiri. “Aku salah apa?”
“Itu masalahnya. Kamu selalu melakukan semuanya dengan benar.”
“Aku pernah mencuci kaus kaki merah sama kemeja putih.”
“Bukan itu.”
Aku meletakkan tas karena tangan mulai gemetar. “Kamu terus mengerti, terus menjaga, terus mundur kalau aku belum siap. Aku nggak tahu harus berdiri di mana.”
“Di mana pun kamu nyaman.”
“Lihat? Jawaban kamu selalu tentang aku.”
Aries terdiam.
“Aku menerima semua ini,” lanjutku, “tapi aku belum bisa memberi sebanyak yang kamu kasih. Kalau suatu hari kamu capek, aku bahkan nggak tahu cara mempertahankan hidup yang sudah telanjur aku butuhkan.”
“Ini bukan kompetisi.”
“Buat kamu gampang bilang begitu karena kamu yang selalu memberi.”
Wajahnya berubah. Bukan marah, melainkan seperti seseorang yang baru menyadari kebaikannya juga bisa menutup pintu.
“Kamu pikir aku akan menagih?” tanyanya.
“Nggak. Justru itu yang bikin takut.”
“Kenapa?”
Air mataku jatuh. “Karena aku mulai ingin semuanya tetap ada.”
Pengakuan itu menggantung di antara kami. Aries melangkah satu kali, lalu berhenti sebelum menyentuh.
“Aku ada,” katanya.
“Sekarang.”
“Besok juga, kalau kamu masih mau.”
“Kenapa selalu aku yang menentukan?”
“Karena aku nggak mau kebutuhan aku jadi rantai buat kamu.”
Aku menghapus air mata dengan kasar. “Kalau kamu nggak pernah bilang butuh, aku akan terus merasa bisa hilang tanpa mengubah apa pun.”
Rahang Aries menegang. Untuk beberapa detik ia terlihat ingin memberi jawaban aman. Kemudian ia memilih jujur.
“Kalau kamu pergi, semuanya berubah.”
Aku menahan napas.
“Aku tetap akan kerja, makan, dan bangun pagi,” lanjutnya. “Tapi jangan kira itu berarti kamu nggak penting. Aku cuma nggak mau pentingnya kamu berubah jadi alasan menahan.”
Ia mengangkat tangan, lalu membiarkannya di udara—pertanyaan tanpa kata.
Aku menjawab dengan menutup jarak dan memeluknya.
Kedua tanganku melingkari pinggangnya. Wajahku menempel ke dada yang langsung menegang. Sesaat kemudian lengannya mengelilingiku.
Pelukan Aries kuat, tetapi tidak mengunci. Aku masih bisa mundur kapan saja. Justru karena itu aku merapat.
“Aku nggak mau pergi,” bisikku.
Napasnya terhenti. “Oke.”
“Jangan cuma oke.”
“Aku sedang berusaha nggak mengatakan sesuatu yang bikin kamu kabur.”
Aku tertawa kecil di antara tangis. “Coba.”
Tangannya mengusap punggungku sekali. “Aku senang kamu pulang ke aku.”
Kalimat itu tidak meminta janji. Ia hanya mengakui bahwa kehadiranku mengubah hidupnya.
Alarm rapat berbunyi dari ponselku. Aku tetap memeluknya beberapa detik lagi.
“Aku bakal telat,” kataku.
“Aku bisa antar.”
Aku mundur cukup untuk melihat wajahnya. “Baru selesai bicara, kamu sudah menawarkan sesuatu.”
“Kebiasaan.”
“Kalau begitu malam ini aku yang jemput.”
“Kantor kita beda arah.”
“Kamu mau atau nggak?”
Aries hampir menjawab tidak perlu. Aku melihat kata itu berhenti di bibirnya.
“Mau,” katanya akhirnya.
Malamnya aku menunggu di lobi kantornya dengan dua kopi. Aries keluar bersama Raka, yang langsung melihat gelas di tanganku dan menepuk bahu sahabatnya.
“Akhirnya dijemput juga. Jangan menangis di parkiran.”
Aries mendorongnya menjauh. “Pulang.”
Raka menunjukku. “Kalau dia sok nggak butuh, jangan dipercaya.”
“Informasi diterima,” jawabku.
Di mobil, Aries menerima kopi tanpa menawarkan mengganti biaya atau mengajakku makan sebagai balasan.
“Rasanya bagaimana?” tanyaku.
Ia meneguk lagi. “Kebanyakan susu.”
“Bagus. Berarti kamu sudah berani jujur.”
“Tetap enak.”
“Jangan merusak kemajuan.”
Kami tertawa, dan ketakutan pagi tadi tidak hilang sepenuhnya, tetapi bentuknya berubah. Aku tidak harus mengejar jumlah kebaikan yang sama. Aku hanya perlu hadir dengan pilihanku sendiri, sementara Aries belajar membiarkanku.
Di depan kamar, aku memeluknya lagi. Kali ini tanpa air mata, tanpa hari buruk, dan tanpa kebutuhan menenangkan siapa pun.
“Ini apa?” tanyanya.
“Aku cuma mau peluk suami sendiri.”
Aries tertawa pelan. Lengannya membalas lebih cepat daripada pagi tadi.
Aku belum mengucapkan cinta. Namun dalam pelukan yang kupilih sendiri, tubuhku sudah berhenti memperlakukan Aries seperti seseorang yang mungkin harus kulepaskan.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku reading
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 35 Pulang