Chapter Twenty Five
Kotak yang Tidak Romantis
POV: Helena
Rencana mengganti tirai dapur berubah menjadi operasi membersihkan gudang karena Aries yakin batang tirai cadangan tersimpan di sana. Gudang itu kecil, berdebu, dan dipenuhi kardus yang diberi label terlalu spesifik, termasuk satu bertuliskan kabel yang mungkin masih berguna.
“Semua kabel menurut kamu mungkin masih berguna,” kataku sambil mengenakan masker.
“Karena suatu hari dunia akan membutuhkan kabel printer tahun dua ribu sebelas.”
“Kalau dunia sampai membutuhkan itu, berarti peradaban sudah berakhir.”
Aries menyerahkan sarung tangan kepadaku. “Setidaknya kita siap.”
Kami bekerja berdampingan. Aku memilah barang untuk disimpan dan dibuang, sementara dia diam-diam mengembalikan setengah tumpukan buang ke sisi simpan. Setelah memergokinya tiga kali, aku mengancam akan memanggil Nadia sebagai auditor.
“Itu pelanggaran hak pemilik gudang,” katanya.
“Rumah kita. Gudang kita. Sampah kita.”
Dia mengangkat tangan menyerah, meski sempat menyelamatkan satu adaptor yang bahkan tidak ia kenali. Debu menempel di rambutnya. Aku tertawa dan membersihkannya dengan ujung sarung tangan.
Menjelang siang, ponselnya berbunyi. Raka meminta bantuan mengambil mobil dari bengkel. Aries menolak meninggalkanku sendirian dalam lautan kardus, tetapi aku mendorongnya keluar.
“Pergi. Aku cuma akan menyortir dua kotak terakhir.”
“Jangan angkat yang berat.”
“Aku lebih kuat dari harga diri kamu setelah kalah sama lemari.”
“Serangan pribadi dicatat.”
Dia mencium keningku sebelum pergi. Gerakan itu sudah menjadi sesuatu yang biasa, tetapi tubuhku masih selalu mengenalinya sebagai rumah yang menyala sebentar.
Kotak pertama berisi dokumen pajak. Kotak kedua tidak memiliki label, hanya lakban cokelat yang sudah menguning. Kukira isinya surat lama atau barang kuliah. Di bagian paling atas ada map plastik bening dan sebuah buku catatan hitam.
Aku membukanya tanpa rasa curiga. Halaman pertama bukan surat cinta. Isinya daftar nomor telepon: dokter keluarga Chandra, bengkel langganan Papa, apotek dekat kantorku, penjahit yang biasa memperbaiki blazerku, dan layanan derek dua puluh empat jam.
Di samping setiap nomor ada tanggal. Sebagian berasal dari empat tahun lalu.
Aku membalik halaman. Ukuran sepatu: tiga puluh delapan. Alergi: udang kecil, debu berat, obat dengan kandungan tertentu. Kopi: tanpa gula, susu sedikit. Migrain: kamar gelap, air hangat, jangan diajak bicara sebelum obat bekerja.
Tulisan tangan Aries rapi dan praktis. Tidak ada kalimat puitis. Tidak ada namaku dihiasi gambar hati. Justru karena itulah tenggorokanku mengencang. Semua detail itu tampak seperti daftar persiapan menghadapi keadaan darurat yang mungkin tak pernah melibatkannya.
Di dalam map ada nota apotek lama. Aku mengenali tanggalnya: malam setelah acara ulang tahun perusahaan Papa, ketika aku demam dan obat datang melalui satpam. Mama bilang asisten keluarga yang mengirim. Nama pembeli pada nota itu adalah Aries Ikrima.
Nota berikutnya dari bengkel. Dua tahun lalu, ban mobilku bocor di parkiran sebuah pusat perbelanjaan. Petugas keamanan tiba bersama teknisi begitu cepat sampai aku menganggap mereka kebetulan sigap. Nomor Aries tertulis sebagai pihak yang menghubungi.
Ada tanda terima pengiriman kopi ke kantorku pada minggu presentasi besar, dibayar tunai tanpa nama pengirim. Ada salinan jadwal penerbangan saat aku pertama kali bepergian sendiri untuk pekerjaan. Ada kartu nama dokter yang menangani Mama ketika tekanan darahnya turun di sebuah pesta.
Aku duduk di lantai karena kakiku mendadak tidak kuat menyangga. Debu beterbangan di sinar yang masuk dari ventilasi. Kotak itu sama sekali tidak romantis. Tidak ada bunga kering atau foto rahasia. Isinya bukti bahwa seseorang telah menjaga tepian hidupku jauh sebelum aku tahu harus mencari wajahnya.
Ponselku bergetar. Pesan Aries masuk: Sudah makan? Jangan bilang lupa karena gudang.
Aku menatap pertanyaan sederhana itu sampai hurufnya kabur. Berapa kali kalimat yang sama datang selama bertahun-tahun melalui orang lain, pesanan anonim, atau kebetulan yang sebenarnya dia susun dari jauh?
Aku membalas bahwa aku sudah makan meski itu bohong. Sesaat kemudian dia mengirim foto Raka berdiri di samping mobil dengan ekspresi sengsara dan tulisan: pasien selamat, pemiliknya terlalu dramatis.
Biasanya aku akan tertawa. Kali ini dadaku terasa terlalu penuh.
Di dasar map ada daftar toko sepatu. Salah satunya diberi lingkaran dengan catatan: model yang nyaman untuk berdiri lama. Aku ingat menerima sepasang sepatu dari Mama sebelum pameran kantor. Mama bersikeras memilihnya sendiri, padahal seleranya tak pernah sesederhana itu.
Aku meneleponnya.
“Ma, sepatu hitam yang Mama kasih tiga tahun lalu, siapa yang pilih?”
Mama diam terlalu lama. “Kenapa tiba-tiba tanya?”
“Aries?”
Hembusan napasnya terdengar di sambungan. “Dia cuma kasih rekomendasi. Katanya kamu sering mengeluh tumit sakit setelah acara. Mama bahkan nggak tahu dia memperhatikan.”
“Sejak kapan dia melakukan hal-hal begini?”
“Mama nggak tahu semuanya.” Suaranya melunak. “Dia selalu minta kami jangan bilang. Katanya kalau kamu tahu, kamu akan merasa nggak nyaman.”
Setelah telepon ditutup, aku memeluk lutut. Tidak ada kebanggaan dalam catatan itu, tidak ada daftar jasa yang harus dibayar. Bahkan kotaknya disembunyikan di gudang, seolah perhatian sebesar itu hanyalah arsip yang tak pantas mengambil ruang di rumah.
Aku memeriksa buku hitam lebih jauh. Beberapa halaman memuat jadwal lama: hari presentasiku, pemeriksaan Mama, ulang tahun Papa, tenggat proyek yang pernah kukeluhkan di acara keluarga. Di sebelahnya ada pengingat singkat seperti kirim makan lewat Nadia atau pastikan Raka cek jalan pulang.
Nadia. Aku segera meneleponnya.
“Sebelum kamu marah, aku mau bilang aku cuma kaki tangan,” katanya setelah mendengar pertanyaanku.
“Berapa lama?”
“Lumayan.”
“Nadia.”
“Sejak sebelum kalian dijodohkan. Tapi nggak sering. Kak Aries nggak menguntit, ya. Dia cuma kadang tahu kamu sedang kesulitan dan menawarkan solusi tanpa muncul.”
“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”
“Karena dia minta. Dan karena setiap bantuan nggak pernah bikin kamu terikat.” Nadia berhenti bercanda. “Kalau kamu menolak, dia selalu mundur.”
Aku menutup mata. Seluruh cinta yang kukenal dari Aries bekerja dengan pola yang sama: datang cukup dekat untuk menolong, lalu menghapus jejak agar aku tetap merasa bebas.
Suara mobil terdengar di halaman. Aku belum siap, tetapi pintu gudang sudah terbuka. Aries muncul membawa dua bungkus nasi dan langsung melihat kotak di depanku.
Wajahnya kehilangan warna.
“Aku bisa jelasin,” katanya.
“Aku yakin kamu bisa.” Suaraku bergetar. “Masalahnya, aku nggak tahu harus mulai bertanya dari yang mana.”
Raka muncul di belakangnya, melihat situasi, lalu perlahan mengangkat bungkusan makan. “Gue taruh ini di dapur dan menghilang sebagai teman yang peka.”
Tidak seorang pun menertawakan leluconnya. Raka benar-benar pergi.
Aries berlutut di depanku, tetapi tidak menyentuh. “Aku nggak pernah bermaksud bikin kamu merasa diawasi.”
“Aku nggak merasa diawasi.” Aku mengangkat nota apotek. “Aku merasa seperti baru sadar ada seseorang yang memegang payung bertahun-tahun sementara aku mengira hujannya memang nggak pernah kena aku.”
Matanya jatuh ke kertas itu. “Kamu sedang sakit. Aku cuma—”
“Cuma membantu. Aku tahu.”
Dua kata itu mestinya menenangkan. Namun di dalam kotak, kebaikan Aries tidak lagi tampak kecil. Ia membentang melewati tahun-tahun ketika aku bahkan tak pernah mempertimbangkan kemungkinan mencintainya.
Aku meminta waktu untuk membaca semuanya. Aries mengangguk, berdiri, dan meninggalkan pintu terbuka. Bahkan sekarang dia masih memberiku ruang tanpa membuatku merasa ditinggalkan.
Aku menarik kotak itu lebih dekat. Di bawah buku hitam masih ada satu amplop dan beberapa lembar yang belum kubaca. Untuk pertama kalinya, aku takut pada kebaikan bukan karena ada harga di belakangnya, melainkan karena mungkin tidak ada harga sama sekali—dan aku belum tahu bagaimana menerima cinta yang telah hidup begitu lama tanpa pernah dipanggil namanya.
Dari dapur terdengar Aries membuka lemari, lalu menutupnya lagi tanpa mengambil apa pun. Kami terpisah satu dinding dan bertahun-tahun pengetahuan yang timpang. Aku mengenal kopi kesukaannya, ukuran kemejanya, dan cara matanya menyipit ketika menggoda. Namun kotak ini membuktikan ada seluruh masa lalu yang ia bangun sendirian. Aku menyentuh amplop terakhir, sadar bahwa setelah membukanya, cara pandangku terhadap pernikahan kami mungkin tidak akan pernah kembali sederhana.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis reading
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 35 Pulang