Chapter Thirty Five

Pulang

POV: Helena

Aku bangun menjelang subuh dengan leher pegal dan kepala masih di bahu Aries. Lampu ruang tengah tetap menyala, lebih pucat karena cahaya pagi mulai masuk dari jendela.

Aries sudah terjaga. Dia duduk diam agar tidak membangunkanku, mengulang adegan ketika aku pernah tidur dua jam di bahunya. Bedanya, kali ini aku tahu harga dari ketenangan tersebut.

“Kenapa nggak bangunkan?” tanyaku.

“Kamu kelihatan capek.”

“Bahu kamu?”

“Sudah mati rasa sejak satu jam lalu.”

Aku langsung tegak. Aries meringis sambil memutar lengan.

“Kamu bodoh.”

“Romantis.”

“Bodoh romantis.”

“Aku terima.”

Aku memijat bahunya sambil mengomel. Dia tersenyum dengan mata masih berat. Di meja, gelas air kosong berdiri di samping makanan yang belum disentuh.

“Kamu belum makan.”

“Aku ketiduran.”

“Aku panaskan.”

Aries menangkap tanganku. “Duduk dulu.”

“Kamu lapar.”

“Aku butuh kamu duduk dulu.”

Permintaan itu menghentikanku. Aku kembali ke sofa dan menghadapnya.

“Kenapa?”

Dia melihat sekeliling ruangan: lampu, selimut, foto kami, tanaman yang masih hidup meski jadwal menyiramnya sering diperdebatkan. Tatapannya kembali kepadaku.

“Kamu nggak perlu menunggu sampai pagi.”

“Aku tahu.”

“Aku serius. Aku nggak mau kamu kelelahan hanya karena merasa harus membalas apa yang dulu aku lakukan.”

Aku hampir tertawa karena bahkan pada akhir perjalanan ini, ketakutan lamanya masih muncul dengan pakaian baru.

“Aku menunggu bukan untuk membalas.”

“Tapi—”

Aku menutup mulutnya dengan telapak. “Dengar.”

Aries diam.

“Dulu lampu ini menyala untuk aku. Semalam aku menyalakannya untuk kamu karena aku ingin kamu tahu ada seseorang di rumah yang memikirkan kepulanganmu.”

Matanya mulai merah. Aku menurunkan tangan dan menggenggam kedua jemarinya.

“Kamu bukan cuma orang yang menyediakan rumah untuk aku. Kamu itu rumah.”

Napas Aries terhenti.

Aku mengucapkan lanjutan yang selama ini tumbuh bersama setiap sarapan, gelas air, pertengkaran, dan permintaan kecil kami.

“Rumah aku.”

Dia menunduk, menempelkan dahinya pada tangan kami yang bertaut. Bahunya bergerak sekali. Aku menunggu tanpa menariknya keluar dari emosi yang pantas ia miliki.

“Aku sudah ingin dengar itu terlalu lama,” katanya.

“Maaf baru sekarang.”

Aries mengangkat wajah. “Jangan minta maaf. Kita sudah sepakat terlambat bukan berarti sedikit.”

Aku mengangguk. Air mata jatuh, tetapi kali ini rasanya hangat.

“Ada satu hal lagi,” kataku.

“Apa?”

“Kalau dunia di luar bikin kamu capek, pulang aja.”

Kalimat itu menggantung di antara kami, sederhana seperti cahaya lampu dan sebesar seluruh rumah. Selama ini Aries menggunakannya dalam tindakan tanpa pernah meminta hak yang sama. Sekarang ia memiliki tempat untuk kembali, bukan hanya bangunan yang ia isi untuk orang lain.

Dia menarikku ke dalam pelukan. Tidak hati-hati seperti dulu ketika takut salah membaca keinginanku. Pelukannya erat, penuh, dan jujur tentang betapa ia membutuhkanku.

Aku membalas sama kuatnya.

“Aku pulang,” bisiknya.

“Iya.”

Aries mengulangnya sekali lagi, kali ini lebih jelas. “Aku pulang.”

Aku mengusap belakang kepalanya. Selama bertahun-tahun ia memahami pulang sebagai memastikan orang lain memiliki tempat aman. Sekarang kata itu juga berarti menyerahkan lelah, membiarkan diri dipeluk, dan percaya bahwa kehadirannya diinginkan bahkan ketika ia tidak sedang berguna.

Kami bertahan begitu sampai suara perutnya merusak momen. Aku mundur dan menatapnya.

“Itu alasan aku mau panaskan makanan.”

“Tubuh aku punya timing buruk.”

“Tubuh kamu lebih jujur daripada mulut.”

“Sekarang mulut aku sudah belajar.”

“Bagus. Minta sarapan.”

Aries menghapus air mata dengan punggung tangan. “Tolong temani aku makan.”

“Dengan senang hati.”

Kami membawa makanan ke dapur. Sup semalam masih baik setelah dipanaskan. Aku membuat dua gelas air dan meletakkannya berdampingan, bukan satu untuk orang yang dirawat dan satu untuk pemberi. Dua gelas untuk dua orang yang sama-sama boleh lelah.

Aries mengambil spidol kecil dan menandai dasar salah satu gelas dengan huruf A. Aku menandai gelas lain dengan H.

“Supaya nggak tertukar?” tanyanya.

“Supaya sama-sama punya tempat.”

“Kalau aku minum dari punya kamu?”

“Denda satu ciuman.”

Dia langsung menukar posisi gelas.

“Pelanggaran sengaja,” kataku.

“Aku sedang menguji sistem.”

Aku menagih dendanya di pipi. Aries protes bahwa lokasi pembayaran tidak disebutkan dalam peraturan. Perdebatan konyol itu membuat dapur yang sunyi kembali hidup.

Aries makan sambil sesekali menatapku. Tatapan keenam membuatku meletakkan sendok.

“Apa?”

“Aku cuma memastikan rumah aku masih di sini.”

“Jangan terlalu puitis sebelum kopi.”

“Kamu yang mulai.”

Aku menyodorkan sepotong roti ke mulutnya agar dia berhenti bicara. Dia menggigit sambil tertawa.

Setelah matahari naik, kami memutuskan mengambil cuti setengah hari. Vila masih bisa menunggu. Rumah ini, dengan sofa yang membuat leher sakit dan meja yang pernah goyah, terasa seperti tempat terbaik untuk berada.

Kami mematikan lampu ruang tengah bersama. Aries berdiri di belakangku, dagunya di bahuku, sementara tanganku menekan sakelar.

“Akhirnya mati,” katanya.

“Karena orang yang ditunggu sudah pulang.”

Dia mencium pipiku. “Dan orang yang menunggu?”

“Ikut tidur lagi.”

Kami naik ke lantai dua sambil berpegangan tangan. Di depan dua pintu kamar, langkah kami berhenti seperti kebiasaan lama. Dulu masing-masing pintu adalah batas yang membuatku aman. Sekarang keduanya hanya pilihan ruang, bukan jarak emosional.

Aku teringat malam pertama ketika Aries menunjukkan kamarku dan menegaskan pintunya bisa kukunci. Batas itu tidak pernah menjadi penolakan. Ia adalah hadiah kendali pada perempuan yang belum mencintainya. Karena dia menghormati pintu tertutup, aku akhirnya berani membukanya sendiri.

“Terima kasih,” kataku.

“Untuk apa?”

“Nggak pernah memaksa masuk.”

Aries memahami pintu mana yang kumaksud. “Terima kasih sudah membuka waktu kamu siap.”

“Kamar kamu atau kamar aku?” tanyanya.

Aku mengangkat alis. “Cuma tidur.”

“Aku tahu batasnya.”

“Kamar kamu. Kasur aku penuh dokumen.”

“Alasan yang sangat romantis.”

“Terima atau tidur sendiri.”

“Aku terima.”

Kami berbaring di atas selimut, masih berpakaian lengkap, dengan jarak yang segera hilang ketika aku menyandarkan kepala ke dadanya. Aries menarik selimut tipis sampai bahuku. Tidak ada implikasi lain, tidak ada langkah melewati batas yang kami pilih. Hanya dua orang yang akhirnya cukup aman untuk tidur tanpa menjaga pintu.

Sebelum mataku tertutup, Aries berkata, “Aku mencintai kamu.”

“Aku mencintai kamu.”

“Terima kasih sudah menunggu.”

“Terima kasih sudah pulang.”

Aku tertidur mendengar detak jantungnya.

Siang hari kami bangun karena Nadia menekan bel berkali-kali. Dia berdiri di depan pintu membawa koper kecil dan ekspresi tersinggung.

“Katanya mau ke vila. Aku sudah membuat bekal.”

“Kenapa kamu ikut?” tanyaku.

“Aku nggak ikut. Aku cuma mau memastikan kalian nggak membawa nasi goreng buatan Kak Helena.”

Aries mengambil kotak bekal darinya. “Keputusan bijak.”

Aku memukul lengannya. Nadia mengambil foto kami, lalu mengumumkan operasi selesai dengan tingkat keberhasilan seratus persen.

“Operasinya nggak selesai,” kataku.

“Kenapa?”

Aku melihat Aries. Dia sedang memeriksa isi bekal, tetapi senyum di wajahnya menunjukkan ia mendengarkan.

“Karena mencintai dia bukan proyek. Nggak ada tanggal selesai.”

Nadia membuat suara muntah palsu. Aries melempar tisu ke arahnya. Rumah kembali dipenuhi tawa.

Sebelum pergi, Nadia memeluk kami bergantian dan berbisik bahwa Mama menunggu kabar sejak pagi. Aku menelepon setelah pintu tertutup. Mama mendengarkan cerita tentang lampu tanpa menyela, lalu menangis cukup keras sampai Papa mengambil telepon dan menuduh kami membuat istrinya emosional sebelum sarapan.

“Kalian baik-baik?” tanya Papa.

Aku melihat Aries. “Baik. Lebih dari baik.”

Papa berdeham. “Kalau begitu datang makan minggu ini. Mama pasti memasak untuk dua puluh orang.”

Dari belakang terdengar Mama membantah bahwa hanya akan memasak untuk sepuluh. Aries tertawa, dan percakapan keluarga itu menjadi bagian lain dari rumah yang kami bangun—ramai, sedikit berlebihan, tetapi penuh orang yang ikut lega melihat kami akhirnya sampai.

Setelah Nadia pergi, kami menempel foto pagi itu ke papan dekat jadwal tanaman. Foto tersebut tidak sempurna: rambut kami berantakan, mata sembap, dan lampu masih menyala di belakang. Namun itulah bentuk cinta kami—tidak rapi, tidak datang bersamaan, tetapi nyata.

Di bawah foto, Aries menulis: pulang.

Aku menambahkan: selalu.

Sore nanti kami mungkin jadi pergi ke vila atau mungkin tertidur lagi di sofa. Besok pekerjaan akan kembali ramai. Akan ada kopi dengan susu terlalu banyak, makanan sedikit asin, ketakutan lama yang sesekali muncul, dan permintaan yang harus terus dilatih.

Aku tidak membutuhkan akhir yang sempurna. Aku hanya membutuhkan hidup yang terus kami pilih bersama.

Dua gelas air berdiri di meja. Satu lampu menunggu malam. Di sampingku ada lelaki yang dulu mencintai dalam diam dan kini berani berkata ingin. Aku menggenggam tangannya, dan ketika dia membalas, rumah itu tidak lagi menunggu salah satu dari kami pulang sendirian. Kami sudah sampai.