Chapter Thirty Two
Aku Memilih Kamu
POV: Helena
Aries pulih dua hari kemudian, tetapi sesuatu dari malam demam itu tetap tinggal. Dia mulai meminta hal-hal kecil: teh ketika tenggorokan kering, ditemani ke apotek, atau kepalanya dipijat setelah rapat panjang. Setiap permintaan terasa seperti kepercayaan yang diserahkan sedikit demi sedikit.
Aku ingin mengatakan cinta sejak lama. Kata itu berkali-kali berdiri di ujung lidah saat dia tertawa, saat dia menerima dompet baru, bahkan saat dia mengeluh bubur rumah sakit rasanya seperti kesedihan cair.
Namun aku tidak mau mengucapkannya sebagai obat setelah pertengkaran, hadiah karena dia sakit, atau penutup tangis. Aku ingin memilih hari biasa agar kalimat itu tidak bergantung pada krisis apa pun.
Kesempatan datang pada Jumat malam. Kami tidak punya rencana. Hujan turun, pesanan makan terlambat, dan Aries sedang memperbaiki kaki meja yang goyah sambil menggumamkan ancaman terhadap produsen furnitur.
Aku duduk di lantai menonton. “Kamu tahu jasa tukang ada untuk alasan tertentu.”
“Ini cuma satu baut.”
“Kalimat terakhir sebelum bencana.”
Kunci pas terlepas dan mengenai jarinya. Aries mengumpat pelan. Aku tertawa sebelum memastikan tangannya baik-baik saja.
“Istri yang suportif,” katanya.
“Aku mendukung keputusan kamu memanggil tukang.”
Bel berbunyi. Kurir membawa makan malam dengan satu minuman tumpah. Aries menerima sambil tetap berterima kasih, lalu memindahkan makanan ke piring agar terlihat lebih layak.
Kami akhirnya makan di lantai karena meja masih terbalik. Lampu kuning menyinari karpet pilihan kami. Selimut krem terlipat di sofa. Foto kami berdiri di rak bersama buku dan piringan hitam yang bercampur.
Tidak ada musik, bunga, atau pakaian khusus. Justru itulah yang kuinginkan.
“Aku mau bilang sesuatu,” kataku.
Aries berhenti mengunyah. “Serius?”
“Kenapa langsung tegang?”
“Nada kamu seperti pembukaan evaluasi tahunan.”
“Kalau kamu bercanda terus, aku batalkan.”
Dia meletakkan sendok. “Aku diam.”
Aku menatap wajah yang sekarang kukenal dalam banyak keadaan: tenang, menggoda, takut, lelah, demam, dan menangis. Dulu aku menerima cincin dari lelaki yang kukira baik. Sekarang aku mengenal manusia di balik kebaikan itu, termasuk bagian yang keras kepala dan terlalu mudah menghapus kebutuhannya sendiri.
“Aku mencintai kamu,” kataku.
Aries tidak bergerak.
Hujan terdengar lebih jelas karena seluruh ruangan mendadak diam. Aku membiarkan kalimat itu tinggal, tidak menambahkan penjelasan untuk menyelamatkannya.
“Kamu dengar?” tanyaku akhirnya.
“Dengar.”
“Terus?”
“Aku sedang memastikan demam aku nggak kembali.”
Aku mengambil bantal sofa dan melemparkannya. Dia menangkap, tetapi wajahnya sudah berubah. Matanya basah dan senyumnya seperti sesuatu yang terlalu besar untuk ditahan.
“Jangan bikin aku mengulang karena kamu lambat,” kataku.
“Tolong ulang.”
Permintaannya jujur, tanpa malu. Aku merangkak mendekat sampai duduk di depannya.
“Aku mencintai kamu, Aries.”
Namanya terasa tepat di ujung kalimat. Bukan sebagai tokoh dalam cerita yang sudah mencintaiku lebih dulu, melainkan lelaki yang kupilih setelah benar-benar kulihat.
Dia menarik napas, lalu mengembuskannya dengan gemetar. “Sejak kapan?”
“Aku nggak tahu satu tanggal.”
“Coba.”
“Mungkin ketika aku mulai menunggu sarapan. Mungkin waktu kamu pakai kemeja biru. Mungkin saat kamu menolak melupakan ciuman pertama. Atau mungkin cinta itu tumbuh setiap kali aku pulang dan menemukan lampu masih menyala.”
“Itu banyak mungkin.”
“Karena kamu terlalu sibuk memenuhi rumah dengan bukti.”
Aries menunduk. Aku mengangkat dagunya agar dia menatapku.
“Dengar sampai selesai. Aku nggak memilih kamu karena Mama menjodohkan kita. Bukan karena kamu baik, bukan karena kamu menunggu enam tahun, dan bukan karena aku merasa harus membalas.”
“Lalu karena apa?”
“Karena kamu membuat aku ingin tinggal. Karena kamu bisa membuat pagi biasa terasa layak ditunggu. Karena bahkan waktu menyebalkan, kamu tetap orang pertama yang ingin aku cari.”
Aku menggenggam kedua tangannya. “Aku memilih seluruh kamu. Bukan cuma suami yang selalu siap membantu. Aku juga memilih lelaki yang takut, keras kepala, menyimpan kabel rusak, dan menganggap nasi asin sebagai sarapan bersejarah.”
Dia tertawa sambil menyeka sudut mata. “Kabel itu masih bisa dipakai.”
“Lihat? Bagian ini juga aku pilih meski berat.”
Aries menatap jemari kami. “Kamu yakin?”
Dulu pertanyaan itu mungkin membuatku marah. Sekarang aku mendengar sisa ketakutan, bukan keraguan terhadap kemampuanku memilih.
“Yakin untuk hari ini, besok, dan setiap hari yang akan kita bicarakan bersama. Aku nggak akan menjanjikan hidup tanpa perubahan. Aku janji nggak akan membiarkan kamu menyiapkan akhir sendirian.”
“Aku mencintai kamu,” katanya.
“Aku tahu.”
“Boleh aku tetap mengatakannya?”
“Harus.”
“Aku mencintai kamu.”
Kali kedua membuat dadaku sesak dengan cara yang indah. Aku tersenyum, lalu menyadari dia masih menunggu sesuatu.
“Mau apa?” tanyaku.
“Boleh cium?”
Aries yang dulu selalu menebak kini meminta. Aku menjawab dengan mendekat lebih dulu.
Ciumannya lembut pada awalnya, seolah memberi ruang bagi kalimat kami menetap. Tanganku naik ke tengkuknya. Ketika aku menariknya lebih dekat, dia mengikuti tanpa melampaui batas yang kami kenal. Ciuman itu menjadi dalam, hangat, dan penuh rasa lega, lalu berhenti ketika kami perlu bernapas.
Dahinya menempel pada dahiku. “Aku sudah membayangkan ini terlalu sering.”
“Ciumannya?”
“Kamu bilang cinta.”
“Versi khayalan kamu bagaimana?”
“Biasanya ada musik.”
Dari luar, suara motor lewat menerjang genangan dengan keras. Aku menunjuk jendela. “Itu musiknya.”
Aries tertawa. “Dan meja kita terbalik.”
“Dekorasi modern.”
“Minumannya tumpah.”
“Simbol emosi meluap.”
Kami tertawa sampai sulit bernapas. Pengakuan cinta ternyata tidak mengubah rumah menjadi panggung sempurna. Kaki meja tetap rusak, makanan mulai dingin, dan rambutku berantakan karena hujan saat mengambil pesanan. Namun justru dalam ketidaksempurnaan itu kalimatku terasa benar.
Aries memelukku dan menyandarkan dagu di kepalaku. “Terima kasih sudah memilih aku.”
“Jangan berterima kasih seperti aku memberi hadiah.”
“Terus harus bilang apa?”
“Bilang kamu senang.”
Pelukannya mengencang. “Aku bahagia.”
Tidak ada kata cukup. Tidak ada usaha mengecilkan rasa bahagia agar lebih aman. Dia membiarkannya hadir sebesar yang ia rasakan.
Ponselnya berbunyi. Raka menanyakan kondisi meja setelah Aries mengirim foto baut patah sebelumnya. Aries memotret meja yang masih terbalik, lalu mengetik: meja belum, hidup gue sudah benar.
Aku membaca dari bahunya. “Dramatis.”
“Aku baru ditembak istri sendiri. Beri aku ruang berekspresi.”
Balasan Raka datang berupa dua puluh emoji menangis dan permintaan traktir. Beberapa detik kemudian Nadia ikut mengirim pesan karena kabar rupanya menyebar melalui jaringan yang terlalu cepat.
“Mereka tahu?” tanyaku.
“Raka cuma tahu aku bahagia.”
“Itu cukup buat dia membangun konferensi pers.”
Aries mematikan ponsel dan meletakkannya jauh. “Malam ini punya kita.”
Pilihan kecil itu membuatku tersenyum. Bertahun-tahun cintanya hidup sebagai urusan sunyi yang hanya ia tanggung. Kini kebahagiaan boleh diketahui orang lain, tetapi inti pengakuan ini tetap menjadi milik kami.
Kami menyelesaikan makan malam di lantai. Sesekali Aries menatapku tanpa alasan, lalu tersenyum sendiri. Pada tatapan kelima aku menyodok lengannya.
“Kenapa?”
“Istri aku mencintai aku.”
“Baru tahu?”
“Aku butuh waktu mengejar logika.”
Aku mencium pipinya. “Tubuh kamu boleh mengejar pelan-pelan.”
Setelah makan, kami memperbaiki meja bersama. Kali ini aku membaca petunjuk sementara Aries memasang baut. Kakinya akhirnya kokoh. Dia mengukir tanggal kecil di sisi bawah dengan pena permanen.
“Untuk apa?”
“Tanggal meja ini diperbaiki.”
“Bohong.”
“Tanggal aku mendapat evaluasi positif.”
Aku merebut pena dan menulis satu kata di sebelah tanggal: dipilih.
Aries membaca lalu mencium pelipisku. Kami membalik meja ke posisi normal. Tidak ada orang lain yang akan melihat tulisan tersembunyi itu, tetapi kami tahu ia ada—seperti fondasi kecil yang menahan semua hari biasa di atasnya.
Sebelum tidur, aku berhenti di depan pintu kamar seperti pada malam-malam awal pernikahan. Bedanya, kali ini tidak ada ketidakpastian tentang perasaanku.
“Selamat malam,” katanya.
“Aku mencintai kamu.”
Dia tersenyum lagi, masih sama terkejutnya seperti pertama kali. “Aku mencintai kamu.”
Aku masuk kamar dengan dada ringan. Cintaku memang datang belakangan, tetapi malam itu tidak ada satu pun bagian darinya yang terasa terlambat. Aku telah memilih Aries dengan mata terbuka, suara penuh, dan tanpa alasan selain karena hidup bersamanya adalah hidup yang kuinginkan.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu reading
- 33 Belajar Meminta
- 34 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 35 Pulang