← Chapters Ch. 9 / 37

Chapter Nine

Satu Jubah

POV: Amane Haruto · Musim semi, tiga hari setelah ujian lapangan


Aku menemukannya hari Rabu pagi, di depan cermin kecil di kamarku, sambil mengikat rambut.

Satu helai putih.

Dari akar sampai ujung. Bukan pucat, bukan pirang — putih, seperti benang jahit.

Aku berdiri memandanginya cukup lama, dengan sisir di tangan, dan hal pertama yang kupikirkan bukan hal yang seharusnya. Yang kupikirkan adalah: aku dua puluh empat, dan ini terlalu cepat, dan Ibu baru beruban di umur empat puluh delapan.

Lalu aku mencabutnya.

Ada rasa sakit kecil di kulit kepala, satu titik, sebentar.

Aku membuangnya ke perapian dan menyalakan api dan tidak mencatat apa pun di buku catatanku.


Tiga hari setelah distrik hilir, Menara Utara penuh sepanjang waktu.

Bukan luka baru. Luka lama yang salah dirawat: memar yang tidak dikompres, jahitan yang basah, satu anak yang berkeras jalan kaki empat kilometer dengan pergelangan kaki yang belum siap. Kelelahan yang muncul terlambat. Dan yang paling banyak — yang tidak akan kutulis di laporan mana pun — anak-anak yang datang ke klinik dengan keluhan yang jelas-jelas dibuat-buat, lalu duduk di kursi dan bicara panjang lebar tentang hal lain.

Aku hafal yang begitu. Itu bukan pasien. Itu orang yang belum bisa tidur sejak malam itu dan tidak punya tempat lain yang boleh dimasuki tanpa alasan.

Aku membiarkan mereka duduk. Aku selalu punya teh.


Ide datang hari Kamis.

Anak yang perutnya terbuka. Anak yang berkata “nunggu doang” di aula.

Ia berdiri di ambang pintu dengan wajah orang yang sudah menyiapkan pidato di tangga dan lupa seluruhnya di anak tangga ke seratus.

“Duduk,” kataku.

“Saya tidak sakit.”

“Duduk saja.”

Ia duduk. Ia memandangi tangannya sendiri selama mungkin satu menit penuh.

“Amane-san.”

“Hm.”

“Saya minta maaf.”

“Diterima.”

Ia mengangkat wajah, kaget. “Anda tidak mau dengar dulu—”

“Aku sudah tahu isinya.” Aku menyorongkan cangkir. “Dan kamu akan minta maaf lebih baik dengan cara lain.”

“Caranya?”

“Tahun depan, waktu ada yang bilang ‘nunggu doang’ di aula, kamu yang berdiri.”

Ia mengangguk cepat sekali, seperti orang yang diberi tugas.

Lalu ia berkata, agak pelan, “Kuromiya-san yang menunjuk saya duluan, ya? Malam itu.”

Aku berhenti menuang.

“Kata siapa?”

“Ōba-san cerita. Katanya Kuromiya-san menunjuk, terus Anda mengerjakan. Katanya begitu terus sepanjang malam.” Ia memutar cangkirnya. “Saya cuma... saya belum pernah bilang apa-apa ke Kuromiya-san. Kalau saya bilang terima kasih, apa itu aneh?”

“Aneh.”

“Ya sudah kalau begitu—”

“Aneh, tapi lakukan saja,” kataku. “Dia akan bingung selama tiga hari. Itu bagus untuknya.”


Yang berubah minggu itu bukan cuma jumlah pasien.

Kuromiya berubah, dan aku salah membacanya.

Ia jadi lebih cepat. Ia sudah ada di klinik jam tiga padahal jadwalnya jam empat. Ia mengambil alih hal-hal kecil tanpa bertanya — mengganti perban rutin, membersihkan luka dangkal, mengoleskan salep pada memar. Semuanya pekerjaan tangan, tanpa sihir, dan semuanya pekerjaan yang biasanya kukerjakan sambil lalu dengan satu sentuhan.

Hari Kamis aku menghitung: dari dua belas pasien, aku cuma menyentuh empat.

“Kamu tidak harus mengerjakan semuanya,” kataku, malam itu.

“Ini pekerjaan asisten.”

“Ini pekerjaan tiga asisten.”

“Berarti saya efisien.”

Aku pikir ia sedang mengalihkan diri. Itu wajar setelah malam seperti itu — sebagian orang jadi banyak bicara, sebagian jadi diam, dan sebagian mengubur diri dalam pekerjaan sampai tangan mereka terlalu sibuk untuk gemetar.

Aku pernah jadi yang ketiga. Aku tahu bentuknya.

Jadi aku membiarkannya, dan aku merasa cukup bijaksana karenanya.

Butuh berbulan-bulan sebelum aku mengerti bahwa aku salah total tentang siapa yang sedang ia lindungi.


Jumat malam, hujan.

Bukan hujan besar. Gerimis yang tebal, jenis yang tidak terlihat dari jendela tapi membuatmu basah kuyup dalam lima menit.

Aku sedang menutup jendela waktu Kuromiya mengangkat jubahnya dari kait.

“Antre payung,” kataku.

“Antre payung.”

“Berapa payung sekarang?”

“Dua. Yang satu patah minggu lalu.”

Aku mengambil jubahku sendiri dari kait.

“Ayo.”

“Ke mana?”

“Ke asrama Selatan. Aku antar.”

Ia berkedip. “Saya bisa jalan sendiri.”

“Aku tahu kamu bisa.” Aku memakai jubah dan membuka pintu. “Aku juga bisa duduk sendirian di menara selama empat jam. Kita berdua sedang memilih tidak melakukan hal yang bisa kita lakukan.”

Ia berdiri di sana dengan jubahnya setengah terpasang.

Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia mengikutiku keluar.


Seratus dua puluh anak tangga turun, dalam gerimis, dalam gelap.

Jubahnya basah di menit ketiga. Kainnya tipis — jubah standar asrama, dan asrama Selatan mendapat jatah kain terakhir setiap tahun, dan semua orang tahu itu, dan tidak ada yang pernah memperbaikinya.

Aku berhenti di pelataran bawah menara dan membuka jubahku.

“Masuk.”

“Apa?”

“Jubahku dua lapis. Yang luar kulit yang dilapisi lilin. Punyamu sudah tembus.” Aku mengangkat sisi kanan jubahku. “Kita masih tujuh menit dari asrama.”

Ia berdiri di gerimis, memandangiku, dan aku bisa melihat seluruh perhitungan berlangsung di wajahnya — bukan perhitungan yang kukira waktu itu.

“Ini akan terlihat,” katanya.

“Oleh siapa? Ini jam tujuh malam dan hujan.”

“Oleh Mochizuki-san.”

Aku memikirkan itu.

“Kalau begitu jangan kena flu untuk apa-apa,” kataku, dan tetap mengangkat sisi jubahku.

Ia masuk.


Berjalan berdua di bawah satu jubah adalah hal yang tidak bisa dilakukan tanpa saling menyentuh, dan itu kesalahan perhitunganku sendiri.

Bahu kami bersentuhan. Lalu lengan. Dan setelah lima langkah pertama yang canggung, ia harus berpegangan — kalau tidak, jubah itu akan terbuka dan kami berdua basah untuk apa-apa.

Ia melingkarkan tangannya ke lenganku.

Sarung tangan, kain, dua lapis lengan baju. Tidak ada kulit yang menyentuh apa pun. Secara teknis, tidak terjadi apa-apa.

Kami berjalan tujuh menit, dan aku tidak ingat satu pun kalimat yang diucapkan sepanjang tujuh menit itu, walaupun aku yakin kami bicara.

Yang kuingat: kepalanya kira-kira setinggi bahuku. Langkahnya lebih pendek dan ia menyesuaikan supaya sama, bukan aku. Rambutnya bau sabun akademi, yang sama untuk semua orang, tapi tidak terasa sama.

Dan yang kuingat paling jelas: aku menyadari, di tengah lapangan bawah, bahwa aku sudah dua tahun di dunia ini dan ini adalah pertama kalinya aku berjalan pulang bersama seseorang.

Bukan mengantar pasien. Bukan mengejar panggilan. Cuma pulang.

Aku tidak menyangka hal sekecil itu bisa terasa sebesar itu.


Kami melewati asrama Barat di menit kelima.

Aku mengangkat wajah — entah kenapa; mungkin karena cahayanya, gedung itu satu-satunya yang lampunya masih menyala di lantai atas.

Ada seseorang berdiri di salah satu jendela.

Terlalu jauh untuk melihat wajah. Yang kelihatan cuma siluet, dan rambut yang terikat tinggi, dan sikap berdiri yang tidak bersandar pada apa pun.

Siluet itu tidak bergerak selama kami lewat.

Aku menoleh kembali ke depan dan tidak memikirkannya lagi selama sekitar delapan bulan.


Kami sampai di gerbang asrama Selatan jam tujuh lewat dua puluh.

Ia tidak langsung melepaskan tangannya.

Bukan lama-lama yang dramatis. Mungkin tiga detik lebih lambat dari yang perlu — persis jenis keterlambatan yang sama seperti waktu ia memeriksa denyutku di minggu pertama, dan aku menyadari kesamaan itu dan langsung memutuskan untuk tidak memikirkannya.

Lalu terjadi hal yang tidak bisa kucegah.

Tanganku gemetar.

Di dalam jubah, di lengan yang sedang ia pegang, sekitar tiga puluh senti dari genggamannya. Datang tanpa peringatan, seperti biasa sekarang, dan lebih keras dari yang pantas untuk hari di mana aku cuma menyentuh empat pasien.

Aku merasakannya. Aku tahu ia merasakannya. Kain tidak bisa menyembunyikan hal seperti itu.

Aku menunggu ia bertanya.

Aku sudah menyiapkan jawabannya: kelelahan. Aku sudah memakai jawaban itu enam kali sejak minggu pertama, dan ia belum pernah percaya sekali pun, dan aku belum berhenti memakainya.

Ia tidak bertanya.

Ia cuma diam. Tetap memegang. Tidak menambah kekuatan, tidak melonggarkan.

Kami berdiri di gerbang asrama Selatan dalam gerimis selama mungkin dua puluh detik, dan gemetarnya berhenti, dan setelah gemetarnya berhenti ia melepaskan tangannya dan mundur satu langkah keluar dari jubah.

“Terima kasih,” katanya.

“Kembalikan jubahnya besok.”

“Ini jubah Anda. Anda masih memakainya.”

“Oh.” Aku melihat ke bawah. “Iya.”

Ia mengangguk sekali, seperti orang menutup rapat, dan berbalik masuk.

Lalu berhenti di gerbang.

“Amane-san.”

“Hm.”

“Kalau Anda kelelahan,” katanya, tanpa menoleh, “istirahat itu boleh.”

Ia masuk sebelum aku sempat menjawab.


Aku berjalan pulang sendirian dengan jubah yang sekarang terasa terlalu besar, dan naik seratus dua puluh anak tangga, dan berhenti di anak tangga ketujuh dari bawah tanpa alasan yang jelas.

Ia selalu berhenti di sana. Setiap kali. Aku sudah memperhatikannya selama enam minggu.

Aku berdiri di anak tangga itu dan melihat ke atas, ke arah pintu Menara Utara, dan menyadari bahwa dari titik ini kamu bisa melihat jendela klinik.

Dan kalau lampunya menyala, kamu bisa melihat apakah ada orang di dalam.

Aku memikirkan itu lebih lama dari yang wajar.


Malam itu aku menemukan helai putih kedua di bantal.

Aku memungutnya, membawanya ke perapian, dan berhenti sebentar sebelum membuangnya.

Lalu aku membakarnya, seperti yang pertama.

Dan aku menulis di buku catatan — bukan tentang itu; aku menulis daftar tugas untuk minggu depan, seperti biasa, dua puluh satu baris, semuanya rapi. Nama-nama pasien yang harus dikunjungi. Jadwal desa di kaki gunung. Persediaan yang perlu diambil.

Aku merobek halamannya dan menyelipkannya ke sampul depan, seperti biasa, supaya gampang dilihat.

Besok paginya halaman itu tidak ada di sana.

Aku mengira aku salah taruh.


Bersambung ke Bab 10 — “Yang Dianggap Pelengkap”