← Chapters Ch. 22 / 37

Chapter Twenty Two

Teh yang Tidak Panas Lagi

POV: Amane Haruto · Musim dingin, minggu ketiga


Salju pertama turun di Kagurayama tanggal delapan, dan sejak hari itu Menara Utara jadi tempat paling dingin di akademi.

Menara terkecil, dinding paling tipis, satu perapian.

Aku memindahkan meja kerja ke dekat api dan menggeser dua ranjang, dan itu membuat ruangan jadi sempit dan tidak masuk akal, dan tidak ada yang protes karena tidak ada yang datang ke Menara Utara untuk urusan estetika.

Aku juga mulai bangun lebih awal.

Bukan karena pekerjaan. Karena butuh waktu.

Musim dingin ini, tubuhku butuh sekitar sepuluh menit setelah bangun sebelum bisa berdiri tegak. Lutut dulu, lalu punggung bawah, lalu jari-jari. Kalau aku memaksa berdiri langsung, kaki kananku tidak mau menahan dan aku harus berpegangan pada kusen selama beberapa detik.

Sepuluh menit. Aku mengaturnya masuk ke jadwal seperti hal lain.

Aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa ini karena dingin.

Itu setengah benar, dan setengah benar adalah bentuk kebohongan yang paling nyaman dipakai.


Kami minum teh setiap pagi sekarang.

Itu dimulai tanpa ada yang mengusulkan. Setelah malam di lorong itu, Kuromiya mulai datang jam tujuh alih-alih jam sepuluh, dan aku mulai membuat dua cangkir alih-alih satu, dan tidak ada satu pun dari kami yang menyebutkan salah satu dari kedua hal itu.

Ini rutinitasnya: aku merebus, ia menuang, kami duduk di dua kursi yang dipindahkan ke dekat perapian, dan selama dua puluh menit tidak ada yang boleh dikerjakan.

Aturan dua puluh menit itu aturanku. Aku memberlakukannya di bulan kedua musim dingin, setelah menyadari bahwa kalau tidak ada aturan, kami berdua akan mulai bekerja di menit ketiga.


Hari Selasa, minggu ketiga, ia berkata:

“Ini kurang.”

“Kurang apa?”

“Manisnya.”

Aku mengangkat alis. “Kamu bilang ini terlalu manis sejak musim semi.”

“Sekarang kurang.”

Aku mencicipi punyaku. Sama seperti biasa. Takarannya sudah kuhafal sejak lama: tiga sendok penuh, ditambah setengah kalau susunya kurang menyusut.

“Aneh,” kataku.

“Tambah saja.”

Aku menambah setengah sendok.

Kamis, ia berkata lagi: “Masih kurang.”

Sabtu: “Kurang.”

Minggu berikutnya aku sudah sampai ke lima sendok, dan minuman itu sudah bukan teh lagi, dan aku berdiri di depan tungku dengan sendok di tangan berpikir bahwa mungkin gula kiriman musim dingin ini kualitasnya berbeda.

Aku menulis di daftar persediaan: cek pemasok gula.


Aku ingin menuliskan satu hari dengan lengkap, karena ini hari yang paling sering kupikirkan ulang.

Hari Rabu. Salju berhenti semalam. Klinik buka jam delapan.

Jam tujuh. Teh. Dua puluh menit. Ia memegang cangkirnya dengan dua tangan, seperti biasa, dan aku ingat berpikir: bagus, dia kedinginan juga, berarti bukan aku yang aneh.

Jam sembilan. Anak tingkat dua dengan luka bakar di telapak tangan — memegang panci di dapur asrama. Aku memindahkannya. Larut. Tanganku gemetar dua puluh menit setelahnya dan Kuromiya menggenggamnya sampai berhenti, seperti yang sekarang selalu ia lakukan, dan seperti biasa aku memperhatikan bahwa tangannya dingin dan seperti biasa aku menyalahkan sarung tangannya.

Jam sebelas. Ia menuang air panas dari ketel ke baskom dan aku berteriak.

Bukan berteriak marah. Berteriak seperti orang yang melihat sesuatu terjadi setengah detik sebelum sempat mencegahnya.

Ia menuang, dan uapnya naik, dan tangannya — yang tidak bersarung tangan karena ia baru saja mencuci — ada di dalam jalur uap itu, telapak terbuka, tepat di atas mulut baskom.

Selama mungkin tiga detik.

“Tanganmu!”

Ia menoleh. Menarik tangannya. Melihat telapaknya sendiri.

Merah.

“Oh,” katanya.

“Oh?” Aku sudah menyeberangi ruangan. “Kuromiya, itu uap air mendidih.”

“Saya tidak sadar.”

“Bagaimana bisa tidak sadar—”

“Saya sedang memikirkan hal lain,” katanya.

Dan aku menerimanya.

Aku menerimanya karena itu masuk akal, karena orang memang begitu, karena aku sendiri pernah memegang panci panas sambil memikirkan pasien.

Aku memindahkan luka bakarnya dan tidak berpikir apa-apa lagi tentang hal itu selama tiga bulan.

Tiga detik di atas uap air mendidih.

Ia tidak menarik tangannya sampai aku berteriak.


Jam empat sore. Bagian yang ingin kutulis.

Ia sedang menyalin catatan pasien di lantai, punggung ke kaki meja, seperti selalu. Aku sedang menghitung persediaan perban dan gagal dua kali karena aku terus kehilangan hitungan setelah angka tiga puluh.

“Duduk,” katanya.

“Aku sedang menghitung.”

“Anda sudah tiga kali mengulang dari awal.”

“Empat.”

“Duduk,” katanya lagi, dan berdiri, dan mengambil sesuatu dari laci meja.

Gunting bedah.

Aku menatapnya.

“Tidak,” kataku.

“Duduk.”

“Kuromiya.”

“Rambut Anda sudah tidak bisa diikat rapi,” katanya, dengan nada orang membacakan hasil pemeriksaan. “Yang putih dan yang hitam panjangnya beda karena Anda mencabuti yang putih dari akar selama tiga bulan, jadi sekarang ada bagian pendek yang berdiri sendiri di sisi kanan. Anda mengikatnya lebih rapat untuk menutupinya. Itu tidak berhasil. Semua orang melihatnya.”

Aku duduk.


Ia memotongnya di kursi klinik, di dekat perapian, dengan handuk di bahuku.

Gunting bedah tidak dibuat untuk memotong rambut. Bunyinya salah — lebih pendek, lebih tajam, tanpa gesekan panjang yang biasa. Setiap potongan terdengar seperti sesuatu yang diputuskan.

Ia bekerja dari sisi kanan.

Sepuluh menit tanpa satu kata pun.

Aku menutup mata sekitar menit kelima karena tidak tahu harus melihat ke mana lagi, dan karena kalau aku memandangi lantai aku akan melihat berapa banyak yang jatuh.

Tangannya sesekali menyentuh telingaku, pelipisku, tengkukku, dan setiap kali dingin, dan setiap kali aku berpikir: dia kedinginan sekali, aku harus menambah kayu.

“Sudah,” katanya akhirnya.

Aku membuka mata.

Pendek. Jauh lebih pendek dari yang pernah kupakai. Dan sekarang tidak ada lagi yang bisa disembunyikan: sisi kanan putih hampir seluruhnya, pelipis kiri bercak, bagian belakang masih hitam.

Aku memandangi diriku sendiri di cermin kecil yang ia angkat.

“Aku kelihatan seperti orang tua yang gagal.”

“Anda kelihatan seperti orang yang menyembuhkan dua ratus empat belas orang dalam delapan detik,” katanya.

Aku tidak punya jawaban untuk itu.


Ia menyapu lantai sesudahnya.

Aku menawarkan diri dan ia menolak, dan aku terlalu lelah untuk berdebat, jadi aku duduk di kursi dan menonton.

Aku menonton dia menyapu potongan rambutku ke satu tumpukan kecil di dekat perapian, dan aku pikir ia akan membuangnya ke api, karena itu yang selalu kulakukan, dan karena api ada di sana.

Ia tidak membuangnya ke api.

Ia mengambil sesuatu dari saku jubahnya — kotak kayu kecil, seukuran telapak tangan, jenis yang biasa dipakai menyimpan jarum — dan berlutut, dan memasukkannya.

Semuanya. Satu per satu, dengan tangan bersarung tangan, seperti orang memunguti jarum.

Butuh waktu lama sekali.

“Kuromiya.”

Ia tidak berhenti.

“Kenapa?”

“Kalau dibakar di dalam ruangan, baunya akan menempel di kasa,” katanya. “Saya buang di luar nanti.”

“Kotak jarum?”

“Ini kotak yang ada.”

Aku menerimanya.

Aku menerimanya karena penjelasannya masuk akal, karena bau memang menempel di kasa, karena kotak itu memang kotak jarum.

Aku duduk di kursi klinik dengan rambut baru yang setengah putih dan menonton seseorang berlutut di lantai memunguti potongan tubuhku satu per satu ke dalam kotak kayu, dan aku berpikir tentang bau di kasa.

Aku tidak pernah melihat kotak itu lagi selama empat belas bulan.

Aku melihatnya lagi persis satu kali, di lembah utara, di tengah lingkaran yang menyala, dan waktu itu isinya sudah tidak muat lagi dan tutupnya diikat dengan benang.


Malam itu aku menemukan sesuatu waktu mencuci.

Sayatan di pangkal telunjuk kanan — dari serpihan peti obat, empat hari lalu, dangkal, jenis yang biasanya kulupakan dalam dua hari.

Masih terbuka.

Tidak parah. Tidak memerah, tidak bengkak, tidak ada tanda infeksi apa pun. Cuma masih terbuka, dengan tepi yang bersih dan kering dan sama sekali tidak berminat menutup.

Empat hari.

Aku berdiri di depan bak cuci cukup lama.

Lalu aku membuka buku catatan medisku, ke halaman paling belakang, dan menulis di bawah angka 402:

Hari 1.

Aku menutup bukunya.

Aku memikirkan seorang gadis sembilan belas tahun yang melukai jarinya waktu memotong akar, dan seorang laki-laki dua puluh tiga tahun yang menghitung harinya, dan yang masih menghitungnya empat puluh tahun kemudian.

Tujuh puluh sembilan.

Aku tidur jam dua, dan besok paginya aku membuat teh dengan lima sendok gula, dan ia meminumnya dan berkata “kurang”, dan aku berjanji pada diriku sendiri untuk mengecek pemasok gula minggu depan.


Bersambung ke Bab 23 — “Musim Dingin Terpanjang”