Chapter Twenty Three
Musim Dingin Terpanjang
POV: Amane Haruto · Musim dingin, pertengahan
Festival Salju Hoshimori bukan festival resmi.
Tidak ada di kalender akademi. Tidak ada anggarannya. Yang ada cuma tradisi bahwa di hari salju paling tebal, kelas pagi dibatalkan karena tidak ada yang datang, dan pengajar-pengajar menyerah dan mengubahnya jadi hari libur supaya tidak terlihat kalah.
Tahun ini, hari itu jatuh pada tanggal dua puluh sembilan.
Mochizuki Koharu naik ke Menara Utara jam tujuh pagi.
“Tidak,” kataku, sebelum ia membuka mulut.
“Amane-san belum dengar apa-apa.”
“Aku sudah dengar seluruhnya. Kamu akan bilang klinik tutup hari ini, dan aku akan bilang klinik tidak pernah tutup, dan kamu akan mengancam menyalakan sesuatu.”
Koharu berdiri di ambang pintu dengan mulut setengah terbuka.
“...Anda menghafal naskah saya.”
“Kamu memakai naskah yang sama tiga kali.”
“Itu karena naskahnya berhasil tiga kali.”
Ia melipat tangan.
“Amane-san,” katanya, “hari ini tidak ada yang akan terluka, karena tidak ada latihan, tidak ada kelas, dan tidak ada saya di lab.”
Itu, harus kuakui, adalah argumen terkuat yang pernah ia bawakan.
Halaman dalam sudah penuh jam sembilan.
Mereka sudah memperbaiki dinding selatan — batu baru, warnanya beda, dan akan tetap beda selama dua puluh tahun sampai lumut menyamakannya. Semua orang tahu bagian mana yang baru. Tidak ada yang membicarakannya.
Yang dilakukan tiga ratus orang di halaman itu hari itu: melempar salju ke satu sama lain, dengan sangat serius, selama enam jam.
Nikaidō Sōta membentuk pasukan.
Aku ingin menuliskan bahwa itu berlebihan, tapi ia betul-betul membentuk pasukan: dua puluh tiga murid tingkat satu dan dua, dibagi jadi tiga regu, dengan sistem komando bertingkat dan sandi yang ia teriakkan dari atas peti.
“REGU KEDUA, MUNDUR KE GARIS DUA!”
“Nikaidō, mereka tingkat satu.”
“Amane-san, di medan perang tidak ada tingkat!” Ia menoleh. “REGU KETIGA, KENAPA KALIAN MEMBUAT BONEKA SALJU?”
Regu ketiga sedang membuat boneka salju.
Regu ketiga dipimpin Ōba Genta.
Boneka salju Genta selesai jam dua belas dan tingginya dua meter sepuluh.
Ia membuatnya sendirian selama tiga jam, dengan bantuan sesekali dari murid-murid tingkat satu yang dengan cepat menyadari bahwa mereka lebih berguna sebagai penonton.
Ia memberinya mata dari batu, hidung dari wortel yang jelas dicuri dari dapur, dan syal.
Syalnya syal Genta sendiri.
“Ōba, itu syalmu.”
“Dia lebih butuh, Amane-san.”
“Dia terbuat dari salju.”
Genta memandangi boneka itu dengan wajah yang tidak bisa dibantah.
“Tetap saja,” katanya.
Hoshizaki Ayaka datang jam satu.
Ini yang pertama sejak malam festival musim gugur. Sepuluh minggu.
Ia tidak berhenti membawa bekal — ia mengirimkannya lewat Genta, dua hari sekali, tanpa satu kata pun — tapi ia tidak pernah naik ke Menara Utara lagi, dan aku tidak pernah mencarinya, dan kami berdua tahu persis apa yang sedang kami berdua lakukan.
Ia berjalan lurus ke arahku di tengah halaman dan berhenti tiga langkah di depan.
“Amane-san.”
“Hoshizaki-san.”
Ia melihat rambutku.
Ia melihatnya cukup lama untuk membuatnya jadi sesuatu, dan lalu memutuskan untuk tidak menjadikannya sesuatu.
“Potongannya jelek,” katanya.
“Digunting pakai gunting bedah.”
“Kelihatan.”
“Kamu mau menghina dekorasi lain sekalian, atau cuma kepalaku?”
Ia melihat ke sekeliling — ke lampion kertas yang digantung asal-asalan oleh murid tingkat satu, ke boneka salju bersyal, ke Sōta yang berdiri di atas peti berteriak tentang garis dua.
“Semuanya,” katanya. “Semuanya jelek. Ini paling jelek yang pernah saya lihat.”
Lalu ia mengambil segenggam salju, memadatkannya dengan efisiensi seorang peringkat tiga besar Menara Barat, dan melemparkannya ke tengkuk Nikaidō Sōta dari jarak dua puluh meter.
Sōta jatuh dari peti.
Ayaka tinggal sampai malam.
Aku ingin mencatat hari itu dengan lengkap, karena ternyata itu hari terakhir yang seperti itu.
Jam dua. Kuromiya kalah telak dalam perang salju karena ia menolak melempar duluan dan menghabiskan seluruh pertempuran menjelaskan kepada Genta bahwa strategi bertahan murni secara statistik tidak pernah menang. Genta setuju sepenuhnya dan tetap tidak melempar duluan.
Jam tiga. Sōta menantangku duel salju “untuk menuntaskan yang dulu”. Aku menerima. Aku kalah dalam sebelas detik. Ia berteriak selama empat menit. Aku membiarkannya.
Jam empat. Koharu membuat sesuatu yang berpendar hijau di dalam bola salju dan tidak ada yang meledak, dan ia terlihat agak kecewa.
Jam setengah lima. Aku duduk di anak tangga menara dan tidak bisa berdiri lagi.
Ini bagian yang tidak kutulis di mana pun waktu itu.
Lututku berhenti bekerja setelah enam jam berdiri di salju. Bukan sakit — berhenti. Aku duduk di anak tangga paling bawah Menara Utara dan mencoba berdiri tiga kali dan tiga kali gagal, dan aku duduk di sana selama dua puluh menit menonton tiga ratus orang bermain, dan tidak ada satu pun yang menyadarinya karena semua orang sedang sibuk.
Kecuali dua orang.
Genta datang dan duduk di sebelahku tanpa berkata apa-apa dan tetap di sana sampai aku bisa berdiri. Waktu aku akhirnya berdiri, ia berdiri juga, dan berkata “Kaki saya juga pegal, Amane-san,” yang jelas bohong, dan yang merupakan kebohongan paling baik yang pernah diucapkan siapa pun kepadaku.
Dan Kuromiya, dari seberang halaman, tidak mendekat sama sekali.
Ia cuma berhenti bergerak, di tempatnya, selama dua puluh menit itu, dan menatap ke arahku, dan tidak datang — karena kalau ia datang, orang akan menoleh, dan kalau orang menoleh, mereka akan melihat.
Aku baru mengerti itu berbulan-bulan kemudian.
Jam enam. Matahari turun. Salju berhenti. Boneka salju Genta mulai miring.
Jam tujuh. Ada yang menyalakan api unggun di tengah halaman, yang jelas-jelas dilarang, dan tidak ada satu pun pengajar yang datang melarangnya.
Kami duduk melingkar. Sekitar empat puluh orang tersisa; sisanya sudah pulang ke asrama dengan pakaian basah.
Koharu tidur bersandar di bahu Genta. Sōta bercerita tentang bagaimana ia hampir memenangkan duel tadi, dan versinya sudah tiga kali lebih heroik dari kejadiannya, dan tidak ada yang mengoreksi.
Hoshizaki duduk di seberang api, menghangatkan tangan, mengejek dekorasi setiap sepuluh menit.
Kuromiya duduk di sebelah kananku.
Dan aku duduk di sana, di halaman dalam Akademi Hoshimori, di malam tanggal dua puluh sembilan, dengan lutut yang tidak bisa dipercaya dan sayatan di telunjuk yang sudah dua belas hari tidak menutup, dan aku sadar bahwa aku sedang bahagia untuk kedua kalinya dalam dua tahun, dan bahwa kali ini aku tidak perlu mencari-cari nama perasaannya.
Aku sudah tahu namanya sekarang.
Itu yang membuatnya jauh lebih buruk.
Boneka salju itu meleleh jam sembilan malam.
Bukan sepenuhnya. Api unggunnya terlalu dekat, dan setelah dua jam sisi yang menghadap api menyerah, dan seluruh benda itu runtuh ke satu sisi dengan bunyi basah yang pelan.
Syal Genta jatuh ke salju.
Semua orang tertawa.
Genta tidak tertawa.
Ia berdiri, berjalan ke sana, mengambil syalnya, dan berdiri memandangi tumpukan itu, dan bahunya mulai bergerak.
“Ōba,” kata Sōta, panik. “Ōba, itu cuma—”
“Saya tahu itu cuma salju!” Genta menyeka wajahnya dengan lengan. “Saya tahu! Saya tidak bodoh!”
“Ōba—”
“Saya cuma—” Ia menarik napas, besar sekali. “Saya cuma berpikir dia akan bertahan sampai besok.”
Dan lalu, karena hidup memang begitu, empat puluh orang di sekeliling api unggun itu bangun dan mulai membangunnya lagi.
Dalam gelap. Jam sembilan malam. Empat puluh orang.
Hoshizaki Ayaka, peringkat tiga besar Menara Barat, putri keluarga bangsawan, berlutut di salju dengan jubah upacaranya dan memadatkan dasar boneka salju dengan kedua tangan.
Koharu menyalakan sesuatu supaya mereka bisa melihat.
Kuromiya mengumpulkan salju dengan nampan klinik.
Sōta memimpin, tentu saja, dan komandonya sama sekali tidak berguna, dan tidak ada yang menyuruhnya berhenti.
Aku duduk di dekat api dan menonton, karena lututku sudah selesai untuk hari itu, dan Genta terus-menerus berkata “terima kasih, maaf, terima kasih” kepada setiap orang yang lewat.
Selesai jam sepuluh lewat. Tingginya cuma satu setengah meter dan bentuknya jelek sekali.
Genta memakaikan syalnya lagi.
Kurirnya datang jam sepuluh lewat dua puluh.
Aku melihatnya dari tempat dudukku: seekor kuda di gerbang bawah, penunggangnya turun sebelum kudanya berhenti sepenuhnya, dan berlari.
Tidak ada yang berlari begitu di malam hari kecuali ada alasannya.
Aku sudah berdiri sebelum aku sadar aku berdiri — lututku menahan; kadang begitu, kalau ada alasan — dan sekitar setengah dari orang di halaman itu belum menoleh, dan sebagian masih tertawa, dan Sōta masih memberi komando kepada boneka salju.
Kurir itu berhenti di depan pengawas jaga dan menyerahkan sesuatu.
Aku melihat pengawas itu membacanya.
Aku melihat wajahnya.
Dan lalu ia mengangkat wajahnya dan mencari sesuatu di halaman, dan yang ia cari adalah aku, dan ia menemukan aku dalam waktu kurang dari dua detik.
Api unggun masih menyala. Empat puluh orang masih tertawa. Boneka salju setinggi satu setengah meter dengan syal berdiri miring di tengah halaman dalam Akademi Hoshimori.
“Amane-san,” kata pengawas itu, dan suaranya menyeberangi seluruh halaman, dan satu per satu semua orang berhenti bicara.
“Retakan. Lembah utara. Terbuka empat jam lalu.”
Bersambung ke Bab 24 — “Keturunan Terakhir”