← Chapters Ch. 34 / 37

Chapter Thirty Four

Yang Dibacakan Keras-keras

POV: Amane Haruto · Ambang


Aku akan mencoba menuliskannya dengan tepat, dan aku akan gagal, dan aku minta maaf sebelumnya.

Tidak ada ruangan. Tidak ada arah. Tidak ada tubuh — dan yang ini paling sulit dijelaskan, karena kamu akan mengira artinya melayang, dan bukan.

Artinya: aku tidak punya tangan untuk gemetar.

Setelah dua tahun, itu hal pertama yang kusadari, dan aku tidak punya kata untuk perasaan yang mengikutinya.

Tidak ada waktu juga. Aku tahu itu karena aku mencoba menghitung — tentu saja aku mencoba menghitung; itu penyakitku juga, ternyata, bukan cuma penyakitnya — dan angkanya tidak mau berbaris.

Aku bisa saja di sana selama empat detik.

Aku bisa saja di sana selama empat puluh tahun.

Belakangan aku tahu jawabannya tiga hari, dan itu tidak membantu sama sekali.


Aku tidak sendirian.

Itu hal kedua.

Ada enam.

Aku tidak bisa melihat wajah mereka — melihat bukan kata yang benar; tidak ada satu pun kata di bab ini yang benar — tapi aku tahu ada enam, dan aku tahu berapa lama masing-masing sudah di sana, dengan cara yang sama seperti kamu tahu ruangan mana yang kosong tanpa harus mengeceknya.

Dua ratus tiga puluh delapan tahun.

Dua ratus dua.

Seratus enam puluh tujuh.

Seratus dua puluh tiga.

Delapan puluh.

Tiga puluh sembilan.

Yang terakhir yang paling dekat denganku.


“Kamu Ketujuh.”

Bukan suara. Aku akan menulisnya seperti suara karena tidak ada cara lain.

“Iya.”

“Berapa lama?”

“Dua tahun sembilan bulan.”

Ada sesuatu yang bergerak di antara keenamnya. Aku butuh waktu lama untuk mengenalinya sebagai apa.

Kaget.

“Dua tahun?” — yang paling tua, yang dua ratus tiga puluh delapan. “Aku empat belas.”

“Aku sebelas,” kata yang berikutnya.

“Delapan.”

“Tujuh.”

“Enam.”

“Empat,” kata yang terakhir, yang paling dekat. “Aku empat, dan aku sudah mengira itu yang terpendek.”

“Kenapa makin pendek?”

“Karena dunia itu makin ramai,” kata yang tertua. “Makin banyak orang, makin banyak luka, dan tetap cuma ada satu dari kita setiap kali.”

Hening — atau apa pun kata yang benar untuk hening di tempat yang tidak punya suara.

“Berapa yang kamu selamatkan?” tanya salah satu.

Dan aku menyadari, dengan sesuatu yang paling dekat rasanya dengan malu, bahwa aku tidak tahu.

Aku menghitung segalanya. Aku menghitung persediaan kasa, jumlah anak tangga, sisa hari, tujuh puluh sembilan.

Aku tidak pernah sekali pun menghitung yang itu.


Kami tidak bisa mendengar apa-apa dari dunia hidup.

Aku ingin mencatat itu, karena itu bagian yang paling kejam dan tidak ada yang memberitahuku sebelumnya: dari ambang, tidak ada apa pun yang masuk. Tidak ada suara, tidak ada wajah, tidak ada satu pun potongan dari tempat yang baru saja kamu tinggalkan.

Itu sebabnya mereka bertahan.

Kalau mereka bisa mendengar, mereka tidak akan sanggup.

“Kamu akan terbiasa,” kata yang tiga puluh sembilan tahun. “Butuh sekitar setahun.”

“Lalu apa yang kalian lakukan setelahnya?”

“Menunggu.”

“Menunggu apa?”

Dan tidak ada satu pun dari keenamnya yang menjawab, dan itu jawabannya.


Lalu ada suara.


Aku ingin berhenti di sini sebentar.

Enam orang di tempat itu — dua ratus tiga puluh delapan tahun, dua ratus dua, seratus enam puluh tujuh, seratus dua puluh tiga, delapan puluh, tiga puluh sembilan — dan tidak satu pun dari mereka pernah mendengar apa pun dari dunia hidup, sekali pun, dalam seluruh waktu itu.

Dan tiba-tiba ada suara.

Reaksi mereka bukan reaksi orang yang mendengar suara.

Reaksi mereka adalah reaksi orang yang sudah lama sekali lupa bahwa suara itu ada.


Suaranya perempuan, serak, dan sudah rusak — jenis serak yang datang dari bicara terlalu lama, bukan dari menangis.

Dan yang ia bacakan bukan mantra.

“Yuina benci ketumbar. Sisihkan diam-diam, jangan disebut, dia tidak akan bilang.”

Aku mengenali kalimat itu.

Aku yang menulisnya.

Aku menulisnya di klinik Menara Utara, dengan pena yang ujungnya sudah bengkok, di musim semi, di halaman yang kubuka di depannya karena aku tidak menutupnya padahal aku sudah menutup buku itu di depan tiga orang lain di hari yang sama.

“Mengetuk meja tiga kali kalau gugup.”

“Tidak takut pada orang. Takut pada jarak orang.”

“Berhenti di anak tangga ketujuh setiap kali turun. Belum tahu kenapa.”


Buku catatan itu hilang di musim gugur.

Aku ingat mencarinya. Aku menggeledah seluruh klinik selama dua hari. Aku menuduh diriku sendiri pikun dan menulis ulang tiga puluh entri terakhir dari ingatan, dengan kesal, sambil menggerutu.

Aku bertanya kepadanya apakah ia melihatnya.

Ia bilang tidak.


“Itu untuk kamu,” kata Hina.

Yang tiga puluh sembilan tahun. Yang paling dekat. Sembilan belas tahun, dan suaranya sembilan belas tahun, dan sudah begitu selama empat puluh tahun.

“Aku tahu.”

“Tidak. Maksudku—” Ada jeda. “Itu bukan mantra. Dia tidak sedang memanggilmu dengan mantra.”

“Lalu dengan apa?”

“Dengan alasan,” katanya.


Ia menjelaskannya, dan aku akan meringkasnya karena penjelasannya berantakan dan ia sendiri bilang ia baru mengerti setengahnya.

Jiwa tidak bisa ditarik. Tidak ada tali. Klan Kuromiya sudah mencoba selama enam ratus tahun dan mereka salah sejak awal, karena mereka mengira ini soal menarik.

Yang bisa dilakukan cuma satu: memberi alasan untuk berjalan ke satu arah.

“Dan tidak ada yang pernah punya alasan,” katanya. “Itu masalahnya. Orang di sana menangisi kami. Aku yakin ada yang menangisi kami. Tapi menangis bukan alasan.”

“Apa bedanya?”

“Menangis itu tentang mereka,” katanya. “Alasan itu tentang kamu.”

Suara itu terus membaca.

“Kalau dia diam terlalu lama, dia bukan marah. Dia sedang menghitung.”

“Tidak suka dipuji di depan orang. Puji waktu berdua saja.”

“Kalau dia bilang ‘saya tidak apa-apa’, tunggu tiga menit lalu tanya lagi.”

Ratusan.

Dua tahun. Aku menulis tentang semua orang yang pernah masuk ke klinik itu — Rikuto, Hanae, Genta, Sōta, Koharu, tukang kayu dari Ohaza yang namanya Take, anak yang pingsan karena tidak sarapan.

Yang ia bacakan cuma yang tentang dirinya sendiri.

Satu per satu. Tiga hari. Sampai suaranya habis dan ia terus membaca dengan suara yang tidak keluar.


“Ada yang menahanmu di sini,” kata Hina. “Kamu merasakannya?”

Aku merasakannya.

Aku sudah merasakannya sejak awal dan aku mengira itu bagian dari tempat ini: sesuatu yang menarik pelan dari satu arah, tidak keras, tidak memaksa, seperti benang jahit yang ditarik dari ujung yang jauh.

“Itu bukan kami,” katanya. “Kami tidak punya itu.”

“Apa itu?”

“Ada yang menyimpan potonganmu.”


Aku tidak mengerti kalimat itu selama beberapa saat.

Lalu aku mengerti, dan aku tidak ingin mengerti.

Rambut di lantai klinik. Empat helai di sisir. Separuh kepala di halaman dalam Hoshimori. Yang jatuh di kaki ranjang jam tiga pagi.

Kotak kayu kecil seukuran telapak tangan, jenis yang biasa dipakai menyimpan jarum, yang tutupnya sudah harus ditekan sejak musim dingin.

“Kalau dibakar di dalam ruangan, baunya akan menempel di kasa. Saya buang di luar nanti.”

Sembilan bulan.

Ia memungutinya sembilan bulan, satu per satu, dengan tangan bersarung tangan, seperti orang memunguti jarum — dan aku berdiri di sana dan mengangguk dan berpikir tentang bau di kasa.

“Berapa lama dia sudah tahu?” tanya Hina.

“Sejak hari pertama,” kataku.

“Dan dia tetap duduk di sebelahmu.”

“Iya.”

Hening.

“Kamu tahu,” katanya, “itu bukan kesetiaan. Itu jauh lebih menyeramkan dari kesetiaan. Dia menghitung mundur setiap hari selama sembilan bulan dan tetap datang jam tujuh pagi.”


“Berapa lama kalian di sini?” tanyaku.

“Sudah kubilang. Empat puluh tahun.”

“Bukan itu. Berapa lama kalian menunggu ada yang memanggil.”

Hina tidak menjawab.

“Tidak ada yang membacakan apa pun untuk kami,” katanya akhirnya. “Bukan salah mereka. Mereka tidak tahu caranya. Tidak ada yang pernah tahu caranya.”

“Aku bisa—”

“Tidak.”

“Kalau aku tetap di sini, mungkin aku bisa mencari—”

“Amane,” katanya, dan itu pertama kalinya ia memakai namaku. “Empat puluh tahun. Aku sudah mencoba semuanya yang bisa dipikirkan orang sembilan belas tahun dalam empat puluh tahun. Tidak ada apa-apa di sini.”

Jeda.

“Dan kamu punya orang yang sudah tiga hari tidak berhenti bicara padahal suaranya sudah habis.”


Yang lima lainnya sudah bergerak.

Aku tidak tahu cara menuliskannya. Mereka tidak melangkah; tidak ada tempat untuk melangkah. Tapi mereka berpindah dari satu posisi ke posisi lain, dan posisi barunya adalah di belakangku.

Keenamnya.

“Kamu tahu apa yang paling kupikirkan selama empat puluh tahun?” kata Hina.

“Apa.”

“Mesin di lantai tiga.” Suaranya sembilan belas tahun, dan tetap sembilan belas tahun, dan akan sembilan belas tahun selamanya. “Yang kalengnya selalu terlalu dingin. Semua orang mengeluh soal mesin itu dan semua orang tetap memakainya.”

“Punyaku di lantai tiga juga.”

“Aku tahu. Aku mendengarkan waktu kamu bercerita.”

“Kapan aku bercerita?”

“Di klinikmu,” katanya. “Musim semi. Hujan. Kamu bilang jam tiga pagi itu jam paling berat, bukan karena banyak kerjaan tapi karena sepi.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Kami mendengar sebagian,” katanya. “Sedikit sekali. Cuma yang tentang kami sendiri. Itu satu-satunya hal yang menembus ke sini — kalau ada yang menyebut kami.”

“Empat puluh tahun,” katanya, “dan yang menyebut namaku cuma satu orang tua yang mengajar sihir kuno kepada sebelas murid, tiga di antaranya tidur.”


Suara perempuan itu masih membaca.

Sudah sampai ke halaman-halaman terakhir. Aku tahu karena aku mengenali entri-entrinya: yang kutulis di musim dingin, waktu tulisanku sudah miring.

“Ada yang salah. Tidak tahu apa.”

“Terlalu banyak hal baik sekaligus.”

“1. Teh dihabiskan. 2. Jubah biru — musim dingin. 3. Minta diikat rambutnya. 9x/9 hari. 4. Tertawa untuk lelucon Nikaidō.”

Suaranya berhenti di situ.

Cukup lama.

Dan lalu ia membacanya lagi, dari awal. Seluruhnya. Dari halaman pertama.

Ratusan entri, untuk kedua kalinya, dengan suara yang sudah tidak ada.


“Pergi,” kata Hina.

“Aku tidak tahu ke mana.”

“Ke arah suaranya. Tidak ada arah lain di sini; itu satu-satunya arah yang pernah ada.”

“Kalau aku salah—”

“Amane Haruto.”

“Ya.”

“Kamu menghabiskan tiga puluh dua tahun dalam dua tahun,” katanya, “dan kamu tidak pernah sekali pun menghitung berapa orang yang kamu selamatkan.”

Jeda.

“Sekali ini saja, jangan hitung dulu.”

Dan Penyembuh Keenam — sembilan belas tahun, yang menandai sebuah halaman dengan pita untuk orang yang belum lahir, yang meninggal karena demam tiga minggu kemudian, yang sudah menunggu empat puluh tahun tanpa satu pun suara —

mendorong bahuku.

Mendorong. Bukan menarik.


Bersambung ke Bab 35 — “Harga”