Chapter Eight
Sembilan Orang dalam Satu Malam
POV: Kuromiya Yuina · Musim semi, distrik hilir Kagurayama
Aku menghitung empat puluh tiga benang di kereta pagi itu.
Empat puluh murid, tiga pengawas. Aku menghitungnya bukan karena ingin. Aku menghitungnya karena benang adalah hal pertama yang masuk ke mataku setiap kali aku memasuki ruangan berisi orang, sama seperti kamu tidak bisa masuk ke ruangan terang dan memilih untuk tidak melihat terang.
Panjang. Panjang. Panjang. Panjang dengan simpul di tengah — anak laki-laki tingkat dua, ada sesuatu yang hampir terjadi padanya sekitar sepuluh tahun lagi, dan ia akan melewatinya. Panjang. Panjang.
Empat puluh tiga.
Dan satu lagi, di kereta paling belakang, yang tidak kuhitung karena aku sudah menghitungnya setiap hari selama enam minggu, dan angkanya sudah kuhafal seperti orang menghafal jarak dari asrama ke menara.
Empat tahun tujuh bulan.
Waktu aku pertama kali melihatnya, lima tahun kurang sedikit.
Enam minggu. Lima bulan.
Aku sudah mengeceknya sebelas kali, dengan cara yang berbeda-beda, di jarak yang berbeda-beda, di pagi dan malam. Angkanya konsisten. Perbandingannya konsisten. Enam minggu waktu manusia, lima bulan hidupnya.
Aku belum tahu kenapa.
Itu bagian yang perlu dicatat, kalau nanti ada yang menuduhku diam terlalu lama: waktu itu aku belum tahu kenapa. Aku cuma tahu bahwa laki-laki di kereta belakang sedang bocor.
Distrik hilir Kagurayama terdiri dari tiga desa yang mengikuti aliran sungai, ladang gandum di kedua sisi, dan hutan pinus di sebelah barat.
Ujian dimulai jam sepuluh pagi. Sepanjang siang, semuanya persis seperti yang tertulis di pengarahan.
Kami memetakan jalur. Kelompok penahan berlatih formasi. Hoshizaki memimpin kelompok penyerang melewati simulasi tiga kali, dan tiga kali itu waktunya membaik.
Amane-san mengobati dua terkilir, satu memar besar, dan satu anak yang pingsan karena tidak sarapan.
Jam empat sore aku mencatat: empat tahun tujuh bulan, tidak berubah.
Segala sesuatu yang buruk selalu terjadi setelah jam empat sore. Aku sudah tahu itu sejak kecil. Klan-ku mencatat kematian selama enam ratus tahun, dan ada lebih banyak nama di paruh kedua hari daripada di paruh pertama, dan tidak ada yang pernah bisa menjelaskan kenapa selain “karena orang lelah”.
Yang pertama berteriak adalah pengintai di sisi barat, jam enam belas lewat empat puluh.
Kata yang ia teriakkan bukan kata yang ada di kurikulum.
Raveners.
Aku belum pernah melihatnya. Yang kutahu dari arsip: bukan binatang, bukan roh. Sesuatu yang bergerak seperti binatang tapi tidak punya benang di atas kepalanya, dan itu — bagiku, khususnya bagiku — adalah hal paling salah yang bisa dimiliki makhluk hidup.
Aku melihat mereka keluar dari garis pinus.
Sebelas ekor. Tidak ada benang. Sebelas lubang berbentuk binatang di dunia.
Aku merasa mual sebelum aku merasa takut.
Yang perlu kutulis tentang tiga jam berikutnya, aku akan tulis dalam urutan yang benar, bukan urutan yang kuingat. Ingatanku tentang malam itu berantakan. Yang tidak berantakan adalah angkanya.
Jam 16.51. Ōba Genta menahan celah di pagar batu bersama enam orang kelompok penahan. Ia berteriak sesuatu yang bunyinya seperti permintaan maaf. Ia tidak mundur satu langkah pun selama dua jam empat puluh menit.
Jam 17.03. Hoshizaki membakar sayap kanan. Api mereka bukan api biasa — cahaya, lebih tepatnya, panas yang membuat mata perih dari lima puluh meter. Ia memecah kawanan jadi dua dan menahan yang lebih besar di ladang.
Jam 17.10. Korban pertama sampai di titik aman.
Namanya Ide. Anak yang berkata “nunggu doang” di aula.
Perutnya terbuka.
Amane-san menoleh padaku.
Cuma itu. Ia tidak berkata apa-apa. Ia berlutut di sebelah anak itu, meletakkan tangannya, dan menoleh ke arahku dengan pertanyaan yang tidak perlu diucapkan.
Ini yang paling dekat?
Aku melihat benang Ide.
Empat menit. Mungkin lima.
“Iya,” kataku.
Ia mengerjakannya.
Aku melihat luka itu menutup dari dalam, dan aku melihat benang Ide berhenti memendek, dan aku melihat — di detik yang sama, di ruang yang sama, di ujung mataku —
benang Amane-san tersentak.
Bukan memendek pelan seperti biasa. Tersentak. Seperti tali yang ditarik dari ujung yang tidak kelihatan.
Aku memaksa diriku menghitung. Itu satu-satunya yang bisa kulakukan.
Dua bulan.
Satu nyawa, dua bulan.
Jam 17.22. Korban kedua dan ketiga datang bersamaan. Patah tulang paha, dan luka di leher yang untung sekali melenceng dari yang seharusnya.
“Yang mana?” tanya Amane-san.
“Leher.”
Ia mengerjakan leher.
Sentakan. Kuhitung: sekitar dua minggu.
Lalu paha. Sentakan lagi. Empat hari.
Jam 17.40. Korban keempat.
Jam 18.05. Kelima dan keenam.
Setiap kali sama. Ia menoleh, aku menunjuk, ia mengerjakan. Aku menghitung. Aku menyerahkan alat sebelum ia memintanya, karena aku sudah hafal urutan tangannya, dan setiap kali aku menyerahkan alat aku juga menyerahkan sesuatu yang lain, dan tidak ada satu orang pun di lapangan itu yang tahu selain aku.
Setiap kali?
Setiap kali.
Dia yang bilang begitu. Di halaman menara, jam lima pagi, saat langit masih abu-abu, dan aku bertanya karena aku sudah punya firasat dan ingin sekali firasat itu salah.
Aku ingin menulis di sini bahwa aku berhenti menunjuk.
Aku tidak berhenti menunjuk.
Ini bagian yang tidak akan pernah aku ceritakan kepada siapa pun, termasuk kepadanya, terutama kepadanya: di jam ketujuh belas lewat empat puluh, di antara korban keempat dan kelima, aku memikirkan untuk berbohong.
Ada anak perempuan dengan luka di bahu, dalam, tapi tidak fatal — benangnya tidak bergerak. Ia akan hidup dengan atau tanpa Amane-san. Ia cuma akan sangat kesakitan selama sekitar delapan minggu.
Aku bisa mengatakan: yang itu bisa nanti.
Aku sudah membuka mulut untuk mengatakannya.
Lalu anak itu menoleh ke arahku, dan menangis, dan berkata “tolong”, dan aku menunjuknya.
Sentakan. Sepuluh hari.
Aku membayar sepuluh hari hidup laki-laki itu untuk delapan minggu rasa sakit orang lain, dan aku memutuskannya sendirian, dalam satu setengah detik, tanpa memberi tahu siapa-siapa.
Itu yang tidak dimengerti orang tentang klan Kuromiya. Mereka pikir kutukan kami adalah melihat.
Bukan. Kutukan kami adalah bahwa setelah melihat, semua yang kami lakukan jadi pilihan.
Jam 19.20. Ketujuh.
Jam 19.55. Kedelapan.
Sekitar jam delapan malam, hal lain mulai terjadi, dan aku butuh waktu untuk menyadarinya karena aku terlalu sibuk menghitung angka yang salah.
Amane-san mulai lambat.
Bukan lambat yang kentara. Setengah detik lebih lama sebelum meletakkan tangan. Satu tarikan napas tambahan sebelum berdiri. Ia mengambil kasa dengan tangan kiri padahal ia kidal kanan, dua kali, lalu berhenti melakukannya — aku curiga karena ia sadar aku melihat.
Jam delapan lewat dua puluh ia menjatuhkan gunting.
Ia memungutnya dan berkata, “Licin,” dan tidak ada apa pun yang licin di tenda itu.
“Amane-san.”
“Berapa lagi yang di luar?”
“Amane-san, Anda harus—”
“Kuromiya.” Ia menoleh, dan wajahnya sudah bukan wajah yang biasa dia pakai. “Berapa lagi yang di luar.”
Aku melihat ke arah pintu tenda.
Aku bisa melihat benang orang-orang di lapangan dari sini. Itu satu-satunya hal berguna yang pernah diberikan mataku kepada dunia.
“Satu,” kataku. “Yang serius, satu.”
Yang kesembilan dibawa masuk oleh Ōba Genta jam sembilan kurang seperempat, dan Genta menangis sepanjang jalan masuk, dan Genta tidak menangis karena takut kali ini.
Anak perempuan tingkat satu. Empat belas tahun.
Aku melihat benangnya dari jarak lima belas meter, sebelum ia sampai di tenda.
Habis.
Bukan pendek. Habis. Yang tersisa cuma seberkas, seperti sisa sumbu di dasar lilin, dan aku sudah cukup sering melihatnya untuk tahu bahwa dalam hitungan menit tidak akan ada apa-apa lagi di sana.
Amane-san melihat wajahku.
“Berapa?” katanya.
“Amane-san—”
“Berapa.”
Aku tidak menjawab.
Dan ia mengerti, karena ia selalu mengerti hal yang tidak kukatakan, dan itu adalah satu-satunya sifatnya yang tidak pernah aku syukuri.
“Baik,” katanya.
Ia berlutut.
“Jangan,” kataku.
Ini pertama kalinya aku mengatakan kata itu kepada siapa pun sejak umur tujuh setengah. Kata itu terlarang. Kata itu adalah setengah langkah dari memberitahu, dan memberitahu berarti diusir dari klan, dan klan adalah satu-satunya tempat di dunia ini yang mau menampung mata seperti mataku.
Aku mengatakannya lagi.
“Jangan.”
Ia sudah meletakkan tangannya.
Aku tidak tahu bagaimana menuliskan delapan detik berikutnya dengan jujur, jadi aku akan menuliskannya seperti aku menuliskan pengukuran.
Detik satu sampai tiga: luka di dada anak itu menutup. Warnanya kembali. Napasnya masuk — betul-betul masuk, dadanya naik, dan Ōba Genta mengeluarkan suara yang bukan kata.
Detik empat: benang anak itu tumbuh.
Aku belum pernah melihat benang tumbuh. Enam ratus tahun catatan klan Kuromiya, dan tidak ada satu pun entri tentang benang yang tumbuh.
Detik lima sampai delapan: benang Amane-san terputus.
Bukan tersentak. Terputus, berulang kali, cepat, seperti orang memotong tali dengan gunting tumpul berkali-kali di tempat yang sama.
Aku menghitung.
Aku terus menghitung karena kalau aku berhenti menghitung aku akan berteriak, dan kalau aku berteriak semua orang di tenda ini akan bertanya kenapa, dan aku tidak boleh menjawab.
Tiga tahun.
Tiga tahun, delapan detik.
Ia berdiri.
Ia berdiri, dan ia berkata kepada Genta, “Bawa dia ke kereta kedua, jangan digerakkan lehernya, tetap temani,” dan Genta menurut karena Genta selalu menurut.
Lalu ia berjalan ke sudut tenda, membelakangi semua orang, dan memasukkan kedua tangannya ke saku celemek.
Aku berdiri di tempatku dengan nampan di tangan.
Empat tahun tujuh bulan.
Dikurangi tiga tahun.
Dikurangi dua bulan, dua minggu, empat hari, sepuluh hari, dan lima angka lain yang sudah kuhitung malam itu dan masih kuhafal sampai sekarang.
Aku melakukan aritmetikanya dua kali karena aku berharap ada yang salah.
Satu tahun sepuluh bulan.
Ia berumur dua puluh empat tahun. Ia berdiri di sudut tenda dengan tangan di saku, dan ia bersenandung — pelan sekali, mungkin tidak sadar — dan malam itu, di distrik hilir Kagurayama, aku menyadari bahwa aku sedang berdiri di ruangan yang sama dengan seseorang yang tidak akan sampai ke ulang tahunnya yang kedua puluh enam.
Dan aku baru saja menunjuk sembilan kali.
“Kuromiya.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Kuromiya. Kamu baik-baik saja?”
Ia sudah berbalik. Wajahnya kembali normal — lelah, tapi normal, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang sekarang kelihatan lebih dalam dari biasanya, dan itu saja.
“Kamu pucat sekali,” katanya. “Duduk. Kamu sudah berdiri sepuluh jam.”
Ia menarik peti dan mendorongnya ke belakang lututku dengan kaki.
Aku duduk karena kakiku memang tidak sanggup lagi.
Ia menuangkan air dan menyodorkannya, dan tangannya gemetar — hebat sekali, air itu tumpah sedikit ke jariku — dan ia melihat dirinya sendiri gemetar, dan tersenyum kecil seperti orang yang minta maaf atas kelakuan hewan peliharaannya.
“Kelelahan,” katanya.
“Iya,” kataku.
Aku berbohong untuk pertama kalinya kepadanya malam itu.
Dan aku akan berbohong seratus tiga puluh empat kali lagi setelahnya, dan aku menghitung semuanya, karena menghitung adalah satu-satunya yang bisa kulakukan dengan hal-hal yang tidak boleh kukatakan.
Kami pulang jam dua pagi.
Empat puluh murid berangkat. Empat puluh murid pulang. Tidak ada yang mati. Laporan resmi menyebutnya keberhasilan penuh dan mencantumkan nama Hoshizaki Ayaka, Tsuzaki-sensei, dan kelompok penahan.
Di kereta paling belakang, dalam gelap, seseorang tertidur duduk dengan kedua tangan masih di dalam saku celemeknya.
Aku duduk di seberangnya sepanjang perjalanan pulang, tidak tidur, menatap satu titik di atas kepalanya.
Kalau kamu memandangi benang cukup lama, dan cukup dekat, kamu bisa melihatnya bergerak.
Aku memandanginya selama empat jam.
Bersambung ke Bab 9 — “Satu Jubah”