Chapter Eighteen
Aku Cuma Capek Jadi Satu-satunya yang Tahu
POV: Amane Haruto · Malam festival, jam sebelas lewat
Hoshizaki Ayaka tidak duduk di kursi dekat jendela.
Aku menyadari itu sebelum ia bicara. Selama empat bulan, setiap kali ia masuk ke klinik ini, ia berjalan lurus ke kursi itu dan duduk dengan punggung tegak dan meletakkan laporan latihan di pangkuannya.
Malam itu ia berdiri di dekat pintu.
“Duduk,” kataku.
“Saya tidak akan lama.”
“Hoshizaki-san—”
“Kalau saya duduk, saya akan menunda,” katanya. “Saya sudah menunda empat bulan. Saya berdiri saja.”
Aku meletakkan sarung tangan yang masih di tanganku ke meja, dan menyadari terlalu terlambat bahwa aku melakukannya di depannya, dan bahwa ia melihatnya.
Ia melihat benda itu. Lalu melihatku.
Wajahnya tidak berubah.
“Saya menyukai Anda,” katanya.
Aku ingin menulis bahwa aku terkejut.
Aku tidak terkejut. Itu bagian terburuknya.
Ada bagian dari diriku yang sudah tahu sejak bekal kedua, dan yang memutuskan bahwa selama tidak ada yang mengucapkannya, tidak ada yang perlu dilakukan. Itu bukan kebaikan. Itu kemalasan yang menyamar jadi kesopanan, dan aku sudah melakukannya selama empat bulan.
“Hoshizaki-san.”
“Saya belum selesai.” Ia mengangkat satu tangan, sopan sekali, seperti orang meminta giliran di rapat. “Saya sudah menyusun ini selama tiga minggu dan kalau saya tidak selesai sekarang saya tidak akan pernah selesai.”
Aku menutup mulutku.
“Saya tidak menyukai Anda karena Anda menyelamatkan saya,” katanya. “Anda tidak pernah menyelamatkan saya. Saya lebih kuat dari Anda dan kita berdua tahu itu.”
“Betul.”
“Saya menyukai Anda karena hari itu, di bulan kelima, Anda bertanya kapan saya makan siang.”
Ia berdiri sangat tegak. Tangannya di sisi tubuh.
“Seluruh akademi ini tahu nama saya. Kepala menara tahu nama ayah saya. Orang-orang menyebut saya bintang Menara Barat dan berdiri sedikit lebih tegak kalau saya lewat. Saya sudah menerima itu sejak umur sepuluh dan saya tidak mengeluh.”
“Aku tahu.”
“Dalam sebelas tahun,” katanya, “Anda satu-satunya orang yang memperlakukan saya seperti orang yang bisa lapar.”
Aula masih berisik di kejauhan. Musik sudah mulai lagi. Seseorang di halaman timur masih membersihkan sisa ledakan Koharu.
“Saya tidak menuntut apa-apa,” lanjutnya. “Saya tidak menuntut jawaban malam ini, dan saya tidak akan berhenti membawa bekal, karena itu bukan alat tawar-menawar, itu karena Anda tidak makan.”
“Hoshizaki-san.”
“Ya.”
“Aku akan menjawab sekarang.”
Ia menegang. Cuma sedikit — bahunya naik setengah senti — dan langsung turun lagi.
“Baik,” katanya.
Aku sudah memikirkan cara-cara untuk melunakkannya.
Ada beberapa. Aku bisa bilang bahwa waktunya tidak tepat. Bahwa aku bukan orang yang tepat. Bahwa aku terlalu tua untuknya, yang tidak benar; aku dua puluh empat dan ia dua puluh.
Yang paling gampang: aku bisa bilang bahwa aku tidak punya banyak waktu tersisa.
Kalimat itu ada di mulutku. Aku bisa merasakan bentuknya. Kalimat itu jujur, kalimat itu menjelaskan segalanya, dan kalimat itu akan membuat penolakan ini jadi tragedi alih-alih penolakan — dan ia akan pulang malam ini merasa sedih untukku, bukan tentang dirinya sendiri.
Itu pengecut.
Dan lebih dari itu: itu akan menaruh beban yang sedang dipikul satu orang di klinik ini ke bahu orang kedua, malam ini, tanpa diminta.
“Aku tidak bisa membalasnya,” kataku.
Hening.
“Baik,” katanya.
“Aku minta maaf.”
“Tidak usah minta maaf. Itu menyebalkan.” Ia mengangkat dagunya. “Boleh saya bertanya satu hal? Anda boleh tidak menjawab.”
“Silakan.”
“Kuromiya.”
Aku tidak menjawab.
Itu jawaban.
Ia mengangguk sekali. Pelan.
“Saya sudah tahu,” katanya. “Sejak malam hujan itu, di bulan keenam. Saya melihat dari jendela asrama.”
Siluet di jendela lantai atas. Rambut terikat tinggi. Tidak bersandar pada apa pun.
“Itu kamu.”
“Itu saya.”
“Empat bulan lalu.”
“Iya.”
“Kenapa kamu masih membawa bekal selama empat bulan setelah itu?”
Dan di situ — untuk pertama dan satu-satunya kalinya sepanjang percakapan itu — suaranya bergetar.
“Karena tidak ada orang lain yang melakukannya,” katanya.
Aku tidak punya apa-apa untuk itu.
Aku berdiri di klinikku sendiri, dua puluh empat tahun, dengan sarung tangan orang lain di atas meja di belakangku, dan aku tidak punya satu kalimat pun yang tidak akan memperburuknya.
“Hoshizaki-san—”
“Amane-san, saya akan mengatakan sesuatu dan saya minta Anda tidak menghiburnya.”
“Baik.”
Ia menarik napas.
“Selama empat bulan,” katanya, “saya satu-satunya orang di akademi ini yang tahu bahwa saya menyukai Anda. Bukan Anda. Bukan teman-teman saya. Tidak ada. Saya menyimpannya sendirian, dan saya membawa bekal dua hari sekali, dan saya duduk di kursi itu dan membaca laporan yang sudah saya baca.”
Suaranya kembali rata.
“Saya tidak datang ke sini karena saya berharap Anda menjawab iya. Saya sudah tahu jawabannya sejak malam hujan itu.”
“Lalu kenapa datang?”
“Karena saya capek,” katanya. “Saya cuma capek jadi satu-satunya yang tahu.”
Ia berjalan ke pintu.
Ia berhenti di ambang, dan berbalik, dan sikapnya sudah kembali seperti Hoshizaki Ayaka yang biasa — tegak, tenang, terkendali, seolah sepuluh menit terakhir adalah rapat komite yang baru saja ditutup.
“Ada satu hal lagi,” katanya.
“Ya.”
“Dia lari keluar dari aula jam sepuluh lewat lima, setelah ledakan itu, lewat pintu barat.” Ia menunjuk dengan dagu. “Bukan ke asrama Selatan. Ke arah gerbang bawah.”
Aku menoleh ke jendela.
“Sekarang jam sebelas lewat dua puluh,” lanjutnya. “Kalau dia jalan pelan, dia masih di jembatan batu.”
“Hoshizaki-san.”
“Amane-san, saya akan sangat marah kalau Anda masih berdiri di sini dalam sepuluh detik.”
“Kamu tidak harus—”
“Saya tahu saya tidak harus.” Sesuatu yang tajam masuk ke suaranya, dan langsung ditekan lagi. “Saya melakukannya bukan untuk Anda. Saya melakukannya karena kalau saya kalah, saya mau kalah dengan benar. Kalau saya diam sekarang dan Anda tidak mengejar dia malam ini, saya akan menghabiskan sisa hidup saya bertanya-tanya apakah saya menang karena saya diam.”
Aku mengambil jubahku dari kait.
“Terima kasih,” kataku, dan aku tahu itu kata yang salah bahkan waktu mengucapkannya.
“Jangan berterima kasih.” Ia menyingkir dari pintu. “Lari.”
Aku berlari.
Seratus dua puluh anak tangga, halaman bawah, gerbang, jalan setapak menuju jembatan batu.
Di anak tangga ketujuh dari bawah aku hampir jatuh dan tidak berhenti.
Aku berlari melewati halaman timur yang masih berbau mesiu, melewati Genta yang berdiri di sana entah kenapa dan berteriak “Amane-san?!”, melewati dua murid tingkat satu yang melompat minggir.
Dan sekitar setengah jalan menuju gerbang, dadaku mengunci.
Bukan kelelahan. Aku tahu bedanya. Ini sesuatu yang lain — sesuatu yang menutup di bawah tulang rusuk dan membuat empat langkah berikutnya terasa seperti menarik pintu berat.
Aku berhenti. Membungkuk. Tangan di lutut.
Tiga puluh detik.
Aku dua puluh empat tahun dan aku berlari empat ratus meter menurun dan tubuhku bertingkah seperti tubuh orang yang jauh lebih tua, dan aku berdiri di jalan setapak dalam gelap dengan tangan di lutut dan menyadari, sangat jelas, untuk pertama kalinya:
Ini lebih cepat dari yang kukira.
Lalu aku berdiri tegak dan berlari lagi, karena jembatan batu masih dua ratus meter dan aku tidak punya waktu untuk memikirkan itu sekarang.
Aku menoleh sekali, di gerbang bawah.
Dari sana, jendela klinik Menara Utara kelihatan — kecil, jauh, seperti titik.
Lampunya masih menyala.
Dan di ambang pintu yang terbuka, terlalu jauh untuk melihat wajah, ada siluet yang berdiri tidak bersandar pada apa pun.
Ia tidak melambai. Ia tidak masuk.
Ia cuma berdiri di sana, sendirian, di pintu klinik orang lain, jam sebelas lewat tiga puluh malam festival.
Dan angin membawa sesuatu turun dari arah menara — sangat pelan, dan aku mungkin salah dengar, dan aku memilih untuk percaya bahwa aku tidak salah dengar.
Bunyinya seperti orang tertawa.
Satu kali. Pendek.
Aku berbalik dan berlari ke jembatan.
Bersambung ke Bab 19 — “Buaian Cahaya”
- 1 Benang yang Memendek Sambil Dilihat
- 2 Menara Utara
- 3 Bintang yang Lupa Makan Siang
- 4 Teh yang Rasanya Aneh
- 5 Coretan Pinggir
- 6 Papan Taruhan
- 7 Kelas Terendah
- 8 Sembilan Orang dalam Satu Malam
- 9 Satu Jubah
- 10 Yang Dianggap Pelengkap
- 11 Pasien yang Sudah Diobati
- 12 Ikat Rambut
- 13 Aritmetika
- 14 Kaki Kesemutan
- 15 Enam Nama
- 16 Mata Akhir
- 17 Festival Hoshimori
- 18 Aku Cuma Capek Jadi Satu-satunya yang Tahu reading
- 19 Buaian Cahaya
- 20 Sisi Kanan
- 21 Bab yang Hilang
- 22 Teh yang Tidak Panas Lagi
- 23 Musim Dingin Terpanjang
- 24 Keturunan Terakhir
- 25 Yang Dilihat dari Balkon
- 26 Pelukan yang Terlalu Lama
- 27 Halaman 402
- 28 Persiapan
- 29 Semua Orang Akhirnya Tahu
- 30 Malam Sebelum
- 31 Buaian Kedua, lalu Penggantian
- 32 Turun Gunung
- 33 Tujuh Puluh Dua Jam
- 34 Yang Dibacakan Keras-keras
- 35 Harga
- 36 Cangkir Kedua
- 37 Epilog — Klinik di Kota Pelabuhan