Chapter Thirty Three
Tujuh Puluh Dua Jam
POV: Hoshizaki Ayaka · Lembah utara, hari kelima sampai kedelapan setelahnya
Saya akan menuliskan syaratnya lebih dulu, karena semua orang bertanya syaratnya dan tidak ada yang percaya waktu saya menjawab.
Profesor Ganryū menjelaskannya di tenda komando, hari kelima, di depan sebelas orang, dengan suara orang yang sudah menyiapkan penjelasan ini selama empat puluh tahun dan tidak pernah punya kesempatan memakainya.
Ada tiga.
SYARAT PERTAMA: jiwa yang tidak punya tempat pulang.
“Klan Kuromiya tidak pernah berhasil memanggil siapa pun kembali,” kata Ganryū. “Enam ratus tahun. Nol keberhasilan. Kalian tahu kenapa?”
Tidak ada yang menjawab.
“Karena orang mati di dunia ini punya tempat pulang,” katanya. “Jiwa mereka masuk ke siklus dunia ini seperti air masuk ke tanah. Kamu bisa berteriak sekeras apa pun; mereka sudah punya alamat.”
Ia mengetuk meja sekali.
“Amane Haruto tidak lahir di tanah ini.”
Ruangan itu hening.
“Ketujuh Penyembuh tidak lahir di tanah ini. Tidak satu pun dari mereka punya alamat di sini.” Ia mengangkat wajahnya. “Enam yang sebelumnya masih di ambang. Semuanya. Empat puluh tahun saya mencari cara membuktikannya dan saya tidak pernah bisa, dan sekarang saya tidak perlu, karena kalau saya salah kita cuma kehilangan tiga hari.”
Kepala regu bertanya berapa besar kemungkinannya.
Ganryū bilang: “Tidak tahu.”
Kepala regu bertanya apakah pernah ada yang mencobanya.
Ganryū bilang: “Tidak pernah. Tidak pernah ada Kuromiya yang cukup dekat dengan Penyembuh untuk mau mencoba, dan tidak pernah ada Penyembuh yang meninggal di tempat yang tepat.”
“Tempat yang tepat?”
“Retakan yang baru ditutup,” katanya. “Selama sekitar sepuluh hari, tempat itu masih tipis. Setelah itu menutup rapat.”
Itu sebabnya ia melarang tubuh itu dikubur, dibakar, atau dipindahkan.
Orang tua itu sudah menghitung sejak hari pertama.
SYARAT KEDUA: nyala yang tidak padam selama tujuh puluh dua jam.
“Lingkaran pemanggilan harus menyala terus-menerus,” katanya. “Tiga hari penuh. Kalau padam satu kali, satu detik, semuanya batal dan tidak bisa diulang karena tempatnya sudah rusak.”
“Berapa besar apinya?”
“Bukan api.” Ganryū menggeleng. “Api tidak cukup panas. Butuh nyala sihir tingkat tinggi, ditahan di satu titik, tanpa berpindah, tanpa berkedip. Dan sisa Retakan akan mendorong balik — makin lama makin keras, karena tempat itu tidak suka dibuka lagi.”
“Berapa orang yang dibutuhkan?”
“Satu.”
Sebelas orang di tenda itu bicara sekaligus.
Ganryū menunggu sampai mereka selesai.
“Satu,” ulangnya. “Lingkarannya cuma menerima satu sumber. Dua sumber berarti dua irama, dan dua irama berarti berkedip, dan berkedip berarti padam.”
Saya sudah berdiri sebelum ia selesai bicara.
Saya ingin mencatat bahwa itu bukan keberanian. Saya berdiri karena saya sudah tahu sejak Nikaidō mendatangi saya di perkemahan, dua puluh hari lalu, dan menanyakan satu pertanyaan yang sangat spesifik tentang berapa lama saya bisa menahan nyala di satu titik tanpa berpindah.
Anak itu tidak menjelaskan kenapa ia bertanya.
Saya menaikkan latihan itu jadi dua jam per hari sejak hari kedelapan, dan anak-anak saya mengeluh karena tidak ada gunanya untuk pertempuran, dan saya tidak menjelaskan apa-apa kepada mereka.
Saya sudah latihan dua puluh hari untuk sesuatu yang saya tidak tahu bentuknya.
Sekarang saya tahu bentuknya.
“Saya,” kata saya.
SYARAT KETIGA dijelaskan Ganryū kepada Kuromiya saja, berdua, di luar tenda.
Saya tidak mendengarnya.
Yang saya tahu: Kuromiya masuk kembali ke tenda sekitar sepuluh menit kemudian, dan wajahnya sama sekali tidak berubah, dan ia berkata “Baik” satu kali, dan tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang berani bertanya apa yang baru saja ia setujui.
Saya baru tahu harganya di jam ketujuh puluh dua.
Saya akan menuliskan tiga hari itu dalam blok, karena begitulah rasanya.
JAM 0–6.
Mudah. Saya bisa melakukan ini sambil tidur. Saya menahan nyala di titik utara lingkaran, tangan kanan terbuka, kaki tidak bergeser.
Kuromiya duduk di dalam lingkaran, di sebelah tubuh itu, dengan buku catatan medis di pangkuannya.
Ia mulai membaca keras-keras di jam pertama.
Saya kira ia akan membaca mantra.
Ia membaca coretan pinggir.
JAM 6–14.
Lengan kanan mulai mati rasa. Bukan lelah — mati rasa, dari bahu ke bawah, karena tidak boleh bergeser.
Nikaidō membawakan air setiap empat puluh menit dan meminumkannya karena tangan saya tidak boleh turun.
Sisa Retakan mulai mendorong sekitar jam sepuluh. Ganryū benar. Rasanya seperti angin yang datang dari arah yang tidak ada.
JAM 14–24.
Kaki mulai bermasalah. Saya sudah berdiri di titik yang sama selama empat belas jam.
Mochizuki mulai bekerja jam dua puluh.
Saya harus menuliskan bagian ini dengan benar karena anak itu tidak akan menuliskannya sendiri.
Nyala sihir saya butuh bahan bakar dari luar untuk bisa ditahan lebih dari sehari — tidak ada penyihir mana pun yang bisa membakar sihirnya sendiri selama tujuh puluh dua jam; itu bukan keberanian, itu fisika. Kami butuh sesuatu yang menyala terus-menerus di bawah lingkaran, cukup panas, tanpa bahan bakar tambahan, tanpa berkedip.
Tidak ada yang seperti itu.
Kecuali ada.
Mochizuki Koharu, tujuh belas tahun, Menara Timur, empat laboratorium meledak, membawa tiga puluh dua tabung dari akademi di ranselnya sendiri.
Enam jam empat puluh menit per tabung. Nyala terus-menerus. Tanpa bahan bakar tambahan.
Kepala menaranya bilang tidak ada gunanya. Api yang berguna itu api yang bisa dimatikan, katanya. Ia mengatakannya setiap kali selama dua tahun.
Tiga puluh dua tabung, enam jam empat puluh menit masing-masing.
Dua ratus tiga belas jam.
Kami butuh tujuh puluh dua.
Anak itu duduk di sebelah lingkaran selama tiga hari mengganti tabung setiap enam jam empat puluh menit, dan tidak tidur lebih dari empat puluh menit sekali, dan menangis persis satu kali, di jam ketiga puluh, waktu tabung kesembilan menyala dengan benar dan ia bergumam “berhasil” kepada tidak ada siapa-siapa.
JAM 24–40.
Saya mulai kehilangan urutan.
Saya ingat suara Kuromiya. Terus-menerus, tanpa berhenti, tiga hari.
“Yuina benci ketumbar. Sisihkan diam-diam, jangan disebut, dia tidak akan bilang.”
“Mengetuk meja tiga kali kalau gugup.”
“Tidak takut pada orang. Takut pada jarak orang.”
“Berhenti di anak tangga ketujuh setiap kali turun. Belum tahu kenapa.”
Ada ratusan. Dua tahun catatan. Anak itu menulis tentang semua orang yang pernah masuk ke kliniknya, dan yang ia bacakan cuma yang tentang dirinya sendiri, satu per satu, selama tujuh puluh dua jam, sampai suaranya habis dan ia terus membaca dengan suara yang tidak keluar.
JAM 40–58.
Saya tidak ingat.
Nikaidō bilang saya bicara sendiri. Ōba bilang saya menyebut nama ayah saya sekali.
Saya tidak ingat.
JAM 58–62.
Kaki saya menyerah di jam enam puluh.
Saya merasakannya datang sekitar sepuluh menit sebelumnya — lutut kiri dulu, lalu pinggul, dan saya tahu persis apa yang akan terjadi karena saya sudah cukup lama jadi penyihir tempur untuk mengenali tubuh yang sedang mengundurkan diri.
Saya sempat berpikir: kalau saya jatuh, nyalanya bergeser, dan kalau bergeser dia padam.
Saya sempat berpikir: tiga hari, sia-sia.
Lalu ada dua tangan di punggung saya.
Ōba Genta berdiri di belakang saya dan menahan seluruh berat badan saya dari belakang, dengan tangan kanan yang jari-jarinya masih belum bisa dibuka sepenuhnya.
“Jangan digeser, Hoshizaki-san,” katanya. “Saya pegang.”
“Ōba—”
“Saya pegang,” katanya.
Dua belas jam.
Anak itu berdiri di belakang saya selama dua belas jam tanpa duduk, tanpa makan, menahan seorang perempuan dewasa dengan baju tempur lengkap supaya kakinya tidak bergeser lima senti.
Saya tidak pernah berterima kasih dengan benar. Saya sudah mencoba empat kali dan setiap kali dia bilang “tidak apa-apa, Hoshizaki-san” dan mengalihkan pembicaraan ke hal lain.
JAM 62–71.
Nikaidō Sōta bertanya kepada saya di jam keenam puluh delapan.
Ia berlutut di sebelah saya untuk memberi air, dan ia sudah tidak tidur tiga hari juga, dan ia bertanya dengan suara yang sangat pelan supaya tidak memutus bacaan Kuromiya:
“Senpai. Kenapa Anda mau?”
Saya ingat pertanyaan itu dengan jelas walaupun saya tidak ingat jam empat puluh sampai lima puluh delapan.
“Nikaidō.”
“Ya.”
“Kalau dia hidup,” kata saya, “saya kalah.”
Ia tidak menjawab.
“Kalau dia mati, saya juga kalah,” kata saya. “Saya sudah menghitungnya. Tidak ada satu pun versi dari tiga hari ini yang berakhir dengan saya menang.”
Saya menoleh — sedikit, karena kepala boleh bergerak, cuma tangan dan kaki yang tidak.
“Jadi saya pilih versi yang dia bahagia,” kata saya.
Nikaidō Sōta menunduk dan menekan pangkal hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk selama beberapa detik.
Lalu ia berdiri, dan pergi mengambil air lagi, dan tidak pernah menceritakan percakapan itu kepada siapa pun — sampai empat belas bulan kemudian, waktu ia menuliskannya di buku yang laku keras itu, dan mengubah kalimat terakhir saya jadi sesuatu yang jauh lebih heroik dan jauh lebih bagus dan sama sekali tidak saya ucapkan.
Saya tidak protes. Saya tidak berhak protes; itu bukunya.
Tapi saya menulis versi yang benar di sini.
JAM 71.
Lingkarannya mulai redup.
Saya melihatnya sebelum siapa pun. Saya sudah berdiri di titik itu selama tujuh puluh satu jam dan saya tahu warnanya sampai ke tingkat yang tidak bisa dijelaskan.
Tabung Mochizuki yang ketiga puluh dua sudah menyala sejak jam keenam puluh delapan.
Tersisa dua puluh menit lagi di dalamnya, dan tidak ada tabung ketiga puluh tiga.
Kami salah hitung. Bukan Mochizuki — saya. Saya yang menghitung ulang di hari keempat dan saya yang mengatakan dua ratus tiga belas jam lebih dari cukup, dan saya lupa memperhitungkan bahwa tabung yang diganti dalam keadaan dingin butuh empat menit untuk stabil, dan tiga puluh dua kali empat menit adalah dua jam delapan menit.
Dua jam delapan menit.
Kami kekurangan enam puluh menit.
“Mochizuki.”
“Saya tahu.”
“Berapa lagi?”
“Dua puluh menit di tabung ini.” Suaranya kecil sekali. “Hoshizaki-senpai, saya bawa tiga puluh dua. Saya cuma bisa bawa tiga puluh dua. Ranselnya—”
“Mochizuki.”
“Saya bawa tiga puluh dua,” katanya lagi, dan ia mulai gemetar, dan saya tidak bisa menggerakkan tangan saya untuk memegangnya.
Kuromiya berhenti membaca untuk pertama kalinya dalam tujuh puluh satu jam.
Saya mendengar buku itu ditutup.
Dan lalu Nikaidō Sōta berkata, dari suatu tempat di belakang saya, dengan suara yang sama sekali tidak seperti dirinya:
“Sepatu.”
“Apa?”
“Sepatu latihan saya,” katanya. “Bahan solnya. Yang dipakai Menara Barat — resin gunung, sama dengan bahan dasar tabungnya, saya tanya Mochizuki tiga minggu lalu karena saya penasaran kenapa sepatu saya berbau aneh kalau kena api.”
Hening.
“Berapa banyak sepatu di perkemahan ini?” tanya Mochizuki.
“Empat puluh satu orang,” kata Ōba, dari belakang saya. “Delapan puluh dua sepatu.”
Delapan puluh dua.
Saya berdiri di titik utara lingkaran pemanggilan di lembah utara pada jam ketujuh puluh satu, tidak bisa menggerakkan tangan maupun kaki, dan saya menonton empat puluh satu orang membuka sepatu mereka di salju.
Dalam suhu minus delapan.
Termasuk dua penyembuh Menara Barat yang tidak mengenal Amane Haruto sama sekali dan sudah tiga hari tidak tidur karena giliran jaga.
Termasuk kepala regu, yang sudah dua kali mengajukan keberatan tertulis atas seluruh operasi ini.
Termasuk seorang murid tingkat satu bernama Ide yang perutnya pernah terbuka di distrik hilir Kagurayama sembilan bulan lalu, dan yang berdiri di aula dan berkata “nunggu doang” enam hari sebelumnya.
Mochizuki bekerja dengan tangan gemetar selama sebelas menit.
Nyalanya menyambung di menit ketujuh belas dari dua puluh.
JAM 72.
Kuromiya membuka bukunya lagi dan membaca baris terakhir dengan suara yang sudah tidak ada.
Saya tidak mendengar apa yang ia baca.
Saya melihat lingkaran itu, dan saya melihat tiga hari nyala berkumpul ke satu titik, dan saya melihat sesuatu yang tidak akan pernah saya jelaskan kepada siapa pun dengan benar walaupun saya sudah mencoba tiga kali kepada Kuromiya sendiri, karena ia memaksa, karena ia harus tahu.
Di ambang, di dalam cahaya itu, ada enam orang berdiri.
Saya tidak bisa melihat wajah mereka. Saya bisa melihat bahwa yang paling ujung sangat muda — lebih muda dari saya, mungkin sembilan belas — dan bahwa ia mendorong bahu seseorang di depannya.
Mendorong. Bukan menarik.
Enam orang mendorong satu orang keluar dari ambang, dan lalu tetap di sana, dan tidak ikut.
Dan Profesor Ganryū, yang berdiri di luar lingkaran selama tujuh puluh dua jam tanpa duduk sekali pun, jatuh ke lututnya di salju dan menyebut satu nama.
Bersambung ke Bab 34 — “Yang Dibacakan Keras-keras”