Chapter Twenty Six
Pelukan yang Terlalu Lama
POV: Amane Haruto · Musim dingin, dua puluh tiga hari sebelum keberangkatan
Ada empat hal yang berubah, dan aku memperhatikan keempatnya, dan aku salah menafsirkan keempatnya.
Aku ingin menuliskannya berurutan supaya jelas bahwa aku bukan tidak memperhatikan.
Aku memperhatikan segalanya.
Aku cuma memasukkan semuanya ke kolom yang salah.
Satu. Ia menghabiskan tehnya.
Selama sembilan bulan, cangkirnya selalu tersisa seperempat.
Bukan karena tidak suka — ia datang setiap pagi; kalau tidak suka ia tidak akan datang. Tapi selalu ada sisa di dasar, dan aku sudah lama berhenti memperhatikannya, sampai suatu pagi tidak ada.
Hari berikutnya juga tidak ada.
Hari ketiga aku bertanya, “Gulanya sudah benar?”
“Sudah.”
“Pemasok baru?”
“Mungkin,” katanya.
Aku mencatat di daftar: pemasok gula — bagus, pesan lagi.
Dua. Ia memakai baju biru.
Ada satu jubah luar di asrama Selatan — bukan seragam; jubah luar boleh apa saja — yang warnanya biru tua dan bukan hitam.
Aku pernah mengomentarinya sekali. Sekali, di musim panas, sambil lalu, waktu ia menjemurnya di pagar: “Yang itu bagus.” Lalu aku pergi mengambil kayu dan tidak memikirkannya lagi.
Ia memakainya empat hari berturut-turut di minggu itu.
Di musim dingin. Jubah musim panas.
“Kamu tidak kedinginan?”
“Tidak.”
“Kuromiya, itu bahan tipis.”
“Saya tidak kedinginan,” katanya.
Aku mencatat di kepalaku: orang klan Kuromiya mungkin tahan dingin.
Itu, kalau kamu menghitungnya, adalah kebodohan terbesar yang pernah kulakukan sepanjang hidupku, dan aku melakukannya sambil memegang cangkir teh dan merasa cukup pintar.
Tiga. Ia meminta rambutnya diikat.
Ini yang paling aneh, dan yang paling kusukai, dan yang seharusnya paling kucurigai.
Sejak lereng timur di musim gugur, aku mengikat rambutnya persis satu kali.
Hari Selasa itu ia datang jam tujuh, duduk di kursi dekat perapian, minum tehnya sampai habis, dan berkata: “Talinya kendur.”
“Ganti.”
“Tangan saya dingin.”
Aku meletakkan cangkirku.
“Kamu bilang kamu tidak kedinginan.”
“Tangan saja.”
Jadi aku berdiri di belakang kursinya dan membuka ikatannya dan mengikatnya lagi, dan seluruh proses itu memakan waktu empat puluh detik, dan setelah selesai ia tidak langsung berdiri.
Hari Kamis, hal yang sama.
Sabtu, hal yang sama.
Ia tidak pernah memintanya dua kali dengan kalimat yang sama. Setiap kali ada alasan baru: tali kendur, tangan dingin, rambut kena getah, angin di tangga.
Sembilan kali dalam sembilan hari.
Aku menghitungnya — tentu saja aku menghitungnya — dan aku menyimpulkan bahwa aku sedang beruntung, dan aku menyimpan kesimpulan itu di tempat yang sama dengan seluruh kesimpulan bagus lain yang pernah kubuat, yaitu tempat yang ternyata salah.
Empat. Ia tertawa untuk lelucon Nikaidō Sōta.
Ini yang seharusnya membuatku memanggil pengawas.
Lelucon Sōta tidak lucu. Itu bukan penilaian; itu fakta yang bisa diverifikasi. Aku sudah mengumpulkan data selama sembilan bulan. Ada tiga jenis: yang terlalu panjang, yang sudah dipakai minggu lalu, dan yang bukan lelucon sama sekali melainkan pernyataan yang ia ucapkan dengan nada lelucon sambil menunggu orang tertawa.
Kuromiya Yuina belum pernah tertawa untuk satu pun dari ketiganya.
Hari Jumat, Sōta datang mengantar Genta yang jarinya terjepit pintu, dan sambil menunggu ia menceritakan sesuatu tentang kepala Menara Barat dan seekor kucing yang jelas-jelas tidak terjadi.
Dan Kuromiya tertawa.
Bukan tawa sopan. Ia menunduk, bahunya bergerak, dan ia harus meletakkan nampan.
Sōta membeku.
Genta membeku.
Aku, dengan jarum masih di tangan, membeku.
“...Itu lucu?” tanya Sōta, dengan suara yang sangat kecil.
“Tidak,” kata Kuromiya, masih menunduk. “Sama sekali tidak.”
Dan lalu ia tertawa lagi.
Sōta keluar dari klinik hari itu dengan wajah orang yang menerima gelar kebangsawanan.
Aku ingat berpikir: dia sedang senang.
Aku ingat memikirkan itu dengan sangat jelas, dan merasa hangat karenanya, dan menambahkannya ke daftar hal-hal baik yang terjadi minggu itu.
Aku juga sedang sibuk, dan itu bukan pembelaan tapi itu benar.
Berita Retakan mengubah seluruh akademi dalam sepuluh hari. Latihan formasi setiap hari. Persediaan medis untuk operasi lapangan besar: bukan dua kotak, tapi dua puluh enam peti. Aku menghabiskan setengah dari setiap hari menghitung, memesan, mengemas, dan menghitung ulang.
Dan aku menghabiskan setengah malamku memikirkan hal lain.
Tiga puluh satu hari sekarang. Sayatan di telunjuk kanan.
Masih terbuka. Tepinya bersih, kering, sama sekali tidak berminat menutup, seperti sesuatu yang sudah menyerahkan surat pengunduran diri.
Tujuh puluh sembilan hari.
Aku sudah lewat tiga puluh satu.
Aku belum memberitahu siapa pun, dan aku sudah memutuskan untuk tidak memberitahu siapa pun, dan aku menyusun seluruh jadwal keberangkatan dengan angka empat puluh delapan di kepalaku sebagai batas luar dari segala hal yang bisa kurencanakan.
Empat puluh delapan hari.
Kami berangkat dalam dua puluh tiga.
Aku pikir itu cukup.
Aku menghitung banyak sekali hal di musim dingin itu, dan tidak satu pun dari perhitunganku menyertakan kemungkinan bahwa orang lain juga sedang menghitung mundur ke tanggal yang sama.
Hari kesembilan sebelum keberangkatan, ia datang jam tujuh dan tidak minum tehnya.
Ia duduk di kursi dengan cangkir di tangan dan tidak mengangkatnya sekali pun selama dua puluh menit.
“Dingin?”
“Bukan.”
“Kalau tidak enak, aku bisa—”
“Amane-san.”
Ia meletakkan cangkirnya di lantai.
“Boleh saya minta sesuatu?”
“Boleh.”
“Anda tidak akan bertanya kenapa?”
Aku memikirkannya. “Tergantung apa.”
“Kalau begitu tidak jadi.”
“Kuromiya.”
Ia menatap perapian.
Api pagi itu kecil sekali. Aku ingat berpikir bahwa aku harus menambah kayu, dan tidak menambahnya, karena kalau aku bergerak percakapan ini akan berhenti.
“Boleh saya memeluk Anda,” katanya.
Aku tidak menjawab selama beberapa detik, dan itu kesalahan, dan aku tahu itu kesalahan bahkan waktu sedang melakukannya.
“Kamu tidak perlu minta izin.”
“Saya perlu.”
“Kenapa?”
“Karena kalau saya tidak minta izin,” katanya, “saya akan melakukannya kapan pun saya mau, dan saya sudah mau sejak lama, dan saya tidak akan bisa berhenti.”
Aku berdiri.
Ia berdiri.
Dan ia menyeberangi jarak dua langkah di antara dua kursi di depan perapian Menara Utara, dan menaruh wajahnya di bahu kananku, dan melingkarkan kedua tangannya di punggungku.
Aku sudah dipeluk sebelumnya.
Ibuku. Adik perempuanku. Seorang perempuan di dunia lamaku yang namanya masih kuingat dan yang sudah lama sekali berhenti relevan. Pasien-pasien, kadang, di menit-menit yang salah.
Ini bukan itu.
Ini adalah pelukan orang yang sedang mengingat sesuatu.
Aku tidak punya kata lain untuknya, dan aku sudah tiga tahun mencari. Cara tangannya menekan di punggungku — di tempat yang sama, terus-menerus, seperti orang yang sedang menghafal jarak antara dua titik. Cara napasnya masuk lambat dan keluar lambat, sekali, dua kali, seperti orang yang sedang mengukur.
Aku menaruh tanganku di punggungnya.
Dan ia menekan lebih dekat, dan mengeluarkan suara — sangat kecil, satu kali, di bahuku — dan setelah itu tidak bersuara lagi.
Kami berdiri di antara dua kursi selama sekitar empat menit.
Aku menghitungnya. Aku tidak bisa tidak menghitungnya.
Empat menit adalah waktu yang sangat lama untuk berdiri diam sambil memeluk seseorang. Cobalah. Empat menit adalah waktu yang cukup untuk menyeduh teh, menjahit tiga simpul, atau menyelamatkan orang yang berhenti bernapas.
Dan di suatu titik di menit ketiga, sesuatu di dalam diriku berkata:
Ini bukan pelukan halo.
Aku mengabaikannya.
Aku mengabaikannya karena aku sedang bahagia, dan karena aku sudah dua tahun berlatih tidak menyelesaikan perhitungan yang tidak ingin kuselesaikan, dan karena bahuku hangat untuk pertama kalinya sejak entah kapan.
Aku mengabaikan satu-satunya kali dalam hidupku ketika mengabaikan sesuatu betul-betul penting.
Ia melepaskannya.
Ia mundur setengah langkah dan tidak mengangkat wajahnya, dan berkata, ke arah lantai:
“Terima kasih.”
“Kuromiya—”
“Saya akan menghitung persediaan peti empat belas,” katanya, dan berbalik, dan pergi ke gudang.
Aku berdiri di depan perapian yang hampir mati selama mungkin dua menit.
Lalu aku menambah kayu, dan mengecek daftar, dan bekerja sampai jam sembilan malam seperti hari-hari lain.
Malam itu aku menulis di buku catatan.
Bukan di halaman belakang. Di halamannya sendiri, halaman yang sudah kutulisi sejak musim semi, di bawah baris tentang ketumbar dan tiga ketukan.
Aku menulis:
Ada yang salah. Tidak tahu apa.
Aku menatap kalimat itu.
Lalu aku menambahkan:
Terlalu banyak hal baik sekaligus.
Lalu, karena aku perawat dan bukan penyair, dan karena satu-satunya cara aku tahu untuk menangani sesuatu yang tidak kumengerti adalah membuatnya jadi daftar, aku menulis empat baris:
1. Teh dihabiskan (sejak hari ke-?)
2. Jubah biru — musim dingin
3. Minta diikat rambutnya. 9x/9 hari
4. Tertawa untuk lelucon Nikaidō (!!)
Aku memandangi daftar itu cukup lama.
Empat hal. Semuanya baik. Semuanya kecil.
Kalau ayah Hoshizaki Ayaka benar — dan aku baru mendengar soal metodenya berbulan-bulan kemudian, dari orangnya langsung, di klinik kecil di kota pelabuhan — maka daftar yang cukup panjang akan membuat alasannya menonjol sendiri, seperti tulang yang patah di bawah kulit.
Daftarku waktu itu punya empat baris.
Empat baris tidak cukup panjang.
Aku menutup bukunya dan tidur, dan besok paginya aku merebus air untuk dua cangkir, dan ia datang jam tujuh, dan menghabiskan tehnya sampai bawah, dan memakai jubah biru, dan memintaku mengikat rambutnya karena angin di tangga.
Empat belas hari lagi.
Bersambung ke Bab 27 — “Halaman 402”