Chapter Five
Coretan Pinggir
POV: Amane Haruto · Musim semi, minggu keempat
Ledakan pertama terjadi jam sepuluh pagi.
Aku tahu itu ledakan dan bukan gempa karena dua alasan: pertama, debu jatuh dari langit-langit dalam satu kepulan, bukan berkali-kali. Kedua, aku sudah dua tahun di sini dan sudah hafal bunyinya.
Ledakan kedua terjadi empat puluh detik kemudian.
Itu yang membuatku berdiri.
Ledakan pertama artinya kecelakaan. Ledakan kedua, empat puluh detik setelahnya, artinya ada orang yang mencoba memperbaiki ledakan pertama.
Mereka tiba di Menara Utara dua belas menit kemudian, dan aku mendengar mereka dari anak tangga kelima puluh.
“—sudah kubilang jangan disiram!”
“Aku tidak menyiram, aku mendinginkan!”
“Itu namanya menyiram!”
“Itu namanya intervensi termal—”
Pintu terbuka dengan cara yang tidak bisa disebut membuka.
Yang pertama masuk adalah anak perempuan setinggi bahuku, rambut cokelat diikat dua, jubah Menara Timur, dan seluruh bagian depan jubah itu berwarna hitam. Alisnya hilang. Bukan sebagian. Hilang.
Di belakangnya, laki-laki kurus dengan jubah Menara Barat yang lengan kanannya terbakar sampai siku, berjalan dengan cara yang sangat jelas dilatih di depan cermin.
Dan di belakang mereka berdua, membungkuk supaya kepalanya tidak membentur kusen, Ōba Genta, menggendong sesuatu yang ternyata adalah pintu.
“Kenapa kamu bawa pintu.”
“Pintunya lepas, Amane-san,” kata Genta, dengan nada minta maaf yang tulus. “Saya tidak enak meninggalkannya di lorong.”
Aku memproses mereka satu per satu, menurut urutan yang benar, yang tidak sama dengan urutan mereka masuk.
Yang terbakar duluan.
“Nama.”
“Nikaidō Sōta!” Ia mengangkat dagu. “Tingkat dua, Menara Barat, peringkat—”
“Peringkat tidak perlu.”
“—peringkat akan naik semester ini.”
“Duduk. Lengan di meja.”
Luka bakar derajat dua, telapak sampai siku, lumayan lebar. Ia menahan sikunya sendiri dan bicara terus, cepat sekali, tentang bagaimana ia sebetulnya sudah memperingatkan Mochizuki tapi Mochizuki tidak mendengarkan, dan bagaimana refleksnya barusan sebetulnya cukup mengesankan kalau dinilai secara objektif.
Ini juga hal yang kupelajari dari ranjang rumah sakit: orang yang paling banyak bicara di ruang perawatan biasanya orang yang paling takut.
“Nikaidō-kun.”
“Ya!”
“Kamu boleh berhenti bicara sebentar. Aku tidak akan mengira kamu penakut.”
Ia berhenti. Menelan ludah.
Aku meletakkan tanganku di lengannya.
Panasnya pindah — dan ini bagian yang tidak pernah kubiasakan, kalau luka bakar; ada dua detik penuh di mana kulitku sendiri terasa terbakar dan otak masih sempat berteriak sebelum semuanya larut. Aku menahan napas empat hitungan.
Sōta memandangi lengannya yang bersih.
Lalu ke wajahku.
Lalu ke lenganku, yang tidak menunjukkan apa-apa, karena tidak pernah menunjukkan apa-apa.
“...Itu tidak masuk akal,” katanya pelan.
“Duduk di kursi sana. Minum air.”
“Amane-san.”
“Air, Nikaidō-kun.”
Yang kedua: Mochizuki Koharu, tingkat satu, Menara Timur, tujuh belas tahun, dan sama sekali tidak menyesal.
“Alis kamu hilang.”
“Saya tahu.”
“Kamu tidak apa-apa dengan itu?”
“Alis tumbuh lagi, Amane-san.” Ia mengayunkan kakinya di tepi ranjang. “Data tidak.”
“Data apa?”
Dan ia menjelaskan.
Aku tidak akan menuliskan seluruh penjelasannya karena butuh sebelas menit dan tiga kali digambar ulang di udara, tapi intinya begini: ia sedang mencoba membuat nyala yang stabil pada suhu sangat tinggi. Bukan untuk meledak. Meledak itu justru kegagalannya. Yang ia cari adalah api yang bisa menyala terus-menerus, berjam-jam, tanpa padam dan tanpa bahan bakar tambahan.
“Untuk apa?”
“Belum tahu.” Ia mengangkat bahu. “Kepala menara bilang tidak ada gunanya. Api yang berguna itu api yang bisa dimatikan, katanya.”
“Dan kamu tidak setuju.”
“Saya rasa suatu hari akan ada orang yang butuh api yang tidak bisa padam.” Ia menendang-nendang tepi ranjang. “Saya cuma belum tahu untuk apa.”
Aku mengobati luka bakar kecil di telapak tangannya dan tidak memikirkan kalimat itu lagi selama bertahun-tahun, sampai suatu malam yang tidak perlu kusebutkan sekarang.
Yang ketiga: Ōba Genta, yang sebetulnya tidak terluka sama sekali, tapi menolak duduk sampai aku memeriksanya “supaya adil”.
Dan di sinilah masalahnya muncul.
Kuromiya datang jam sebelas, tepat waktu seperti biasa, dan Genta melihatnya masuk dan langsung berdiri dari ranjang dengan kecepatan yang tidak seharusnya dimiliki laki-laki dua meter.
“Selamat siang,” kata Kuromiya.
Genta bergerak ke belakang Koharu.
Koharu tingginya seratus empat puluh delapan senti.
“Ōba-san,” kata Kuromiya, datar, “saya bisa melihat Anda.”
“Saya tahu,” bisik Genta, tidak bergerak. “Maaf. Maaf sekali. Ini bukan tentang Anda.”
“Ini tentang saya.”
“Iya,” Genta mengakui, dengan sedih. “Tapi bukan salah Anda.”
Sōta, dari kursinya, berkomentar keras: “Dia takut hantu.”
“Saya bukan hantu.”
“Saya tahu Anda bukan hantu!” Genta hampir menangis. “Tapi klan Anda bicara dengan hantu, dan itu artinya hantu-hantu itu mengenal Anda, dan itu artinya kalau saya berdiri terlalu dekat, mereka akan melihat saya juga—”
“Ōba-san.”
“—dan saya belum siap dikenal hantu—”
“Ōba-san,” ulang Kuromiya.
Genta diam.
Kuromiya menatapnya — sedikit ke atas kepalanya, seperti biasa, dan aku belum tahu apa arti kebiasaan itu waktu itu — dan berkata dengan nada orang membacakan laporan cuaca:
“Benang Anda masih panjang. Anda aman.”
Hening.
“...Benang?”
“Anda tidak akan mati dalam waktu dekat.”
Genta menangis.
Bukan sedikit. Ia duduk di lantai — Menara Utara bergetar — dan menangis dengan kedua tangan menutup wajah, dan Koharu menepuk-nepuk kepalanya sambil berkata “wah, wah,” seperti orang menepuk kuda.
Kuromiya berdiri kaku di tengah ruangan dengan nampan di tangan.
“Saya salah bicara,” katanya kepadaku, pelan.
“Tidak.”
“Dia menangis.”
“Iya.” Aku mengambil nampan dari tangannya. “Karena tidak ada yang pernah bilang begitu kepadanya sebelum ini. Sebentar lagi juga berhenti.”
Genta berhenti empat puluh menit kemudian.
Sejak hari itu ia memanggil Kuromiya “Kuromiya-san” dengan hormat yang berlebihan, masih bersembunyi di balik orang kalau kaget, dan mulai membawakan roti untuknya setiap hari Kamis tanpa pernah menjelaskan kenapa.
Yang perlu kucatat tentang siang itu adalah dua hal kecil.
Pertama: saat aku menangani luka bakar Koharu, aku mengulurkan tangan tanpa menoleh dan berkata “gunting”, dan gunting itu sudah ada di tanganku sebelum kalimatnya selesai.
Sarung tangan kulitku menyentuh sarung tangan kainnya. Sepersekian detik. Bunyinya bahkan tidak ada.
Kami berdua tidak berkomentar.
Tapi tiga menit kemudian aku bilang “kasa” dan kasa itu datang, dan “air” dan air itu datang, dan seluruh sisa siang itu berjalan seperti itu, dan aku sadar aku tidak perlu menoleh sekali pun selama satu jam penuh.
Aku pernah bekerja dengan orang seperti itu, sekali, di dunia lamaku. Namanya Sasaki-san, dinas malam, dua puluh tahun pengalaman. Kami tidak berteman. Kami tidak pernah minum bersama sekali pun. Tapi ada malam-malam waktu kami memegangi orang yang sama selama empat jam, dan tidak satu kalimat pun perlu diucapkan.
Aku tidak menyangka akan merasakan itu lagi.
Kedua: buku catatan.
Sōta yang memulai. Tentu saja Sōta.
Aku sedang membelakanginya, mencuci alat, dan aku mendengar suara halaman dibalik.
“Nikaidō-kun.”
“Ini apa? Ini catatan medis?”
“Itu catatanku.”
“‘Rikuto — bilang kepeleset padahal dikeroyok. Jangan tanya nama, dia tidak akan jawab, dan bertanya membuatnya malu.’” Sōta mengangkat wajah. “Anda menulis ini?”
“Taruh kembali.”
Ia membalik halaman. Ini anak yang tidak punya rem sama sekali.
“‘Hanae — menahan napas kalau takut. Hitung mundur, jangan sampai tiga.’” Balik lagi. “‘Ōba Genta — bukan pengecut. Cuma jujur soal takut. Jangan diledek di depan orang.’”
Ruangan hening.
Genta, dari lantai, menoleh perlahan.
“Nikaidō,” kataku.
Ia membalik satu halaman lagi, lebih pelan.
“‘Nikaidō Sōta,’” ia membaca, dan suaranya berubah, “‘banyak bicara kalau takut. Kalau dia diam, berarti ada yang serius. Perhatikan.’”
Ia berdiri di sana memegang buku itu.
“Ini... saya baru dua jam di sini.”
“Iya.”
“Anda menulis ini dua jam?”
“Aku menulis semua orang.” Aku mengambil buku itu dari tangannya, tidak kasar, dan menutupnya. “Itu bukan tentang kamu. Itu supaya lain kali kalau kamu masuk ke sini dalam keadaan tidak bisa bicara, aku tahu itu darurat.”
Sōta membuka mulut, lalu menutupnya.
Untuk pertama kalinya sejak ia masuk, ia tidak mengatakan apa-apa selama hampir satu menit penuh.
Lalu ia berkata, dengan suara yang jauh lebih kecil dari sebelumnya, “Anda menulis nama depan saya.”
“Itu namamu.”
“Tidak ada yang menulis nama depan saya.”
Mereka bertiga pulang jam empat. Genta membawa pintu itu kembali ke Menara Timur. Koharu sudah merencanakan percobaan berikutnya sebelum sampai di tangga. Sōta berhenti di ambang, berbalik, menunjukku dengan jari.
“Amane Haruto!”
“Hm.”
“Mulai hari ini, saya menganggap Anda rival abadi saya!”
“Aku bahkan bukan murid.”
“Rival tidak mengenal status!”
“Kalau begitu jangan lupa kompres lenganmu tiga hari.”
“RIVAL TIDAK MENGENAL—” Ia terdiam. “Baik. Tiga hari.”
Pintu tertutup.
Ruangan mendadak terasa dua kali lebih besar.
Aku duduk dan membuka buku catatanku untuk menulis empat entri baru, dan Kuromiya masih di ruangan, mengelap meja yang sudah bersih.
Aku menulis Koharu. Menulis Genta. Menulis Sōta.
Lalu aku membalik ke halaman kosong berikutnya.
Aku sudah menulis tiga baris waktu aku mendengar kain berhenti bergerak di belakangku.
Ia berdiri agak jauh — satu setengah meter, mungkin — dan itu terlalu jauh untuk membaca tulisan tangan siapa pun, tapi cukup dekat untuk membaca kalau kamu memang berniat.
Aku tidak menutup bukunya.
Aku tidak tahu kenapa aku tidak menutup bukunya. Aku sudah menutup buku itu di depan tiga orang hari ini.
Yang tertulis di sana:
Kuromiya Yuina. Benci ketumbar — sisihkan diam-diam, jangan disebut, dia tidak akan bilang.
Mengetuk meja tiga kali kalau gugup.
Tidak takut pada orang. Takut pada jarak orang.
Aku mendengarnya bergerak. Satu langkah. Lalu suara kain di meja mulai lagi, cepat, tekun, mengelap tempat yang sama untuk ketiga kalinya.
“Ada yang mau ditambahkan?” tanyaku, tanpa menoleh.
“Tidak.”
“Kamu tidak baca.”
“Saya tidak baca.”
“Bagus,” kataku, dan menutup bukunya.
Hujan sudah berhenti sejak kemarin, tapi malam itu ia tetap berdiri agak lama di ambang pintu sebelum turun, dan aku tetap tidak tahu apa yang ia lihat di atas kepalaku, dan seluruh percakapan itu berlangsung selama dua puluh detik dan tidak satu pun kalimat di dalamnya jujur.
Kami berdua puas sekali dengan itu.
Bersambung ke Bab 6 — “Papan Taruhan”