← Chapters Ch. 11 / 37

Chapter Eleven

Pasien yang Sudah Diobati

BAGIAN II — MUSIM GUGUR

POV: Amane Haruto · Musim gugur, minggu pertama


Musim panas di Kagurayama pendek dan berdebu, dan tidak banyak yang terjadi.

Aku menuliskannya begitu karena begitulah rasanya waktu itu. Empat bulan berlalu. Akademi setengah kosong; sebagian besar murid pulang. Kuromiya tidak pulang — klan Kuromiya, ternyata, punya kebijakan tersendiri tentang siapa yang boleh datang ke rumah induk dan kapan, dan aku tidak bertanya lebih jauh setelah melihat wajahnya waktu menjelaskan.

Jadi selama empat bulan, Menara Utara diisi dua orang, dan tidak ada yang datang, dan kami mengerjakan persediaan yang seharusnya selesai dalam seminggu selama tiga minggu karena tidak ada alasan untuk buru-buru.

Aku belajar beberapa hal tentangnya musim panas itu.

Ia tidak bisa berenang. Ia hafal dua ratus lebih nama tumbuhan dan tidak satu pun nama bintang. Ia membaca dengan jari menelusuri baris, kebiasaan orang yang belajar membaca dari prasasti, bukan dari buku. Ia benci ketumbar — aku sudah tahu — tapi ia juga benci wortel mentah, kayu manis, dan suara kunyahan orang, dan ia menyebutkan ketiganya dengan nada yang sama seperti orang melaporkan kejahatan.

Ia tertawa dua kali. Aku menghitung. Keduanya bukan karena leluconku.

Dan menjelang akhir musim panas, ia mulai memanggilku bukan “Amane-san”, tapi tidak juga sesuatu yang lain — ia cuma berhenti memakai nama sama sekali, dan mulai bicara langsung.

Aku memperhatikan itu, dan tidak berkomentar, dan menyimpannya di tumpukan yang sama.


Musim gugur datang, murid-murid kembali, dan klinik penuh lagi dalam tiga hari.

Dan sejak minggu pertama, ada yang salah.


Pertama kali aku betul-betul memperhatikannya di desa kaki gunung.

Aku turun ke sana sekali sebulan, hari Minggu. Desa itu bernama Ohaza, seratus lebih penduduk, tidak punya penyembuh dan tidak punya tabib. Selama dua tahun, kunjungan bulananku selalu penuh — sepuluh sampai lima belas orang antre di balai desa sejak subuh.

Minggu pertama musim gugur, yang antre empat orang.

“Yang lain ke mana?” tanyaku pada kepala desa.

“Sudah, Amane-sensei.”

“Sudah apa?”

“Sudah ditangani.” Ia menghitung dengan jari. “Kaki Bu Take sudah dijahit. Anak Pak Genji sudah turun demamnya. Bisul Pak Tomo sudah dibuka.”

“Oleh siapa?”

“Tabib.” Ia mengangkat bahu, ramah. “Yang datang subuh-subuh.”

“Tabib mana?”

“Tidak bilang nama.”


Aku memeriksa kaki Bu Take karena aku harus.

Jahitannya rapi. Bukan rapi-rapi saja — rapi dengan cara tertentu: jarak antar simpul konsisten, tegangan seragam, simpul terakhir diikat menghadap ke dalam supaya tidak mengait kain.

Aku mengajarkan simpul menghadap ke dalam itu sekali, di klinik, entah kapan, sambil lalu, kepada seseorang yang bertanya kenapa aku repot-repot.

“Tabibnya seperti apa, Bu?”

“Tidak kelihatan.” Bu Take mengetuk-ngetuk lututnya sendiri. “Pakai tudung. Datang gelap, pulang gelap. Bicaranya sedikit sekali.”

“Perempuan? Laki-laki?”

“Tidak tahu.” Ia berpikir. “Tangannya dingin.”


Aku memikirkannya sepanjang perjalanan pulang, dan sampai di kesimpulan yang salah dengan sangat percaya diri.

Ini logikaku, dan aku menuliskannya utuh supaya jelas seberapa bodohnya aku:

Satu. Seseorang mengirim tabib ke Ohaza, subuh-subuh, tanpa nama, tanpa bayaran dari desa.

Dua. Tabib berkeliling itu mahal. Seorang tabib yang berangkat jam tiga pagi ke desa terpencil dan tidak menerima bayaran artinya ada yang membayarinya dari tempat lain.

Tiga. Untuk membayari itu, kamu butuh uang, dan di akademi ini ada empat keluarga yang punya uang sebanyak itu.

Empat. Dari keempat keluarga itu, cuma ada satu orang yang tahu bahwa aku pergi ke Ohaza setiap bulan — karena cuma satu orang yang pernah bertanya, tiga bulan lalu, di klinik, sambil meletakkan bekal di meja: “Anda benar-benar tidak libur sama sekali?”

Lima. Orang itu juga sudah membawakan dua bungkus bekal setiap dua hari selama empat bulan, tanpa diminta, dan tidak pernah sekali pun berhenti walaupun aku tidak pernah berterima kasih dengan benar.

Aku betul-betul bangga pada diriku sendiri waktu itu.


“Hoshizaki-san.”

Ia mengangkat wajah dari laporan latihan. Musim gugur, jam empat sore, klinik, dan ia sudah duduk di kursi dekat jendela — yang entah sejak kapan jadi kursinya.

“Ya?”

“Ohaza.”

“Ohaza?”

“Desa di kaki gunung.” Aku menaruh cangkir teh di depannya. “Terima kasih.”

Ia berkedip. “Untuk apa?”

“Untuk tabibnya.”

“Tabib apa?”

Aku duduk di seberangnya. “Kamu tidak perlu berpura-pura. Aku cuma ingin bilang terima kasih, sekali, lalu kita tidak usah membahasnya lagi.”

Hoshizaki Ayaka memandangiku dengan wajah yang, kalau aku tidak sedang begitu yakin pada diriku sendiri, akan langsung kukenali sebagai kebingungan murni.

“Amane-san, saya tidak mengirim tabib ke mana pun.”

“Baik.”

“Saya serius.”

“Aku tahu.” Aku mengangguk. “Sudah, tidak usah dibahas.”

“Saya tidak—” Ia berhenti.

Dan aku bisa melihat sesuatu bekerja di belakang matanya. Cepat. Ia menoleh sedikit ke arah rak dua, tempat Kuromiya sedang menghitung sesuatu dengan sangat tekun dan sangat sunyi, lalu kembali padaku.

Ia membuka mulut.

Lalu menutupnya.

“...Sama-sama,” katanya.

“Nah.”

“Amane-san.”

“Hm.”

“Kalau nanti Anda tahu bahwa Anda salah,” katanya, hati-hati sekali, “saya minta Anda ingat bahwa saya sudah menyangkal dua kali.”

“Dicatat.”

Ia meminum tehnya dan tidak berkata apa-apa lagi selama dua puluh menit, dan sesekali melirik ke rak dua, dan aku terlalu puas dengan deduksiku sendiri untuk memperhatikan.


Hal-hal lain mulai menumpuk sepanjang minggu itu.

Senin. Seorang anak tingkat satu datang dengan luka bakar ringan di lengan yang sudah diolesi salep dengan benar, sudah ditutup dengan benar, dan sudah dua hari. “Kenapa baru sekarang ke sini?” — “Katanya harus dicek ulang hari ketiga.” — “Kata siapa?” — Anak itu tidak ingat.

Selasa. Aku membuka laci empat, yang selalu kosong karena aku selalu lupa mengisinya, dan laci itu penuh.

Rabu. Tiga pasien rutin — perban mingguan, semuanya pekerjaan tangan, semuanya butuh dua puluh menit — tidak datang. Aku mengecek: mereka sudah diganti perbannya pagi-pagi, di asrama masing-masing.

Kamis. Latih tanding Menara Barat. Delapan orang terluka. Enam ditangani di gedung latihan sebelum sempat naik ke menara.

Kamis malam aku duduk di klinik yang kosong pada jam yang seharusnya paling sibuk sepanjang minggu, dan menyadari bahwa aku sudah tiga hari tidak memakai sihirku sama sekali.

Aku mengangkat tanganku ke cahaya lampu.

Diam. Tidak gemetar.

Itu tidak terjadi sejak musim semi.


Yang kurasakan bukan lega.

Aku tahu itu seharusnya lega. Aku sudah menghitung sendiri, malam-malam, berapa lama lagi ini bisa berjalan; aku tahu persis apa artinya tiga hari tanpa memakai sihir.

Yang kurasakan adalah sesuatu yang lain, dan aku butuh waktu lama untuk berani menamainya.

Aku duduk di klinik kosong, jam sembilan malam, hari paling ramai dalam seminggu, dan aku merasa tidak dibutuhkan.

Dan begitu aku memikirkan kata itu, aku langsung berdiri dan mulai menyusun ulang rak tiga yang tidak perlu disusun ulang, karena tangan yang sibuk tidak sempat memikirkan kalimat lanjutan dari kata itu.

Kalimat lanjutan dari kata itu, kalau kamu penasaran, adalah: lalu untuk apa aku.


Kuromiya datang jam setengah sepuluh, di luar jadwal, membawa jubahnya masih terpasang.

Ia berhenti di ambang pintu waktu melihatku menurunkan seluruh isi rak tiga ke lantai.

“Ini jam sembilan lewat tiga puluh.”

“Rak ini salah susun.”

“Rak itu Anda susun sendiri dua minggu lalu.”

“Berarti aku salah dua minggu lalu.”

Ia berdiri di sana lama sekali.

Lalu ia melepas jubahnya, menggantungnya di kait, mencuci tangan, dan berlutut di lantai di seberangku dan mulai memungut botol-botol.

“Kamu tidak perlu—”

“Rak ini muat empat puluh dua botol,” katanya. “Kalau dua orang, empat puluh menit. Kalau satu orang, satu setengah jam. Anda tidak akan tidur sampai jam dua belas.”

“Aku sering tidur jam dua belas.”

“Saya tahu.”

Kami menyusun rak tiga selama empat puluh menit.

Di menit kedua puluh, ia berkata, tanpa mengangkat wajah:

“Minggu ini sepi.”

“Iya.”

“Anda tidak suka.”

Aku hampir menjawab dengan sesuatu yang bercanda.

“Tidak,” kataku.

Ia meletakkan botol di tempatnya. Mengambil yang berikutnya.

“Kenapa?”

Dan aku tidak punya jawaban yang bisa kuucapkan keras-keras kepada murid tingkat tiga di lantai kliniknya sendiri jam sepuluh malam, jadi aku memberikan jawaban terdekat yang masih benar.

“Karena kalau tidak ada yang perlu kukerjakan,” kataku, “aku cuma laki-laki di menara paling kecil yang tidak masuk daftar apa pun.”

Botol di tangannya berhenti di udara.

Ia meletakkannya, sangat pelan, di rak.

“Itu bukan—”

Ia berhenti.

Aku menunggu.

“Bukan apa?”

“Bukan apa-apa,” katanya. “Rak ini kurang satu botol. Yang biru kecil.”

“Ada di laci empat.”

“Sejak kapan ada di laci empat?”

“Sejak Selasa,” kataku. “Entah siapa yang mengisinya.”

Ia tidak menjawab, dan ia menghabiskan sisa empat puluh menit itu tanpa bicara satu kata pun, dan waktu ia pulang jam sebelas ia berhenti di ambang pintu lebih lama dari biasanya, membelakangiku, dengan tangan di kusen.

“Amane-san.”

“Hm.”

“Kalau ada orang yang mengurangi pekerjaan Anda,” katanya, “orang itu belum tentu berpikir Anda tidak dibutuhkan.”

“Aku tahu.”

“Anda tidak tahu.”

Dan ia turun tangga sebelum aku sempat bertanya apa maksudnya, dan berhenti di anak tangga ketujuh seperti biasa, dan berdiri di sana — aku bisa mendengarnya, karena tangga Menara Utara membawa suara seperti pipa air — selama hampir satu menit penuh.

Lalu langkahnya lanjut ke bawah.


Aku menulis satu baris di buku catatan malam itu, di halamannya.

Marah soal sesuatu. Bukan soal aku. Cari tahu.

Lalu aku menambahkan, di bawahnya:

Tangannya dingin.

Aku menulisnya karena saat menyerahkan botol tadi, jari kami bersentuhan lewat sarung tangan, dan aku menyadari sesuatu yang seharusnya kusadari sejak musim semi: sarung tangan itu tidak pernah hangat.

Aku pikir itu karena kainnya.

Aku menutup buku dan tidur, dan besoknya aku mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada Hoshizaki Ayaka di lorong Menara Barat, dan Hoshizaki Ayaka menjawab “sama-sama” dengan wajah orang yang sedang menghitung sesuatu yang tidak ia sukai hasilnya.


Bersambung ke Bab 12 — “Ikat Rambut”