Chapter Three
Bintang yang Lupa Makan Siang
POV: Amane Haruto · Musim semi, minggu kedua
Ada satu hari dalam seminggu di mana Menara Utara tidak membosankan, dan hari itu bernama Kamis.
Kamis adalah hari latih tanding gabungan Menara Barat. Delapan puluh murid, senjata tumpul, mantra terbatas, pengawas dua orang yang keduanya lebih tertarik pada teh. Secara resmi tidak ada yang boleh terluka.
Secara resmi.
Aku sudah memindahkan meja ke tengah ruangan sejak pagi.
Yang pertama datang jam sepuluh: memar. Jam sepuluh lewat dua puluh: hidung berdarah, tidak patah, cuma dramatis. Jam sebelas: seorang anak perempuan tingkat dua dengan bahu yang lepas dari tempatnya dan wajah yang sudah putih.
Yang itu memakan waktu. Bukan sihirnya — sihirnya tiga detik. Yang memakan waktu adalah membujuknya supaya berhenti menahan napas.
“Namamu siapa?”
“Ha— Hanae.”
“Hanae-chan. Aku akan hitung sampai tiga, dan di hitungan kedua semuanya sudah selesai. Itu curang, tapi aku selalu begitu.” Aku menaruh tanganku di bahunya. “Satu—”
Selesai.
Ia menangis setelahnya, seperti kebanyakan orang; bukan karena sakit, tapi karena sakitnya tiba-tiba hilang dan tubuh tidak tahu harus apa dengan sisa ketakutan yang sudah terlanjur dikumpulkan.
Bahuku sendiri nyeri selama dua puluh detik, lalu larut.
Kuromiya sudah menyiapkan air minum sebelum aku sempat memintanya. Dua hari terakhir ia mulai melakukan itu — mendahului satu langkah. Selasa ia sudah menyiapkan kasa sebelum aku menyuruh. Rabu ia sudah membuka buku catatan di halaman yang benar.
Aku belum memberitahunya bahwa itu hal paling berguna yang pernah dilakukan asisten mana pun di ruangan ini.
Aku menyimpannya untuk nanti. Aku punya kebiasaan buruk menyimpan hal-hal seperti itu untuk nanti.
Jam satu, pintu terbuka tanpa diketuk, dan seluruh temperatur ruangan berubah.
Aku sudah dua tahun di sini dan aku masih belum menemukan cara yang tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi kalau Hoshizaki Ayaka masuk ke suatu tempat. Yang paling dekat: seperti ada orang yang menyalakan lampu tambahan.
Rambut merah gelap, diikat tinggi. Jubah Menara Barat dengan tiga garis emas di lengan, artinya peringkat tiga besar. Dan cara berdiri yang jelas diajarkan sejak kecil oleh seseorang yang dibayar mahal untuk mengajarkannya.
“Amane-sensei—”
“Bukan sensei.”
“—Amane-san.” Ia menyeret seorang laki-laki besar di belakangnya, memegangi kerah jubahnya seperti orang menyeret karung beras. “Ini Ōba. Dia bilang tidak apa-apa. Dia bohong.”
Laki-laki besar itu — dua meter kurang sedikit, bahu seperti pintu gudang — melambaikan tangan ke arahku dengan malu-malu.
“Saya baik-baik saja, Amane-san. Sungguh.”
“Dia jatuh dari ketinggian empat meter,” kata Hoshizaki.
“Saya mendarat dengan baik.”
“Kamu mendarat dengan wajah.”
Aku menunjuk ranjang. “Duduk.”
Ōba duduk. Ranjangnya mengeluh.
Tulang rusuk, dua, retak, dan pergelangan kaki yang bengkak. Ia menahan semuanya tanpa bersuara selama pemeriksaan, dan menangis pelan waktu Kuromiya mendekat membawa nampan.
“Maaf,” bisiknya, panik. “Maaf, maaf, bukan karena sakit—”
“Saya tahu,” kata Kuromiya.
“Bukan, maksud saya—”
“Saya tahu,” ulangnya, dengan nada yang persis sama, dan meletakkan nampan itu di jangkauan tanganku dan mundur tiga langkah tanpa disuruh.
Aku melirik dia sekilas.
Wajahnya tidak berubah sama sekali.
Aku menyimpan pengamatan itu juga, di tumpukan yang sama, yang makin hari makin tinggi.
Aku menangani Ōba, lalu memar-memar susulan, lalu satu kasus keracunan ringan dari seseorang yang memakan sesuatu yang jelas-jelas berlabel jangan-dimakan.
Jam tiga, ruangan kosong lagi.
Hoshizaki masih di sana.
Ia duduk di kursi dekat jendela dengan punggung tegak sempurna, membaca laporan latihan, dan tidak menunjukkan tanda-tanda hendak pergi.
“Ada yang sakit?” tanyaku.
“Tidak.”
“Ada yang perlu diantar lagi?”
“Tidak.”
“Ada alasan lain?”
Ia mengangkat wajahnya. “Saya menunggu Ōba selesai istirahat. Dia anggota kelompok saya. Kalau saya pergi duluan, dia akan berdiri dan pulang sekarang juga sambil bilang tidak apa-apa.”
Itu jawaban yang lebih baik dari yang kuharapkan.
Aku menuang teh dan menyorongkan satu cangkir ke arahnya. Ia menerimanya dengan ucapan terima kasih yang otomatis dan sempurna, seperti orang yang sudah mengucapkannya sepuluh ribu kali di sepuluh ribu ruangan.
Lalu aku memandanginya sedikit lebih lama.
“Hoshizaki-san.”
“Ya?”
“Kamu makan siang jam berapa?”
Ia berkedip. “Maaf?”
“Makan siang. Hari ini.”
Hening tiga detik.
“Saya ada rapat komite,” katanya. “Dan setelah itu—”
“Kemarin?”
“Kemarin ada evaluasi kelompok.”
“Sebelum kemarin?”
Ia meletakkan cangkirnya. Untuk pertama kalinya sejak masuk, posturnya bergerak — cuma sedikit, cuma pergelangan tangannya yang berpindah ke pangkuan.
“Amane-san, dengan segala hormat, saya tidak datang ke sini untuk—”
“Tanganmu gemetar waktu memegang cangkir.”
“Saya baru latihan enam jam.”
“Iya. Enam jam, tanpa makan, dan kamu masih mengangkat Ōba yang beratnya seratus kilo lebih ke atas tangga menara ini.” Aku menarik kursi dan duduk berhadapan dengannya. “Aku tidak sedang menceramahi. Aku sedang mendiagnosis. Ada bedanya, walaupun nadanya mirip.”
“Saya tidak sakit.”
“Belum.”
Ia diam.
Aku sudah melihat versi lain dari orang ini di dunia lamaku. Bukan penyihir, tentu saja. Perawat tahun ketiga, dokter residen, ibu-ibu yang menunggui anaknya empat hari di kursi plastik. Manusia yang menemukan bahwa selama mereka berguna, tidak ada yang bertanya apakah mereka baik-baik saja — dan lalu memutuskan untuk berguna terus-menerus, sepanjang waktu, tanpa jeda, karena jeda adalah tempat pertanyaan itu bisa masuk.
“Boleh aku ceritakan sesuatu yang membosankan?” kataku.
“Sepertinya saya tidak punya pilihan.”
“Tubuhmu membakar cadangan sekarang. Itu sebabnya gemetar. Cadangan itu ada gunanya — dia disimpan untuk hari kamu betul-betul butuh, misalnya hari kamu harus menyeret orang seratus kilo keluar dari reruntuhan, bukan menaiki tangga.” Aku mengetuk meja. “Kalau kamu pakai cadangan untuk hari biasa, di hari luar biasa nanti kamu tidak punya apa-apa lagi. Dan yang mati bukan kamu. Yang mati orang yang menunggu kamu datang.”
Wajahnya berubah.
Bukan tersinggung. Sesuatu yang lain, lebih pelan, dan aku tidak bisa membacanya waktu itu.
“Tidak ada yang pernah mengatakan itu kepada saya,” katanya akhirnya.
“Aku yakin banyak yang bilang kamu hebat.”
“Setiap hari.”
“Nah. Itu bukan hal yang sama.”
Ia mengambil cangkirnya lagi. Tangannya masih gemetar sedikit. Kami berdua melihatnya.
“Ini teh apa?” tanyanya, mengalihkan, dan aku membiarkannya mengalihkan.
“Teh manis. Resep dari kampungku.”
“Kampung Anda di mana?”
“Jauh.”
Ia pergi jam empat, menyeret Ōba yang sudah dua kali mencoba berdiri dan dua kali disuruh duduk lagi.
Di ambang pintu ia berhenti.
“Amane-san. Boleh saya tanya sesuatu yang mungkin tidak sopan?”
“Silakan.”
“Kenapa Anda di Menara Utara?”
“Karena ini klinik dan aku penyembuh.”
“Bukan itu maksud saya.” Ia menoleh sedikit ke arah Kuromiya, yang sedang menghitung kasa dan jelas-jelas mendengarkan sambil pura-pura tidak. “Menara Barat punya empat penyembuh yang ditempatkan di gedung latihan. Mereka dibayar tiga kali lipat, mereka punya ruangan yang lebih besar, dan mereka menangani seperempat dari jumlah pasien Anda. Anda bisa pindah kapan saja. Saya sudah pernah dengar kepala menara kami menawarkannya, dua kali.”
Aku mengelap tanganku ke celemek.
“Karena di sana mereka menangani murid Menara Barat,” kataku. “Dan di sini aku menangani siapa saja yang bisa naik tangga.”
Ia memandangiku beberapa saat.
Lalu ia membungkuk — pendek, dan tidak formal, dan agak canggung, seperti orang yang biasanya menerima bungkukan, bukan memberikannya.
Pintu tertutup.
“Anda tidak menjawab pertanyaannya,” kata Kuromiya, dari sudut, tanpa mengangkat wajah dari kasa.
“Aku menjawab.”
“Anda menjawab kenapa Anda tidak pindah. Dia bertanya kenapa Anda di sini.”
Aku membuka mulut, dan menutupnya lagi.
Ia mengangkat wajahnya. Menatapku — atau ke titik yang biasa, sedikit di atasku — lalu turun ke mataku, akhirnya, dan bertahan di sana.
“Tidak apa-apa,” katanya. “Saya juga tidak menjawab kalau ditanya soal klan saya.”
Ia kembali menghitung kasa.
Aku berdiri di tengah ruangan dengan lap di tangan, dan merasakan sesuatu yang tidak nyaman dan tidak sepenuhnya buruk, seperti otot yang baru dipakai setelah lama tidak.
Besoknya, Jumat, ia datang jam empat kurang sepuluh.
Bukan Kuromiya. Hoshizaki.
Ia masuk tanpa mengetuk, seperti biasa, berjalan lurus ke meja, dan meletakkan dua bungkusan kain di atasnya. Bunyinya berat.
“Apa ini?”
“Bekal.”
“Kenapa dua?”
“Karena kalau saya bawa satu, Anda akan bilang Anda sudah makan, dan saya tidak akan bisa membuktikan Anda bohong.” Ia melipat tangan. “Sekarang ada dua. Salah satunya untuk Anda. Kalau Anda menolak, saya akan berdiri di sini sampai jam tujuh.”
Di belakangku, aku mendengar Kuromiya berhenti menuang sesuatu.
“Aku sudah makan,” kataku.
“Kapan?”
Aku membuka mulut.
“Amane-san,” kata Hoshizaki Ayaka, sangat sopan, sangat tenang, dengan senyum yang sudah dilatih di ruangan-ruangan penuh bangsawan sejak umur sepuluh, “kapan?”
Aku duduk dan membuka bungkusan itu.
Ia menonton sampai suapan ketiga sebelum akhirnya puas, lalu berbalik pergi ke pintu, dan berhenti sebentar untuk mengangguk ke arah Kuromiya — kecil, sopan, dan Kuromiya, yang tidak pernah dianggukkan siapa pun di akademi ini, jelas-jelas tidak tahu harus berbuat apa dengan itu.
“Jam empat, dua hari lagi,” kata Hoshizaki dari ambang pintu. “Saya akan bawa dua lagi.”
“Aku tidak minta.”
“Tidak,” katanya, “Anda tidak.”
Pintu tertutup.
Ruangan hening.
Aku makan tiga suapan lagi sebelum sadar bahwa Kuromiya sudah berdiri di ujung meja entah sejak kapan, memandangi bungkusan kedua yang belum dibuka dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca sama sekali.
“Mau?” tanyaku, menyorongkannya.
“Tidak.”
“Kamu belum makan siang juga.”
“Saya tidak—” Ia berhenti. Mengetuk meja tiga kali. “Bagaimana Anda tahu.”
“Aku tidak tahu. Aku menebak.” Aku menyorongkan bungkusan itu lima senti lebih dekat. “Ternyata benar. Duduk.”
Ia duduk.
Kami makan bekal orang lain di klinik yang membosankan di menara terkecil, dan tidak satu pun dari kami berkata apa-apa selama sepuluh menit penuh, dan itu adalah sepuluh menit paling nyaman yang kualami sejak aku tiba di dunia ini.
Di suatu tempat di atas kepalaku, benang yang tidak bisa kulihat memendek satu ruas lagi.
Aku tidak tahu.
Tapi orang di seberang meja tahu, dan ia meletakkan sumpitnya sebentar, dan menatap ke arah bahuku, dan tidak makan apa-apa selama dua puluh detik.
Waktu itu kukira ia tidak suka ikannya.
Bersambung ke Bab 4 — “Teh yang Rasanya Aneh”