Chapter Twenty Seven
Halaman 402
POV: Amane Haruto · Musim dingin, dua belas hari sebelum keberangkatan
Aku mendatangi Ganryū dan meminta babnya secara langsung.
Aku ingin mencatat itu, karena semua yang kulakukan setelahnya lebih mudah dimaafkan kalau orang tahu bahwa aku mencoba jalan yang benar lebih dulu.
“Tidak,” katanya.
“Profesor—”
“Tidak.”
“Anda belum dengar alasannya.”
“Saya sudah dengar alasannya empat puluh tahun lalu,” katanya, “dari orang yang jauh lebih pintar dari kamu, dengan suara yang jauh lebih pelan, dan saya tetap bilang tidak.”
Ia sedang menuang teh. Tangannya sama sekali tidak goyah, dan itu membuatku sadar bahwa aku sudah mulai memperhatikan tangan semua orang.
“Saya tidak akan memakainya untuk diri saya sendiri,” kataku.
“Saya tahu.”
“Kalau begitu Anda tahu saya tidak sedang meminta jalan keluar.”
“Amane-kun.” Ia meletakkan pocinya. “Tidak ada satu pun orang yang pernah meminta bab itu untuk dirinya sendiri. Itu justru masalahnya. Ritus itu tidak menarik bagi orang yang ingin hidup.”
“Berapa lama waktumu?” tanyanya, setelah beberapa saat.
Aku mempertimbangkan berbohong.
“Empat puluh delapan hari,” kataku. “Batas luar. Kalau tidak ada apa-apa.”
Ia mengangguk pelan, seperti orang yang mencocokkan sesuatu dengan daftar di kepalanya, dan yang sudah tahu jawabannya sebelum bertanya.
“Dan apa yang akan kamu lakukan dengan empat puluh delapan hari itu?”
“Berangkat ke lembah utara. Membuka klinik lapangan. Menangani yang dibawa mundur.”
“Dan sisanya akan habis sedikit-sedikit,” katanya. “Lima orang hari ini, delapan besok. Empat puluh delapan hari jadi tiga puluh, jadi dua puluh. Dan pada suatu malam kamu akan kehabisan di tengah, sambil memegang orang yang tidak kamu kenal.”
“Iya.”
“Dan kamu tidak suka itu.”
Aku tidak menjawab.
Ganryū menyandarkan punggungnya.
“Ini yang saya pahami tentang kalian bertujuh setelah empat puluh tahun,” katanya. “Kalian tidak takut mati. Kalian takut mati eceran.”
Aku turun dari lantai empat Menara Selatan jam empat sore.
Aku berjalan ke klinik. Aku menangani dua pasien. Aku memeriksa peti empat belas bersama Kuromiya dan mengoreksi hitungannya sekali, yang jarang terjadi, dan ia terlihat kesal selama sekitar sepuluh detik.
Aku menuang teh untuk dua orang jam tujuh malam.
Dan sepanjang delapan jam itu, kalimat Ganryū tidak berhenti berputar, karena ia benar dan aku tahu ia benar dan aku sudah tahu ia benar sejak jauh sebelum ia mengucapkannya.
Empat puluh delapan hari.
Bukan empat puluh delapan hari untuk hidup — aku sudah selesai dengan gagasan itu. Empat puluh delapan hari untuk dibelanjakan, dan aku bisa membelanjakannya dengan dua cara.
Cara pertama: eceran. Tiga hari di sini, seminggu di sana, sampai suatu malam sisanya tidak cukup untuk menutup satu luka lagi dan aku berhenti di tengah dengan tangan di dada seseorang.
Cara kedua: sekaligus, untuk satu orang, tepat, tanpa sisa.
Aku sudah dua tahun berdiri di ruangan-ruangan dan memilih siapa duluan. Kalau ada satu hal yang kupelajari, ini dia: yang paling menyakitkan bukan kehilangan orang. Yang paling menyakitkan adalah kehilangan orang karena kamu kehabisan di tengah.
Aku membobol ruang kerja Profesor Ganryū jam satu pagi.
Aku tidak pandai membobol apa pun. Aku pernah menonton Nikaidō Sōta membuka kunci rak sembilan dalam dua puluh detik dengan kawat penjepit gulungan, dan aku sudah mencurinya dari kotak alat gulungan sore itu, dan aku menghabiskan sebelas menit di lorong lantai empat sebelum berhasil.
Kuncinya jelek.
Semua kunci di menara ini jelek. Ia sudah tiga kali mengajukan permohonan penggantian secara tertulis.
Ruangan itu gelap, kecuali bara di tungku.
Aku tidak menyalakan lampu.
Aku tahu apa yang kucari dan aku tahu ia tidak akan ada di rak — orang yang menghabiskan empat puluh tahun menyembunyikan sesuatu tidak menaruhnya di rak.
Butuh dua puluh menit.
Kotak kayu, di bawah meja tulisnya, di belakang tumpukan gulungan yang jelas-jelas ditaruh di sana untuk dipindahkan oleh orang yang mencari. Panjang dua telapak tangan. Tidak dikunci.
Aku membukanya di lantai, di depan tungku, dengan bara sebagai satu-satunya cahaya.
Isinya kertas.
Halaman-halaman tunggal, semuanya, disusun rapi, tepinya robek. Aku menghitungnya kemudian di klinik: tiga puluh sembilan lembar.
Tiga puluh sembilan buku ajar.
Semuanya halaman yang sama. Semuanya bernomor 402.
Dan ia tidak membakar satu pun.
Empat puluh tahun.
Ia merobeknya dari tiga puluh sembilan buku dalam tiga malam, dan lalu ia menyimpan semuanya, di kotak kayu, di bawah mejanya, di ruangan yang kuncinya jelek dan yang permohonan penggantiannya sudah ia ajukan tiga kali secara tertulis.
Orang yang ingin sesuatu lenyap punya tungku.
Ia punya tungku. Barangnya menyala di depanku waktu aku membuka kotak itu.
Aku duduk di lantai ruang kerja itu jam satu pagi dan menyadari bahwa aku sedang tidak mencuri apa pun.
Di paling atas, di atas tumpukan tiga puluh sembilan halaman itu, ada sehelai pita.
Warnanya sudah hilang. Mungkin dulu merah; mungkin dulu bukan. Ujungnya berjumbai.
Aku memegangnya cukup lama.
Seorang anak sembilan belas tahun dengan luka jari yang tidak menutup menandai sebuah halaman dengan pita ini, dan meninggal tiga minggu kemudian karena demam, dan orang yang mencintainya menghabiskan empat puluh tahun berikutnya memastikan tidak ada orang lain yang menemukan halaman itu — dan tidak sanggup membakarnya, sekali pun, dalam empat puluh tahun.
Aku meletakkan pita itu kembali ke dalam kotak.
Aku mengambil satu halaman.
Satu, dari tiga puluh sembilan. Aku menutup kotaknya, mengembalikannya ke bawah meja, di belakang tumpukan gulungan.
Dan waktu aku berbalik ke pintu, aku melihat bahwa kursi di dekat jendela tidak kosong.
Ia duduk di sana menghadap jendela, dengan selimut di lutut.
Aku tidak tahu sudah berapa lama. Aku tidak tahu apakah ia di sana waktu aku masuk.
Aku berdiri di tengah ruangan dengan satu lembar kertas di tangan selama mungkin sepuluh detik.
Ia tidak menoleh.
Bahunya naik-turun pelan, dengan pola orang tidur.
Mungkin ia memang tidur. Itu mungkin sekali. Ia enam puluhan dan selalu setengah tidur di setiap ruangan yang pernah kumasuki bersamanya, dan tidurnya di kursi menghadap jendela di ruang kerjanya sendiri jam satu pagi adalah hal paling wajar di dunia.
Aku memilih untuk percaya itu selama sekitar dua minggu.
Aku berhenti mempercayainya di lembah utara, waktu ia berdiri di sebelahku sebelum berangkat dan mengucapkan satu kalimat yang cuma masuk akal kalau ia tahu persis apa yang ada di sakuku.
Aku keluar dan menutup pintunya pelan-pelan.
Kuncinya tidak kupasang lagi. Percuma. Kuncinya jelek.
Aku membacanya di klinik, jam dua pagi, dengan satu lilin.
HALAMAN 402 — UTSUSHIMI NO GI (移し身の儀). RITUS PENGGANTIAN.
Bentuk asli sihir penyembuhan, sebelum dilemahkan pada Reformasi Menara tahun 604.
Yang dipindahkan bukan luka melainkan takdir. Pelaksana mengambil seluruh kematian orang lain ke dalam tubuhnya sendiri: utuh, tanpa sisa, tanpa tawar-menawar.
Tidak dapat dibatalkan.
Tidak dapat dilakukan sebagian.
Tidak dapat dilakukan atas orang yang sudah berhenti bernapas lebih dari waktu yang dibutuhkan untuk membaca ritusnya.
Casting: dua belas baris. Sekitar dua puluh detik. Tidak dapat dipercepat.
Pelaksana tidak dapat bergerak selama pembacaan.
Ritus mewajibkan penyebutan dua nama: nama pelaksana dan nama yang digantikan. Keduanya harus diucapkan keras, utuh, tanpa gelar. Ritus ini tidak dapat dilakukan diam-diam, dan itu disengaja oleh penyusunnya.
Aku berhenti di baris terakhir itu.
Aku membacanya empat kali.
Ritus ini tidak dapat dilakukan diam-diam, dan itu disengaja oleh penyusunnya.
Ada orang, empat ratus enam puluh tahun lalu, yang menyusun sihir ini dan memutuskan bahwa siapa pun yang memakainya harus mengucapkan nama orang yang ia selamatkan keras-keras, di depan orang itu, supaya tidak ada yang bisa berpura-pura tidak tahu.
Itu bukan syarat teknis.
Itu hukuman.
Lalu dua belas barisnya.
Aku tidak akan menuliskannya di sini. Aku sudah mengucapkannya sekali dan aku tidak berniat menuliskannya juga.
Yang bisa kukatakan: sembilan baris pertama adalah pernyataan. Baris kesepuluh dan kesebelas adalah pengakuan. Dan baris kedua belas adalah satu kata dan satu kata kerja, dan setelah kamu mengucapkannya tidak ada apa pun yang bisa dilakukan siapa pun.
Aku membacanya sampai jam empat pagi.
Aku menghafalnya sampai jam lima.
Yang perlu kucatat, karena aku sudah berjanji jujur di catatan ini:
Aku tidak memikirkan siapa pun secara khusus malam itu.
Itu benar, dan itu juga bohong, dan keduanya benar sekaligus.
Aku memikirkannya sebagai perkakas. Sebagai cara membelanjakan empat puluh delapan hari sekaligus alih-alih eceran. Aku menyusun kriterianya seperti menyusun protokol triase: dipakai kalau, dan hanya kalau, ada satu orang yang tidak bisa diselamatkan dengan cara lain, dan sisa waktuku sudah tidak cukup untuk menyelamatkan banyak orang secara eceran.
Aku betul-betul menyusun kriterianya. Aku menulisnya di halaman belakang buku catatan, tiga poin, dengan tanda hubung.
Dan di poin ketiga aku berhenti menulis, dan meletakkan pena, dan duduk di klinik jam lima pagi dengan lilin yang tinggal separuh.
Karena kalau kamu menyusun kriteria untuk sesuatu, ada satu hal yang sudah pasti benar tentang dirimu:
Kamu sudah memutuskan untuk memakainya.
Kamu cuma sedang mencari cara supaya keputusan itu terlihat seperti kesimpulan.
Aku menggambar lingkarannya sebelum matahari terbit.
Bukan di kertas. Kertas bisa hilang; kertas bisa basah; kertas bisa tertinggal di peti empat belas.
Aku menggambarnya di telapak tangan kiriku dengan tinta jarum — tinta yang biasa kupakai menandai batas luka bakar di kulit pasien, yang tidak hilang oleh air dan bertahan sekitar dua bulan.
Butuh empat puluh menit. Tanganku gemetar dua kali dan aku menunggu sampai berhenti.
Lingkaran itu kecil. Diameter kira-kira empat senti, di tengah telapak.
Aku menutupnya dengan sarung tangan kulit yang ibu jarinya sudah bolong — yang ventilasi — dan aku sudah memakai sarung tangan sejak musim semi, dan tidak ada satu pun orang di akademi ini yang akan bertanya kenapa.
Kecuali satu orang, yang tahu persis kapan aku mulai memakainya dan kenapa.
Dan orang itu tidak akan bertanya, karena ia mengira ia sudah tahu jawabannya, dan karena ia sedang sibuk menghitung sesuatu yang lain.
Aku tidur satu jam.
Jam tujuh aku merebus air untuk dua cangkir.
Ia datang tepat waktu, memakai jubah biru, menghabiskan tehnya sampai bawah, dan memintaku mengikat rambutnya karena talinya kendur.
Aku mengikat rambutnya dengan tangan kiri bersarung tangan.
Dua belas hari lagi.
Bersambung ke Bab 28 — “Persiapan”