← The Seventh Healer

Chapter Seventeen

Festival Hoshimori

POV: Amane Haruto · Musim gugur, malam festival


Festival Hoshimori diadakan setiap akhir musim gugur untuk memperingati sesuatu yang tidak ada satu pun murid bisa jelaskan dengan benar.

Aku bertanya kepada sebelas orang. Aku dapat sembilan jawaban berbeda. Profesor Ganryū, yang seharusnya paling tahu, menjawab: “Untuk memperingati bahwa musim dingin belum datang.”

Yang jelas: aula utama dikosongkan, empat menara menggantung lampion di halaman masing-masing, dapur kantin bekerja tiga hari penuh, dan seluruh akademi berdansa.

Aku sudah dua kali melewatinya dengan cara yang sama: buka klinik, tunggu, tangani lima sampai delapan kasus kaki terkilir dan mabuk sari beras, tidur jam dua.

Tahun ini aku ditarik keluar dari menara oleh seorang anak perempuan setinggi seratus empat puluh delapan senti.


“Amane-san harus datang.”

“Aku jaga klinik.”

“Genta jaga klinik.”

“Genta bukan penyembuh.”

“Genta bisa memanggil Anda kalau ada yang serius, dan Genta sudah setuju, dan Genta sudah pakai celemek.” Mochizuki Koharu berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan di pinggang. “Dan kalau Anda tidak datang, saya akan menyalakan sesuatu di halaman ini.”

“Kamu tidak akan.”

“Amane-san,” katanya, dengan kesabaran orang dewasa yang menjelaskan kepada anak kecil, “saya sudah menyalakan tiga lab.”


Aula utama Hoshimori dengan lampion menyala adalah satu-satunya hal di dunia ini yang belum pernah kubandingkan dengan apa pun dari dunia lamaku.

Tidak ada bandingannya. Tiga ratus lampion kertas di langit-langit setinggi delapan meter, semuanya bergoyang pelan karena pintu-pintu dibiarkan terbuka, dan bayangannya bergerak di lantai kayu seperti air.

Aku berdiri di pinggir selama setengah jam merasa seperti perabot.

Genta — yang ternyata tidak jaga klinik sama sekali dan sudah ditipu Koharu dengan cara yang sama — berdiri di sebelahku dengan piring berisi enam potong kue.

“Amane-san tidak berdansa?”

“Tidak bisa.”

“Saya juga tidak.” Ia mengunyah. “Tapi tahun lalu saya coba, dan ada dua orang yang cedera.”


Kuromiya datang jam sembilan.

Ia berdiri di pintu masuk aula dengan wajah orang yang salah masuk ruangan.

Ia memakai jubah upacara Menara Selatan — semua orang memakai jubah upacara menara masing-masing; itu tidak istimewa — dan rambutnya diikat, dan sarung tangannya yang biasa.

Yang membuatku berhenti bukan itu.

Yang membuatku berhenti adalah bahwa ia berdiri di pintu selama hampir satu menit tanpa masuk, dan aku bisa melihat persis apa yang sedang ia hitung: berapa langkah ke tepi ruangan, jalur mana yang paling sedikit melewati orang, di mana tempat berdiri yang tidak menghalangi siapa-siapa.

Aku sudah melihat orang menghitung hal itu sebelumnya. Di dunia lamaku, di ruang tunggu, keluarga pasien yang sudah tiga malam tidak pulang.

Aku menyeberangi aula.


“Kamu terlambat.”

“Saya tidak berjanji datang.”

“Kamu tetap terlambat.”

Ia melihat ke aula. “Ramai sekali.”

“Tiga ratus lebih.”

“Saya tidak pernah datang ke festival.”

“Dua tahun?”

“Sebelas tahun,” katanya.

Aku tidak menanggapi itu, karena kalau kutanggapi, akan jadi lebih besar dari yang ia maksudkan.

Musik berganti. Yang tadinya cepat jadi lambat — bagian tengah malam, yang lagunya cuma ada tiga dan diulang sepanjang tahun, dan seluruh akademi hafal semuanya.

Pasangan-pasangan mulai membentuk lingkaran di tengah.

“Mereka tahu langkahnya,” katanya, mengamati seperti orang mengamati tumbuhan. “Semua orang tahu langkahnya.”

“Diajarkan waktu tingkat satu.”

“Saya tingkat satu di rumah induk.” Ia berkata itu tanpa nada apa pun. “Kami diajari mencatat.”


Aku tidak merencanakannya.

Aku ingin menegaskan itu, karena kalau aku merencanakannya, aku akan mengacaukannya.

Aku cuma mengulurkan tangan.

Ia memandangi tanganku.

“Saya tidak bisa.”

“Aku juga tidak.”

“Anda tinggal dua tahun di sini, Anda pasti pernah—”

“Kuromiya, aku laki-laki yang tinggal di menara dengan keset bertuliskan cuci tangan dulu.” Tanganku masih terulur. “Aku tidak bisa berdansa. Aku bisa mengajari orang berjalan lagi setelah patah tulang paha. Itu prosedurnya mirip.”

“Itu sama sekali tidak mirip.”

“Sangat mirip. Hitungan, tumpuan, dan satu orang menahan supaya yang satunya tidak jatuh.”

Ia berdiri di sana lama sekali.

Lalu ia meletakkan tangannya — bersarung tangan, seperti selalu — di tanganku.


Kami tidak masuk ke lingkaran. Aku tidak sebodoh itu.

Kami berdiri di sisi utara aula, di antara dua tiang, di tempat yang cukup gelap karena lampion di bagian itu ada tiga yang mati.

“Tangan kiri di bahuku,” kataku. “Bukan menggantung. Ditumpukan.”

Ia menaruh tangannya.

“Sekarang aku akan menaruh tangan di pinggangmu. Boleh?”

Jeda dua detik.

“Boleh.”

Aku menaruhnya.

Dan aku menghitung mundur di dalam kepala, seperti waktu ia memeriksa denyutku enam bulan lalu, karena ternyata itu satu-satunya teknik yang kupunya.

“Empat hitungan,” kataku. “Kiri, kanan, kiri, tutup. Jangan lihat kaki.”

“Kalau saya tidak lihat kaki, saya menginjak Anda.”

“Iya.”

“Itu bukan jawaban.”

“Kuromiya, aku sudah pernah menyembuhkan tiga ratus lebih orang. Aku bisa menyembuhkan kakiku sendiri kalau kamu injak.” Aku menggerakkan tangan sedikit. “Bohong. Aku tidak bisa. Tapi tetap jangan lihat kaki.”

Ia mengeluarkan suara yang setengah tawa — yang keempat, aku menghitung — dan mengangkat wajahnya.


Ia menginjak kakiku sebelas kali dalam tiga menit pertama.

Lalu enam kali dalam tiga menit berikutnya.

Lalu ia berhenti menghitung langkah dan mulai mengikuti, dan itu terjadi tanpa ada dari kami yang menyadarinya, dan pada suatu titik aku sadar kami sudah bergerak dalam empat hitungan selama entah berapa lama tanpa satu kata pun.

Aula berisik. Musiknya sama sepanjang tahun. Lampion bergoyang.

Dan pada suatu titik ia menunduk sedikit, dan dahinya menyentuh dahiku.

Bukan sengaja. Aku cukup yakin bukan sengaja — kami terlalu dekat, dan langkahnya masih agak salah, dan ia miring ke depan setengah senti terlalu banyak.

Tapi setelah menyentuh, ia tidak mundur.


Kami berhenti bergerak.

Aku tidak tahu siapa yang berhenti duluan. Kurasa dua-duanya, di hitungan yang sama.

Dahi ke dahi. Tanganku di pinggangnya. Tangannya di bahuku. Dan seluruh ruangan itu berisik sekali, dan di antara dua tiang di sisi utara aula, tidak ada suara apa-apa.

Matanya tertutup.

“Kuromiya.”

“Jangan bicara dulu,” katanya.

Aku diam.

Ia bernapas satu kali, dalam, seperti orang yang sedang menghitung sesuatu untuk terakhir kali sebelum melepaskannya.

Lalu ia berkata — pelan sekali, dan aku menyadari kemudian bahwa itu kalimat paling telanjang yang pernah ia ucapkan kepada siapa pun, dan aku sama sekali tidak memahaminya waktu itu:

“Saya bisa lihat benang semua orang di ruangan ini.”

“Aku tahu.”

“Tiga ratus dua puluh empat orang.” Napasnya menyentuh daguku. “Saya menghitungnya waktu masuk. Saya selalu menghitung. Saya tidak bisa berhenti.”

“Kuromiya—”

“Malam ini saya cuma mau lihat kamu.”


Ia membuka matanya.

Jarak antara wajah kami mungkin sepuluh senti. Mungkin kurang.

Aku ingin menuliskan bahwa aku memikirkan banyak hal di detik itu — enam nama, deret angka, gulungan robek di rak sembilan, seluruh perhitungan yang belum berani kuselesaikan.

Aku tidak memikirkan satu pun.

Aku bergerak lebih dekat, atau ia bergerak lebih dekat, dan sejujurnya sampai sekarang aku tidak tahu yang mana —

dan seluruh halaman timur meledak.


Bunyinya seperti pintu raksasa dibanting.

Tiga ratus dua puluh empat orang di aula menjerit serentak. Musik berhenti di tengah bar. Seluruh dinding timur menyala oranye lalu hijau lalu — entah kenapa — ungu.

Kuromiya sudah melompat mundur setengah meter sebelum gemanya selesai.

Aku sudah berlari ke pintu sebelum aku sadar aku berlari, karena tubuhku sudah dua tahun dilatih untuk satu hal saja dan hal itu bukan berdansa.

Halaman timur penuh asap.

Di tengah asap, berdiri Mochizuki Koharu, hitam dari dahi sampai lutut, memegang tabung yang masih mendesis, dengan ekspresi kegembiraan murni yang belum pernah kulihat di wajah manusia mana pun.

“BERHASIL!”

“Mochizuki—”

“AMANE-SAN, BERHASIL! Empat menit dua puluh detik nyala terus-menerus tanpa bahan bakar tambahan! Saya sudah bilang kalau perbandingannya diubah—”

“Kamu terbakar.”

Ia melihat lengannya sendiri. “Oh.”


Aku menghabiskan empat puluh menit berikutnya di klinik.

Luka bakar Koharu ringan; ia jauh lebih peduli pada tabungnya daripada pada lengannya, dan menjelaskan seluruh percobaan itu kepadaku dua kali sambil kuobati, dan menolak dikompres sebelum ia selesai menulis catatannya.

Sōta datang membawa Genta yang pingsan (bukan karena ledakan; karena kaget). Tiga murid tingkat satu datang dengan telinga berdenging. Satu pengawas datang dengan alis yang mengalami nasib serupa dengan alis Koharu di musim semi.

Kuromiya tidak datang.

Aku baru menyadari itu jam sebelas, waktu ruangan kosong dan aku duduk di kursi dengan celemek berbau mesiu.

Aku menemukan jubah upacaranya tergantung di kait dekat perapian — ia pasti kembali ke klinik sebentar untuk menaruhnya dan pergi lagi.

Di bawahnya, di lantai, ada sarung tangan kirinya.

Aku memungutnya.

Kainnya dingin, seperti selalu.


Aku sedang berdiri memegangi sarung tangan itu waktu pintu terbuka.

“Amane-san.”

Hoshizaki Ayaka berdiri di ambang, masih dengan jubah upacara Menara Barat, rambut merah gelap terikat tinggi, dan wajah orang yang sudah berdiri di balkon aula sisi utara cukup lama.

Aku menurunkan tanganku.

“Ada yang terluka?”

“Tidak,” katanya.

“Ada yang butuh diantar?”

“Tidak.”

“Ada alasan lain?”

Ia menutup pintu di belakangnya.

“Ada,” katanya.


Bersambung ke Bab 18 — “Aku Cuma Capek Jadi Satu-satunya yang Tahu”