Chapter Four
Teh yang Rasanya Aneh
POV: Amane Haruto · Musim semi, minggu ketiga
Hujan mulai turun hari Selasa siang dan tidak berhenti sampai malam, dan itu artinya tidak ada latihan, tidak ada latih tanding, dan tidak ada pasien.
Aku sudah menggulung semua perban jam dua. Menyortir persediaan jam tiga. Mengecek segel penyimpanan racun — dua kali, karena aku lupa sudah mengeceknya — jam setengah empat.
Jam empat aku berdiri di tengah ruangan dan menyadari tidak ada satu pun hal tersisa yang bisa kukerjakan.
Aku benci hujan.
Kuromiya datang tepat waktu, dengan jubah yang basah di bahu dan rambut yang menempel di pelipis.
“Kamu jalan kaki?”
“Ada payung di asrama. Antre.”
“Antre payung.”
“Ada tiga payung untuk dua puluh empat orang di asrama Selatan.” Ia melepas jubahnya dan menggantungnya di kait dekat perapian, dengan hati-hati, seperti orang yang tahu persis berapa lama kain itu butuh untuk kering. “Dan saya tidak berdiri terlalu dekat dengan orang di antrean, jadi saya selalu di belakang.”
Ia mengucapkan itu seperti orang menyebutkan cuaca.
Aku menahan diri untuk tidak menanggapinya. Ada beberapa jenis kalimat yang, kalau kamu tanggapi, jadi lebih besar dari yang dimaksudkan orangnya. Aku belajar itu dari ranjang-ranjang rumah sakit, bukan dari sini.
“Tidak ada pasien hari ini,” kataku. “Dan tidak ada pekerjaan.”
“Berarti saya pulang?”
“Kamu baru naik seratus dua puluh anak tangga dalam keadaan basah.”
“Saya bisa turun.”
“Duduk,” kataku. “Aku akan membuat sesuatu.”
Butuh delapan bulan untuk mendekati rasanya, dan aku masih belum berhasil.
Masalahnya bukan tehnya. Teh di dunia ini cukup. Masalahnya susu — susu di sini terlalu segar, terlalu tipis, tidak punya rasa manis yang berat dan agak gosong itu. Aku mencoba merebusnya sampai menyusut. Mencoba menambahkan madu. Mencoba menambahkan gula batu yang dibakar sedikit di sendok, dan hampir membakar rak dua.
Yang kudapat sekarang adalah versi kesekian belas: teh hitam pekat, direbus dengan susu yang sudah kususutkan setengah, gula tiga kali lipat dari takaran yang dianggap normal siapa pun di benua ini.
Aku menuangnya ke dua cangkir dan menyorongkan satu.
Kuromiya memandanginya seperti orang memandangi bukti di persidangan.
“Ini apa?”
“Teh.”
“Warnanya salah.”
“Warnanya benar. Yang salah teh kalian.”
Ia mengangkatnya. Mencium. Alisnya bergerak satu milimeter.
Lalu ia minum.
Aku melihat seluruh prosesnya berlangsung di wajahnya — dan ini pertama kalinya aku melihat wajah itu melakukan lebih dari satu hal berturut-turut. Kaget. Bingung. Lalu semacam kekhawatiran, seolah ia baru saja menelan sesuatu yang mungkin ilegal.
Ia meletakkan cangkirnya.
“Ini terlalu manis.”
“Iya.”
“Terlalu manis sekali.”
“Iya.”
“Ini bukan minuman. Ini gula yang basah.”
“Itu deskripsi yang cukup akurat.”
“Kenapa Anda membuat ini?”
Aku menuang untuk diriku sendiri dan duduk di kursi seberangnya, dan untuk beberapa saat yang ada cuma suara hujan di batu dan suara api.
“Karena di tempat asalku, ini yang diminum orang jam tiga pagi,” kataku.
Ia tidak bertanya di mana tempat asalku.
Itu yang membuatku bicara lebih banyak dari yang kurencanakan. Semua orang selalu bertanya di mana, dan aku selalu menjawab “jauh”, dan percakapannya berhenti di situ karena orang menganggap “jauh” itu ketidaksopanan.
Kuromiya cuma menunggu.
“Aku bekerja di tempat yang mirip ini,” kataku. “Lebih besar. Jauh lebih besar — bayangkan menara ini, tapi tujuh lantai, dan penuh, setiap lantainya, setiap malam.”
“Tujuh lantai orang sakit.”
“Tujuh lantai orang sakit.”
Ia diam sebentar. “Berapa penyembuh di sana?”
“Tidak ada.”
“Tidak ada?”
“Tidak ada seperti aku.” Aku memutar cangkirku. “Di sana tidak ada yang bisa menghilangkan luka dengan tangan. Kalau tulangmu patah, tulangmu tetap patah. Kami cuma meluruskan, mengikat, dan menunggu tubuhmu mengerjakan sisanya selama dua bulan.”
“Lalu untuk apa kalian ada?”
Pertanyaan itu keluar tanpa niat menghina — aku bisa dengar dari nadanya bahwa ia betul-betul tidak tahu jawabannya.
“Supaya orang tidak sendirian waktu menunggu,” kataku.
Hujan terdengar keras sekali selama beberapa detik.
“Jam tiga pagi itu jam paling berat,” lanjutku. “Bukan karena banyak kerjaan. Justru karena sepi. Semua sudah stabil, keluarga pasien sudah tidur di kursi, lampu sudah diredupkan. Dan kamu duduk di ruang jaga dengan daftar nama, dan kamu punya waktu untuk memikirkan hal-hal yang sepanjang hari tidak sempat kamu pikirkan.”
“Dan Anda minum ini.”
“Ada mesin di lantai tiga. Kamu masukkan uang, kamu tekan tombol, keluar kaleng.” Aku mengangkat cangkirku sedikit. “Mesinnya rusak, jadi kalengnya selalu terlalu dingin. Manisnya keterlaluan. Semua orang mengeluh soal mesin itu, dan semua orang memakainya.”
Kuromiya menatap cangkirnya.
“Kaleng,” ulangnya, pelan, mencoba kata itu di mulutnya.
Ia tidak bertanya apa itu kaleng. Tidak bertanya apa itu mesin, apa itu tombol, apa itu lantai tiga.
Ia cuma mengangguk sekali, seperti orang yang menerima titipan barang yang tidak boleh ia buka.
Aku menyadari, sekitar saat itu, bahwa aku sudah dua tahun tidak menceritakan itu kepada siapa pun.
Bukan karena rahasia. Kepala Akademi tahu dari mana aku datang — mereka yang memanggilku, walaupun mereka menyebutnya “menerima”, seperti orang menerima kiriman. Profesor Ganryū tahu. Beberapa pengajar senior tahu.
Tapi mengetahui bukan mendengarkan.
Yang mereka tahu adalah kategori: Penyembuh Ketujuh, dari luar, sesuai catatan. Tidak ada satu pun dari mereka yang pernah bertanya jam berapa aku biasa minum teh.
“Amane-san.”
“Hm.”
“Boleh saya bertanya sesuatu yang mungkin tidak sopan?”
“Kamu orang kedua minggu ini yang membuka dengan kalimat itu.”
“Hoshizaki-san?”
“Hoshizaki-san.”
“Pertanyaan saya lebih tidak sopan.”
Aku menyandarkan punggung. “Silakan.”
Ia menaruh kedua tangannya — masih bersarung tangan — di atas meja, rapi, seperti orang yang sedang menyiapkan diri untuk sesuatu.
“Kalau tidak ada pasien,” katanya, “Anda ngapain?”
Aku membuka mulut.
Dan tidak ada apa pun di sana.
Kuhitung mundur di kepala: hari-hariku dalam seminggu. Selasa, klinik. Rabu, klinik. Kamis, latih tanding, klinik. Jumat, klinik. Sabtu, persediaan. Minggu, aku mengunjungi desa di kaki gunung karena mereka tidak punya penyembuh sama sekali. Senin, klinik.
“Aku menggulung perban,” kataku akhirnya.
“Hari ini sudah Anda gulung semua. Saya lihat tumpukannya di rak tiga, dan tumpukan itu terlalu rapi untuk pekerjaan satu jam.”
“Aku menyortir persediaan.”
“Sudah, juga. Dua kali. Segel racunnya dicek dua kali, laci nomor empat tidak pernah dibuka karena isinya kosong sejak minggu lalu dan Anda belum sempat mengisinya, dan sepatu Anda ada tiga pasang tapi yang dipakai cuma satu.” Ia berhenti. “Maaf. Saya memperhatikan hal-hal yang tidak perlu.”
“Tidak,” kataku. “Kamu memperhatikan hal-hal yang benar.”
“Anda belum menjawab.”
“Aku tahu.”
Ia menunggu.
Aku sudah menyiapkan tiga jawaban yang biasanya berhasil pada orang, dan tidak satu pun dari ketiganya keluar. Yang keluar malah:
“Kalau tidak ada pasien, aku menunggu ada pasien.”
Ia tidak berkomentar apa-apa.
Tapi ia mengangkat cangkirnya lagi, dan minum lagi, dan kali ini tidak berkomentar soal manisnya.
Sekitar jam enam ada kesalahan kecil, dan aku memikirkannya berhari-hari setelahnya.
Aku bangkit untuk mengambil kayu bakar. Perapian sudah kecil dan ruangan mulai dingin — hujan begini selalu membawa dingin naik dari batu lantai. Aku mengangkat dua potong kayu dari keranjang, dan salah satunya ada serpihan tajam di sisi bawah yang tidak kulihat.
Sayatan pendek di pangkal telunjuk. Dangkal. Berdarah sedikit.
Hal biasa. Terjadi seminggu sekali.
Aku mengelapnya ke celemek dan meletakkan kayu ke perapian, dan waktu aku berbalik, Kuromiya sudah berdiri, dan wajahnya tidak seperti biasanya.
“Tangan Anda.”
“Serpihan. Bukan apa-apa.”
“Sembuhkan.”
Aku berhenti sebentar. “Ini cuma sayatan.”
“Sembuhkan,” ulangnya. “Sekarang. Saya mau lihat.”
Sesuatu di suaranya membuatku tidak langsung menjawab dengan lelucon.
“Aku tidak bisa,” kataku.
Hening.
“Apa maksudnya tidak bisa.”
“Sihirku memindahkan luka dari satu tempat ke tempat lain.” Aku menunjukkan telunjukku, garis merah tipis di sana, hampir tidak terlihat. “Untuk memindahkan, harus ada dua tempat. Kalau lukanya sudah di tubuhku, tidak ada ke mana lagi ia bisa pergi.”
“Jadi luka Anda sendiri—”
“Sembuh biasa. Seperti orang lain. Kompres, tutup, tunggu.”
Ia berdiri di sana cukup lama, dan aku bisa melihat sesuatu bekerja di belakang wajahnya, cepat, dan aku tidak bisa membacanya. Waktu itu kupikir ia terkejut karena sihirku ternyata biasa saja.
Aku sering salah, dua tahun pertama itu.
“Duduk,” katanya akhirnya.
“Aku—”
“Duduk, Amane-san.”
Aku duduk.
Ia mengambil kasa dari rak yang benar, tanpa mencari-cari, dan menutup sayatan sepanjang satu setengah senti di jariku dengan ketelitian yang berlebihan untuk luka sekecil itu. Ia tidak melepas sarung tangannya. Kainnya menempel di kulitku, tipis dan agak kasar, dan dingin dari sisi luar.
“Ini terlalu banyak kasa,” kataku.
“Diam.”
Aku diam.
Ia pulang jam tujuh, waktu hujan berubah jadi gerimis.
Cangkirnya kosong. Aku baru sadar waktu mengangkatnya untuk dicuci: kosong, sampai bawah, tidak ada sisa gula di dasarnya.
Aku berdiri di depan bak cuci dengan cangkir itu di tangan lebih lama dari yang wajar.
Lalu keesokan harinya, Rabu — bukan Selasa, bukan Jumat, bukan hari praktikumnya — pintu Menara Utara terbuka jam empat sore dan Kuromiya Yuina berdiri di sana, dengan jubah yang basah lagi di bahu, karena antrean payung asrama Selatan masih tetap antrean payung asrama Selatan.
“Hari ini bukan jadwalmu,” kataku.
“Saya tahu.”
“Ada yang sakit?”
“Tidak.”
“Ada tugas yang tertinggal?”
“Tidak.”
Ia berdiri di ambang pintu, menatap ke titik biasa di atas kepalaku, lalu turun ke mataku.
“Tehnya masih ada?”
Bersambung ke Bab 5 — “Coretan Pinggir”
- 1 Benang yang Memendek Sambil Dilihat
- 2 Menara Utara
- 3 Bintang yang Lupa Makan Siang
- 4 Teh yang Rasanya Aneh reading
- 5 Coretan Pinggir
- 6 Papan Taruhan
- 7 Kelas Terendah
- 8 Sembilan Orang dalam Satu Malam
- 9 Satu Jubah
- 10 Yang Dianggap Pelengkap
- 11 Pasien yang Sudah Diobati
- 12 Ikat Rambut
- 13 Aritmetika
- 14 Kaki Kesemutan
- 15 Enam Nama
- 16 Mata Akhir
- 17 Festival Hoshimori
- 18 Aku Cuma Capek Jadi Satu-satunya yang Tahu
- 19 Buaian Cahaya
- 20 Sisi Kanan
- 21 Bab yang Hilang
- 22 Teh yang Tidak Panas Lagi
- 23 Musim Dingin Terpanjang
- 24 Keturunan Terakhir
- 25 Yang Dilihat dari Balkon
- 26 Pelukan yang Terlalu Lama
- 27 Halaman 402
- 28 Persiapan
- 29 Semua Orang Akhirnya Tahu
- 30 Malam Sebelum
- 31 Buaian Kedua, lalu Penggantian
- 32 Turun Gunung
- 33 Tujuh Puluh Dua Jam
- 34 Yang Dibacakan Keras-keras
- 35 Harga
- 36 Cangkir Kedua
- 37 Epilog — Klinik di Kota Pelabuhan