← Chapters Ch. 31 / 37

Chapter Thirty One

Buaian Kedua, lalu Penggantian

POV: Kuromiya Yuina · Lembah utara, hari kesembilan


Koridor dibuka pukul enam pagi dan tertutup lagi pukul sebelas.

Aku akan menuliskan lima jam itu sependek mungkin, karena aku tidak ada di dalamnya. Aku ada di barisan tengah, dikawal, dijaga, dan diperlakukan seperti peti — yang memang benar, karena itulah fungsiku hari itu.

Yang kutahu dari lima jam itu:

Ōba Genta menahan celah di dinding batu timur bersama sebelas orang. Ia bertahan tiga jam empat puluh menit. Ia tidak mundur satu langkah dan tidak berteriak sekali pun, dan waktu semuanya selesai, sebelas orang di belakangnya masih hidup, dan ia tidak bisa membuka tangan kanannya selama dua hari karena jari-jarinya terkunci di posisi menggenggam.

Mochizuki Koharu meledakkan jembatan penyeberangan utara.

Sengaja. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

Ia menghitung waktunya sendiri, memasang bahannya sendiri, dan menunggu sampai sisi seberang penuh sebelum menyalakannya. Setelah itu ia duduk di salju dan muntah, dan lalu berdiri lagi dan pergi menyiapkan yang berikutnya.

Nikaidō Sōta ditempatkan di garis kedua bersama sembilan murid tingkat satu — anak-anak yang dibawa sebagai pembawa air dan tidak seharusnya berada di dekat garis mana pun.

Waktu sayap kiri jebol, ia berdiri di depan kesembilan anak itu.

Ia gemetar. Semua orang yang lewat melihatnya gemetar. Ia berdiri di sana selama dua puluh menit dengan tongkat latihan yang bahkan bukan senjata sungguhan, dan ia tidak lari, dan tidak satu pun dari sembilan anak itu terluka.

Hoshizaki Ayaka membakar jalan sampai ke pusat.

Aku tidak punya kata yang cukup untuk itu. Aku melihatnya dari barisan tengah: garis cahaya sepanjang empat ratus langkah, dibuka dan ditahan terbuka oleh satu orang selama lima jam, dan setiap kali garis itu menyempit ia melangkah maju alih-alih mundur.

Pukul sebelas, koridor ke titik pusat bersih.

Dan pukul dua belas lewat, Retakan berubah untuk ketiga kalinya.


Aku tidak akan menjelaskan apa yang terjadi pukul dua belas lewat, karena tidak ada yang mengerti sampai sekarang.

Yang bisa kucatat: radius melompat seratus enam puluh langkah dalam waktu kurang dari satu menit, dan seluruh barisan tengah — enam ratus lebih orang, termasuk dua desa yang belum selesai dievakuasi — berada di dalamnya sebelum ada yang sempat berteriak.

Dan begitu kami di dalamnya, aku berhenti jadi satu-satunya.


Semua orang bisa melihat benang.

Enam ratus orang, sekaligus, untuk pertama kalinya dalam hidup mereka.

Aku sudah membacanya di catatan Ashimori. Aku sudah menyiapkan diri. Aku tetap tidak siap.

Seseorang di sebelahku — seorang penjaga, laki-laki empat puluhan yang mengawalku sejak subuh — mendongak, dan melihat ke atas kepala rekannya, dan mengeluarkan suara yang bukan kata.

Seorang perempuan desa berlutut di salju dan memeluk anaknya dan mulai menghitung keras-keras.

Dua orang murid tingkat tiga berdiri berhadapan, saling menatap sedikit di atas kepala, dan tidak satu pun dari mereka bisa bicara.

Enam ratus orang belajar dalam satu menit apa yang kupelajari di umur tujuh setengah tahun.

Dan Kuromiya Shiori benar, dan aku malu menuliskannya seperti ia malu menuliskannya:

Itu satu menit paling tenang dalam hidupku.


Lalu tanah retak di sisi barat, dan tenda medis runtuh, dan enam ratus orang berhenti melihat ke atas.

Aku tidak akan menghitung korbannya di sini. Angkanya ada di laporan.

Yang perlu ditulis cuma satu: dalam waktu empat menit, jumlah yang terluka melampaui apa pun yang bisa ditangani oleh tiga penyembuh dengan dua tangan masing-masing.

Dan Amane Haruto ada di dalam radius, delapan puluh langkah dariku, dan untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan ia bisa melihat benangnya sendiri.


Ia melihatnya.

Aku menonton dia melihatnya.

Ia berdiri di antara reruntuhan tenda medis dan mendongak — sedikit, seperti orang mengecek cuaca — dan matanya berhenti di satu titik di atas kepalanya sendiri.

Dan wajahnya tidak berubah sama sekali.

Ia sudah tahu. Aku selalu curiga ia sudah tahu; malam itu aku jadi yakin. Ia melihat sisa hidupnya sendiri tergantung di udara di depan enam ratus orang, dan yang ia lakukan adalah mengangguk sekali — persis seperti waktu ia mengetuk telinganya yang mati di halaman dalam Hoshimori — dan lalu menoleh ke arah orang-orang yang berteriak.

Ia berlutut di batu.

“AMANE-SAN!”

Aku tidak tahu siapa yang berteriak. Bukan aku. Aku tidak bisa mengeluarkan suara.

Ia menggambar lingkarannya.


“Pagi yang belum waktunya, kupanggil sekarang.”

Ia tidak berhenti di tiga puluh langkah.

Itu yang kusadari di baris ketiga. Aku hafal batasnya — aku sudah membaca gulungan itu, aku tahu radius dasarnya tiga puluh langkah, aku tahu ongkosnya naik menurut kuadrat.

Ia tidak berhenti di tiga puluh.

Cahaya itu terus membuka.

Lima puluh. Delapan puluh. Seratus.

“Sejauh suaraku sampai, sejauh itu kuakui mereka.”

Dua ratus.

Aku mendengar seseorang di dekatku berkata “cukup”, dan aku menyadari bahwa itu suaraku.

Kubah itu membuka sampai menyentuh kedua dinding lembah.


Aku sudah melihat ini sekali.

Yang pertama, di halaman dalam Akademi Hoshimori, adalah delapan detik paling indah yang pernah kulihat dan aku berdoa supaya bisa melupakannya.

Yang kedua bukan indah.

Yang kedua terlalu besar untuk indah. Seluruh lembah utara jadi keemasan dari dinding ke dinding, di tengah salju yang jatuh ke atas, dan enam ratus orang di dalamnya berhenti berteriak sekaligus, dan cahayanya cukup terang sampai bayangan pohon pinus jatuh ke arah yang salah.

Orang-orang di lembah itu menceritakannya seumur hidup mereka. Ada lukisannya sekarang, di aula, dibuat oleh orang yang tidak ada di sana.

Aku tidak melihat cahayanya.

Aku melihat benangnya, dan benangnya sudah tidak rontok lagi, karena tidak ada lagi yang bisa rontok.

Yang tersisa waktu kubah itu padam adalah seberkas.

Hitungan hari. Mungkin kurang.


Ia tidak jatuh miring kali ini.

Ia jatuh telungkup, dan Genta yang mengangkatnya dari batu, dan Genta yang menyeretnya sepanjang empat ratus langkah koridor karena kakinya sudah tidak menahan apa-apa.

Dan ia tetap ikut.

Itu bagian yang tidak akan pernah bisa kutulis dengan benar. Ia sudah selesai. Ia sudah membayar semuanya. Dan ia tetap menyuruh Genta membawanya maju, ke titik pusat, karena aku masih di depan.


Ritusnya dimulai pukul satu lewat empat puluh.

Aku berdiri di titik pusat Retakan, di lingkaran yang sudah digambar sejak pagi oleh empat orang pencatat dari Menara Selatan, dan aku melakukan apa yang diajarkan klanku selama enam ratus tahun tanpa pernah dipakai satu kali pun oleh siapa pun yang masih hidup.

Aku membuka diriku dan membiarkan tempat itu memasang aku sebagai jangkar.

Rasanya tidak sakit. Aku ingin mencatat itu, untuk siapa pun yang membaca ini dan takut.

Rasanya seperti tenggelam ke bawah dari posisi berdiri.

Aku mendengar orang berteriak. Aku mendengar Retakan berhenti — betul-betul berhenti, seperti suara yang selama sembilan hari kami kira adalah angin, dan yang ternyata bukan angin, dan yang tiba-tiba tidak ada lagi.

Dan aku mendongak, untuk pertama kalinya seumur hidup, dan melihat benangku sendiri.

Pendek sekali.

Aku sempat berpikir: oh. Jadi begini rasanya. Maaf, Kakek.

Lalu putus.


Bagian setelah ini bukan ingatanku.

Aku menuliskannya karena empat puluh satu orang menyaksikannya dan enam di antaranya mencatatnya, dan karena Hoshizaki Ayaka menceritakannya kepadaku tiga kali sampai aku hafal, karena aku memintanya, karena aku harus tahu.


Amane Haruto menyeret dirinya sendiri ke lingkaran pusat.

Genta sudah tidak bisa menahannya; Genta sedang menahan hal lain. Ia merangkak sembilan langkah terakhir.

Ia melepas sarung tangan kirinya.

Di telapak tangan kirinya ada lingkaran, digambar dengan tinta jarum, diameter empat senti, sudah pudar tapi masih terbaca — dan Hoshizaki bilang bahwa ia mengangkat telapak tangan itu ke wajahnya sekali, cepat, seperti orang mengecek catatan.

Lalu ia menggambarnya di batu dengan darah dari telunjuk kanannya.

Luka yang sudah tidak menutup selama lima puluh tujuh hari akhirnya berguna untuk sesuatu.


“Aku Amane Haruto, Penyembuh Ketujuh, yang tidak lahir di tanah ini.”

Ganryū berteriak sesuatu. Ia sudah berlari, dan ia enam puluhan, dan ia tidak akan sampai.

“Aku memanggil hukum yang sudah dibuang.”

“Bukan luka yang kupindahkan malam ini.”

Batuk.

Yang pertama. Di antara baris ketiga dan keempat, dan Hoshizaki bilang seluruh lembah itu diam — empat puluh orang yang sudah paham apa yang sedang mereka tonton, semuanya berhenti bergerak, karena semua orang di sana tahu satu hal:

Kalau mantranya putus, harganya tetap terbayar.

Ia menarik napas.

“Kuromiya Yuina — kusebut namamu supaya tidak ada yang salah dengar.”


Aku ingin berhenti di baris itu sebentar.

Empat ratus enam puluh tahun lalu, ada orang yang menyusun ritus ini dan memutuskan bahwa pelaksananya harus menyebut nama orang yang ia gantikan, keras-keras, utuh, tanpa gelar.

Aku sudah menulis di catatan lain bahwa itu hukuman.

Aku salah.

Itu bukan hukuman. Itu satu-satunya cara supaya orang yang ditinggalkan tahu bahwa itu bukan kecelakaan.

“Kematianmu, kuakui sebagai milikku.”

“Bukan setengah. Bukan pinjaman. Tanpa sisa.”

Batuk kedua. Lebih lama. Hoshizaki bilang ia jatuh ke satu siku dan tidak berhenti membaca.

“Ambil dari aku semuanya sekaligus.”

“Yang tersisa dariku, tidak ada yang perlu disimpan.”

“Aku tahu ini tidak bisa dibatalkan.”

“Aku tahu tidak akan ada yang menjemputku.”

Batuk ketiga.

Dan Hoshizaki Ayaka — yang tidak pernah menangis di depan siapa pun, yang berdiri dua puluh langkah dari sana dengan sihirnya sudah habis dan tidak bisa melakukan apa-apa — bilang bahwa jeda itu berlangsung tujuh detik.

Tujuh detik. Baris kesebelas belum keluar.

Empat puluh orang menghitungnya bersama-sama tanpa satu pun bersuara.

Lalu:

“Dan aku tetap memilihnya.”

“Utsushimi — naru.”


Aku bangun.

Itu satu-satunya kata yang bisa kupakai dan itu kata yang salah, tapi tidak ada yang benar. Aku bangun, di salju, di titik pusat lembah utara, dengan seluruh tubuh yang tidak kuingat pernah kutinggalkan.

Retakan tertutup di atas kepalaku.

Bukan pelan. Langsung. Seperti mata yang menutup.

Dan hal pertama yang kulihat waktu aku bisa melihat lagi adalah bahwa tidak ada benang di atas kepala siapa pun, karena kami sudah tidak berada di dalam Retakan, karena Retakan sudah tidak ada.

Hal kedua yang kulihat adalah dia.


Ia masih hidup selama kira-kira empat puluh detik.

Aku tahu jumlahnya karena aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya. Itu penyakitku dan itu satu-satunya yang bisa kulakukan dengan hal-hal yang tidak bisa kuhentikan.

Ia menoleh ke arahku.

Aku menyeret diriku ke sana. Aku tidak ingat jaraknya. Hoshizaki bilang enam langkah.

Wajahnya tenang. Itu bagian yang paling tidak bisa kumaafkan darinya, dan aku sudah tiga tahun mencoba.

Ia mengangkat tangan kanannya — yang telunjuknya masih terbuka, yang darahnya masih di batu — dan merapikan rambutku.

Ikatannya lepas waktu aku jatuh. Ia mengumpulkannya dengan satu tangan, dari sisi kanan, seperti sembilan belas kali sebelumnya, dan ia tidak punya tali dan tidak punya tenaga dan ia tetap merapikannya, dan menyelipkan sisi kanannya ke belakang telingaku.

“Kuromiya,” katanya.

Aku tidak bisa menjawab.

“Lain kali makan siang tepat waktu,” katanya.

Dan lalu ia tersenyum, sedikit, seperti orang yang baru menyelesaikan pekerjaan yang tertunda lama sekali —

dan tangannya berhenti gemetar.


Aku menjerit.

Aku menjerit sampai suaraku habis dan lalu aku terus melakukannya tanpa suara, dan Ōba Genta memelukku dari belakang supaya aku tidak melukai diriku sendiri di batu, dan aku menggigit lengannya sampai berdarah dan ia tidak melepaskan.

Empat puluh satu orang menyaksikannya.

Retakan lembah utara tertutup pukul dua lewat sembilan menit di hari kesembilan bulan kedua, tanpa satu pun korban di antara pasukan penutup, dan itulah yang tertulis di laporan resmi.

Nama yang tertulis di baris paling bawah laporan itu, di bawah garis, di bagian logistik dan dukungan:

Pendamping medis: Amane.

Tanpa nama depan.

Aku mengubahnya tiga bulan kemudian. Aku bertugas di arsip hari Selasa dan Kamis pagi, dan aku menuliskannya sebelum ada yang sempat bilang tidak boleh, dan tidak ada satu pun orang di akademi itu yang berani mencoretnya.


Bersambung ke Bab 32 — “Turun Gunung”