Chapter Seven
Kelas Terendah
POV: Amane Haruto · Musim semi, minggu keenam
Sehari sebelum keberangkatan, seluruh peserta ujian lapangan dikumpulkan di Aula Barat untuk pengarahan.
Aku diminta hadir lewat memo yang diselipkan di bawah pintu.
Memo itu berbunyi: Pendamping medis diharapkan hadir pukul sembilan. Duduk di barisan belakang.
Dua kalimat. Kalimat kedua sebetulnya tidak perlu ada.
Aula Barat punya patung.
Aku menyebutkan ini karena penting untuk memahami tempat ini: Menara Barat punya patung tujuh penyihir tempur legendaris di sepanjang dindingnya, masing-masing setinggi tiga meter, masing-masing dengan nama terpahat di dasarnya. Menara Timur punya kaca warna. Menara Selatan punya prasasti berisi seluruh nama kepala klan sejak akademi berdiri.
Menara Utara punya keset.
Aku duduk di barisan belakang, seperti diminta.
Empat puluh murid duduk di depan. Aku bisa melihat rambut merah gelap Hoshizaki di barisan pertama, punggung tegak sempurna. Genta di barisan ketiga, memenuhi dua kursi. Sōta di sebelahnya, gelisah. Mochizuki, entah bagaimana, sudah punya buku catatan terbuka.
Kuromiya duduk di barisan terakhir, ujung kanan.
Kursi di kiri dan kanannya kosong.
Pengarahnya bernama Tsuzaki. Instruktur senior Menara Barat, tiga puluhan, dan salah satu dari sedikit orang di akademi ini yang benar-benar tahu apa yang ia kerjakan di lapangan.
Ia menjelaskan medan. Distrik hilir, tiga desa, jalur sungai. Menjelaskan formasi. Menjelaskan protokol mundur.
Semuanya bagus. Semuanya jelas.
Lalu ia sampai ke bagian pembagian peran.
“Kelompok penyerang: dua belas orang. Kelompok pengintai: delapan. Kelompok penahan: enam belas.” Ia menunjuk bagan. “Sisanya empat orang: dukungan.”
Seseorang di barisan kedua mengangkat tangan.
“Sensei, dukungan itu termasuk penyembuh?”
“Termasuk.”
“Berarti penyembuh tidak ikut formasi?”
“Penyembuh menunggu di titik aman dan menangani yang dibawa mundur.”
Anak itu mengangguk, puas, dan menambahkan — dengan nada bercanda, tanpa niat jahat, dengan suara yang sayangnya jelas terdengar sampai ke belakang:
“Berarti gampang, ya. Nunggu doang.”
Ada tawa kecil. Tidak besar. Empat, lima orang.
Aku sudah dua tahun di sini. Aku sudah menyusun daftar hal-hal yang tidak akan kutanggapi, dan kalimat itu ada di daftar tersebut sejak bulan ketiga.
Aku membuka buku catatan dan mulai menulis daftar persediaan.
Yang berdiri adalah Hoshizaki Ayaka.
Ia tidak mengangkat tangan. Ia berdiri, di barisan pertama, dan seluruh aula langsung diam karena orang seperti dia tidak berdiri tanpa alasan.
“Tsuzaki-sensei. Boleh saya bertanya?”
“Silakan, Hoshizaki.”
“Di ujian lapangan tahun lalu,” katanya, “berapa orang yang dibawa mundur ke titik aman?”
Tsuzaki mengecek catatannya. “Dua puluh satu.”
“Dan berapa yang kembali ke formasi setelah ditangani?”
Jeda.
“...Sembilan belas.”
“Berapa lama rata-rata dari saat mereka masuk titik aman sampai bisa berdiri lagi?”
“Itu tidak ada di catatan saya.”
“Ada di catatan saya,” kata Hoshizaki. “Karena saya salah satu dari dua puluh satu itu. Empat menit.”
Aula hening.
“Saya patah tulang selangka di jam kedua,” lanjutnya, dengan nada orang membacakan laporan anggaran. “Saya kembali ke formasi di menit keempat. Kalau saya tidak kembali, sayap kanan kosong selama sisa hari itu, dan enam belas orang di kelompok penahan menghadapi dua arah sekaligus.”
Ia menoleh, sedikit, ke arah anak yang tadi bicara.
“Kamu ada di kelompok penahan tahun lalu, Ide-kun?”
Anak itu tidak menjawab.
“Kalau begitu saya sarankan,” kata Hoshizaki, sopan sekali, “kamu memikirkan lagi kata ‘nunggu doang’.”
Ia duduk.
Aku ingin mencatat bahwa aku tidak menikmati momen itu.
Yang kurasakan lebih dekat ke tidak nyaman. Ada perbedaan besar antara dibela dan dijadikan bukti; yang pertama membuatmu berutang, yang kedua membuatmu jadi barang di atas meja.
Dan Hoshizaki, kupikir waktu itu, mungkin tidak sedang membelaku sama sekali. Ia sedang membela angka empat menit.
Belakangan aku tahu dua-duanya benar sekaligus, dan bahwa itu memang caranya bekerja.
Pengarahan lanjut. Tsuzaki menutup dengan bagian terakhir: penilaian.
“Setiap peserta akan dinilai berdasarkan tiga kategori. Efektivitas, disiplin formasi, dan kontribusi kelompok.” Ia menempel kertas di papan. “Daftar penilai dan pasangan pengamat sudah ditentukan. Silakan lihat setelah bubar.”
Aula bubar dengan cara yang biasa: berisik, berdesakan, empat puluh orang berebut membaca satu kertas.
Aku tidak ikut. Namaku tidak akan ada di sana. Pendamping medis tidak dinilai — kami bukan peserta, kami perlengkapan.
Aku sudah setengah jalan ke pintu waktu aku mendengar keributan berubah nada.
“Ini salah tulis.”
“Bukan salah tulis, sudah ada capnya.”
“Tapi ini—”
“Ada apa?” Tsuzaki kembali masuk.
Anak yang memegang kertas menunjuk baris paling bawah.
“Sensei, di bagian penilaian kontribusi kelompok. Ada baris tambahan.”
Tsuzaki membaca. Aku melihat alisnya naik.
“‘Penilaian tambahan: waktu pemulihan peserta,’” ia membaca keras. “‘Diukur dari saat peserta memasuki titik aman sampai peserta kembali ke formasi. Dicatat oleh pengamat medis. Dilampirkan ke nilai kelompok, bukan nilai individu.’”
Hening bingung.
“Siapa yang menambahkan ini?”
Tidak ada yang menjawab.
“Formulir ini keluar dari Menara Selatan pagi tadi,” kata Tsuzaki, memeriksa cap di sudut. “Bagian arsip dan pencatatan.”
Bagian arsip dan pencatatan Menara Selatan dijaga oleh empat orang murid tingkat tiga secara bergiliran, sebagai bagian dari kewajiban praktikum.
Aku menoleh, pelan, ke barisan terakhir ujung kanan.
Kuromiya sedang membereskan tasnya dengan sangat tekun.
Aku menunggunya di lorong.
“Kuromiya.”
“Ya.”
“Formulir penilaian.”
“Ya.”
“Kamu yang menambahkan baris itu.”
Ia menutup tasnya. “Saya bertugas di arsip hari Selasa dan Kamis pagi.”
“Itu bukan jawaban.”
“Itu jawaban yang cukup.”
Aku berdiri di sana, dan aku betul-betul tidak tahu harus marah atau tidak.
“Kamu memalsukan dokumen resmi akademi.”
“Saya tidak memalsukan apa pun. Saya menambahkan kategori pencatatan. Kategori itu sah, formatnya benar, dan capnya asli.” Ia mengangkat tas ke bahunya. “Yang saya lakukan cuma menuliskannya sebelum ada yang sempat bilang tidak boleh.”
“Kenapa?”
Untuk pertama kalinya, ia terlihat sedikit tidak sabar.
“Karena kalau angka empat menit itu tidak pernah ditulis di kertas mana pun,” katanya, “tahun depan akan ada anak lain yang bilang ‘nunggu doang’, dan tahun depannya lagi, dan seterusnya, dan tidak ada satu pun dari mereka yang salah menurut catatan resmi. Karena tidak ada catatan resminya.”
Ia melewatiku menuju tangga.
“Sekarang ada,” katanya.
Aku memikirkan kedua orang itu sepanjang malam, sambil mengemas kotak medis.
Hoshizaki berdiri di depan empat puluh orang dan mengubah pikiran mereka selama sepuluh menit.
Kuromiya menulis satu baris di formulir yang tidak dibaca siapa pun dan mengubah cara akademi ini mencatat penyembuh, mungkin selama sepuluh tahun.
Aku tidak bisa memutuskan mana yang lebih berani. Aku masih belum bisa, sampai sekarang.
Kotak medis lapangan berisi delapan puluh dua item. Aku menghafal semuanya. Aku mengeceknya tiga kali malam itu, dan pada pengecekan ketiga aku menyadari tanganku gemetar lagi, walaupun aku belum menyembuhkan siapa pun sejak siang.
Itu yang pertama.
Sebelum itu, gemetarnya selalu datang setelah. Tidak pernah tanpa sebab.
Aku duduk di tepi ranjang dan menatap tanganku sendiri di bawah lampu selama mungkin dua menit, dan berpikir: ini lebih cepat dari yang kuhitung.
Lalu aku memasukkan tangan itu ke saku, mematikan lampu, dan tidur, karena besok jam lima dan ada empat puluh orang yang berangkat ke distrik hilir.
Aku tidak menulis apa pun di buku catatan malam itu.
Ada beberapa hal yang tidak kamu tulis karena begitu ditulis, jadi benar.
Jam lima pagi, halaman Menara Utara.
Empat puluh murid, tiga pengawas, tiga kereta.
Genta memanggul dua ransel, satunya milik orang lain. Sōta memeriksa tali sepatunya untuk keempat kalinya. Mochizuki membawa tabung-tabung yang seharusnya tidak dibawa dan sudah dua kali disuruh menaruhnya kembali.
Hoshizaki berdiri di depan kelompoknya, memberi instruksi terakhir, rambut merah gelap terikat tinggi dalam gelap.
Dan Kuromiya berdiri di sebelahku, di dekat kereta paling belakang, dengan kotak medis kedua di tangannya, karena aku memberikannya kepadanya semalam tanpa banyak penjelasan.
“Kamu tahu isinya?” tanyaku.
“Delapan puluh dua item. Rak satu sampai rak empat, urutan kecepatan.”
“Kalau ada yang berdarah hebat?”
“Kiri, setinggi tangan, tanpa penghalang.”
“Bagus.”
Langit mulai abu-abu di ujung timur. Udara dingin dan berbau lumut.
“Amane-san.”
“Hm.”
“Anda pernah ikut ujian lapangan sebelumnya?”
“Dua kali.”
“Berapa banyak yang terluka?”
Aku memikirkan cara menjawab yang tidak membuat orang takut sebelum berangkat.
Lalu aku ingat siapa yang bertanya.
“Yang pertama, sebelas,” kataku. “Yang kedua, tiga puluh empat.”
“Kenapa naik tiga kali lipat?”
“Karena tahun kedua ada raveners.” Aku menutup kotak. “Dan raveners tidak ada di kurikulum.”
Ia diam.
Lalu ia berkata, sangat pelan, dengan nada yang tidak pernah kudengar darinya sebelumnya:
“Amane-san. Kalau di sana nanti saya menunjuk seseorang—”
“Itu tugasmu.”
“Saya tahu. Tapi kalau saya menunjuk,” katanya, “Anda akan langsung mengerjakannya? Tanpa bertanya?”
“Iya.”
“Setiap kali?”
“Setiap kali.”
Ia menoleh ke arahku. Ke titik biasa di atas kepalaku, sebentar.
Lalu turun ke mataku, dan bertahan di sana lebih lama dari yang nyaman.
“Baik,” katanya.
Aku pikir itu artinya ia siap.
Aku salah, dua tahun pertama itu. Aku sering sekali salah.
Bersambung ke Bab 8 — “Sembilan Orang dalam Satu Malam”