← Chapters Ch. 2 / 37

Chapter Two

Menara Utara

POV: Amane Haruto · Musim semi, minggu pertama


Hal pertama yang harus dipahami tentang menyembuhkan orang adalah bahwa itu pekerjaan yang membosankan.

Orang-orang di sini mengira sebaliknya. Mereka mengira ada cahaya, kata-kata kuno, tangan yang melayang di atas luka. Sebagian memang ada. Tapi sembilan puluh persen pekerjaannya adalah mencuci, mengukur, mencatat, dan mengomeli orang supaya minum air.

Aku pernah mencoba menjelaskan ini kepada seorang murid tingkat dua yang datang minta diajari “teknik penyembuhan sejati”. Ia bertahan empat hari. Hari keempat aku menyuruhnya menghitung ulang persediaan kasa, dan besoknya ia tidak datang.

Aku tidak menyalahkannya. Tempat ini memang membosankan.

Itu bagian terbaiknya. Kalau Menara Utara sibuk, artinya ada yang salah di suatu tempat.


Selasa sore, Kuromiya datang dua belas menit lebih awal.

Aku dengar langkahnya di tangga jauh sebelum ia sampai — tangga Menara Utara membawa suara seperti pipa air. Aku sempat menghitung: langkahnya berhenti dua kali. Sekali di anak tangga ketujuh, sekali di depan pintu.

Yang kedua cukup lama.

“Kesetnya masih di situ,” kataku, keras, ke arah pintu.

Hening sebentar. Lalu pintu terbuka.

“Saya sudah baca kemarin.”

“Bagus. Berarti hari ini tinggal dilaksanakan.”

Ia mencuci tangan tanpa disuruh dua kali. Melepas sarung tangan, mencuci, mengeringkan, memakai lagi. Seluruh prosesnya rapi seperti orang yang sudah melakukannya seumur hidup, dan aku menyimpan pengamatan itu di tempat yang sama dengan pengamatan-pengamatan lain yang belum ada gunanya.

Aku menyorongkan buku ke arahnya. “Sebelum kita mulai. Ini daftar tugas sore ini.”

Ia membacanya. Alisnya turun sedikit.

“Ini semua pekerjaan bersih-bersih.”

“Ini semua pekerjaan klinik.”

“Praktikum saya tertulis ‘penyembuhan lapangan’.”

“Iya. Dan lapangan itu isinya sembilan puluh persen bersih-bersih.” Aku menunjuk rak dua dengan dagu. “Kamu sudah tahu susunan rak itu, kan? Kamu menghabiskan sepuluh menit memelototinya kemarin.”

Ia diam.

“Nah. Kalau nanti ada dua belas orang di halaman ini dalam keadaan berdarah, aku tidak akan punya waktu memberitahumu botol mana yang mana. Kamu harus sudah hafal sebelum harinya. Itu sebabnya minggu ini isinya botol.” Aku menggulung lengan bajuku. “Minggu depan isinya jarum.”


Pasien pertama sore itu namanya Rikuto, tingkat satu, Menara Barat.

Ia masuk sambil menahan lengan kanannya dan berkata “cuma kepeleset” dengan nada orang yang sudah menyiapkan kalimat itu di tangga.

Aku menyuruhnya duduk. Menggulung lengan bajunya. Retak, radius distal, bengkak, dan sudah dibalut sendiri dengan sapu tangan oleh seseorang yang jelas tidak pernah membalut apa pun seumur hidupnya.

“Latihan tanding?”

“Cuma kepeleset.”

“Rikuto-kun.” Aku menekan pinggir pembengkakan; ia menarik napas lewat gigi. “Aku tidak melapor ke siapa-siapa. Aku cuma perlu tahu apakah aku sedang melihat satu tulang atau tiga.”

Ia mengaku. Latihan tanding. Tiga lawan satu. Ia tidak menyebut nama dan aku tidak bertanya nama.

Aku meletakkan tanganku di atas retakannya.

Ini bagian yang tidak bisa kujelaskan dengan benar kepada siapa pun di dunia ini, karena tidak ada perbandingan yang cocok. Yang paling dekat: seperti menarik selimut dari orang lain ke badanmu sendiri. Ada momen dingin di antaranya, saat selimut itu tidak menutupi siapa-siapa.

Retakan itu pergi dari lengan Rikuto.

Dan muncul di lenganku.

Aku sudah cukup lama melakukan ini untuk tidak lagi bersuara. Dulu aku bersuara. Tahun pertama, aku pernah menjatuhkan diri ke lantai gara-gara memindahkan luka bakar seukuran telapak tangan. Sekarang aku cuma menahan napas empat hitungan dan membiarkannya larut.

Rasanya seperti tulang yang patah, selama sekitar dua detik. Lalu hangat. Lalu tidak ada apa-apa.

Larut. Itu istilahku sendiri. Aku tidak pernah menemukan kata yang benar untuk sesuatu yang menyelesaikan lukamu dengan memakan bagian lain dari dirimu.

“Sudah,” kataku. “Coba gerakkan.”

Rikuto menggerakkan pergelangan tangannya, lalu memutarnya, lalu memandangiku dengan wajah yang selalu sama — wajah orang yang sedang menghitung ulang apakah barusan itu benar terjadi.

“Sensei—”

“Bukan sensei.”

“Amane-san. Itu... cepat sekali.”

“Kamu masih tingkat satu, tulangmu kooperatif.” Aku menuliskan namanya di buku. “Tiga hari jangan menahan beban. Kalau bengkak lagi, ke sini. Kalau ada yang bertanya, bilang kamu kepeleset.”

Ia setengah membungkuk, kikuk, dan pergi.

Aku menunggu sampai langkahnya hilang di tangga, lalu memasukkan tangan kananku ke saku celemek.

Terlambat.

“Tangan Anda,” kata Kuromiya, dari rak dua, tanpa menoleh.

“Kelelahan.”

“Anda belum kerja apa-apa hari ini.”

“Aku sudah menggulung dua puluh perban.”

Ia menoleh. Wajahnya tidak menuduh. Wajahnya juga tidak percaya.

Aku sudah biasa dengan yang pertama. Yang kedua yang merepotkan.


Gemetarnya berhenti sekitar sepuluh menit kemudian, seperti biasa.

Aku tahu persis kapan itu mulai. Dua tahun lalu, bulan keempat, setelah malam yang panjang di desa di kaki gunung. Waktu itu aku pikir itu kelelahan otot. Tiga bulan kemudian aku berhenti berpura-pura.

Aku tidak takut mati. Itu bukan kesombongan; aku sudah mati sekali, dan yang kuingat dari peristiwa itu bukan rasa takut, melainkan rasa kesal yang luar biasa — kesal karena tanganku sudah di tempat yang benar, di luka yang benar, dan tetap tidak cukup.

Yang kutakutkan bukan berhenti. Yang kutakutkan berhenti tanpa habis dipakai.

Ada perbedaan besar di antara keduanya. Aku belum pernah menemukan orang yang bisa kuajak bicara tentang perbedaan itu.


Praktikum resminya baru dimulai jam empat.

Kurikulum tingkat tiga mewajibkan pemeriksaan dasar sebelum diagnosis: nadi, suhu, laju napas. Sederhana, dan di dunia yang punya sihir, dianggap kuno sampai memalukan. Anak-anak Menara Timur mengukur nadi dengan kristal.

Aku tidak percaya kristal.

“Duduk,” kataku, menarik kursi. “Kamu yang periksa, aku yang jadi bahannya.”

Ia berhenti dengan botol di tangan. “Anda?”

“Ada orang lain di ruangan ini?”

“Biasanya ada murid yang ditugaskan jadi model pemeriksaan.”

“Ada. Namanya Suzu, tingkat dua.” Aku duduk dan menggulung lengan kiriku. “Aku sudah mencoretnya dari daftar tadi pagi.”

“Kenapa?”

Karena Suzu tingkat dua sudah mengibaskan tangannya waktu tahu ia akan sekelompok denganmu, dan aku tidak berminat menghabiskan sore pertamamu di sini menonton itu.

“Karena dia sedang flu,” kataku. “Ayo, sebelum jam lima. Aku ada urusan.”

Aku tidak punya urusan.


Ia melepas sarung tangan kanannya.

Butuh waktu. Bukan lama-lama yang dramatis — mungkin tiga detik lebih lambat dari orang normal melepas sarung tangan. Aku memperhatikan tanpa memperhatikan.

Tangannya kurus. Kuku dipotong sangat pendek. Dan pucat dengan cara khusus yang cuma dimiliki tangan yang bertahun-tahun tidak kena matahari.

Ia meletakkan dua jari di pergelangan tanganku.

Dan seluruh ruangan itu jadi hening dengan cara yang aneh, karena aku tiba-tiba sadar bahwa aku tidak tahu kapan terakhir kali ada orang di dunia ini yang menyentuhku dengan sengaja, bukan karena sedang kusembuhkan.

Kuhitung mundur. Bukan detak jantungku. Aku menghitung untuk mengalihkan.

“Enam puluh empat,” katanya akhirnya.

“Bagus. Suhu.”

Ia tidak melepas tangannya.

Aku menunggu satu detik. Dua. Tiga.

“Kuromiya.”

Ia menarik tangannya seperti orang menarik tangan dari kompor, dan sesuatu di wajahnya bergerak — cepat sekali, langsung ditutup lagi.

“Maaf.”

“Tidak apa-apa.” Aku menggulung lengan bajuku turun. “Berapa suhunya?”

“Saya belum—”

“Ya sudah, ulangi.”

Ia mengulangi. Kali ini cepat, efisien, dan ia menyebut angka-angkanya seperti orang membaca daftar belanja. Setelah selesai ia langsung memakai sarung tangannya kembali, dan aku melihat bahunya turun setengah senti begitu kain itu menutupi tangannya.

Aku menulis di buku catatanku sesudahnya, sambil ia mencuci alat.

Kuromiya Yuina. Nadi tangan pemeriksa naik waktu menyentuh. Sarung tangan bukan aturan klan — kebiasaan pribadi (?). Dilepas dengan urutan yang sama tiap kali, kanan dulu.

Lalu, di bawahnya, lebih kecil:

Tidak menjijikkan. Kasih tahu.

Aku menatap baris terakhir itu cukup lama, lalu mencoretnya, karena ada hal-hal yang tidak bisa kamu katakan kepada orang yang baru kamu kenal dua hari tanpa terdengar seperti orang gila.


Jumat, aku memakai sarung tangan.

Bukan sarung tangan bedah. Sepasang sarung tangan kulit tipis yang biasa kupakai kalau menangani duri atau pecahan kaca, warnanya cokelat gelap, sudah aus di ibu jari.

Ia masuk, mencuci tangan, dan berhenti di tengah gerakan mengeringkan.

“Anda kenapa?”

“Apanya?”

“Tangan Anda.”

“Sarung tangan.”

“Untuk apa?”

“Untuk tangan.” Aku menyorongkan nampan berisi pecahan botol ke arahnya. “Koharu Mochizuki, tingkat satu, Menara Timur, meledakkan lab pagi ini. Ini pecahannya. Kita harus memilah yang masih bisa dipakai.”

“Anda tidak pakai sarung tangan hari Selasa.”

“Hari Selasa tidak ada pecahan kaca.”

Ia berdiri di sana, dengan handuk di tangan, memandangiku dengan tatapan orang yang sedang mengerjakan soal.

Aku tidak mengangkat wajah dari nampan. Ini penting. Kalau kamu mengangkat wajah, kamu memberi orang itu beban untuk berterima kasih, dan begitu ada terima kasih, ada juga pengakuan bahwa tadinya ada yang salah.

Aku tidak berpikir ada yang salah dengan sarung tangannya. Aku cuma berpikir bahwa di seluruh akademi ini, di antara tiga ratus lebih orang, dia satu-satunya yang tangannya selalu tertutup, dan itu terlihat dari jauh, dan orang-orang di sini punya mata.

Sekarang ada dua.

Dua tidak terlihat dari jauh.

Kami memilah pecahan kaca selama empat puluh menit tanpa banyak bicara. Ia menemukan sistem penyortiran yang lebih baik dari sistemku di menit kesepuluh dan tidak minta izin untuk memakainya, cuma memakainya. Aku suka itu.

Di menit ketiga puluh, aku mendengarnya bergumam sesuatu.

“Apa?”

“Bukan apa-apa.”

“Kamu bilang sesuatu.”

Ia mengangkat sepotong kaca ke cahaya, memutarnya, dan meletakkannya ke tumpukan yang benar.

“Saya bilang,” katanya, datar sekali, “sarung tangan Anda jelek sekali.”

Aku tertawa. Kaget sendiri, untuk kedua kalinya minggu itu.

“Ini sarung tangan kerja.”

“Ibu jarinya bolong.”

“Belum bolong. Menuju bolong.”

“Itu bolong.”

“Itu ventilasi.”

Ia tidak tertawa. Tapi ada sesuatu yang bergerak di sudut mulutnya, sebentar, seperti benda yang lewat di balik jendela.


Lonceng malam berbunyi jam tujuh.

Aku mengantarnya ke pintu, seperti Selasa. Ia berhenti di ambang, seperti Selasa. Dan seperti Selasa, ia menatap ke suatu tempat di atas kepalaku sebelum berbalik pergi.

Ia melakukan itu setiap kali. Orang lain juga menyebutkan hal ini tentang klan Kuromiya — bahwa mereka tidak menatap matamu, mereka menatap sedikit di atasnya, dan itu sebabnya bicara dengan mereka rasanya seperti bicara dengan orang yang sedang melihat sesuatu di belakangmu.

Aku tahu klan itu bisa merasakan kematian. Semua orang tahu. Versi yang beredar di akademi kira-kira begini: mereka bisa merasakan kalau ada yang dekat. Firasat. Semacam bau.

Aku menerima versi itu tanpa memeriksanya, karena kelihatannya tidak penting.

Aku hendak menutup pintu waktu ia bicara lagi, sudah dari tangga, tanpa menoleh.

“Amane-san.”

“Hm.”

“Selasa depan.”

“Selasa depan,” kataku.

Langkahnya turun. Berhenti di anak tangga ketujuh, seperti biasa — aku baru sadar sekarang bahwa itu selalu anak tangga yang sama, dan aku belum tahu kenapa.

Lalu aku menutup pintu, memungut buku catatanku, dan menulis satu baris di halaman yang sama dengan baris yang tadi kucoret:

Lima asisten. Ini yang keenam. Bertahan dua hari, sejauh ini.

Aku menatap kalimat itu.

Lalu aku menambahkan, entah untuk siapa:

Semoga lebih lama.


Bersambung ke Bab 3 — “Bintang yang Lupa Makan Siang”