Chapter Six
Papan Taruhan
POV: Amane Haruto · Musim semi, minggu kelima
Aku tahu ada yang salah waktu pasien mulai bertanya.
Bukan bertanya soal luka mereka. Itu wajar. Yang ini beda.
Selasa, seorang anak tingkat dua dengan pergelangan kaki terkilir bertanya, sambil kutangani, “Amane-san sudah lama kenal Kuromiya-san?”
Rabu, dua orang sekaligus. “Kuromiya-san asisten tetap di sini?” Lalu: “Sampai kapan?”
Kamis, seorang murid tingkat tiga yang hidungnya berdarah bertanya, dengan darah masih di dagunya, “Amane-san tipe yang suka perempuan pendiam, ya?”
Aku menghentikan aliran darahnya lebih cepat dari yang perlu.
Jumat siang aku turun ke kantin.
Aku jarang ke sana. Bukan karena tidak boleh — statusku di akademi ini semacam ruang kosong dalam peraturan; aku bukan pengajar, bukan murid, bukan pegawai. Aku cuma orang yang tinggal di menara paling utara dan menutup luka. Tidak ada yang pernah membuat aturan tentang aku.
Tapi kantin ramai, dan kantin penuh orang yang akan berhenti bicara kalau aku lewat.
Hari itu aku turun karena persediaan gula habis, dan dapur kantin adalah satu-satunya tempat yang punya gula dalam jumlah tidak masuk akal.
Aku masuk lewat pintu samping.
Dan di dinding sebelah kiri, di antara papan pengumuman jadwal dan papan pengumuman kehilangan barang, ada papan ketiga.
Papan ketiga tidak ada di sana bulan lalu.
Papan ketiga ditulis dengan kapur, sangat rapi, dan di bagian atasnya tertulis dalam huruf besar-besar:
PROYEKSI MENARA UTARA
(diperbarui tiap Senin & Kamis · Mochizuki K., Menara Timur)
Di bawahnya ada tabel.
Tabel itu punya kolom.
Aku berdiri di depannya selama satu setengah menit.
Kolom pertama: RENTANG WAKTU. Isinya: Sebelum Festival · Setelah Festival, sebelum musim dingin · Musim dingin · Musim semi depan · Tidak akan pernah (lihat catatan kaki 2).
Kolom kedua: RASIO. Angka-angka. Beberapa dicoret dan ditulis ulang.
Kolom ketiga: JUMLAH PEMASANG.
Kolom keempat, dan ini yang membuatku betul-betul kehilangan kemampuan bicara: BUKTI PENDUKUNG.
Minggu 3: subjek B datang di hari bukan jadwal (terverifikasi, saksi 2 orang).
Minggu 4: subjek A tidak menutup buku catatan. Catatan: subjek A menutup buku catatan di depan 3 orang lain di hari yang sama.
Minggu 4: subjek A mulai memakai sarung tangan. Alasan dinyatakan: “pecahan kaca”. Tidak ada pecahan kaca di hari Selasa.
Catatan kaki 1: Subjek A = Amane. Subjek B = Kuromiya.
Catatan kaki 2: Opsi “tidak akan pernah” masih dibuka atas permintaan Nikaidō S., yang memasang seluruh uang jajan bulanannya di sana. Panitia tidak bertanggung jawab.
“Bagus, ya?”
Mochizuki Koharu berdiri di sebelahku, setinggi bahuku, dengan kapur di tangan dan alis yang mulai tumbuh kembali seperti dua garis samar.
“Mochizuki.”
“Saya perbarui tiap Senin dan Kamis.”
“Aku baca.”
“Metodologinya ketat,” katanya, bangga. “Saya tidak menerima rumor. Harus ada dua saksi atau bukti fisik.”
“Mochizuki.”
“Ya, Amane-san?”
Aku menunjuk kolom keempat. “Yang minggu keempat itu. Soal buku catatan.”
“Nikaidō yang setor.”
“Nikaidō ada di ruangan itu.”
“Iya, makanya kesaksiannya kuat sekali—”
“Mochizuki, dia sedang kubuka luka bakarnya waktu itu.”
Ia mengangguk serius. “Dia bilang rasa sakitnya membantu dia mengingat detail.”
Aku menurunkan papan itu.
Aku memang menurunkannya. Aku ingin mencatat itu untuk kepentingan sejarah, karena versi yang beredar kemudian mengatakan aku “membiarkannya”, dan itu tidak adil.
Papan itu naik lagi dalam empat jam.
Aku menurunkannya lagi hari Sabtu. Naik lagi hari Minggu, dengan tambahan kolom kelima: JUMLAH PENURUNAN PAPAN OLEH SUBJEK A, dengan catatan kecil di bawahnya: tiap penurunan menaikkan rasio 0,3 — lihat lampiran.
Ada lampiran.
Aku berhenti menurunkan papan itu.
Yang membuatku akhirnya benar-benar menyerah adalah Profesor Ganryū.
Aku memergokinya di depan papan itu hari Senin pagi, dengan cangkir teh di satu tangan, memandangi tabel seperti orang memandangi ramalan cuaca.
Ganryū mengajar sihir kuno. Kelasnya diambil sebelas orang dan tiga di antaranya tidur. Ia berumur enam puluhan, punggungnya bungkuk, dan sepanjang dua tahun aku di sini ia belum pernah menyelesaikan satu kalimat pun tanpa menguap di tengah.
“Profesor.”
“Mm.”
“Anda memasang taruhan.”
“Mm.”
“Yang mana?”
Ia menyeruput tehnya.
“Tidak ada,” katanya.
“Nama Anda ada di kolom tiga.”
“Iya. Saya pasang di kolom yang tidak ada.” Ia mengangkat cangkirnya ke arah papan, ke ruang kosong di bawah baris terakhir. “Mochizuki bilang saya tidak boleh. Saya bilang saya sudah tua dan uang saya sendiri.”
“Kolom yang tidak ada itu apa?”
Ganryū menoleh padaku.
Dan untuk kira-kira dua detik, matanya sama sekali tidak mengantuk.
“Amane-kun,” katanya. “Berapa umurmu?”
“Dua puluh empat.”
“Mm.” Ia mengangguk pelan, beberapa kali, seperti orang yang mencocokkan sesuatu dengan daftar di kepalanya. “Dua puluh empat.”
“Ada apa dengan dua puluh empat?”
“Tidak ada apa-apa dengan dua puluh empat.” Ia menguap. “Semua umur ada apa-apanya. Itu yang menyusahkan.”
Ia berjalan pergi sambil menyeret kakinya, dan aku berdiri di kantin dengan perasaan seperti orang yang baru saja diberi tahu sesuatu tanpa diberi tahu apa pun.
Aku baru memahami taruhannya empat belas bulan kemudian.
Kuromiya mengetahui keberadaan papan itu hari Selasa.
Aku tidak bermaksud membiarkannya mengetahui. Aku sudah menyusun rencana yang cukup baik, yaitu: tidak pernah menyebutkannya, selamanya, dan berharap papan itu jatuh sendiri.
Yang terjadi: Genta datang ke klinik hari Selasa untuk mengembalikan nampan, melihat Kuromiya, panik, dan berkata — untuk mengisi keheningan, karena ia selalu mengisi keheningan dengan hal yang salah —
“Kuromiya-san! Selamat! Rasio Anda naik!”
Hening.
“...Rasio saya.”
Genta menoleh padaku dengan wajah orang yang baru menjatuhkan sesuatu yang mahal.
“Ōba,” kataku.
“Maaf.”
“Ōba.”
“Maafkan saya, Amane-san, saya kira dia sudah—”
“Rasio apa,” kata Kuromiya.
Ia berdiri di depan papan itu selama empat menit.
Aku tahu karena aku menunggunya di ujung lorong dan menghitung, karena satu-satunya hal yang bisa kulakukan di situasi itu adalah menghitung.
Kantin penuh. Jam makan siang. Ada mungkin seratus orang di sana, dan aku bersiap untuk hal yang sudah kuhafal: ruang kosong tiga langkah yang selalu terbentuk di sekelilingnya, keheningan yang menyebar seperti tumpahan.
Bukan itu yang terjadi.
Yang terjadi: dua anak perempuan tingkat satu mendekatinya — mendekat, bukan menghindar — dan salah satunya berkata, dengan berani sekali, “Kuromiya-senpai, kolom empat itu benar tidak?”
“Yang mana.”
“Yang soal Anda datang di hari bukan jadwal.”
Kuromiya membaca baris itu. Membaca lagi.
“Benar,” katanya.
Anak perempuan itu memekik dan menoleh ke temannya dan berkata sesuatu yang tidak bisa kudengar dari lorong, dan mereka berdua tertawa, dan yang satu memukul lengan yang lain, dan Kuromiya berdiri di sana di tengah semua itu dengan wajah yang sama sekali tidak berubah.
Tapi ia tidak mundur.
Dan tidak satu pun orang di kantin itu bergeser tiga langkah.
Aku memikirkan itu sepanjang malam.
Papan itu bodoh. Papan itu melanggar entah berapa aturan dan jelas-jelas merupakan pelecehan terhadap dua orang dewasa — yah, satu orang dewasa dan satu murid tingkat tiga — dan seharusnya aku memaksa Mochizuki menurunkannya dengan ancaman yang serius.
Tapi selama sebelas tahun, di akademi ini dan di mana pun sebelumnya, Kuromiya Yuina adalah nama yang membuat ruangan menahan napas.
Dan seorang anak tujuh belas tahun dengan kapur berhasil mengubahnya, dalam lima minggu, menjadi nama yang membuat orang tertawa dan bertaruh dan memukul lengan temannya di kantin.
Aku tidak menurunkan papan itu lagi.
Aku bilang pada diriku sendiri bahwa itu keputusan strategis.
Malam itu, sebelum pulang, Kuromiya berhenti di ambang pintu.
“Amane-san.”
“Hm.”
“Rasio saya berapa?”
“Aku tidak menghafalnya.”
“Anda menghafalnya.”
“Aku tidak.”
“Anda berdiri di depan papan itu satu setengah menit hari Jumat,” katanya. “Ada tiga saksi. Metodologi Mochizuki-san ketat.”
Aku menutup buku catatan dan tidak menjawab.
Ia turun tangga. Berhenti di anak tangga ketujuh, seperti biasa.
Lalu, dari bawah, dengan suara datar yang sama seperti waktu ia melaporkan suhu tubuh:
“Yang kolom ‘tidak akan pernah’ itu rasionya paling besar.”
“Aku tahu.”
“Kasihan Nikaidō-san.”
“Iya,” kataku. “Kasihan sekali.”
Nikaidō Sōta menantangku duel hari Kamis.
Ia melakukannya dengan benar: berdiri di halaman Menara Utara, jam tujuh pagi, menunjuk ke jendelaku, dan berteriak sampai empat menara mendengar.
“AMANE HARUTO! HARI INI KITA SELESAIKAN!”
Aku membuka jendela. “Selesaikan apa?”
“SEGALANYA!”
“Aku bukan penyihir tempur, Nikaidō.”
“RIVAL TIDAK MENGENAL SPESIALISASI!”
Sudah ada penonton. Tentu saja sudah ada penonton — Mochizuki di depan, dengan buku catatan, sudah menulis.
Aku turun. Seratus dua puluh anak tangga.
Sōta berdiri di halaman dengan kuda-kuda yang sebetulnya cukup bagus, jubah berkibar, dan seluruh sikap tubuh orang yang sudah membayangkan momen ini sejak subuh.
“Aturannya sederhana,” katanya. “Satu ronde. Tanpa senjata tajam. Yang jatuh duluan kalah.”
“Baik.”
“Anda menerima?”
“Aku menerima.”
Ia terkesiap. Ia jelas tidak menyiapkan apa pun untuk kemungkinan aku menerima.
“Baik!” Ia mengangkat tangannya. “Baik. Kalau begitu— sebagai penantang, saya beri Anda kehormatan untuk—”
“Nikaidō.”
“Ya?”
“Kapan kamu tidur terakhir kali?”
Ia berkedip. “Kenapa memang—”
“Kelopak matamu bengkak, bibirmu pecah, dan kamu sudah dua kali memindahkan berat badan ke kaki kiri dalam empat puluh detik terakhir karena kaki kananmu tidak nyaman.” Aku melipat tangan. “Kamu latihan sampai jam berapa semalam?”
“...Tiga.”
“Dan sebelumnya?”
“Tiga juga.”
“Berapa hari berturut-turut?”
Hening.
“Nikaidō.”
“Sembilan,” katanya, pelan.
Halaman itu hening. Bahkan Mochizuki berhenti menulis.
Aku berjalan mendekat, dan ia tidak mundur, dan aku menaruh tanganku di bahunya dan mendorong pelan.
Ia jatuh.
Tidak keras. Ia cuma duduk, tiba-tiba, seperti orang yang tali kakinya diputus. Kaki kanannya memang tidak menahan apa-apa lagi.
“Aku menang,” kataku.
“...Itu curang.”
“Itu diagnosis.” Aku berjongkok di depannya. “Tendonmu meradang. Kalau kamu latihan malam ini juga, minggu depan kamu tidak akan bisa berdiri di ujian lapangan. Dan kamu akan menonton dari asrama waktu semua orang berangkat.”
Sōta menatap tanah.
“Peringkat saya tiga puluh satu,” katanya.
“Aku tahu.”
“Dari tiga puluh dua.”
“Aku tahu itu juga.”
“Kalau saya tidak latihan sampai jam tiga, saya cuma— ” Ia berhenti. Mengusap wajahnya kasar dengan lengan. “Saya cuma peringkat tiga puluh satu.”
Aku duduk di tanah di sebelahnya, karena kadang itu satu-satunya hal yang bisa dilakukan.
“Kamu tahu apa yang tertulis tentang kamu di bukuku?” kataku.
“Saya tahu. Saya baca.”
“Kamu baca setengahnya.” Aku mengeluarkan buku itu dan membalik ke halaman yang benar, dan menyodorkannya. “Baris kedua.”
Ia membaca.
Nikaidō Sōta — banyak bicara kalau takut. Kalau dia diam, berarti ada yang serius. Perhatikan.
Datang ke klinik empat kali. Tiga kali mengantar orang lain.
Ia membacanya dua kali. Aku tahu karena matanya bergerak dua kali.
“Peringkat itu mengukur satu hal,” kataku, mengambil bukuku kembali. “Bukan kamu.”
Ia tidak latihan malam itu.
Aku tahu karena aku mengecek — dari jendela Menara Utara, halaman latihan kelihatan jelas, dan lampunya mati jam sepuluh.
Dan waktu aku berbalik dari jendela, Kuromiya masih di ruangan, mengelap sesuatu yang sudah bersih, seperti biasa.
“Anda memberitahunya,” katanya.
“Memberitahu apa?”
“Isi buku Anda. Anda tidak pernah menunjukkan buku itu ke siapa pun.”
Aku memasukkan buku itu ke saku celemek.
“Kadang perlu.”
Ia mengangguk pelan. Lalu, setelah beberapa saat:
“Halaman saya di nomor berapa?”
“Kamu bilang kamu tidak baca.”
“Saya tidak baca.”
“Ya sudah,” kataku. “Berarti kamu tidak perlu tahu nomornya.”
Ia mengetuk meja. Tiga kali.
Aku pura-pura tidak dengar, dan ia pura-pura tidak mengetuk, dan kami berdua mengelap meja yang sudah bersih sampai lonceng malam.
Pengumumannya datang tiga hari kemudian, ditempel di keempat menara sekaligus.
UJIAN LAPANGAN GABUNGAN — DISTRIK HILIR KAGURAYAMA
Empat puluh murid. Tiga pengawas. Satu penyembuh pendamping.
Aku membaca daftarnya sampai bawah.
Hoshizaki Ayaka. Ōba Genta. Nikaidō Sōta. Mochizuki Koharu.
Kuromiya Yuina.
Dan di baris paling bawah, di bawah garis, dengan huruf yang lebih kecil dari semua nama lain:
Pendamping medis: Amane.
Tanpa nama depan.
Bersambung ke Bab 7 — “Kelas Terendah”