Chapter Twenty Four
Keturunan Terakhir
POV: Kuromiya Yuina · Musim dingin, dua hari setelah Retakan terbuka
Retakan bukan lubang.
Itu kesalahpahaman yang paling umum, dan aku ingin meluruskannya lebih dulu, karena kalau kamu mengira itu lubang, kamu akan mengira ada sesuatu yang keluar darinya.
Tidak ada yang keluar dari Retakan.
Retakan adalah tempat di mana dunia ini berhenti memegang bentuknya. Di dalam radiusnya, hukum-hukum melemah satu per satu — mula-mula yang kecil dan tidak penting, lalu yang besar. Batu tidak jatuh dengan laju yang benar. Api menyala dengan warna yang salah. Luka menutup terbalik.
Dan hal yang paling relevan untuk cerita ini:
Di dalam radius Retakan, semua orang bisa melihat benang.
Semua orang. Bukan cuma Kuromiya.
Itu tertulis di halaman ketiga catatan Ashimori, ditulis oleh Kuromiya Shiori seratus delapan puluh tahun lalu, dengan satu kalimat tambahan yang kupikirkan berhari-hari setelah membacanya:
Selama tiga hari di Ashimori, aku bukan satu-satunya. Itu tiga hari paling tenang dalam hidupku, dan aku tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun karena aku malu.
Rapat darurat diadakan hari Kamis pagi di Aula Barat.
Yang hadir: Kepala Akademi, keempat kepala menara, Tsuzaki-sensei, dua utusan dari ibu kota, Profesor Ganryū, dan — atas permintaan Menara Barat — Hoshizaki Ayaka sebagai perwakilan murid.
Aku hadir karena aku dipanggil.
Bukan sebagai murid. Panggilannya ditulis begini: Kuromiya Yuina, mewakili Klan Kuromiya.
Itu pertama kalinya seumur hidup aku dipanggil dengan cara itu, dan aku tahu persis apa artinya sebelum aku sampai di pintu.
Kalau mereka memanggil klan-ku, mereka bukan butuh murid.
Mereka butuh segel.
Aku akan meringkas dua jam pertama, karena isinya angka.
Retakan lembah utara terbuka pukul enam sore hari kedua puluh sembilan. Radius awal: dua ratus langkah. Radius pada hari ketiga: enam ratus langkah.
Lajunya tidak konstan. Ia melambat, lalu melompat.
Tiga desa berada di dalam radius proyeksi tiga puluh hari. Sembilan desa dalam radius enam puluh hari.
Kalau tidak ditutup dalam enam puluh hari, ia akan mencapai jalur sungai, dan setelah jalur sungai tidak ada lagi model yang berguna karena tidak ada catatan sejarah tentang Retakan yang dibiarkan selama itu.
“Berapa cara menutupnya?” tanya salah satu utusan ibu kota.
“Satu,” kata Ganryū.
“Retakan bukan luka. Tidak bisa dijahit.” Ganryū tidak berdiri; ia bicara dari kursinya, dengan cangkir di tangan, seperti sedang menjelaskan jadwal kelas. “Retakan adalah tempat yang lupa cara jadi tempat. Untuk menutupnya, harus ada sesuatu yang mengingatkannya.”
“Sesuatu?”
“Jiwa,” katanya. “Satu jiwa, dipasang di titik pusat, sebagai jangkar. Bukan dikorbankan — dipasang. Bedanya penting untuk teori dan tidak ada bedanya sama sekali untuk orangnya.”
Ruangan itu hening.
“Jiwa siapa saja?”
“Bukan siapa saja. Harus jiwa yang bisa berdiri di antara dua alam tanpa larut.” Ganryū meminum tehnya. “Dalam seluruh catatan, cuma ada satu garis keturunan yang bisa.”
Dan lalu — untuk pertama kalinya sepanjang dua jam itu — dua puluh tiga orang di Aula Barat menoleh ke arah yang sama.
Ke arahku.
Aku sudah tahu.
Aku ingin mencatat itu dengan jelas, supaya tidak ada yang mengira aku terkejut dan lalu diseret.
Aku sudah tahu sejak lonceng berbunyi di malam festival salju. Aku sudah membaca Ashimori. Aku tahu Penyembuh Kelima ada di sana, dan aku tahu siapa yang jadi jangkarnya, karena Kuromiya Shiori mencatat namanya di baris terakhir sebelum tulisan tangannya berubah:
Jangkar: Kuromiya Tsune, sepupu saya, dua puluh enam tahun.
Aku sudah tahu selama dua hari, dan selama dua hari itu aku sudah menyelesaikan seluruh perhitungannya, dan aku sudah sampai pada satu-satunya kesimpulan yang bisa kucapai.
Bukan kesimpulan yang mulia. Aku ingin itu tercatat juga.
Perhitunganku begini:
Retakan ini akan dilawan. Empat menara akan mengirim orang. Akan ada korban — puluhan, mungkin ratusan, tergantung berapa lama.
Dan di suatu titik, di suatu malam, akan ada lebih banyak orang terluka daripada yang bisa disentuh satu per satu.
Dan Amane Haruto akan berlutut, dan menggambar lingkaran, dan membaca delapan baris.
Sisa waktunya sepuluh minggu. Gokui kedua dengan radius yang dipaksa melebar berharga kuadrat.
Sepuluh minggu tidak akan cukup untuk membayar. Dan aku tidak tahu apa yang terjadi kalau seseorang membaca Gokui dengan harga yang lebih besar dari yang ia punya, karena tidak ada catatannya, karena tidak ada yang pernah selamat untuk mencatatnya.
Kalau Retakan ditutup lebih cepat, tidak akan ada malam itu.
Itu saja. Itu seluruh alasannya.
Aku tidak menyelamatkan tiga desa. Aku tidak menyelamatkan sembilan desa. Aku tidak peduli pada jalur sungai.
Aku cuma sedang mencegah satu orang berlutut di batu.
“Kuromiya-kun,” kata Kepala Akademi. “Kami tidak akan meminta—”
“Berapa lama persiapannya?” tanyaku.
Ruangan itu berhenti lagi.
“Maaf?”
“Ritusnya,” kataku. “Berapa lama persiapannya, dan berapa banyak orang yang dibutuhkan untuk membawa jangkar ke titik pusat, dan berapa lebar koridor aman yang harus dibuka. Saya butuh angkanya untuk menyiapkan diri.”
Salah satu kepala menara berkata, “Nak, kamu tidak perlu memutuskan sekarang—”
“Saya tidak memutuskan sekarang,” kataku. “Saya sudah memutuskan hari Selasa.”
Ada perdebatan setelahnya. Panjang. Sebagian tulus.
Utusan ibu kota mengusulkan mencari anggota klan Kuromiya yang lain. Kepala Menara Selatan menjelaskan, dengan sopan dan agak malu, bahwa rumah induk Kuromiya sekarang berisi sembilan orang, semuanya di atas enam puluh tahun, dan tidak satu pun yang masih punya mata.
Tsuzaki-sensei mengusulkan penundaan tiga puluh hari untuk mencari alternatif.
Ganryū berkata: “Tidak ada alternatif. Saya sudah mencarinya empat puluh tahun.”
Dan Hoshizaki Ayaka, dari kursi paling ujung, tidak berkata apa-apa sama sekali selama seluruh rapat itu.
Ia cuma menatapku.
Terus-menerus. Dari awal sampai akhir. Tidak sekali pun ke arah pembicara.
Formulirnya keluar sore itu.
PENUGASAN OPERASI LEMBAH UTARA — DAFTAR PERSONEL INTI.
Bagian arsip dan pencatatan Menara Selatan dijaga oleh empat murid tingkat tiga secara bergiliran, sebagai bagian dari kewajiban praktikum.
Hari Kamis sore adalah giliranku.
Aku menulis namaku di baris “jangkar ritus”, dengan tinta resmi, dengan format yang benar, dan aku membubuhkan cap arsip di sudut kanan bawah.
Butuh sembilan detik.
Selama sebelas tahun, satu-satunya kekuatan nyata yang pernah kumiliki adalah kemampuan menuliskan sesuatu sebelum ada yang sempat bilang tidak boleh.
Ganryū sedang berdiri di lorong waktu aku keluar.
Ia tidak berpura-pura kebetulan lewat. Ia berdiri di sana, bersandar ke dinding, dengan cangkir yang entah bagaimana masih ada di tangannya sejak pagi.
Ia melihat map di tanganku.
Ia melihat sudut kanan bawahnya, tempat cap itu masih basah.
“Sudah?” katanya.
“Sudah.”
“Mm.”
Aku menunggu.
Aku sudah menyiapkan empat jawaban untuk empat kemungkinan hal yang akan ia katakan. Aku sudah menyiapkannya sejak rapat berakhir.
Ganryū tidak mengatakan satu pun dari keempatnya.
Ia cuma berkata: “Dia tidak boleh tahu sampai berangkat.”
Aku menatapnya.
“Kenapa Anda membantu saya.”
“Saya tidak membantu kamu.” Ia meminum tehnya, yang jelas sudah dingin sejak pagi. “Saya sudah empat puluh tahun mencoba menghentikan orang, Kuromiya-kun. Saya merobek buku. Saya mengunci rak. Saya menyembunyikan bab. Semuanya tidak berhasil, dan sekarang saya tua, dan yang tersisa dari saya cuma kemampuan memilih siapa yang saya beritahu duluan.”
Ia mendorong dirinya dari dinding.
“Ada satu hal yang belum kamu tanyakan,” katanya.
“Apa?”
“Kamu belum bertanya apa yang terjadi pada jangkar setelahnya.” Ia menoleh. “Semua orang bertanya. Sepupu Shiori bertanya. Kamu tidak.”
“Saya tidak perlu tahu.”
“Kamu Kuromiya,” katanya. “Kamu selalu perlu tahu.”
Aku memegang map itu lebih erat.
“Kalau saya tanya, saya akan menghitung,” kataku. “Dan kalau saya menghitung, saya akan punya angka. Dan saya sudah punya cukup banyak angka.”
Ganryū memandangiku cukup lama.
Lalu ia berkata sesuatu yang tidak kumengerti sama sekali waktu itu, dan yang kuingat kata per kata selama sisa hidupku:
“Klanmu bukan cuma pelihat, Kuromiya-kun. Kalau suatu hari kamu penasaran kenapa namanya pemanggil, pintu ruang kerja saya tidak dikunci.”
Ia berjalan pergi menyeret kakinya.
Aku pikir itu ocehan orang tua.
Aku pulang ke asrama jam tujuh malam, dan lalu aku tidak pulang ke asrama; aku naik seratus dua puluh anak tangga.
Klinik kosong. Ia sedang di bawah, di rapat susulan Menara Barat, dan tidak akan kembali sampai jam sepuluh.
Aku menyalakan tungku dan merebus air dan membuat teh.
Aku tidak pernah membuatnya sendiri sebelumnya. Selalu dia. Aku menuang, dia merebus; itu pembagiannya sejak awal dan tidak pernah dibicarakan.
Aku membuatnya salah dua kali. Yang ketiga cukup mirip.
Aku menuang dua cangkir dan meletakkannya di dua kursi di dekat perapian, dan duduk di kursi sebelah kanan, dan meminum punyaku.
Aku tidak bisa merasakan panasnya. Aku sudah tidak bisa merasakan panas sejak tanggal enam.
Aku tidak bisa merasakan manisnya seperti dulu — itu bukan lidahku; itu karena hidungku ikut menumpul, dan sebagian besar rasa manis sebetulnya bau.
Yang bisa kurasakan cuma bahwa cairan itu ada di mulutku, dan bahwa cangkirnya berat.
Aku meminumnya sampai habis.
Cangkir kedua tetap penuh di kursi sebelahku, di seberang perapian, dingin sejak menit kesepuluh.
Dan lalu aku melakukan hal yang sudah kuhindari sepanjang dua hari.
Aku menghitung mundur hariku sendiri.
Aku tidak bisa melihat benangku. Tidak ada satu pun Kuromiya yang bisa. Itu satu-satunya kebaikan yang pernah diberikan mata ini kepada pemiliknya.
Tapi aku punya tanggal keberangkatan, dan aku punya proyeksi radius, dan aku punya catatan Ashimori dengan seluruh jadwalnya.
Berangkat: hari kesepuluh bulan depan.
Perjalanan ke lembah utara: empat hari.
Membuka koridor sampai titik pusat: dua sampai tiga hari, tergantung perlawanan.
Ritus: satu malam.
Dua puluh tiga hari.
Aku menuliskannya di kertas, dan aku menatapnya, dan aku tidak membakarnya kali ini.
Aku melipatnya empat kali dan memasukkannya ke kotak kayu di laci meja klinik — kotak kecil seukuran telapak tangan, jenis yang biasa dipakai menyimpan jarum, yang sudah terlalu penuh dan tutupnya sudah harus ditekan.
Dua puluh tiga hari.
Aku duduk di kursi sebelah kanan dengan cangkir kosong di tangan dan cangkir penuh di kursi seberang, dan aku menyusun daftar.
Bukan daftar tugas. Aku sudah punya cukup banyak daftar tugas.
Aku menyusun daftar hal-hal yang ingin kulakukan dua puluh tiga kali.
Bersambung ke Bab 25 — “Yang Dilihat dari Balkon”