Chapter Twenty
Sisi Kanan
POV: Amane Haruto · Musim gugur, hari setelah runtuhnya Menara Barat
Hal pertama yang kupelajari adalah bahwa dunia jadi datar.
Bukan lebih sunyi. Datar. Kalau kamu punya dua telinga, kamu tidak sekadar mendengar — kamu tahu dari mana. Suara datang dengan alamat. Dengan satu telinga, semua suara datang dari tempat yang sama, yaitu “di sekitar”, dan kepalamu harus mengerjakan sisanya dengan menebak.
Aku menghabiskan pagi pertama itu menebak dengan salah, terus-menerus.
Genta memanggilku dari kiri; aku menoleh ke kanan. Seseorang menjatuhkan baskom; aku menunduk ke arah yang keliru. Sōta bertanya sesuatu dari ambang pintu dan aku menjawab pertanyaan yang berbeda, dan ia mengulanginya, dan aku menjawab salah lagi.
Aku menyusun teori kerja jam sembilan pagi: kalau aku memiringkan kepala sepuluh derajat ke kanan dan sedikit maju, telinga kananku mengambil cukup untuk menutupi kekurangannya.
Itu berhasil sekitar tujuh puluh persen.
Tiga puluh persennya adalah aku tertawa terlambat dua detik setelah orang lain, karena aku baru menyusun ulang kalimatnya di kepalaku setelah lelucon itu selesai.
Klinik penuh sepanjang hari, dan itu menyelamatkanku.
Ini yang tidak dipahami orang tentang pekerjaan seperti ini: hari setelah bencana selalu lebih ramai daripada hari bencananya. Kubah itu menutup luka; kubah itu tidak menutup apa pun yang lain.
Yang datang hari Kamis:
Dua puluh tiga orang dengan luka yang baru terjadi setelah kubah padam — tergores batu waktu membantu membersihkan, terjepit, terkilir.
Enam orang yang tidak bisa berhenti gemetar dan tidak tahu kenapa.
Sebelas orang yang datang dengan keluhan yang jelas-jelas dibuat-buat, lalu duduk di kursi dan bicara panjang lebar tentang hal lain.
Dan sekitar empat puluh orang yang datang hanya untuk berdiri di ambang pintu, membungkuk, dan pergi.
Yang terakhir ini yang paling melelahkan. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan orang yang datang seratus dua puluh anak tangga cuma untuk membungkuk.
Aku bilang “sudah, tidak apa-apa” empat puluh kali.
Kuromiya datang jam sepuluh pagi dan tidak pulang sampai malam.
Ia bekerja dengan cara yang berbeda hari itu. Lebih dekat. Ia berdiri lebih dekat dari biasanya, dan ia selalu ada di sisi kananku, dan waktu aku bergeser ia bergeser.
Aku mengira itu karena ruangan penuh.
Ia juga mulai — dan ini yang membuatku curiga sekitar jam dua siang — mengulangi hal-hal.
Bukan mengulangi kalimatnya sendiri. Mengulangi kalimat orang lain.
Seorang ibu dari desa bertanya sesuatu dari sisi kiriku. Aku memiringkan kepala dan bersiap menebak. Dan sebelum aku sempat menebak, Kuromiya berkata — biasa saja, seolah sedang mencatat — “Dia tanya apakah salepnya boleh dipakai dua kali sehari.”
Terjadi lagi jam tiga.
Dan jam empat.
Dan jam setengah lima, waktu ruangan kosong sebentar, aku berkata: “Kamu tidak perlu melakukan itu.”
Ia sedang menyusun kasa. Ia tidak berhenti menyusun.
“Melakukan apa?”
“Kamu tahu apa.”
“Saya mencatat keluhan pasien. Itu tugas asisten.”
“Kuromiya.”
“Kalau Anda salah dengar dosisnya,” katanya, masih menyusun kasa, “yang celaka pasiennya.”
Dan itu argumen yang tidak bisa kubantah, yang jelas-jelas sudah ia siapkan, dan yang jelas-jelas bukan alasan sebenarnya.
Aku membiarkannya.
Aku mencabuti rambutku jam enam sore, di kamar, di depan cermin kecil, dengan pintu tertutup.
Ini bukan hal yang bisa dikerjakan dalam lima menit lagi.
Musim semi lalu: satu helai. Musim gugur minggu ketiga: empat.
Sekarang: separuh kepala.
Aku mulai dari pelipis kanan karena di sanalah yang paling kelihatan. Aku bekerja dengan sabar, satu-satu, dan setelah sekitar enam puluh helai aku menyadari dua hal: pertama, tidak ada gunanya; kedua, aku sedang membuat botak sebelah alih-alih menghilangkan putihnya.
Aku tetap melanjutkan.
Aku tidak tahu apa lagi yang harus kulakukan dengan tanganku.
Pintu terbuka.
Aku belum pernah lupa mengunci pintu kamar sebelumnya.
Kuromiya berdiri di ambang dengan nampan berisi dua cangkir teh, dan seluruh tubuhnya berhenti bergerak.
Aku di depan cermin dengan segenggam rambut putih di tangan kiri.
Kami berdua tidak mengatakan apa-apa selama waktu yang sangat lama.
“Aku sedang—” Aku berhenti. Tidak ada kelanjutan yang bisa dipakai. “Ini bukan apa-apa.”
Ia meletakkan nampan itu di meja kecil di dekat pintu, sangat pelan, seperti orang yang tangannya tidak bisa dipercaya.
Lalu ia berjalan mendekat, mengambil rambut dari tangan kiriku, dan berdiri di sana memegangnya.
“Buang saja,” kataku. “Perapian di bawah.”
Ia tidak menjawab.
“Kuromiya.”
“Duduk,” katanya.
“Aku—”
“Duduk, Amane-san.”
Aku duduk di tepi ranjang.
Ia mengambil sisir dari meja. Berdiri di belakangku. Dan mulai menyisir rambutku — pelan, dari atas, dengan tangan kirinya menahan di tengkuk supaya tidak tertarik.
Tidak ada satu pun kata selama sepuluh menit.
Aku menutup mata karena tidak tahu harus melihat ke mana.
“Ini akan terus bertambah,” katanya akhirnya.
“Iya.”
“Anda tidak akan bisa mencabuti semuanya.”
“Iya.”
Sisirnya berhenti sebentar. Lalu lanjut.
“Kalau begitu jangan dicabuti,” katanya. “Biarkan saja.”
“Orang akan bertanya.”
“Biarkan mereka bertanya.”
“Kuromiya, aku dua puluh empat.”
“Saya tahu berapa umur Anda,” katanya, dan ada sesuatu di suaranya yang membuatku membuka mata, dan waktu aku menoleh ia sudah menunduk dan sedang membereskan sisir, dan wajahnya tidak kelihatan.
Anak itu dibawa masuk jam sembilan malam.
Namanya Rina. Tingkat satu, Menara Timur, tiga belas tahun.
Ia tidak ada di halaman dalam kemarin sore.
Ia ada di lorong penghubung — dua puluh langkah di luar dinding halaman dalam, di balik pintu yang runtuh dan menutup jalannya, dan tidak ada satu pun orang yang tahu ia di sana selama dua puluh enam jam.
Regu pembersih menemukannya jam setengah sembilan malam.
Dua puluh langkah.
Kubah itu radiusnya tiga puluh langkah dari titikku, dibuka sampai menyentuh keempat dinding halaman dalam. Ia berada dua puluh langkah di luar dinding itu.
Aku mengerjakannya selama empat puluh menit. Aku mengerjakannya dengan benar. Aku memindahkan semua yang bisa dipindahkan dan sebagian yang seharusnya tidak, dan tanganku terasa seperti ada yang menyalakan api di dalamnya, dan aku tidak berhenti.
Ia meninggal jam sepuluh lewat lima.
Bukan karena luka. Karena dua puluh enam jam.
Aku menulis surat keterangannya sendiri.
Aku selalu menulisnya sendiri. Itu aturan yang kubuat di bulan ketiga, karena di dunia lamaku ada formulir yang ditandatangani orang yang tidak pernah masuk ke kamar pasiennya, dan aku bersumpah tidak akan pernah jadi orang itu.
Tulisan tanganku miring sekali malam itu. Aku harus menulis ulang dua kali.
Lalu aku keluar ke lorong, dan aku duduk di lantai batu di luar pintu klinik, dan tanganku mulai gemetar.
Kali ini tidak berhenti.
Sepuluh menit. Dua puluh. Aku menghitung dan lalu berhenti menghitung. Kedua tangan, dari pergelangan sampai jari, dan darah di kukuku belum kucuci, dan tidak ada satu pun bagian dari tubuhku yang mau menuruti perintah.
Aku mendengar diriku sendiri bicara.
“Dua puluh langkah.”
Tidak ada yang menjawab, karena tidak ada siapa-siapa di lorong itu.
“Dua puluh langkah dari dinding. Kalau kudorong radiusnya sepuluh langkah lagi—”
Aku tahu berapa ongkosnya. Kuadrat, bukan linear. Aku sudah membacanya di gulungan robek di rak sembilan.
“Dia cuma anak kecil.”
Aku mengatakannya lagi. Aku tidak tahu berapa kali. Aku ingat suaraku terdengar salah, seperti suara orang lain di ruangan sebelah.
“Dia cuma anak kecil.”
Aku tidak mendengarnya datang.
Tentu saja aku tidak mendengarnya datang — ia datang dari sisi kiri, dan sisi kiriku sudah tidak ada sejak kemarin sore.
Yang kutahu tiba-tiba ada seseorang berlutut di depanku.
Ia tidak berkata apa-apa. Ia tidak bertanya apa yang terjadi, tidak bertanya siapa anak itu, tidak mengatakan bahwa aku sudah melakukan yang terbaik — dan aku bersyukur untuk yang terakhir itu, karena kalau ia mengatakannya aku tidak tahu apa yang akan kulakukan.
Ia melepas sarung tangannya. Keduanya. Menjatuhkannya ke lantai.
Lalu ia menangkup wajahku dengan dua tangan.
Tangannya dingin. Sangat dingin. Aku ingat berpikir, dengan bagian otakku yang masih bekerja: dia kedinginan, ruangan ini terlalu dingin untuknya.
Dan ia menciumku.
Bukan seperti yang ada di cerita.
Tidak ada yang lambat dan tidak ada yang manis tentangnya. Ia menciumku seperti orang menekan luka: keras, tepat, dan dengan seluruh berat badan condong ke depan, karena satu-satunya cara menghentikan pendarahan adalah menekan dan tidak melepaskan.
Aku menyadari, di suatu titik, bahwa tanganku sudah berhenti gemetar.
Aku tidak tahu kapan.
Ia melepaskan dan tetap di sana, dahi ke dahi, kedua tangannya masih di wajahku, dan napasnya tidak stabil dan napasku juga tidak.
“Berhenti?” katanya.
Aku mengangkat tanganku ke antara kami.
Diam.
“Berhenti,” kataku.
“Bagus.”
Dan lalu ia menangis — bukan seperti di anak tangga bulan lalu, yang tenang dan bingung; kali ini seluruh tubuhnya, sekaligus, seperti sesuatu yang sudah lama menahan pintu dan akhirnya melepaskan gagangnya.
Aku menariknya.
Aku tidak ingat memutuskan untuk melakukannya. Aku ingat lengannya, dan aku ingat bahunya menabrak daguku, dan aku ingat bahwa ia lebih kecil dari yang selalu terlihat.
Kami duduk di lantai batu lorong Menara Utara sampai lewat tengah malam.
Aku tidak menghitung berapa lama. Untuk sekali ini, tidak ada satu pun dari kami yang menghitung apa pun.
Yang tidak kutanyakan malam itu, dan tidak pernah kutanyakan sesudahnya:
Aku sedang menangisi anak berumur tiga belas tahun yang mati karena dua puluh langkah.
Ia menangisi apa?
Aku punya jawabannya sekarang. Aku punya jawabannya selama empat belas bulan terakhir, dan aku memikirkannya setiap kali menuang cangkir kedua.
Malam itu aku tidak punya, dan aku terlalu lelah untuk bertanya, dan mungkin itu satu-satunya kali dalam hidupku aku bersyukur karena terlalu lelah.
Besok paginya, jam sepuluh, klinik penuh lagi.
Aku menuang teh di meja dan berbalik, dan Kuromiya sudah berdiri di sisi kananku.
Ia berdiri di sana sepanjang pagi.
Waktu aku pindah ke rak dua, ia pindah. Waktu aku duduk untuk menjahit, ia berdiri di sisi kanan kursi. Waktu kami berjalan ke gudang, ia berjalan di kanan.
Jam dua siang aku menyadari itu bukan kebetulan.
Jam empat sore aku menyadari bahwa itu bukan cuma hari ini.
Aku tidak pernah menyinggungnya. Ia tidak pernah menjelaskannya. Selama empat belas bulan berikutnya, di klinik, di lorong, di gunung, di desa, di lembah utara, di setiap ruangan yang pernah kami masuki bersama — ia tidak pernah sekali pun berjalan di sisi kiriku lagi.
Dan aku tidak pernah sekali pun berterima kasih untuk itu, karena berterima kasih berarti mengakui bahwa ada yang perlu diperbaiki, dan kami berdua sudah punya cukup banyak hal yang tidak kami akui.
Bersambung ke Bab 21 — “Bab yang Hilang”
- 1 Benang yang Memendek Sambil Dilihat
- 2 Menara Utara
- 3 Bintang yang Lupa Makan Siang
- 4 Teh yang Rasanya Aneh
- 5 Coretan Pinggir
- 6 Papan Taruhan
- 7 Kelas Terendah
- 8 Sembilan Orang dalam Satu Malam
- 9 Satu Jubah
- 10 Yang Dianggap Pelengkap
- 11 Pasien yang Sudah Diobati
- 12 Ikat Rambut
- 13 Aritmetika
- 14 Kaki Kesemutan
- 15 Enam Nama
- 16 Mata Akhir
- 17 Festival Hoshimori
- 18 Aku Cuma Capek Jadi Satu-satunya yang Tahu
- 19 Buaian Cahaya
- 20 Sisi Kanan reading
- 21 Bab yang Hilang
- 22 Teh yang Tidak Panas Lagi
- 23 Musim Dingin Terpanjang
- 24 Keturunan Terakhir
- 25 Yang Dilihat dari Balkon
- 26 Pelukan yang Terlalu Lama
- 27 Halaman 402
- 28 Persiapan
- 29 Semua Orang Akhirnya Tahu
- 30 Malam Sebelum
- 31 Buaian Kedua, lalu Penggantian
- 32 Turun Gunung
- 33 Tujuh Puluh Dua Jam
- 34 Yang Dibacakan Keras-keras
- 35 Harga
- 36 Cangkir Kedua
- 37 Epilog — Klinik di Kota Pelabuhan