← Chapters Ch. 13 / 37

Chapter Thirteen

Aritmetika

POV: Kuromiya Yuina · Musim gugur, minggu keempat


Ruang arsip Menara Selatan punya tiga bagian.

Bagian umum, yang boleh dimasuki siapa saja. Bagian terbatas, yang butuh izin pengajar. Dan di lantai bawah tanah, di ujung lorong yang lampunya sudah mati sejak sebelum aku lahir, ada dua belas lemari besi milik dua belas klan.

Lemari kesembilan milik Kuromiya.

Aku memegang kuncinya sejak umur lima belas, karena aku pewaris terakhir, dan karena tidak ada orang lain yang tersisa untuk dititipi.

Aku belum pernah membukanya.


Aku membukanya hari Kamis, jam sebelas malam, tiga hari setelah lereng timur.

Alasannya sederhana dan aku akan menuliskannya dengan jujur: aku sudah menghitung terlalu banyak dan tidak mengerti apa pun.

Selama enam bulan aku mencatat setiap sentakan. Aku punya angkanya. Aku tahu bahwa luka dalam berharga hari, bahwa nyawa berharga tahun, bahwa memar berharga jam.

Yang tidak kupunya adalah kata untuk itu.

Aku butuh tahu apakah ini pernah terjadi sebelumnya. Karena kalau pernah, artinya ada yang mencatat. Dan kalau ada yang mencatat, artinya ada yang menonton. Dan aku ingin tahu apa yang dilakukan orang yang menonton.


Lemari itu berisi seratus dua belas buku.

Enam ratus tahun catatan klan Kuromiya, disusun menurut tahun, ditulis oleh puluhan tangan yang berbeda, dan semuanya isinya sama: nama, tanggal, panjang benang, dan hasil.

Itu pekerjaan klan-ku. Kami mencatat kematian orang lain. Enam ratus tahun.

Aku mencari kata “Penyembuh”.

Ada di indeks. Kategori tersendiri.

Tujuh entri.


PENYEMBUH PERTAMA. Dipanggil tahun 812. Meninggal 826, umur 26.
Benang pada saat pemanggilan: 41 tahun. Pengamat: Kuromiya Isshin.

PENYEMBUH KEDUA. Dipanggil 851. Meninggal 862, umur 24.
Benang pada saat pemanggilan: 38 tahun. Pengamat: Kuromiya Mao.

PENYEMBUH KETIGA. Dipanggil 889. Meninggal 897, umur 23.

PENYEMBUH KEEMPAT. Dipanggil 934. Meninggal 941, umur 22.

PENYEMBUH KELIMA. Dipanggil 978. Meninggal 984, umur 21.

PENYEMBUH KEENAM. Dipanggil 1021. Meninggal 1025, umur 19.

PENYEMBUH KETUJUH. Dipanggil 1064. Benang pada saat pemanggilan: 37 tahun.
Pengamat: —

Kolom pengamat untuk yang ketujuh kosong.

Aku duduk di lantai batu ruang arsip dengan tujuh baris itu di pangkuanku dan tidak bergerak selama waktu yang tidak bisa kuukur.

Bukan karena angka kematiannya.

Karena kolom keduanya.

Benang pada saat pemanggilan: 37 tahun.

Ia datang ke dunia ini dengan tiga puluh tujuh tahun.

Waktu aku pertama kali melihatnya, ia punya empat tahun sebelas bulan.

Ia menghabiskan tiga puluh dua tahun dalam dua tahun, dan tidak seorang pun di akademi ini pernah menghitungnya, karena orang yang bertugas menghitung adalah klan-ku, dan klan-ku tidak mengirim siapa-siapa.


Buku-buku berikutnya lebih detail, dan lebih buruk.

Pengamat Kuromiya ditugaskan mendampingi setiap Penyembuh sejak yang pertama. Bukan untuk menolong. Untuk mencatat. Kami mencatat nilai tukarnya, disusun dalam tabel, dengan kolom dan satuan, dengan ketelitian yang membuatku ingin membakar seluruh lemari ini.

Luka luar dangkal — 2 sampai 6 jam.
Patah tulang panjang — 4 sampai 11 hari.
Luka dalam rongga — 3 minggu sampai 2 bulan.
Racun sedang — 1 sampai 3 bulan.
Nyawa di ambang — 2 sampai 5 tahun.

Angka-angkaku sendiri, dari enam bulan mencatat sendirian, cocok dengan tabel itu sampai ke satuan hari.

Enam ratus tahun. Enam generasi. Dan yang mereka lakukan adalah menyempurnakan tabelnya.


Ada catatan tambahan di bawah tabel, ditulis tangan, tinta lebih tua:

Perlu dicatat bahwa Penyembuh tidak dapat menyembuhkan diri sendiri. Luka pada tubuhnya sembuh dengan laju alami. Pada tahap lanjut, laju alami ini melambat, dan akhirnya berhenti.

Tanda-tanda tahap, menurut urutan yang teramati pada Penyembuh Kedua sampai Keenam:

(1) Gemetar pada tangan.
(2) Rambut memutih tidak beraturan.
(3) Hilangnya pendengaran, satu sisi.
(4) Kerusakan sendi.
(5) Suhu tubuh turun dan tidak kembali.
(6) Luka sendiri berhenti menutup.

Setelah tanda (6), rata-rata sisa waktu yang teramati: sebelas minggu.

Aku membaca daftar itu tiga kali.

Ia sudah di (2).

Aku sudah punya empat helai di kotak di lacinya.

Aku baru menyadari, di lantai ruang arsip itu, bahwa selama ini aku sudah menyimpannya seolah aku tahu — seolah tanganku sudah tahu sesuatu yang tidak diberitahukan kepada kepalaku.


Kemudian aku sampai ke bagian Penyembuh Kelima, dan bagian itu berbeda dari semuanya.

Karena bagian itu bukan tabel.

984, bulan ketiga. Retakan di Ashimori. Korban di lapangan: dua ratus empat puluh.

Penyembuh Kelima membaca Gokui: Yurikago no Hikari. Delapan baris. Aku mencatat waktunya: delapan detik dari baris pertama.

Aku melihat kubahnya. Aku tidak punya kata untuk kubahnya. Aku akan menulis: seperti pagi yang turun terlalu cepat.

Aku juga melihat benangnya.

Benangnya tidak memendek. Benangnya rontok. Aku tidak bisa menghitung selama enam detik pertama karena tidak ada yang bisa dihitung, cuma ada yang lepas.

Ia terbatuk di baris keenam.

Baris ketujuh tidak selesai.

Kubahnya padam di sisi timur. Seratus tiga belas orang di sisi timur tidak sembuh. Delapan puluh satu di antaranya meninggal sebelum matahari terbit.

Ia tetap membayar penuh.

Aku ingin mencatat, untuk siapa pun yang membaca ini setelah aku: harga tidak dikembalikan kalau mantranya putus. Harga dicatat di baris pertama. Yang bisa gagal cuma hasilnya.

Dan lalu, di bawahnya, dengan tulisan yang lebih kecil dan lebih miring, seperti ditulis jauh setelah yang lain:

Aku sudah memberitahunya, empat bulan sebelum Ashimori. Aku melanggar hukum klan. Aku diusir dari rumah induk pada usia dua puluh dua dan tidak pernah kembali.

Ia tetap membaca mantranya.

Aku tidak menyesal telah memberitahunya. Aku menulis ini supaya Kuromiya berikutnya tahu: memberitahu tidak menghentikan mereka.

— Kuromiya Shiori


Aku membaca nama itu berkali-kali.

Ada seorang perempuan, seratus delapan puluh tahun sebelum aku, dengan mata yang sama dan lemari yang sama dan aturan yang sama, yang duduk di suatu tempat dan menulis kalimat itu untukku.

Ia melanggar. Ia diusir. Dan Penyembuh Kelima tetap mati.

Aku duduk di lantai batu dan menangis untuk pertama kalinya sejak umur sebelas, dan aku tidak menangis karena Shiori, dan bukan karena Penyembuh Kelima.

Aku menangis karena kalimat terakhirnya menutup satu-satunya pintu yang tersisa.

Kalau memberitahu bisa menghentikannya, aku akan memberitahunya besok pagi. Aku akan berdiri di klinik itu dan melanggar enam ratus tahun dan diusir dan tidak peduli.

Tapi Shiori sudah mencobanya untukku.

Dan hasilnya sudah tertulis, dalam tinta, seratus delapan puluh tahun lalu.


Aku pulang jam tiga pagi.

Di tangga Menara Selatan aku berhenti dan melihat ke arah lampu-lampu akademi, dan menyadari sesuatu yang kecil dan tidak penting dibandingkan segalanya, dan yang tetap saja membuatku berhenti berjalan.

Genteng asrama Barat berwarna cokelat.

Aku selalu tahu itu. Semua orang tahu. Genteng asrama Barat cokelat tua, dan gerbang Menara Selatan dicat merah, dan itu dua warna yang berbeda dan tidak pernah membingungkan siapa pun.

Aku berdiri di tangga itu dan melihat keduanya, dan keduanya sama.

Aku memejamkan mata. Membukanya lagi. Masih sama.

Aku memakai sihir arwah dua kali minggu ini — sekali untuk membuka segel lemari kesembilan, sekali untuk membaca tinta yang sudah pudar di catatan Shiori.

Klan-ku selalu bilang: kami membayar dengan rasa. Warna dulu, lalu suhu, lalu sentuhan. Kakekku, di tahun terakhirnya, tidak bisa merasakan air panas di tangannya sendiri.

Aku dua puluh tahun.

Aku berdiri di tangga jam tiga pagi dan menghitung, karena menghitung adalah satu-satunya yang bisa kulakukan dengan hal yang tidak boleh kukatakan:

Dia membayar dengan tahun.

Aku membayar dengan warna.

Dan tidak satu pun dari kami yang berencana berhenti.


Aku melakukan aritmetika terakhirnya di kamar, sebelum subuh, di kertas yang kubakar setelahnya.

Sisa saat ini: satu tahun lima bulan.

Laju musim gugur ini, dengan klinik penuh dan latih tanding Kamis: kira-kira dua puluh hari hilang setiap bulan.

Kalau tidak ada Retakan, tidak ada ravener, tidak ada apa pun yang luar biasa — kalau dunia ini cukup baik untuk tidak meminta apa-apa yang besar darinya —

akhir musim panas depan.

Dan kalau ada satu saja malam seperti distrik hilir: kurang.

Aku menuliskan angkanya. Aku menatapnya sampai lampu di luar mulai abu-abu.

Lalu aku membakarnya, dan mencuci muka, dan berangkat ke Menara Selatan untuk tugas arsip hari Jumat pagi, dan di sana, di antara formulir-formulir yang tidak dibaca siapa pun, aku mulai bekerja.


Yang kulakukan setelahnya bukan pengorbanan dan bukan kebaikan. Aku ingin itu tercatat dengan benar.

Yang kulakukan adalah aritmetika.

Kalau nyawa berharga tahun dan luka dalam berharga bulan dan memar berharga jam, maka setiap memar yang tidak sampai ke tangannya adalah beberapa jam yang tidak terbakar. Setiap jahitan yang kukerjakan sendiri dengan jarum dan benang, di desa, jam empat pagi, dengan tudung, adalah empat hari.

Empat hari itu tidak banyak.

Tapi aku punya jarum, dan aku punya tangan, dan aku bisa berjalan turun gunung dalam gelap, dan aku bisa melakukannya lagi minggu depan, dan minggu depannya.

Aku menghitung: kalau aku bisa mengambil enam puluh persen pekerjaan tangannya, laju dua puluh hari per bulan turun jadi delapan.

Akhir musim panas depan jadi dua musim dingin lagi.

Dua musim dingin bukan kemenangan. Aku tahu itu. Aku tahu itu sejak awal, dan aku tidak pernah sekali pun berpura-pura pada diriku sendiri bahwa aku sedang menyelamatkan siapa-siapa.

Aku cuma sedang menawar.


Jumat sore ia berkata, dari balik meja, tanpa mengangkat wajah:

“Kuromiya, kamu tahu daftar tugasku ke mana?”

“Tidak.”

“Ini yang ketiga kalinya.”

“Anda banyak pekerjaan.”

Ia mengangkat wajah. Menatapku agak lama.

Empat helai jadi enam minggu itu. Ia sudah mulai mengikat rambutnya lebih rapat supaya tidak kelihatan, dan tidak berhasil, dan aku tidak akan pernah memberitahunya bahwa tidak berhasil.

“Sabtu besok aku ke Ohaza,” katanya.

“Sabtu besok ada evaluasi arsip.”

“Aku tidak ikut evaluasi arsip.”

“Anda ikut,” kataku. “Nama Anda ada di daftar. Sebagai narasumber.”

Ia mengerutkan kening. “Sejak kapan pendamping medis jadi narasumber evaluasi arsip?”

“Sejak formulirnya keluar pagi tadi.”

Ia memandangiku.

Aku memandanginya balik, dan aku tidak berkedip, dan aku sudah menyiapkan tiga penjelasan susulan yang semuanya masuk akal.

Ia tidak menanyakan satu pun.

“Baik,” katanya akhirnya, dan kembali menulis. “Kalau begitu Ohaza minggu depan.”

Minggu depan aku sudah turun ke Ohaza dua kali. Jam empat pagi, dengan tudung, dengan jarum dan benang dan tangan yang mulai tidak bisa membedakan merah dari cokelat.

Dan waktu ia akhirnya sampai di sana, yang antre tinggal tiga orang, dan ia akan berkata pada dirinya sendiri bahwa desa itu beruntung sekali kedatangan tabib keliling.


Bersambung ke Bab 14 — “Kaki Kesemutan”