Chapter Thirty Five
Harga
POV: Kuromiya Yuina · Lembah utara, jam ketujuh puluh dua
Syarat ketiga dijelaskan kepadaku di luar tenda komando, berdua, dalam salju, selama kurang dari satu menit.
Aku akan menuliskannya utuh karena isinya cuma empat kalimat.
“Pemanggil harus menyerahkan sesuatu,” kata Ganryū. “Bukan tenaga. Sesuatu yang menghubungkan kamu dengan alam sebelah — karena itu yang dipakai jadi jembatan, dan jembatan tidak bisa dipakai dua kali.”
“Apa yang saya punya?”
“Kamu tahu apa yang kamu punya.”
“Permanen?”
“Permanen.”
Aku menjawab dalam waktu kurang dari sepuluh detik.
Aku tidak bangga akan hal itu. Sepuluh detik terlalu cepat untuk keputusan sebesar itu, dan aku sudah cukup lama mengenal diriku sendiri untuk tahu bahwa aku menjawab cepat bukan karena berani, melainkan karena aku takut kalau aku diam lebih lama aku akan mulai menghitung.
“Baik,” kataku.
Ganryū memandangiku.
“Kamu tidak bertanya apa yang terjadi kalau gagal.”
“Tidak.”
“Kamu tidak bertanya apakah bisa dikembalikan.”
“Anda sudah bilang permanen.”
“Kuromiya-kun.” Ia menyeret kakinya sedikit di salju. “Selama sebelas tahun, mata itu satu-satunya alasan siapa pun memanggil namamu.”
“Saya tahu.”
“Setelah ini kamu jadi murid tingkat tiga jurusan teori yang tidak punya afinitas apa-apa.”
“Saya tahu.”
“Klanmu akan berakhir.”
“Klan saya sudah berakhir,” kataku. “Sembilan orang di atas enam puluh tahun dan tidak satu pun yang masih punya mata. Saya cuma sedang menandatangani surat yang sudah ditulis orang lain.”
Aku ingin mencatat satu hal yang tidak akan kukatakan kepada siapa pun selama bertahun-tahun setelahnya, dan yang akhirnya kuucapkan sekali, di beranda klinik di kota pelabuhan, kepada satu orang yang tidak terkejut sama sekali.
Aku tidak menyerahkan mataku sebagai pengorbanan.
Aku menyerahkannya seperti orang meletakkan beban yang sudah sebelas tahun ia bawa dan yang sudah diberitahu berkali-kali bahwa ia tidak boleh meletakkannya.
Ada bagian dari diriku yang senang.
Aku membencinya. Aku membenci bagian itu di sepanjang tujuh puluh dua jam itu, dan aku membencinya lebih lagi setelahnya, karena kalau ternyata gagal — kalau ternyata aku menyerahkan mataku dan ia tetap tidak kembali — maka aku akan menghabiskan sisa hidupku mengetahui bahwa ada bagian dari diriku yang tetap lega.
Manusia begitu. Aku tidak akan berpura-pura tidak.
JAM KETUJUH PULUH DUA.
Aku sedang membaca untuk kedua kalinya dari halaman pertama.
Suaraku sudah habis di jam keempat puluh sembilan. Sejak itu aku membentuk kata-katanya dengan mulut dan udara dan tidak ada suara yang keluar, dan Ganryū bilang tidak apa-apa, bukan suaranya yang penting.
Aku sampai ke entri tentang ketumbar untuk kedua kalinya.
Dan lingkaran itu mengambil.
Aku sudah menyiapkan diri untuk rasa sakit.
Tidak ada rasa sakit.
Yang terjadi adalah ini, berurutan, dan aku menuliskannya berurutan karena aku menghitungnya — aku masih menghitung waktu itu, aku belum berhenti menghitung sampai beberapa detik kemudian:
Satu. Setiap benang di lembah utara padam sekaligus.
Empat puluh satu orang. Aku sedang melihat empat puluh satu benang di sudut penglihatanku seperti selalu, seperti sebelas tahun, seperti hal yang tidak bisa dipejamkan.
Dan lalu tidak ada.
Bukan menghilang perlahan. Padam, seperti lilin yang ditiup semuanya sekaligus di ruangan yang penuh lilin.
Dua. Warna.
Aku sudah kehilangan merah di musim gugur. Aku sudah kehilangan sebagian besar sisanya di musim dingin; dunia sudah jadi enam atau tujuh tingkat abu-abu selama berbulan-bulan dan aku sudah berhenti mengeluhkannya bahkan di dalam kepalaku sendiri.
Warnanya kembali seperti orang membuka pintu.
Hal pertama yang kulihat berwarna, setelah sekian lama, adalah darah di batu di dalam lingkaran — merah, betul-betul merah, merah yang lebih merah dari yang kuingat.
Aku menangis waktu itu, dan bukan karena alasan yang bagus. Aku menangis karena merah.
Tiga. Suhu.
Salju itu dingin.
Aku sudah tiga bulan berlutut, berjalan, dan tidur di salju tanpa merasakan apa-apa. Aku sudah tiga detik memegang telapak tangan terbuka di atas uap air mendidih dan berkata “oh”.
Salju itu dingin, dan aku berlutut di dalamnya tanpa alas, dan rasanya seperti dipukul.
Empat. Sentuhan.
Dan itu yang membuatku jatuh ke depan dengan dua tangan di batu, karena batu itu kasar dan basah dan tajam di satu sisi, dan tanganku sudah tidak bersarung tangan sejak jam pertama, dan aku sudah lupa bahwa permukaan benda punya bentuk.
Aku menghitung keempatnya.
Lalu aku mengangkat wajah untuk melihat berapa lama lagi ia hidup —
dan tidak ada apa-apa di atas kepalanya.
Aku ingin menuliskan detik itu dengan benar dan aku sudah gagal berkali-kali, jadi aku akan menuliskannya dengan cara yang paling jujur:
Aku panik.
Bukan sedih. Panik.
Sebelas tahun. Setiap ruangan, setiap orang, setiap kali. Aku masuk ke ruangan dan aku tahu. Aku duduk di depan seseorang dan aku tahu. Aku memegang tangan seseorang dan aku tahu berapa lama tangan itu akan ada.
Aku membencinya. Aku membencinya sejak umur tujuh setengah tahun. Aku pernah berdoa — aku, yang tidak pernah berdoa — supaya aku bisa berhenti melihatnya.
Dan di detik pertama setelah doa itu dikabulkan, aku berlutut di batu di lembah utara dan aku tidak tahu apakah laki-laki di depanku akan hidup, dan aku tidak pernah, tidak sekali pun dalam sebelas tahun, merasa sebuta itu.
Aku merangkak ke arahnya dan menaruh dua jari di lehernya.
Seperti diajarkan. Seperti yang kulakukan di praktikum pertama, di klinik Menara Utara, di musim semi, waktu aku menyentuh orang untuk pertama kalinya tanpa merasa diriku kotor.
Ada.
Pelan sekali. Sangat pelan. Tapi ada.
Ia tidak bangun.
Itu bagian yang tidak diceritakan siapa pun sesudahnya, dan yang paling ingin kuhapus dari ingatanku, dan yang tidak bisa.
Retakan tertutup. Lingkaran padam. Empat puluh satu orang berdiri tanpa sepatu di salju minus delapan.
Dan Amane Haruto bernapas, dan tidak bangun.
Tiga hari.
HARI PERTAMA.
Ganryū jatuh ke lutut waktu lingkaran padam dan menyebut satu nama, dan nama itu bukan nama Haruto.
Aku tidak menanyakan nama siapa itu selama dua tahun. Waktu akhirnya kutanyakan, ia sedang duduk di beranda klinik kota pelabuhan dengan teh yang sudah dingin sejak pagi, dan ia menjawab: “Hina.”
Dan aku bertanya apakah menurutnya ia mendengar.
Dan orang tua itu bilang: “Tidak. Tapi dia mendengar empat puluh tahun yang lalu, dan itu sudah cukup lama untuk dipikirkan.”
HARI PERTAMA, lanjutan.
Hoshizaki Ayaka berdiri di titik utara lingkaran selama tujuh puluh dua jam dan tidak jatuh sekali pun.
Ia jatuh di jam ketujuh puluh dua lewat empat menit, setelah lingkarannya padam, setelah semuanya selesai.
Ōba Genta menangkapnya. Ia sudah berdiri di belakangnya selama dua belas jam; ia tinggal menekuk lengannya.
Ayaka tidak sadar selama dua puluh jam. Waktu ia bangun, pertanyaan pertamanya adalah “berhasil?” dan pertanyaan keduanya adalah “berapa lama saya pingsan?” dan pertanyaan ketiganya adalah apakah ada yang mengambil alih pembagian jaga malam.
Lengan kanannya tidak pernah pulih sepenuhnya. Ia masih bisa memakai sihir; ia tidak pernah bisa lagi menahannya lebih dari empat puluh menit.
Ia tidak pernah menyebutkan itu kepada siapa pun. Aku tahu karena aku yang memeriksanya, dan karena aku sekarang cukup pintar untuk tidak bertanya.
HARI KEDUA.
Mochizuki Koharu tidur tiga puluh satu jam.
Waktu ia bangun ia langsung menanyakan tabungnya, dan waktu diberitahu bahwa ketiga puluh dua-duanya habis, ia bilang “bagus” dan tidur lagi enam jam.
Nikaidō Sōta tidak tidur sama sekali sampai hari ketiga.
Ia duduk di luar tenda. Sepanjang waktu. Ia bilang ia mengatur giliran jaga; tidak ada giliran jaga yang perlu diatur. Genta duduk di sebelahnya di hari kedua tanpa berkata apa-apa dan tetap di sana sampai anak itu akhirnya tertidur duduk, dan lalu menggendongnya masuk.
HARI KETIGA.
Aku menuang dua cangkir.
Sama seperti hari sebelumnya, dan sebelumnya, dan sebelumnya. Sejak hari kesembilan, di perkemahan yang sama, di tungku yang sama.
Aku meminum punyaku sampai habis.
Cangkir kedua tetap penuh.
Dan pada hari ketiga itu, untuk pertama kalinya, aku bisa merasakan bahwa tehku terlalu manis.
Aku duduk di peti nomor empat belas di lembah utara dengan cangkir di tangan dan menyadari bahwa lima sendok gula itu keterlaluan, betul-betul keterlaluan, ini bukan minuman ini gula yang basah — dan aku tertawa, sendirian, di perkemahan jam tujuh pagi, sampai Nikaidō keluar dari tendanya untuk mengecek apakah aku baik-baik saja.
Aku tidak tidur di tiga malam itu.
Aku duduk di sebelahnya dan menghitung napasnya, karena itu satu-satunya hal yang tersisa untuk dihitung.
Empat belas per menit. Lalu dua belas. Lalu, di malam ketiga, sebelas.
Dan aku tidak bisa melihat apa-apa di atas kepalanya, dan aku tidak akan pernah bisa melihat apa-apa di atas kepala siapa pun lagi, dan itu berarti aku duduk di sana selama tiga malam penuh dengan tepat nol informasi.
Sebelas tahun aku ingin buta.
Tiga malam itu adalah tiga malam terburuk dalam hidupku dan aku tidak akan menukarnya.
Karena inilah yang tidak pernah kumengerti sampai malam ketiga:
Selama sebelas tahun aku tidak pernah menunggu.
Menunggu artinya tidak tahu. Aku selalu tahu. Aku duduk di ruangan-ruangan bersama orang yang kusayangi dan aku tidak pernah sekali pun menunggu mereka — aku menghitung mundur, yang bentuknya mirip dan yang isinya sama sekali berbeda.
Di malam ketiga, jam empat pagi, di lembah utara, aku menunggu seseorang untuk pertama kalinya seumur hidup.
Dan itu mengerikan.
Dan itu — aku tidak tahu bagaimana menuliskannya tanpa terdengar bodoh — itu milikku.
Ketidaktahuan itu milikku. Tidak diberikan, tidak diwariskan, tidak dipaksakan oleh enam ratus tahun catatan klan. Aku membelinya dengan mataku sendiri dan aku akan membayarnya lagi.
Pagi keempat, aku bangun jam enam karena aku akhirnya tertidur jam lima.
Aku merebus air. Aku menuang dua cangkir. Lima sendok, karena aku sudah terlanjur terbiasa dan karena mengubahnya terasa seperti menyerah.
Aku meletakkan yang kedua di peti, seperti tiga pagi sebelumnya.
Aku duduk.
Dan aku mendengar sesuatu bergerak di dalam tenda.
Bersambung ke Bab 36 — “Cangkir Kedua”