← Chapters Ch. 1 / 37

Chapter One

Benang yang Memendek Sambil Dilihat

POV: Kuromiya Yuina · Musim semi, hari pertama tahun ajaran


Ada tiga aturan yang diajarkan padaku sebelum aku bisa membaca.

Pertama: jangan pernah menatap langsung ke atas kepala orang.

Kedua: jangan pernah memberitahu apa yang kamu lihat di sana.

Ketiga: jangan berteman.

Aturan ketiga tidak pernah dijelaskan alasannya. Itu tidak perlu. Semua orang di klan Kuromiya belajar sendiri, biasanya sekitar umur tujuh, waktu mereka menghitung sisa hari kakek mereka dan mendapati angkanya cukup untuk dua musim dingin lagi, lalu menghabiskan dua musim dingin itu tidak bisa memandang wajah beliau tanpa melihat tali yang menggantung di atas kepalanya, memendek sedikit demi sedikit, sabar sekali, seperti lilin yang tidak pernah buru-buru.

Aku tujuh setengah waktu itu. Aku belajar lebih lambat dari kebanyakan.


Aula Pembukaan Akademi Hoshimori berbau kayu tua, lilin, dan tiga ratus orang yang gugup.

Aku berdiri di barisan paling belakang, seperti biasa. Bukan karena disuruh. Barisan itu selalu terbentuk sendiri: aku berjalan, orang-orang bergeser, dan tanpa ada yang bicara, ruang di sekitarku melebar tiga langkah ke segala arah. Sudah tiga tahun begini. Aku sudah berhenti menganggapnya penghinaan. Sekarang aku menganggapnya tata letak.

Di atas kepala mereka semua, benang-benang itu menggantung.

Aku tidak bisa mematikannya. Orang-orang selalu bertanya begitu, dulu, waktu masih ada yang bertanya-tanya padaku: tidak bisa dipejamkan? Tidak. Sama seperti kamu tidak bisa melihat wajah orang dan memilih untuk tidak tahu itu wajah. Benang itu ada di sana seperti warna rambut ada di sana. Panjang, pendek, tebal, berjumbai.

Perempuan di depanku, rambut dikepang dua: panjang. Empat puluh tahunan lebih, mungkin lima puluh. Ia akan sempat punya cucu.

Laki-laki di sebelahnya, yang tertawa terlalu keras karena gugup: panjang juga, tapi ada simpul aneh di tengahnya. Simpul artinya sesuatu yang hampir. Kecelakaan, sakit, entah apa. Ia akan melewatinya. Simpul bukan putus.

Anak laki-laki tahun pertama di deretan ketiga, yang tangannya masih memegangi ujung baju ibunya di gerbang tadi: panjang sekali. Ia akan menua sampai tidak ingat apa-apa lagi tentang hari ini.

Aku menghitung tanpa niat menghitung. Itu bukan kemampuan; itu kebiasaan yang tidak bisa dilepas, seperti orang yang selalu membaca semua tulisan yang lewat di depan matanya, bahkan tulisan yang tidak ingin ia baca.

Kepala Akademi bicara di podium tentang tanggung jawab dan kehormatan dan menara-menara. Aku tidak mendengarkan. Aku sedang memikirkan bahwa aku lapar dan bahwa tahun ini praktikum dilakukan berpasangan.

Berpasangan.

Tahun lalu aku dapat pasangan bernama Iori. Ia bertahan sembilan hari sebelum mengajukan pindah kelompok dengan alasan “ketidakcocokan jadwal”. Tahun sebelumnya, seorang anak bernama Marika bertahan dua minggu. Aku ingat keduanya. Aku juga ingat berapa lama lagi keduanya akan hidup, karena aku tidak punya pilihan untuk tidak ingat.

Itu sebabnya aturan ketiga masuk akal.

Kalau kamu tahu tanggal seseorang, kamu tidak sedang berteman. Kamu sedang menunggu.


Namaku dipanggil di sesi pembagian. Suara-suara mengecil sedikit, seperti selalu, waktu marga Kuromiya diucapkan keras-keras di ruangan penuh orang.

“Kuromiya Yuina — Menara Utara. Praktikum penyembuhan lapangan.”

Aku berkedip.

Menara Utara.

Klan-ku pemanggil arwah. Kami ditempatkan di Menara Selatan, di antara arsip dan teori, di ruangan-ruangan yang jendelanya menghadap ke tembok. Itu tata letak yang benar. Kami dipelajari, bukan dipakai.

Menara Utara itu klinik.

Aku mengangkat tangan. “Permisi. Saya rasa ada kesalahan penulisan.”

Petugas pembagian, laki-laki setengah baya dengan benang yang cukup panjang untuk pensiun dengan tenang, melihat daftarnya. Lalu melihatku. Lalu melihat daftarnya lagi, lebih lama dari yang dibutuhkan.

“Tidak ada kesalahan,” katanya. “Permintaan khusus dari pengajar penanggung jawab.”

“Pengajar mana?”

“Bukan pengajar, sebetulnya.” Ia menggaruk alisnya. “Penanggung jawab klinik. Amane.”

Nama itu tidak berarti apa-apa untukku waktu itu.

Aku ingin sekali bisa bilang bahwa aku merasakan sesuatu — firasat, dingin di tengkuk, salah satu dari hal-hal yang katanya dirasakan orang di ambang sesuatu yang besar. Tidak ada. Aku cuma kesal karena Menara Utara letaknya paling jauh dari asrama dan aku harus jalan naik dalam cuaca yang masih dingin.

Itu hal terakhir yang kupikirkan sebelum hidupku berubah, dan isinya adalah keluhan tentang tangga.


Menara Utara memang paling kecil.

Empat lantai, batu abu-abu, dan tidak ada satu pun ukiran di dindingnya — Menara Barat punya patung, Menara Timur punya kaca warna, Menara Selatan punya prasasti nama-nama. Menara Utara punya pintu kayu dan keset.

Kesetnya bertuliskan CUCI TANGAN DULU.

Aku berdiri memandanginya lebih lama dari yang wajar.

Lalu aku mendorong pintunya.

Ruangan di baliknya lebih hangat dari yang kuduga. Tiga ranjang, satu meja panjang, rak-rak berisi botol yang disusun rapi menurut sesuatu yang bukan abjad dan bukan warna. Perapian kecil. Bau alkohol dan bau daun kering dan, samar sekali, bau manis yang tidak bisa kutebak.

Dan seorang laki-laki membelakangiku, menggulung perban, bersenandung.

“Sebentar,” katanya tanpa menoleh. “Kalau berdarah, ranjang paling kanan. Kalau patah, jangan digerakkan, duduk saja. Kalau cuma mau minta izin bolos, pintunya di belakangmu dan aku tidak lihat apa-apa.”

“Saya Kuromiya.”

Ia berhenti menggulung.

Nah. Ini bagian yang kuhafal. Sekarang ia akan berbalik, dan wajahnya akan melakukan salah satu dari tiga hal: kaku, atau tersenyum terlalu lebar, atau — yang paling jujur, dan sebetulnya yang paling kusukai — memundurkan bahunya setengah langkah tanpa sadar.

Ia berbalik.

Dan sebelum aku sempat melihat wajahnya, aku melihat benangnya.


Aku ingin menjelaskan ini dengan benar, karena kalau tidak, tidak ada yang akan mengerti kenapa aku berdiri diam di pintu selama enam detik penuh seperti orang bodoh.

Benang punya panjang. Itu saja. Panjang berarti waktu, dan otakku sudah menerjemahkannya otomatis sejak umur tujuh, seperti orang yang melihat bayangan pohon dan langsung tahu ini sekitar jam empat. Aku tidak perlu berpikir. Aku cuma tahu.

Benangnya pendek.

Bukan pendek seperti orang sakit. Orang sakit punya benang yang menipis dulu, transparan di ujungnya, seperti kain yang aus. Benangnya tidak menipis. Tebal, kuat, sehat — dan pendek. Seperti tali yang bagus, yang dipotong.

Lima tahun. Mungkin sedikit lebih.

Ia terlihat dua puluh empat.

Dan itu bukan bagian yang membuatku berhenti bernapas.

Bagian yang membuatku berhenti bernapas adalah ini: benang itu memendek sambil kulihat.

Bukan kiasan. Bukan perasaan. Aku berdiri di sana, di ambang pintu Menara Utara, dan aku melihat ujung benang itu bergerak. Pelan. Konstan. Cara benang orang normal berkurang butuh berbulan-bulan untuk terlihat oleh mata, dan biasanya aku baru sadar kalau membandingkan ingatan. Yang ini bergerak seperti sumbu lilin yang menyala di ruangan berangin.

Aku sudah melihat ribuan benang. Aku belum pernah, sekali pun, melihat yang bergerak.

“Kuromiya,” katanya, mengulang, dengan nada orang yang sedang mencocokkan sesuatu di kepalanya. “Yuina, ya? Praktikum lapangan.”

Aku tidak menjawab.

“Kamu tidak apa-apa?”

Aku memaksa mataku turun. Ke wajahnya, akhirnya.

Wajah biasa. Rambut hitam, agak berantakan, diikat asal di belakang. Lingkaran hitam di bawah mata yang tampaknya permanen, bukan hasil satu malam begadang. Ia memakai celemek. Lengannya digulung sampai siku dan tangannya basah, seperti baru dicuci.

Dan ia menatapku lurus-lurus, tanpa mundur setengah langkah, tanpa senyum yang terlalu lebar.

“Maaf,” kataku. Suaraku keluar salah. “Saya— tadi ada tulisan di keset.”

Ia mengangkat alis. Lalu, tanpa peringatan, tertawa. Satu kali, pendek, kaget sendiri.

“Iya. Itu penting.” Ia menggeser baskom ke arahku dengan siku. “Serius, cuci dulu. Kamu tidak tahu sudah pegang apa saja hari ini, dan aku baru saja mensterilkan setengah ruangan ini.”


Aku mencuci tangan.

Aku melepas sarung tangan, mencuci tangan, dan memakainya lagi, dan sepanjang tiga puluh detik itu aku sadar ia tidak melihat ke arah tanganku. Bukan sopan-sopan menghindar. Ia benar-benar tidak tertarik. Ia sedang sibuk memindahkan botol.

“Namaku Amane Haruto,” katanya sambil membelakangiku lagi. “Aku yang mengurus tempat ini. Bukan pengajar, jadi jangan panggil aku sensei, aku merinding. Tugas praktikummu tiga bulan ke depan: bantu aku di sini dua sore seminggu, dan ikut waktu ada panggilan lapangan. Ada pertanyaan?”

“Kenapa saya.”

Ia berhenti lagi. Kali ini agak lama.

“Maksudmu?”

“Saya Kuromiya.” Aku mendengar suaraku sendiri, datar, terlalu keras di ruangan sekecil itu. “Klan saya pemanggil arwah. Kami tidak ditempatkan di klinik. Ada tujuh belas murid jurusan ramuan yang lebih berguna untuk Anda, dan tidak satu pun dari mereka membuat pasien takut.”

Untuk pertama kalinya sejak aku masuk, ia benar-benar berhenti mengerjakan sesuatu dan memandangku penuh.

“Kamu selalu menjual dirimu serugi itu, atau ini khusus untukku?”

Aku mengetuk meja. Tiga kali. Kebiasaan buruk.

“Aku minta kamu,” katanya, “karena aku baca berkas semua murid tingkat tiga bulan lalu, dan cuma ada satu orang yang nilai teori kematiannya sempurna tiga tahun berturut-turut, dan orang itu tidak pernah sekali pun didaftarkan ke lapangan. Itu sia-sia. Aku benci hal yang sia-sia.”

“Teori kematian tidak berguna untuk menyembuhkan orang.”

“Salah besar.” Ia menunjuk ranjang paling kanan dengan dagunya. “Di lapangan, yang paling mahal itu waktu. Kalau ada dua belas orang terluka dan aku cuma bisa memegang satu per satu, hal paling berharga di ruangan itu adalah seseorang yang bisa melihat siapa yang paling dekat dengan akhir.”

Dingin naik dari punggungku ke tengkuk, pelan sekali.

“Anda tahu.”

“Aku tahu klanmu bisa apa. Semua orang tahu, mereka cuma memilih ngeri, bukan memakainya.” Ia mengangkat bahu. “Aku tidak butuh kamu bicara. Kamu tidak perlu melanggar aturan apa pun. Kamu cukup menunjuk. Tunjuk siapa duluan, aku yang kerja.”

Aku berdiri di sana dengan tangan bersarung tangan dan mulut yang tidak menemukan apa pun untuk dikatakan.

Selama sebelas tahun, kemampuanku adalah alasan orang menjauh. Sekarang ada laki-laki dengan celemek dan lingkaran hitam di bawah mata menyebutnya hal paling berharga di ruangan dengan nada orang menyebut tang atau perban.

“Kenapa Anda tidak takut,” kataku akhirnya. Bukan pertanyaan. Aku tidak menaikkan nadanya.

Ia menyeka tangannya ke celemek dan berpikir sungguh-sungguh, seolah itu pertanyaan teknis.

“Karena melihat bukan menyebabkan,” katanya. “Orang yang lihat hujan datang bukan orang yang menurunkan hujan.”


Ada yang perlu kuluruskan, untuk diriku sendiri, karena aku sudah bertahun-tahun berbohong soal urutannya.

Bukan kalimat itu yang membuatku tinggal.

Yang membuatku tinggal adalah tiga puluh menit berikutnya, waktu ia menyerahkan daftar inventaris dan memintaku menghitung ulang botol-botol di rak dua, dan aku menemukan bahwa botol-botol itu tidak disusun menurut abjad atau warna atau tanggal kedaluwarsa. Aku menghabiskan sepuluh menit sebelum menyadari sistemnya.

Disusun menurut seberapa cepat dibutuhkan.

Yang untuk pendarahan hebat di ujung kiri, setinggi tangan, tanpa penghalang apa pun di depannya. Yang untuk demam di rak atas, jauh, susah dijangkau. Seluruh ruangan itu disusun oleh orang yang pernah kehilangan seseorang karena tiga detik.

Aku memandangi rak itu lebih lama dari yang wajar, untuk kedua kalinya hari itu.

Lalu aku mengangkat mataku, sedikit, ke atas kepalanya.

Benang itu masih bergerak. Pelan. Konstan. Tidak berhenti sedetik pun sejak aku masuk ke ruangan ini.

Dan saat itu aku memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak kupikirkan.

Aku memikirkan: dia sedang membayar sesuatu.

Aku tidak tahu apa. Belum. Butuh berbulan-bulan sebelum aku tahu, dan waktu aku akhirnya tahu, aku akan berharap tidak pernah tahu sama sekali. Tapi malam pertama itu, berdiri di antara rak botol yang disusun menurut kecepatan mati, aku tahu satu hal saja dengan pasti:

Sesuatu di dunia ini sedang memungut umur laki-laki ini, sedikit-sedikit, setiap detik, dan laki-laki ini tahu, dan laki-laki ini bersenandung.


Ia mengantarku ke pintu waktu lonceng malam berbunyi.

“Dua sore seminggu,” katanya. “Selasa, Jumat. Kalau ada panggilan lapangan aku kirim burung.” Ia menguap. “Dan kalau kamu berubah pikiran dan mau pindah kelompok, kirim saja surat, tidak usah datang langsung. Tidak perlu canggung.”

Aku berhenti di ambang pintu.

Itu kalimat orang yang sudah pernah ditinggal, dan menyiapkan pintu keluar untuk orang berikutnya sebelum orang itu memintanya.

“Kenapa Anda anggap saya akan pindah?”

Ia tersenyum. Bukan senyum yang lebar, dan bukan yang dipaksakan.

“Semua orang pindah, Kuromiya-san. Aku sudah dua tahun di sini. Aku sudah punya lima asisten.”

Angin masuk dari tangga. Perapian bergoyang. Bayangan di dinding bergerak, dan di atas kepalanya benang itu ikut bergoyang seperti benda yang punya berat, dan memendek satu ruas lagi, sabar sekali, di depan mataku.

Lima tahun. Kurang, sekarang, dibanding waktu aku masuk tadi.

Aku sudah menghabiskan sebelas tahun belajar tidak bertanya nama orang yang benangnya pendek. Ada alasannya. Nama itu yang membuat semuanya susah. Selama mereka masih “perempuan berkepang” atau “anak di deretan ketiga”, angka di atas kepala mereka cuma angka.

Nama membuat angka jadi hitungan mundur.

“Amane,” kataku.

“Hm?”

“Nama depan Anda tadi. Saya tidak dengar dengan jelas.”

Ia menyandarkan bahunya ke kusen, dan bilang, tanpa curiga sedikit pun, seperti orang menyerahkan sesuatu yang tidak berharga:

“Haruto.”

Aku mengulanginya dalam hati satu kali.

Lalu aku pulang menuruni tangga Menara Utara dalam gelap, dengan tangan bersarung tangan dimasukkan ke saku, dan untuk pertama kalinya sejak umur tujuh setengah tahun, aku melanggar aturan pertama:

Aku menoleh ke belakang, dan aku menatap langsung ke atas kepala seseorang, dan aku ingin melihat.


Bersambung ke Bab 2 — “Menara Utara”