← Chapters Ch. 14 / 37

Chapter Fourteen

Kaki Kesemutan

POV: Amane Haruto · Musim gugur, minggu keenam


Hujan musim gugur berbeda dari hujan musim semi. Musim semi turun dari langit; musim gugur naik dari batu. Seluruh Menara Utara berbau lumut selama tiga minggu penuh dan tidak ada yang bisa dilakukan tentang itu.

Selasa itu klinik tutup lebih awal karena tidak ada yang datang.

Aku tidak lagi merasa aneh soal itu. Aku sudah menerima teori tabib misterius Hoshizaki dan menyusun ulang seluruh pandangan duniaku di sekitarnya, dan hidupku jadi jauh lebih tenang sejak itu, yang seharusnya menjadi tanda bahwa ada yang salah.

Jam tujuh malam, tinggal kami berdua dan perapian.


Kuromiya sedang menyalin catatan pasien ke buku besar.

Itu pekerjaan yang kubenci dan ia sukai. Dua ratus lebih entri per bulan, ditulis ulang dengan rapi supaya bisa dibaca orang selain aku. Ia mengerjakannya sambil duduk di lantai, punggung bersandar ke kaki meja, buku di pangkuan, karena katanya kursi klinik “dibuat untuk orang sakit, bukan untuk orang menulis”.

Aku duduk di lantai juga, dua langkah darinya, menyortir daun kering untuk ramuan demam.

Jam tujuh lewat dua puluh, ia berkata:

“Yang ini warnanya apa?”

Ia mengangkat sebotol kecil.

“Merah.”

“Bukan cokelat?”

“Merah. Itu sari akar.” Aku meliriknya. “Cokelat yang di sebelahnya.”

“Mm.” Ia menaruh keduanya berdampingan, agak lama. “Cahayanya jelek di sini.”

“Cahayanya memang jelek. Menara ini punya empat lilin dan satu perapian.”

“Iya,” katanya. “Cahayanya.”

Ia melanjutkan menulis.

Aku kembali menyortir daun, dan aku ingat berpikir: dia capek.

Aku ingat berpikir itu dengan sangat jelas, dan merasa cukup perhatian karena telah memikirkannya.


Jam delapan, ia berhenti menulis di tengah kalimat.

Aku menyadarinya karena suara pena berhenti dan tidak dimulai lagi.

Aku menoleh.

Ia tertidur.

Duduk, punggung ke kaki meja, buku besar masih terbuka di pangkuan, pena masih di tangan. Kepalanya miring ke satu sisi dengan cara yang jelas akan menyakitkan besok pagi.

Aku menghitung: ia datang jam tiga. Sebelum itu tugas arsip. Sebelum itu kelas. Dan aku sudah dua minggu memperhatikan bahwa ia sampai di klinik dengan sepatu yang basah di bagian bawah, padahal jalur dari Menara Selatan ke Menara Utara semuanya berbatu.

Aku memindahkan pena dari tangannya. Ia tidak bangun.

Aku menutup buku besarnya dan meletakkannya di meja. Ia tidak bangun.

Aku mengambil jubahku dari kait, dan waktu aku kembali dan hendak menyampirkannya, kepalanya jatuh.

Ke bahuku.


Aku mematung dengan jubah setengah terangkat di tangan.

Ada beberapa pilihan di detik itu dan aku menimbangnya semua dalam waktu sekitar dua detik.

Satu: bangunkan dia. Dia akan bangun, salah tingkah, minta maaf, mengumpulkan barangnya dan pulang dalam hujan pada jam delapan malam dengan jubah asrama Selatan yang tembus air.

Dua: geser pelan-pelan, sandarkan kepalanya ke kaki meja. Praktis. Dan akan membuatnya bangun setengah jalan, yang menghasilkan hasil yang sama dengan pilihan satu, tapi dengan tambahan rasa malu.

Tiga: diam.

Aku memilih tiga.

Aku memilih tiga karena itu pilihan yang paling masuk akal secara medis. Orang yang tidur bersandar di kaki meja akan bangun dengan leher kaku; orang yang tidur bersandar di bahu tidak. Itu murni pertimbangan postur.

Aku betul-betul mengatakan kalimat itu kepada diriku sendiri, di dalam kepala, di lantai klinik, jam delapan malam.

Aku menyampirkan jubah itu ke bahunya, pelan sekali, dengan tangan yang untungnya sudah punya alasan permanen untuk tidak stabil.

Lalu aku duduk diam.


Aku duduk diam selama dua jam.

Sepuluh menit pertama aku menyortir daun dengan satu tangan. Lalu daunnya habis, dan aku tidak bisa mengambil yang lain karena keranjangnya di seberang ruangan.

Jadi aku duduk saja.

Aku belum pernah duduk diam selama dua jam sejak aku tiba di dunia ini. Aku menghitung kemudian, dan aku yakin itu benar. Dua tahun, dan tidak sekali pun.

Yang kupikirkan selama dua jam itu, dalam urutan:

Bahwa napasnya berat sekali, dan orang yang bernapas seberat itu dalam tidur biasanya sudah kurang tidur berhari-hari.

Bahwa aku belum pernah melihat wajahnya tanpa penjagaan apa pun. Waktu bangun ia selalu memasang sesuatu — bukan kepura-puraan; lebih seperti orang yang berdiri tegak karena tahu ada yang mengukur.

Bahwa kakiku mulai kesemutan di menit ke empat puluh.

Bahwa kakiku, di menit ke sembilan puluh, sudah bukan kakiku lagi.

Bahwa hujan berhenti sekitar jam sembilan, dan aku sempat berpikir nah, sekarang aman untuk membangunkannya, dan tidak membangunkannya.

Dan — sekitar menit ke seratus, waktu api tinggal bara dan ruangan mulai betul-betul dingin — bahwa aku sedang bahagia.

Aku mengenali perasaan itu dengan susah payah, seperti orang menemukan barang yang sudah lama hilang dan butuh waktu untuk mengingat namanya.

Aku duduk di lantai batu yang dingin dengan kaki yang tidak terasa, dengan seseorang tertidur di bahuku, di menara paling kecil di akademi ini, dan aku bahagia, dan aku sadar aku tidak tahu kapan terakhir kali.

Itu pikiran yang bagus selama sekitar tiga detik.

Lalu datang pikiran berikutnya, yang tidak bagus sama sekali:

Berapa lama lagi ini boleh.

Aku memaksa diriku berhenti di situ. Aku sudah punya kebiasaan berhenti di ambang perhitungan itu.

Tapi malam itu ambangnya tipis sekali, dan aku duduk di sana dalam gelap dengan bara yang meredup, dan untuk pertama kalinya aku memikirkan bukan aku akan mati, melainkan sesuatu yang jauh lebih buruk dan jauh lebih baru:

Akan ada orang yang keberatan.

Aku sudah dua tahun mengelola satu perhitungan dengan tenang justru karena tidak ada yang keberatan.


Jam sepuluh lewat, pintu klinik terbuka.

Nikaidō Sōta masuk dengan tangan terbalut kain dan mulut sudah terbuka untuk mengucapkan sesuatu yang panjang.

Ia melihat kami di lantai.

Mulutnya tetap terbuka.

Aku mengangkat satu jari ke bibirku.

Sōta menutup mulutnya. Mengangguk sekali, sangat serius, seperti prajurit menerima perintah. Mundur satu langkah. Menutup pintu.

Aku mendengarnya turun tiga anak tangga.

Lalu aku mendengarnya berhenti.

Lalu aku mendengar suara yang tidak akan pernah bisa dijelaskan dengan kata-kata dalam bahasa mana pun — semacam pekikan tertahan yang ditekan lewat kedua tangan, yang bergema di tangga Menara Utara yang membawa suara seperti pipa air, dari lantai bawah, selama kira-kira empat detik.

Lalu langkah kaki berlari menuruni seratus dua puluh anak tangga.

Di bahuku, Kuromiya bergerak sedikit dan tidak bangun.


Ia bangun jam sebelas kurang seperempat.

Tidak ada proses. Ia cuma membuka mata, sadar penuh, seperti orang yang terlatih bangun cepat.

Ia tidak bergerak selama tiga detik.

Aku bisa merasakan momen persisnya ia menyadari di mana kepalanya.

“Kakiku mati,” kataku.

Itu bukan kalimat yang kurencanakan. Itu kalimat yang keluar.

Ia duduk tegak. Jubahku merosot dari bahunya ke pangkuannya.

“Berapa lama?”

“Dua jam.”

“Dua—” Ia menoleh ke jendela. Gelap total. “Kenapa Anda tidak membangunkan saya.”

“Karena kamu tidur seperti orang yang tidak tidur tiga hari.”

“Saya tidur cukup.”

“Kuromiya.”

“Saya tidur cukup,” ulangnya.

Aku mencoba menggerakkan kaki kananku dan gagal total, dan mengeluarkan suara yang tidak pantas untuk orang berumur dua puluh empat.

Dan ia — tertawa.

Ini yang ketiga kalinya sejak aku mengenalnya, dan aku menghitungnya, dan ini yang pertama karena sesuatu yang kulakukan.

Pendek sekali. Satu tarikan. Lalu ia menutupnya dengan tangan seperti orang menutupi bersin.

“Jangan tertawa. Ini cedera serius.”

“Itu bukan cedera.”

“Ini iskemia posisional.”

“Itu kesemutan.”

“Itu istilah medisnya.”

“Anda mengarang istilah medis,” katanya, dan berdiri, dan mengulurkan tangan.

Aku memandangi tangan bersarung tangan itu.

Lalu aku menerimanya, dan ia menarikku berdiri, dan aku hampir jatuh karena kaki kananku betul-betul tidak ada, dan ia menahan sikuku dengan tangan yang satunya sampai aku bisa berdiri sendiri.

Sepuluh detik, mungkin.

Kami berdua tidak berkata apa-apa selama sepuluh detik itu.

Lalu ia melepaskan, dan mengambil buku besarnya dari meja, dan berkata dengan nada yang benar-benar biasa:

“Sisa dua puluh entri. Saya selesaikan Kamis.”

Ia menggantung jubahku kembali ke kait. Memakai jubahnya sendiri. Berjalan ke pintu.

Dan di ambang pintu ia berhenti, seperti selalu, dan aku menunggu kalimat yang selalu datang di situ.

“Terima kasih untuk bahunya,” katanya.

Lalu ia turun tangga, dan berhenti di anak tangga ketujuh, dan lanjut ke bawah.

Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada sekali pun.

Aku berdiri di klinik dengan satu kaki yang belum kembali dan menyadari bahwa itu — dari segala hal yang terjadi malam itu — adalah bagian yang paling kusukai.


Papan di kantin diperbarui hari Senin.

Kolom BUKTI PENDUKUNG mendapat baris yang berbunyi: Minggu 6: kesaksian langsung, saksi 1 orang (N.S.), kondisi emosional saksi diragukan tapi detail konsisten.

Rasio “sebelum Festival” naik lagi.

Nikaidō Sōta menolak menatap mataku selama sembilan hari.


Bersambung ke Bab 15 — “Enam Nama”