Chapter Twenty Eight
Persiapan
POV: Amane Haruto · Musim dingin, hari terakhir sebelum keberangkatan
Dua belas hari terakhir di Akademi Hoshimori adalah dua belas hari paling sibuk yang pernah kulewati di dunia ini, dan sebagian besar isinya adalah orang berpamitan tanpa mengucapkan kata pamit.
Aku tidak menyadari itu waktu sedang berlangsung.
Yang kulihat waktu itu cuma daftar.
HOSHIZAKI AYAKA melatih kelompoknya empat jam setiap pagi dan tiga jam setiap sore selama dua belas hari.
Bukan latihan tanding. Latihan mundur.
Aku menonton dari jendela klinik di hari keempat dan butuh waktu lama sebelum aku mengerti apa yang sedang mereka kerjakan berulang-ulang: mengangkat orang. Dari posisi telungkup, dari posisi terjepit, dari bawah batu, satu orang, dua orang, tiga orang. Lari empat puluh langkah membawa beban. Meletakkan tanpa mengguncang leher.
Empat jam sehari, dua belas hari.
Aku turun ke halaman di hari keenam.
“Ini bukan kurikulum Menara Barat.”
“Bukan,” katanya, tanpa berhenti menghitung.
“Ini kurikulum evakuasi medis.”
“Iya.”
“Dari mana kamu dapat?”
“Dari catatan operasi lapangan tahun 1009.” Ia meniup peluitnya. “ULANG! Kelompok tiga, lehernya terlalu miring!”
“Hoshizaki-san.”
“Ya?”
“Kenapa?”
Ia menoleh, dan untuk pertama kalinya sejak malam festival ia menatapku langsung, cukup lama.
“Karena semakin cepat kami membawa mereka ke tenda,” katanya, “semakin sedikit yang harus Anda kerjakan waktu mereka sampai.”
Lalu ia kembali meniup peluitnya, dan aku berdiri di halaman itu selama beberapa saat, dan aku ingat berpikir bahwa itu jawaban yang sangat efisien.
Aku baru mengerti bentuk sebenarnya dari kalimat itu tiga minggu kemudian, di lembah utara, waktu ia berdiri di lingkaran selama tujuh puluh dua jam.
MOCHIZUKI KOHARU meledakkan sesuatu tiga kali dalam dua belas hari, yang sebetulnya di bawah rata-ratanya.
Ia datang ke klinik hari kedelapan dengan lengan yang tidak terluka dan wajah yang penuh perhitungan.
“Amane-san. Berapa lama perjalanan ke lembah utara?”
“Empat hari.”
“Dan berapa lama operasinya?”
“Belum tahu. Dua minggu. Mungkin lebih.”
“Berarti saya butuh yang bertahan minimal delapan belas hari tanpa perawatan.” Ia menulis. “Suhu di sana berapa?”
“Mochizuki, kamu tidak masuk daftar personel.”
“Saya tahu.”
“Kamu tingkat satu.”
“Saya tahu itu juga,” katanya, masih menulis. “Suhu berapa?”
Aku menyerah dan memberitahunya suhunya.
Ia menghabiskan empat hari berikutnya di lab dengan pintu terbuka — pintunya selalu terbuka sekarang, sejak insiden ketiga, atas perintah kepala menara — mengerjakan sesuatu yang menyala hijau dan tidak meledak.
Hari kesebelas ia datang lagi.
“Sudah?” tanyaku.
“Enam jam empat puluh menit,” katanya. “Nyala terus-menerus. Tanpa bahan bakar tambahan.”
“Dari empat menit dua puluh detik?”
“Dari empat menit dua puluh detik.” Ia duduk di ranjang dan mengayunkan kakinya. “Kepala menara bilang tidak ada gunanya. Api yang berguna itu api yang bisa dimatikan, katanya.”
“Dia sudah bilang itu di musim semi.”
“Dia bilang itu setiap kali.”
Aku menuangkan teh untuknya, yang jarang kulakukan karena ia baru tujuh belas dan tehnya terlalu manis bahkan untuk anak seusianya.
“Untuk apa, Mochizuki?”
Dan ia berkata hal yang sama persis dengan yang ia katakan sembilan bulan lalu di ranjang yang sama, dengan alis yang waktu itu tidak ada:
“Belum tahu. Saya rasa suatu hari akan ada orang yang butuh api yang tidak bisa padam.”
ŌBA GENTA mengajukan izin pulang di hari ketujuh.
Ia mengajukannya lewat prosedur resmi, dengan surat, ditulis dengan tulisan tangan paling rapi yang pernah kulihat dari orang yang tangannya sebesar itu.
Alasan yang tertulis: keperluan keluarga.
Aku tahu alasan sebenarnya dalam waktu sekitar empat detik, dan aku tidak mengatakan apa-apa kepada siapa pun, karena itu bukan urusanku.
Ibunya tinggal enam jam berkuda ke arah selatan. Ia belum pulang dua tahun.
Kalau kamu berangkat ke tempat yang mungkin tidak kamu tinggalkan, kamu ingin melihat ibumu dulu.
Ia membatalkannya di hari kesembilan.
“Kenapa?” tanyaku, waktu ia datang mengembalikan surat itu ke arsip.
Genta berdiri di klinik dengan surat terlipat di tangan yang bisa menggenggam kepalaku.
“Kalau saya pulang,” katanya, “saya harus bilang saya mau ke mana.”
“Iya.”
“Dan kalau saya bilang saya mau ke mana, Ibu akan menangis.”
“Iya.”
“Dan kalau Ibu menangis,” katanya, sangat pelan, “saya tidak akan berangkat, Amane-san. Saya kenal diri saya sendiri.”
Ia melipat surat itu dan memasukkannya ke saku.
“Jadi lebih baik saya tidak pulang, dan pulang nanti saja setelah selesai, dan menangis di sana.”
NIKAIDŌ SŌTA menulis surat wasiat.
Ia menyerahkannya di klinik, hari kesepuluh, jam sembilan malam, dengan kedua tangan dan bungkukan sembilan puluh derajat.
“Amane-san. Kalau saya tidak kembali.”
“Nikaidō—”
“Saya sudah memikirkan ini masak-masak.” Ia tidak mengangkat kepalanya. “Tolong dibaca setelah saya tidak ada, bukan sekarang.”
Aku membacanya sekarang, tentu saja. Aku membacanya setelah ia turun tangga.
Isinya, kata per kata:
SURAT WASIAT NIKAIDŌ SŌTA, MENARA BARAT, TINGKAT DUA.
1. Sepatu latihan saya untuk Ōba. Kebesaran untuk dia. Suruh dia pakai untuk berkebun.
2. Uang di kotak bawah ranjang saya (empat keping perak, tiga tembaga) untuk Mochizuki. Untuk beli bahan. Jangan untuk yang meledak.
3. Jubah Menara Barat saya jangan dikembalikan ke gudang. Saya sudah menjahit namanya di dalam kerah. Biarkan saja di gantungan.
4. Peringkat saya tiga puluh satu dari tiga puluh dua. Tolong jangan diperbaiki di catatan. Itu peringkat saya dan saya sudah berdamai dengannya.
5. Amane-san, kalau ternyata saya yang kembali dan Anda tidak, saya minta izin untuk menulis riwayat hidup Anda. Saya akan melebih-lebihkannya. Anda tidak berhak protes karena Anda sudah tidak ada.
6. Saya masih rival abadi Anda. Kematian tidak membatalkan itu.
Aku duduk di klinik dengan surat itu di tangan selama waktu yang cukup lama.
Lalu aku melipatnya, dan menaruhnya di laci meja klinik — bukan di peti, bukan di ransel; di laci, di menara ini, di tempat yang akan tetap ada.
Ia bertahan di sana. Aku mengeceknya empat belas bulan kemudian.
Nomor lima tidak jadi berlaku, dan ia tetap menulisnya, dan ia betul-betul melebih-lebihkannya, dan buku itu laku keras.
KUROMIYA YUINA mengerjakan peti.
Dua puluh enam peti. Ia menghitung ulang semuanya empat kali, yang tiga kali lebih banyak dari yang diperlukan, dan menuliskan isinya di sisi luar dengan kapur dalam tulisan yang cukup besar untuk dibaca dari jarak sepuluh langkah.
“Kenapa besar sekali?”
“Supaya orang lain bisa menemukannya,” katanya.
“Kamu akan ada di sana.”
Ia melanjutkan menulis.
Hari terakhir, ia menghabiskan sore mengatur ulang seluruh rak di klinik.
Bukan menyusunnya menurut kecepatan — itu sudah. Ia menuliskan nama isinya di setiap botol, dengan kapur, di sisi depan. Empat puluh dua botol di rak dua. Tiga puluh satu di rak tiga.
“Kuromiya.”
“Ya.”
“Rak ini sudah kita hafal berdua.”
“Kita bukan satu-satunya yang mungkin memakainya,” katanya.
Aku menerimanya.
Aku menerimanya karena masuk akal, karena akan ada penyembuh pengganti dari Menara Barat selama kami pergi, karena orang yang tidak hafal rak akan butuh label.
Aku menerima segalanya di dua belas hari itu.
Aku sedang sibuk. Aku punya empat puluh delapan hari. Aku punya lingkaran di telapak tangan kiri.
Kami berdua sedang merapikan ruangan untuk ditinggalkan, sepuluh langkah dari satu sama lain, sepanjang dua belas hari, dan tidak satu pun dari kami menoleh.
Malam terakhir, jam sebelas, Profesor Ganryū naik ke Menara Utara.
Seratus dua puluh anak tangga. Berhenti empat kali. Aku mendengarnya.
“Profesor.”
“Mm.”
Ia berdiri di ambang pintu dan tidak masuk. Ia melihat ke dalam ruangan — ke peti-peti berlabel kapur, ke rak-rak yang sudah ditulisi, ke ranjang yang sudah dilipat spreinya.
“Rapi sekali,” katanya.
“Kami berangkat subuh.”
“Mm.”
Aku menunggu.
Aku sudah menunggu dua belas hari. Aku tahu ia tahu; kotak di bawah mejanya sudah berisi tiga puluh delapan lembar sekarang, dan ia laki-laki yang menghitung tujuh puluh sembilan hari selama empat puluh tahun.
Ia tidak menyinggungnya.
Ia cuma berkata: “Kamu sudah pikir panjang?”
“Sudah.”
“Berapa lama?”
“Dua belas hari,” kataku. “Setiap malam.”
Ganryū mengangguk pelan, beberapa kali, dengan cara yang sudah kukenal, yang berarti ia sedang mencocokkan sesuatu dengan daftar di kepalanya.
Lalu ia berkata:
“Hina juga bilang begitu.”
Aku tidak menjawab.
“Dia bilang dia sudah pikir panjang,” kata Ganryū, ke arah ruangan, bukan ke arahku. “Tiga minggu sebelum dia meninggal. Saya tanya berapa lama dia memikirkannya, dan dia bilang tiap malam sejak musim gugur.”
“Profesor—”
“Saya tidak akan menghentikan kamu.” Ia mengangkat tangannya, pelan. “Saya sudah berhenti mencoba. Saya cuma mau kamu tahu satu hal, dan saya akan mengatakannya sekali, dan setelah itu kamu boleh melakukan apa saja yang kamu mau.”
Ia menoleh.
“Orang yang kamu tinggalkan tidak berhenti menghitung,” katanya. “Saya sudah empat puluh tahun. Saya masih tahu berapa hari. Saya masih tahu jam berapa. Saya masih tahu apa yang saya katakan kepadanya pagi itu dan apa yang tidak sempat saya katakan.”
Ia menepuk kusen pintu dua kali, pelan, seperti orang berpamitan pada bangunan.
“Ritus itu memindahkan kematian, Amane-kun. Ritus itu tidak memindahkan sisanya.”
Ia menuruni tangga.
Aku berdiri di ambang pintu Menara Utara dan mendengarkan langkahnya berhenti empat kali di jalan turun, dan aku memasukkan tangan kiriku ke saku, dan tinta di telapaknya masih di sana, dan akan bertahan sekitar dua bulan lagi.
Subuh keesokan harinya, halaman bawah.
Dua puluh enam peti. Tiga kereta. Enam puluh empat orang.
Genta memanggul dua ransel, satunya milik orang lain. Sōta memeriksa tali sepatunya untuk keempat kalinya. Koharu — yang tidak masuk daftar personel, dan yang namanya entah bagaimana muncul di daftar personel — membawa tabung yang seharusnya tidak dibawa.
Hoshizaki berdiri di depan kelompoknya, rambut merah gelap terikat tinggi dalam gelap.
Dan Kuromiya berdiri di sisi kananku, di dekat kereta paling belakang, dengan kotak medis kedua di tangannya.
Persis seperti musim semi.
“Kamu tahu isinya?” tanyaku.
“Delapan puluh dua item,” katanya. “Rak satu sampai rak empat. Urutan kecepatan.”
“Kalau ada yang berdarah hebat?”
“Kiri, setinggi tangan, tanpa penghalang.”
“Bagus.”
Langit mulai abu-abu di ujung timur. Udara sangat dingin dan berbau salju.
“Amane-san.”
“Hm.”
“Empat hari perjalanan,” katanya. “Kalau di sana nanti saya minta Anda melakukan sesuatu, Anda akan melakukannya? Tanpa bertanya?”
Aku menoleh padanya.
Kalimat itu.
Kalimat yang sama, di halaman yang sama, di depan kereta yang sama, sembilan bulan yang lalu — cuma waktu itu urutannya terbalik, dan waktu itu aku yang menjawab iya, dan waktu itu aku pikir aku sedang menjanjikan sesuatu yang mudah.
“Tergantung apa,” kataku.
Ia mengangguk sekali, seperti orang yang menerima jawaban yang sudah ia duga, dan naik ke kereta.
Kami berangkat waktu langit masih abu-abu.
Bersambung ke Bab 29 — “Semua Orang Akhirnya Tahu”