← The Seventh Healer

Chapter Thirty

Malam Sebelum

BAGIAN IV — RETAKAN

POV: Amane Haruto · Perkemahan depan, malam hari kedelapan


Laju Retakan berubah untuk kedua kalinya di hari ketujuh.

Radius bertambah delapan puluh langkah dalam satu malam. Proyeksi tiga puluh hari dibatalkan dan diganti proyeksi sebelas hari. Desa terdekat dievakuasi jam tiga pagi.

Rapat komando diadakan sepanjang hari kedelapan.

Keputusannya: koridor dibuka besok subuh. Tidak ada penundaan. Tidak ada gelombang kedua.

Aku ada di rapat itu selama empat jam dan aku diam selama tiga jam lima puluh menit dari empat jam itu, karena bagianku sederhana dan sudah kutulis di satu halaman: di mana tenda medis berdiri, seberapa jauh dari garis, berapa lama waktu tempuh dari titik jatuh ke meja.

Yang tidak kupahami sepanjang rapat itu, dan yang seharusnya kupahami, adalah kenapa tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang menjelaskan bagaimana Retakan akan ditutup setelah koridornya terbuka.

Mereka membicarakan koridor. Mereka membicarakan jadwal. Mereka membicarakan formasi mundur.

Tidak ada yang membicarakan penutupannya.

Aku mengira itu karena rahasia militer.


Malam itu turun salju halus, dan perkemahan jadi lebih sunyi dari yang seharusnya untuk tempat berisi enam puluh empat orang.

Aku menemukannya di luar tenda persediaan, duduk di peti nomor empat belas, memandangi lembah.

Dari punggungan itu, Retakan terlihat sebagai wilayah yang lebih terang dari sekelilingnya. Tidak menyala. Cuma lebih terang, dengan cara yang salah, seperti kain yang lebih tipis di satu tempat.

Aku duduk di sebelah kanannya.

Ia tidak menoleh.

“Talinya kendur,” katanya.


Aku berdiri di belakangnya dan membuka ikatannya.

Angin di punggungan itu tidak sekencang di lereng timur tapi lebih dingin, dan rambutnya dingin, dan tanganku juga dingin sekarang, jadi tidak ada perbedaan lagi di antara keduanya.

Aku mengumpulkannya. Memutar. Menahan dengan satu tangan dan mencari ujung tali dengan tangan yang lain.

Ini yang kesembilan belas kalinya.

Aku menghitungnya sejak lereng timur. Sembilan belas kali dalam empat bulan, semuanya dengan alasan berbeda, dan tidak satu pun dari kami yang pernah menyebutkan bahwa ia bisa mengikat rambutnya sendiri dengan sempurna dan sudah melakukannya selama sembilan belas tahun.

“Terlalu longgar,” katanya.

“Kamu selalu bilang terlalu erat.”

“Sekarang terlalu longgar.”

Aku mengulanginya.

Punggung jariku menempel di tengkuknya, seperti selalu, dan seperti selalu aku merasakan ia berhenti bernapas — dan lalu, untuk pertama kalinya sejak lereng timur, terjadi sesuatu yang berbeda.

Ia tidak berhenti bernapas.

Aku menunggu.

Aku menyelesaikan simpulnya — menghadap ke dalam, supaya tidak mengait — dan mundur setengah langkah, dan berkata, “Sudah.”

Ia mengangkat tangannya sendiri dan menyentuh tengkuknya. Di tempat yang persis sama.

Ia menekan agak keras.

“Kuromiya?”

“Tidak apa-apa,” katanya.


Kami duduk di peti nomor empat belas selama mungkin satu jam.

Aku ingin menuliskan seluruh percakapan itu, dan aku tidak bisa, karena sebagian besar isinya bukan percakapan.

Yang bisa kutuliskan:

Ia bertanya berapa lama sebenarnya perjalanan dari akademi ke kota pelabuhan, dan aku bilang tiga hari kalau kereta, dan ia bertanya apakah di sana ada laut, dan aku bilang tentu saja ada laut, itu sebabnya namanya kota pelabuhan, dan ia bilang ia belum pernah melihat laut.

Aku bilang: nanti kalau ini selesai.

Ia tidak menjawab.

Ia bertanya apakah klinik di kota pelabuhan akan ramai. Aku bilang kemungkinan besar, karena pelabuhan artinya kaki tertimpa, tangan terjepit, dan orang jatuh dari ketinggian.

Ia bilang: “Berarti perlu dua rak untuk yang berdarah hebat.”

Aku bilang: “Dua rak, di kiri, setinggi tangan.”

Dan ia mengangguk, dan menuliskannya — betul-betul menuliskannya, di buku kecilnya, di punggungan lembah utara jam sepuluh malam.

Aku menonton dia menulis dan aku merasa sesuatu yang hangat dan bodoh dan sepenuhnya salah tempat, dan aku tidak menghentikannya.


Jam sebelas ia berkata, “Amane-san.”

“Hm.”

“Boleh saya minta sesuatu.”

“Boleh.”

“Anda tidak akan bertanya kenapa?”

Dan aku, yang sudah mendengar kalimat itu sekali sebelumnya di depan perapian Menara Utara, dan yang sudah menjawabnya salah sekali:

“Tidak,” kataku. “Aku tidak akan bertanya kenapa.”


Ia berdiri dari peti.

Ia berdiri di depanku, dan aku juga berdiri, dan salju halus itu turun di antara kami dengan laju yang benar karena kami masih delapan ratus langkah dari tempat di mana laju tidak lagi benar.

Ia melepas kedua sarung tangannya.

Ia menjatuhkannya ke salju — dua-duanya, seperti malam di lorong itu — dan meletakkan kedua tangannya di wajahku.

Dan aku menyadari sesuatu, dengan bagian otakku yang tidak pernah berhenti bekerja seperti perawat, dan aku membenci bagian itu dari diriku sendiri sampai sekarang:

Tangannya tidak terasa dingin lagi.

Selama sembilan bulan, setiap kali ia menyentuhku, tangannya dingin. Aku menyalahkan sarung tangannya, lalu kainnya, lalu musim dinginnya.

Malam itu tangannya tidak dingin dan tidak hangat.

Tanganku yang sudah tidak bisa merasakan bedanya.


Ia menciumku.

Bukan seperti di lorong.

Yang di lorong itu cepat dan keras dan berfungsi, seperti orang menekan luka. Yang ini lambat.

Lambat sekali, dan itu satu-satunya kata yang bisa kupakai, dan aku sudah tiga tahun mencoba menemukan yang lebih baik.

Kedua tangannya di wajahku, ibu jarinya bergerak sekali di tulang pipiku, dan ia tidak buru-buru sama sekali, dan itu — bukan ciumannya, tapi ketidakburu-buruannya — yang seharusnya memberitahuku segalanya.

Orang yang punya waktu tidak berhati-hati seperti itu.

Orang yang punya waktu ceroboh, karena akan ada lain kali.

Aku menariknya lebih dekat dan ia membiarkan dirinya ditarik, dan salju turun, dan lampu-lampu perkemahan menyala di belakang kami, dan di suatu tempat delapan ratus langkah di depan, salju jatuh ke atas.


Ia melepaskannya.

Ia tetap di sana, dahi ke dahi, kedua tangannya masih di wajahku.

“Kuromiya.”

“Jangan bicara dulu,” katanya.

Aku diam.

Napasnya masuk satu kali, dalam. Persis seperti di aula, di antara dua tiang, di malam festival — orang yang sedang menghitung sesuatu untuk terakhir kali sebelum melepaskannya.

“Terima kasih sudah menemani,” katanya.


Aku mengiyakannya.

Itu yang kulakukan. Aku ingin itu tercatat dengan jujur, karena aku sudah berjanji jujur di catatan ini dan ini bagian yang paling tidak ingin kutulis.

Aku mengiyakannya.

Aku bilang sesuatu seperti “aku juga”, atau “sama-sama” — aku tidak ingat kata persisnya, dan aku sudah mencoba mengingatnya ribuan kali — dan aku mencium keningnya, dan ia memungut sarung tangannya dari salju, dan ia berjalan kembali ke tendanya.

Aku duduk di peti nomor empat belas selama tiga jam.

Aku duduk di sana karena aku merasa senang, dan karena aku ingin memperpanjangnya, dan karena aku sudah lama tidak punya alasan untuk duduk diam di suatu tempat tanpa mengerjakan apa-apa.

Tiga jam.


Jam dua pagi, kalimat itu kembali.

Bukan karena aku memikirkannya. Aku sedang memikirkan hal lain — daftar peti, jarak tenda, urutan triase — dan kalimat itu masuk sendiri, dari samping, seperti benda yang jatuh dari rak.

Terima kasih sudah menemani.

Aku duduk di peti nomor empat belas dan mengulangnya di kepalaku.

Bukan “terima kasih untuk malam ini”. Bukan “terima kasih sudah datang”.

Sudah menemani.

Itu bentuk lampau.

Itu bentuk yang dipakai orang yang sudah selesai.


Aku sudah dua tahun di ruangan-ruangan bersama orang yang akan mati.

Aku hafal bentuknya. Aku hafal semuanya: yang tiba-tiba menghabiskan makanannya, yang tiba-tiba memakai baju bagus, yang tiba-tiba tidak keberatan pada hal-hal yang biasanya mereka keberatkan, yang tiba-tiba tertawa untuk lelucon buruk keponakannya.

Yang meminta disentuh lebih sering, dengan alasan-alasan kecil yang berbeda setiap kali.

Yang berterima kasih untuk hal-hal yang sudah lewat.

Empat baris di buku catatanku.

Empat baris yang kutulis di Menara Utara dua puluh tiga hari lalu, dengan tanda hubung, seperti daftar triase, karena aku tidak tahu cara lain menangani sesuatu yang tidak kumengerti:

1. Teh dihabiskan.
2. Jubah biru — musim dingin.
3. Minta diikat rambutnya. 9x/9 hari.
4. Tertawa untuk lelucon Nikaidō.

Aku menambahkan yang kelima di kepalaku, di punggungan lembah utara, jam dua pagi:

5. Berterima kasih dalam bentuk lampau.

Lima baris cukup panjang.

Alasannya menonjol keluar, seperti tulang yang patah di bawah kulit.


Aku berdiri.

Aku berdiri terlalu cepat dan lututku tidak siap dan aku jatuh ke satu lutut di salju dan berdiri lagi.

Tendanya kosong.

Alas tidurnya sudah dilipat. Ranselnya tidak ada. Kotak medis kedua masih di sana, di sudut, tertutup rapi, dengan delapan puluh dua item yang sudah dihitung ulang lima kali.

Di atasnya, kotak kayu kecil seukuran telapak tangan, tutupnya diikat benang.

Aku tidak membukanya. Aku tidak sempat membukanya.

Aku keluar dari tenda dan berlari ke tenda komando dan tenda komando juga kosong, dan lalu aku melihat obor-obor di jalur turun ke lembah, sudah setengah jalan, bergerak dalam gelap.


Hoshizaki Ayaka berdiri di ujung punggungan, sendirian, memakai baju tempur lengkap.

Ia menungguku. Ia jelas sedang menungguku, dan ia jelas sudah berdiri di sana lebih dari satu jam.

“Hoshizaki-san.”

“Amane-san.”

“Di mana dia.”

Ia tidak menjawab dengan segera.

Salju turun di antara kami.

“Saya berjanji kepadanya,” katanya, “bahwa saya tidak akan memberitahu Anda.”

“Hoshizaki—”

“Saya tidak berjanji akan berbohong kalau Anda bertanya,” katanya.

Ia menatapku lurus-lurus, dan wajahnya sama sekali tidak berubah, dan suaranya rata seperti orang membacakan laporan anggaran.

“Retakan tidak bisa dijahit. Retakan ditutup dengan jangkar,” katanya. “Satu jiwa, dipasang di titik pusat. Harus jiwa yang bisa berdiri di antara dua alam tanpa larut.”

Punggungan itu sangat sunyi.

“Dalam seluruh catatan, cuma ada satu garis keturunan yang bisa,” katanya. “Dan garis keturunan itu tinggal satu orang.”


Aku tidak ingat apa yang kukatakan setelahnya.

Aku ingat suaraku. Aku ingat bahwa suaraku tidak seperti suaraku.

Dan aku ingat Hoshizaki Ayaka berdiri di tempatnya tanpa mundur satu langkah pun, dan menunggu sampai aku selesai, dan lalu berkata:

“Dia menulis namanya sendiri di formulir itu. Empat jam setelah rapat. Sebelum ada yang sempat bilang tidak boleh.”

“Berapa lama?”

“Koridor dibuka subuh. Ritusnya malam ini juga kalau koridornya bersih.” Ia menoleh ke arah obor-obor di lembah. “Mereka berangkat empat puluh menit lalu.”

Aku sudah bergerak.

“Amane-san.”

Aku berhenti.

Hoshizaki Ayaka berdiri di ujung punggungan lembah utara dalam salju, dengan jubah tempur Menara Barat dan rambut merah gelap terikat tinggi, dan ia mengucapkan satu kalimat yang baru kupahami sepenuhnya tiga hari kemudian, waktu aku sudah tidak bisa lagi berterima kasih kepada siapa pun.

“Apa pun yang Anda rencanakan,” katanya, “lakukan di tempat yang bisa saya lihat.”


Kami turun ke lembah waktu langit masih hitam.


Bersambung ke Bab 31 — “Buaian Kedua, lalu Penggantian”