← Chapters Ch. 16 / 37

Chapter Sixteen

Mata Akhir

POV: Amane Haruto · Musim gugur, minggu kedelapan


Namanya Tokusaburō. Enam puluh sembilan tahun. Dari Ohaza.

Ia dibawa naik ke Menara Utara oleh dua anak laki-lakinya dengan tandu buatan sendiri, seratus dua puluh anak tangga, hari Rabu jam empat sore.

Aku sudah memeriksanya empat kali dalam setahun terakhir. Aku tahu apa yang ada di perutnya. Aku tahu bahwa benda itu tumbuh dan bahwa aku tidak bisa memindahkan sesuatu yang bukan luka — sihirku memindahkan kerusakan, bukan pertumbuhan; aku bisa menutup sayatan tapi aku tidak bisa mencabut sesuatu yang tubuhnya sendiri putuskan untuk menumbuhkan.

Aku sudah menjelaskan itu kepadanya bulan lalu. Ia menerimanya dengan cara orang desa menerima cuaca.

Yang bisa kulakukan cuma satu: memindahkan rasa sakitnya.

Itu bukan penyembuhan. Itu peminjaman. Rasa sakitnya pindah ke tubuhku selama beberapa jam, larut di sana, dan ia mendapat setengah hari tanpa nyeri.

Aku sudah melakukannya tiga kali untuknya. Tarifnya tinggi — bukan setinggi luka, tapi tinggi.

Rabu sore itu aku mengulurkan tangan untuk yang keempat kalinya.

Dan seseorang menangkap pergelangan tanganku.


Kuromiya belum pernah menyentuhku dengan tergesa sebelumnya.

Ia belum pernah menyentuhku sama sekali kecuali untuk memeriksa denyut dan untuk menarikku berdiri dari lantai. Semuanya terukur. Semuanya lewat sarung tangan.

Kali ini tangannya melingkar di pergelanganku dengan kekuatan yang tidak masuk akal untuk ukuran tangannya.

“Jangan.”

Dua anak Tokusaburō menoleh. Tokusaburō sendiri membuka matanya.

“Kuromiya, lepas.”

“Jangan,” ulangnya.

“Dia kesakitan.”

“Dia tinggal dua jam.”

Ruangan itu berhenti.


Aku mendengar salah satu anak laki-laki itu menarik napas.

Aku ingin sekali menulis bahwa reaksi pertamaku adalah marah atas nama keluarga itu. Bukan. Reaksi pertamaku adalah reaksi orang yang bekerja: aku memeriksa apakah itu benar.

Warna bibirnya. Pola napasnya. Kuku. Suhu jari.

Dua jam. Mungkin tiga.

Ia benar.

“Bagaimana kamu tahu,” kataku.

Ia tidak menjawab.

“Kuromiya.”

Ia melepaskan pergelanganku dan mundur satu langkah, dan tangannya jatuh ke sisi tubuhnya, dan seluruh wajahnya berubah jadi sesuatu yang belum pernah kulihat — bukan takut. Lebih mirip orang yang berdiri di ambang pintu yang sudah sebelas tahun ia kunci dan menyadari bahwa ia sendiri yang membukanya barusan.

Ia menoleh ke keluarga itu.

“Maaf,” katanya. “Saya tidak boleh mengatakan itu.”

Dan ia keluar dari ruangan.


Tokusaburō meninggal satu jam lima puluh menit kemudian.

Aku tidak memindahkan rasa sakitnya. Bukan karena Kuromiya menghentikanku — karena Tokusaburō sendiri, setelah mendengar kalimat itu, menolak.

“Kalau tinggal dua jam,” katanya, dengan suara yang harus kudekati untuk kudengar, “saya mau sadar.”

Ia menyuruh anak-anaknya duduk. Ia menanyakan panen. Ia mengomeli yang bungsu soal atap yang belum diperbaiki. Ia menyuruh yang sulung menikahi perempuan yang sudah tiga tahun ia tunda.

Jam enam kurang sepuluh ia berhenti bicara, dan jam enam lewat lima ia berhenti bernapas.

Anak sulungnya membungkuk padaku sampai ke lantai dan berkata terima kasih, dan aku menerimanya walaupun aku tidak melakukan apa-apa.

Aku memikirkan itu berminggu-minggu setelahnya: bahwa satu-satunya hal berguna yang terjadi di ruangan itu sore itu adalah kalimat yang diucapkan orang yang lari keluar setelah mengucapkannya.


Aku menemukannya di pelataran bawah menara jam delapan malam.

Duduk di anak tangga, di luar, dalam dingin, tanpa jubah.

Aku duduk dua anak tangga di atasnya dan tidak berkata apa-apa selama beberapa menit.

“Saya akan mengajukan pindah kelompok,” katanya akhirnya.

“Tidak.”

“Anda tidak bisa menolak. Ada formulirnya.”

“Aku tahu ada formulirnya. Aku yang menyiapkannya di minggu pertama.” Aku menarik jubahku dan menyampirkannya ke bahunya, dan ia tidak menolak, yang menunjukkan seberapa buruk keadaannya. “Duduk dulu. Kalau setelah ini kamu masih mau, aku tanda tangani.”

Ia menarik jubah itu rapat.

“Ceritakan,” kataku.


Ia bercerita.

Aku tidak akan menulis ulang seluruhnya karena sebagian besar bukan milikku. Yang bisa kutulis adalah bentuknya.

Ia melihat benang. Di atas kepala setiap orang. Panjangnya sisa umur mereka. Tidak bisa dimatikan, tidak bisa dipejamkan, tidak bisa tidak dilihat — seperti kamu tidak bisa masuk ke ruangan terang dan memilih untuk tidak melihat terang.

Ia belajar aturannya di umur tujuh setengah, dengan menghitung sisa kakeknya sendiri dan mendapati angkanya cukup untuk dua musim dingin.

Hukum klan melarangnya memberitahu siapa pun. Melanggar berarti diusir dari rumah induk.

“Sebelas tahun,” katanya. “Saya tidak pernah melanggarnya sekali pun. Sampai jam empat sore tadi.”

“Kenapa tadi?”

Jeda panjang sekali.

“Karena Anda akan membayarnya untuk apa-apa,” katanya.

Aku tidak mengerti kalimat itu waktu itu. Aku mengiranya soal tenaga.


Yang ingin kutulis dengan hati-hati adalah bagian setelahnya, karena aku menghabiskan waktu berbulan-bulan memikirkan apakah aku bereaksi dengan benar.

Aku tidak takut.

Itu bagian yang tampaknya paling mengejutkannya. Ia berhenti bicara di tengah dan menoleh ke atas, ke arahku, seperti menunggu sesuatu.

“Anda tidak mundur,” katanya.

“Kenapa aku mundur?”

“Semua orang mundur.”

“Kuromiya, aku sembilan tahun bekerja di tempat yang penuh orang yang akan mati minggu itu juga.” Aku menyandarkan siku ke lutut. “Aku tidak punya matamu. Tapi aku punya grafik, dan hasil pemeriksaan, dan pengalaman, dan kalau kamu sudah cukup lama kamu bisa masuk ke sebuah kamar dan tahu.”

“Itu tidak sama.”

“Tidak sama. Tapi bukan hal yang asing.” Aku menoleh padanya. “Yang mau kutanyakan bukan itu.”

“Apa.”

“Apa itu sakit?”


Ia tidak menjawab selama sangat lama.

Cukup lama sampai aku mengira aku salah bertanya, dan mulai menyusun kalimat untuk mundur.

“Tidak ada yang pernah menanyakan itu,” katanya.

“Aku bertanya sekarang.”

“Orang biasanya bertanya apakah saya bisa salah. Atau apakah saya bisa mengubahnya. Atau—” Ia berhenti. “Biasanya mereka bertanya berapa punya mereka. Lalu waktu saya bilang tidak boleh, mereka marah. Lalu mereka pergi.”

“Aku tidak bertanya itu.”

“Saya tahu.”

“Aku bertanya apakah itu sakit.”

Dan ia menjawab, akhirnya, dengan suara yang datar seperti biasa, yang membuatnya seratus kali lebih buruk:

“Yang sakit bukan melihatnya. Yang sakit adalah setelah melihat, semua yang saya lakukan jadi pilihan.”

Ia menarik jubah itu lebih rapat.

“Kalau saya tidak melihat, saya bisa duduk di ruangan yang sama dengan seseorang dan tidak melakukan apa-apa, dan itu bukan keputusan. Itu cuma duduk.” Ia menatap tangga. “Untuk saya, tidak melakukan apa-apa selalu keputusan. Sebelas tahun. Setiap ruangan. Setiap orang.”


Aku memikirkannya beberapa saat.

Lalu aku berkata hal yang paling berguna yang bisa kupikirkan, yang juga hal paling praktis, karena aku tidak punya kemampuan lain:

“Kalau begitu jangan sendirian waktu memutuskan.”

Ia menoleh.

“Di klinik,” kataku. “Di lapangan. Kamu menunjuk, aku mengerjakan. Itu sudah berjalan sejak musim semi dan aku tidak akan mengubahnya. Tapi mulai sekarang keputusannya dua orang.”

“Anda tidak bisa melihat benang.”

“Aku tidak perlu melihat benang untuk ikut bertanggung jawab atas urutannya.” Aku berdiri. “Kamu menunjuk. Aku yang memutuskan mengerjakannya. Dua tanda tangan di formulir yang sama. Kalau salah, salah berdua.”

Ia menatapku dari anak tangga bawah, dan aku bisa melihat ia sedang mencari lubang di kalimat itu, dan tidak menemukannya, dan tidak siap untuk tidak menemukannya.

“Itu bukan cara kerjanya,” katanya.

“Sekarang begitu.”


Aku hampir masuk waktu ia berkata:

“Anda tidak bertanya.”

“Bertanya apa?”

“Punya Anda. Berapa.”

Aku berhenti di pintu.

Aku sudah memikirkan pertanyaan itu sejak jam empat sore. Aku memikirkannya sepanjang dua jam Tokusaburō. Aku memikirkannya sambil menulis surat keterangan kematian dengan tangan yang gemetar.

Enam nama. 26, 24, 23, 22, 21, 19.

Aku bisa mendapatkan angkanya malam ini. Sekarang. Aku cukup berbalik dan bertanya, dan mungkin ia akan melanggar hukum klannya untuk kedua kalinya dalam satu hari, karena ia sudah melanggarnya sekali untuk orang yang tidak ia kenal.

Dan lalu aku akan tahu.

Dan begitu aku tahu, aku akan mulai membaginya. Sisa waktu ini untuk apa, sisa itu untuk apa. Aku akan mulai menghitung ongkos setiap pasien terhadap total, dan pada suatu titik — mungkin bukan besok, mungkin bulan kelima — akan ada seseorang di ranjang klinik yang seharusnya bisa kutolong, dan aku akan berdiri di sana dengan angka di kepalaku, dan aku akan ragu selama tiga detik.

Tiga detik itu yang membunuh orang. Bukan kekurangan tenaga. Aku sudah melihatnya di dunia lamaku, di orang-orang yang jauh lebih baik dariku.

“Tidak usah,” kataku.

“Kenapa?”

“Karena aku tidak ingin tahu.”

Hening.

“Anda serius.”

“Iya.”

“Tidak sekarang, atau tidak pernah?”

Aku memikirkan cara menjawab yang tidak sepenuhnya jujur, dan gagal menemukannya, jadi aku menjawab dengan yang sepenuhnya jujur.

“Tidak pernah,” kataku. “Jangan pernah beritahu aku, Kuromiya. Bahkan kalau suatu hari aku memohon.”


Aku tidak melihat wajahnya waktu mengatakan itu karena aku sudah berbalik ke pintu.

Yang kudengar adalah bunyi napas yang salah.

Aku berbalik lagi.

Ia masih duduk di anak tangga, dengan jubahku di bahunya, dan ia menangis.

Bukan menangis yang berisik. Tidak ada isak sama sekali. Ia duduk tegak dan air mata itu turun begitu saja seperti sesuatu yang tidak minta izin, dan tangannya masih di pangkuannya, dan ia tidak mengangkatnya untuk menyeka.

“Kuromiya.”

“Saya tidak tahu kenapa,” katanya.

Suaranya betul-betul bingung. Itu bagian yang paling tidak bisa kutanggung.

“Saya tidak—” Ia berhenti. Mencoba lagi. “Ini tidak logis. Saya tidak sedih. Saya tidak tahu ini apa.”

Aku turun dua anak tangga dan duduk di sebelahnya.

Aku tidak menyentuhnya. Aku ingin. Aku memutuskan bahwa kalau aku melakukannya sekarang, aku melakukannya untuk membuat diriku merasa lebih baik, dan itu bukan alasan yang cukup.

“Tidak apa-apa,” kataku. “Tidak semua hal harus punya nama.”

“Semua hal punya nama.”

“Kamu hafal dua ratus nama tumbuhan dan tidak satu pun nama bintang,” kataku. “Berarti ada seluruh langit yang tidak punya nama untukmu, dan langit itu tetap ada.”

Ia mengeluarkan suara yang setengah tawa dan setengah bukan.

Kami duduk di anak tangga Menara Utara selama sekitar dua puluh menit, dalam dingin, tanpa bicara, sampai napasnya kembali normal.

Lalu ia menyeka wajahnya dengan punggung tangan bersarung tangan, berdiri, melepas jubahku, dan menyerahkannya kembali.

“Saya tidak jadi mengajukan pindah kelompok,” katanya.

“Bagus.”

“Formulirnya tetap saya simpan.”

“Simpan saja.”

Ia turun tiga langkah. Berhenti.

“Amane-san.”

“Hm.”

“Saya tidak akan pernah memberitahu Anda,” katanya. “Seperti yang Anda minta.”

“Terima kasih.”

Ia melanjutkan turun, dan aku masuk, dan aku tidur malam itu dengan perasaan bahwa aku baru saja melakukan sesuatu yang benar.

Butuh empat belas bulan sebelum aku mengerti apa yang sebenarnya baru saja kuminta darinya, dan berapa lama ia harus memikulnya, dan bahwa aku sendiri yang mengunci pintunya dari luar.


Bersambung ke Bab 17 — “Festival Hoshimori”