Chapter Ten
Yang Dianggap Pelengkap
POV: Amane Haruto · Musim semi, akhir · penutup Bagian I
Laporan resmi ujian lapangan dibacakan di Aula Barat hari Senin pagi.
Aku tidak diminta hadir. Aku hadir karena Genta datang ke klinik hari Minggu dan bertanya, dengan hati-hati sekali, apakah aku akan datang — dan cara ia bertanya membuatku sadar bahwa ia sudah memutuskan untuk duduk di sebelahku kalau aku datang.
Aku duduk di barisan belakang. Genta memenuhi dua kursi di sebelahku. Sōta duduk di sebelah Genta, dan Mochizuki di sebelah Sōta, dan aku tidak tahu kapan hal ini menjadi susunan tempat duduk yang normal.
Kuromiya di ujung kanan barisan yang sama.
Bangku di kiri dan kanannya tidak kosong lagi. Ada dua anak perempuan tingkat satu — yang bertanya soal kolom empat di kantin, kalau aku tidak salah ingat.
Aku mencatat itu. Aku senang mencatat hal-hal yang membaik.
Tsuzaki-sensei membacakannya.
“Ujian Lapangan Gabungan Distrik Hilir Kagurayama. Empat puluh peserta, tiga pengawas. Hasil: berhasil penuh.”
Tepuk tangan.
“Insiden tak terduga: kemunculan sebelas ekor ravener di sisi barat pukul enam belas lewat empat puluh. Formasi penahan bertahan dua jam empat puluh menit tanpa kebocoran garis. Kelompok penyerang berhasil memecah kawanan pada pukul tujuh belas lewat tiga.”
Tepuk tangan lagi, lebih keras.
“Penghargaan komando lapangan: Hoshizaki Ayaka.”
Hoshizaki berdiri, membungkuk, duduk. Aula bertepuk selama lima belas detik penuh.
“Penghargaan ketahanan: Ōba Genta.”
Genta tidak berdiri. Ia terlalu kaget untuk berdiri. Sōta menariknya berdiri dengan dua tangan dan Genta membungkuk terlalu dalam dan hampir menjatuhkan kursi di depannya, dan aula tertawa, dan itu tawa yang baik.
“Penghargaan kelompok: seluruh kelompok penahan.”
Tepuk tangan.
Tsuzaki membalik halaman.
“Korban jiwa: nihil.”
Tepuk tangan.
Dan itulah bagian yang ingin kutuliskan dengan tepat, karena aku sudah memikirkannya berkali-kali sejak itu dan aku masih belum yakin apa yang kurasakan waktu itu.
Korban jiwa: nihil.
Dua kata. Dan di bawah dua kata itu ada sembilan orang, dan salah satunya berumur empat belas tahun, dan salah satunya berkata “nunggu doang” di aula ini enam hari sebelumnya.
Tidak ada satu pun dari sembilan itu disebut.
Karena mereka tidak mati, dan yang tidak terjadi tidak masuk laporan.
Bagian penutup laporan berjudul Logistik dan Dukungan.
“Perbekalan: dua kereta, dikoordinasi Menara Selatan. Persediaan medis: kotak lapangan standar, dua unit. Pendamping medis: Amane.”
Selesai.
Tsuzaki menutup map itu, mengucapkan terima kasih, dan mempersilakan aula bubar.
Genta menoleh padaku dengan wajah orang yang baru mendengar sesuatu yang salah dan tidak yakin apakah boleh mengatakannya.
“Amane-san.”
“Ayo,” kataku. “Aku ada pasien jam sepuluh.”
Yang membuat hari itu jadi hari yang buruk bukan laporannya.
Aku sudah dua tahun di sini. Aku sudah membaca laporan seperti itu dua kali. Aku sudah punya seluruh perangkat penjelasannya, tersusun rapi: laporan itu dibuat untuk kepentingan penilaian kurikulum tempur; penyembuh bukan peserta; namaku tidak masuk karena aku memang bukan bagian dari struktur mana pun di akademi ini; dan lagi pula, tujuan pekerjaan ini bukan supaya namanya ditulis.
Aku bisa mengucapkan seluruh paragraf itu tanpa terbata.
Aku mengucapkannya, kira-kira, di klinik, sore itu, waktu Kuromiya bertanya.
Dan Kuromiya marah.
Aku tidak pernah melihatnya marah sebelumnya, dan sejujurnya aku tidak langsung mengenali bentuknya, karena bentuknya adalah: ia berhenti bergerak.
Ia sedang melipat kain. Ia berhenti melipat. Kainnya masih di tangannya, setengah terlipat, dan ia berdiri diam menghadap meja.
“Jadi tidak apa-apa,” katanya.
“Tidak apa-apa apanya?”
“Anda baru saja menjelaskan selama dua menit kenapa nama Anda tidak perlu ada di kertas itu.”
“Karena memang tidak perlu.”
“Nama Ōba-san ada di kertas itu.”
“Ōba peserta.”
“Ōba-san menahan celah selama dua jam empat puluh menit.” Ia meletakkan kain itu, sangat pelan, dan itu lebih mengagetkan daripada kalau ia melemparkannya. “Anda tahu apa yang terjadi kalau Ōba-san gagal? Garis bocor, dan mungkin ada lima orang terluka.”
“Itu bukan hal kecil.”
“Bukan. Itu hal besar.” Ia berbalik. “Anda tahu apa yang terjadi kalau Anda gagal?”
Aku tidak menjawab.
“Sembilan orang,” katanya. “Sembilan, Amane-san. Saya menghitungnya. Saya menghitung semuanya.”
“Kuromiya—”
“Dan di kertas itu tertulis ‘Pendamping medis: Amane’, di bagian yang sama dengan jumlah kereta.” Suaranya sama sekali tidak naik. Itu bagian yang paling tidak nyaman. “Anda ditulis di sebelah kereta.”
“Iya.”
“Dan Anda bilang tidak apa-apa.”
“Aku bilang aku mengerti kenapa.”
“Itu bukan hal yang sama!”
Nah — di situ suaranya naik. Sekali. Satu kalimat.
Dan setelah kalimat itu keluar, ia langsung terlihat seperti orang yang menjatuhkan sesuatu.
Ruangan hening lumayan lama.
“Maaf,” katanya akhirnya.
“Tidak usah.”
“Saya melewati batas.”
“Kuromiya.” Aku menarik kursi dan duduk, karena aku sudah belajar bahwa berdiri membuat percakapan seperti ini jadi konfrontasi. “Duduk sebentar.”
Ia tidak duduk.
“Aku akan jelaskan satu hal,” kataku, “dan aku minta kamu tidak mengulanginya ke siapa-siapa. Bukan karena rahasia. Karena kedengarannya jelek.”
Ia menunggu.
“Kalau namaku masuk laporan resmi,” kataku, “aku akan masuk struktur. Dan kalau aku masuk struktur, akan ada orang yang berhak mengatur berapa banyak yang boleh kukerjakan.”
Ia mengerutkan kening. “Itu justru bagus.”
“Tidak.”
“Itu artinya ada yang menjaga Anda.”
“Itu artinya ada yang bisa menyuruhku berhenti.” Aku mengetukkan jari sekali ke meja. “Malam itu, jam sembilan kurang seperempat, ada anak umur empat belas dibawa masuk. Kalau aku bagian dari struktur, ada protokol. Ada pengawas. Ada orang yang berdiri di sebelahku dan berkata ‘sudah cukup, Amane, kamu sudah menangani delapan’.”
“Dan itu buruk?”
“Dia akan mati.”
Kuromiya tidak berkata apa-apa.
“Selama aku bukan siapa-siapa,” kataku, “tidak ada yang punya wewenang untuk menghentikanku. Itu satu-satunya keuntungan dari berdiri di luar semua daftar. Dan aku tidak akan menukarnya dengan nama di kertas.”
Aku pikir itu argumen yang bagus.
Aku ingat merasa cukup puas dengannya.
Kuromiya berdiri di seberang meja dan menatapku — lurus ke mataku, bukan ke titik biasa di atas kepalaku — selama waktu yang lama sekali.
Dan lalu ia berkata, dengan suara yang sangat pelan:
“Jadi Anda sudah memikirkannya.”
“Memikirkan apa?”
“Anda sudah memikirkan bahwa suatu saat akan ada orang yang mencoba menghentikan Anda.” Ia mengambil kain itu kembali dan mulai melipat lagi, dan tangannya tidak sepenuhnya stabil. “Dan Anda sudah menyiapkan cara supaya mereka tidak bisa.”
Aku membuka mulut.
Aku menyadari, agak terlambat, bahwa aku memang sudah.
Profesor Ganryū muncul di klinik hari Rabu.
Ia belum pernah naik ke Menara Utara sekali pun dalam dua tahun. Ia berumur enam puluhan dan tangganya seratus dua puluh. Aku mendengarnya berhenti tiga kali dalam perjalanan naik.
“Profesor. Ada yang sakit?”
“Lutut.” Ia duduk tanpa dipersilakan. “Tapi bukan itu urusannya.”
Aku menuang teh. Ia mencium baunya, mengangkat alis, dan meminumnya tanpa berkomentar apa-apa tentang manisnya, yang membuatnya orang kedua di dunia ini yang melakukan itu.
“Saya baca laporan lapangan,” katanya.
“Semua orang baca.”
“Sembilan orang.”
Aku berhenti menuang.
“Itu tidak ada di laporan.”
“Tidak ada,” ia setuju. “Saya menghitung sendiri. Saya membandingkan daftar korban tenda dengan daftar peserta yang kembali ke formasi. Butuh dua jam.” Ia menyeruput. “Saya punya banyak waktu. Kelas saya diambil sebelas orang dan tiga tidur.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
“Amane-kun.”
“Ya.”
“Sembilan itu berapa?”
“Maaf?”
Ia mengangkat wajahnya, dan lagi-lagi matanya sama sekali tidak mengantuk, dan lagi-lagi cuma untuk beberapa detik.
“Sembilan orang,” katanya, “berapa harganya.”
Ruangan itu terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.
“Saya tidak mengerti pertanyaannya.”
“Mm.” Ganryū mengangguk, beberapa kali, pelan. “Bagus. Kalau begitu tidak usah dimengerti.”
Ia meletakkan cangkirnya dan berdiri, dan lututnya mengeluarkan bunyi yang membuatku ingin menyuruhnya duduk lagi.
Di ambang pintu ia berhenti.
“Kelas saya hari Jumat pagi,” katanya. “Sihir kuno. Sebelas orang, tiga tidur. Kalau suatu hari kamu penasaran soal asal-usul sesuatu, pintunya tidak dikunci.”
“Asal-usul apa?”
“Apa saja,” katanya, dan menuruni tangga.
Hari Jumat sore, aku mencari daftar tugasku dan tidak menemukannya lagi.
Kedua kalinya dalam dua minggu.
Aku menggeledah sampul depan buku catatan, laci meja, saku celemek, rak dua, keranjang cucian. Aku bahkan mengecek perapian, dengan perasaan bodoh, kalau-kalau aku membakarnya bersama sesuatu yang lain.
“Kamu lihat daftar tugas?” tanyaku.
Kuromiya sedang menyusun botol di rak dua, membelakangiku.
“Yang mana?”
“Yang kutulis Rabu malam. Dua puluh satu baris. Kuselipkan di sampul depan.”
“Tidak.”
“Aneh.”
“Anda banyak pekerjaan minggu ini,” katanya, masih membelakangiku. “Wajar kalau tercecer.”
“Mungkin.”
Aku menulis ulang daftarnya dari ingatan. Butuh dua puluh menit dan aku yakin ada tiga baris yang terlewat.
Yang tidak kusadari, dan tidak akan kusadari selama berbulan-bulan:
Tiga baris yang terlewat itu adalah tiga kunjungan rumah di desa kaki gunung.
Dan minggu itu, ketiganya sudah ditangani sebelum aku sampai — dengan ramuan biasa, kompres biasa, jahitan tangan yang rapi sekali untuk ukuran orang yang katanya tidak pernah belajar menjahit.
Aku mengira desa itu akhirnya kedatangan tabib keliling.
Aku bersyukur, waktu itu. Aku ingat betul bahwa aku bersyukur.
Bersambung ke BAGIAN II — MUSIM GUGUR
Bab 11 — “Pasien yang Sudah Diobati”