← Chapters Ch. 32 / 37

Chapter Thirty Two

Turun Gunung

POV: Nikaidō Sōta · Lembah utara, hari kesembilan sampai kesebelas


Saya biasanya bercerita panjang.

Saya tahu itu tentang diri saya sendiri. Ada orang yang bilang saya berisik dan mereka benar. Saya bercerita panjang karena kalau saya berhenti bicara, ruangannya jadi terlalu besar.

Saya akan mencoba menulis bab ini pendek.

Saya tidak yakin bisa.


Ōba yang menggendongnya.

Kami sempat berdebat sebentar soal tandu. Ada tandu. Kami membawa dua belas tandu dan sembilan di antaranya masih utuh.

Ōba bilang tidak.

Ōba tidak pernah bilang tidak kepada siapa pun. Sembilan bulan saya kenal dia dan dia belum pernah menolak permintaan siapa pun, termasuk permintaan bodoh, termasuk permintaan saya.

Dia bilang tidak dan tidak menjelaskan, dan tidak ada satu pun dari empat puluh satu orang di lembah itu yang berani mendebatnya.

Empat ratus langkah koridor. Lalu jalur menanjak ke punggungan selatan. Lalu delapan ratus langkah lagi ke perkemahan.

Dia menggendongnya seluruh jalan, di salju, dengan tangan kanan yang jari-jarinya masih terkunci di posisi menggenggam dari menahan celah tiga jam empat puluh menit.

Dia menangis di sepanjang jalan.

Tidak bersuara. Saya berjalan di belakangnya selama satu setengah jam dan tidak mendengar apa-apa, dan saya cuma tahu karena salju di bahunya basah di satu sisi dan tidak di sisi lain.


Kuromiya tidak bisa berjalan.

Bukan cedera. Ritus itu tidak melukai jangkarnya; ada tabelnya, saya membacanya kemudian.

Dia cuma tidak berjalan.

Hoshizaki-senpai yang membawanya. Menggendong di punggung, sepanjang jalan yang sama, dengan sihir yang sudah habis total dan lengan kiri yang terbakar dari siku ke pergelangan.

Dua perempuan itu tidak bicara sekali pun selama satu setengah jam.

Waktu kami sampai di perkemahan, Hoshizaki-senpai menurunkannya di tenda, lalu keluar, lalu berjalan ke balik tenda perbekalan, dan berdiri di sana menghadap dinding kanvas.

Saya kebetulan lewat.

Dia tidak menangis. Dia berdiri menghadap kanvas dengan kedua tangan di sisi tubuh dan tidak melakukan apa-apa selama mungkin sepuluh menit, dan waktu saya lewat lagi dia sudah tidak ada di sana dan sudah kembali mengatur pembagian jaga malam.

Dia baru menangis dua hari kemudian, jam tiga pagi, waktu dia yakin semua orang tidur.

Saya tidak tidur.

Saya tidak memberitahunya sampai sekarang.


Mochizuki menghilang selama enam jam.

Kami mencarinya. Saya panik. Saya sudah membayangkan dia melakukan sesuatu, karena dia tujuh belas dan karena dia baru saja meledakkan jembatan dengan orang di atasnya dan karena hari itu sudah cukup buruk tanpa tambahan apa pun.

Kami menemukannya di belakang tenda persediaan, di lubang yang dia gali sendiri di salju, membakar sesuatu.

Papan taruhan.

Dia membawanya. Dari akademi. Dua belas hari perjalanan dan dua puluh enam peti perbekalan, dan anak itu memasukkan papan kayu selebar dua lengan ke dalam ranselnya sendiri dan membawanya ke lembah utara.

Saya tanya kenapa dia membawanya.

“Karena rasionya masih terbuka,” katanya.

Kolom “sebelum Festival” sudah lewat. Kolom “setelah Festival, sebelum musim dingin” sudah lewat. Kolom “musim dingin” masih terbuka waktu kami berangkat, dan dia berencana memperbaruinya di lembah, tiap Senin dan Kamis, karena metodologinya ketat dan papan yang tidak akurat itu tidak etis.

Dia membakarnya sampai habis. Butuh empat puluh menit karena kayunya basah.

Dia tidak menangis waktu membakarnya.

Dia menangis waktu apinya padam dan dia harus berdiri dan tidak punya apa-apa lagi untuk dikerjakan.


Saya memakai jubahnya.

Bukan jubah kebesaran. Celemek kerja, yang cokelat, yang ada noda di saku kanan yang tidak pernah hilang.

Saya mengambilnya dari tenda medis dua jam setelah kami sampai, dan saya memakainya, dan saya tidak melepasnya selama sembilan hari.

Ōba tidak berkomentar. Mochizuki tidak berkomentar. Hoshizaki-senpai melihatnya sekali, dan mengangguk, dan tidak berkata apa-apa.

Ada murid Menara Barat yang berkomentar, di hari kedua, sesuatu yang tidak jahat tapi juga tidak perlu.

Ōba berdiri.

Ōba cuma berdiri. Dia tidak mengatakan apa-apa dan tidak melakukan apa-apa.

Anak itu minta maaf empat kali dan pergi.


Saya mau menulis tentang Kuromiya sekarang dan saya sudah menunda dua halaman.

Dia tidak bicara selama dua hari.

Bukan diam yang marah. Bukan diam yang sedih. Dia menjawab kalau ditanya — pendek, satu kata — dan makan kalau disodori, dan tidur kalau disuruh.

Yang tidak dia lakukan adalah berhenti melakukan hal-hal kecil.

Hari kedua, saya masuk ke tenda medis dan dia sedang menghitung isi kotak medis kedua. Delapan puluh dua item. Rak satu sampai rak empat, urutan kecepatan.

Dia sudah menghitungnya tiga kali pagi itu.

Saya bilang, “Kuromiya-san, tidak ada yang perlu dihitung.”

Dia bilang, “Ada delapan puluh dua.”

Saya bilang, “Saya tahu, tapi—”

Dia bilang, “Kalau saya berhenti menghitung, saya akan menghitung yang lain.”

Saya keluar dari tenda dan duduk di salju.


Yang paling saya tidak sanggup bukan itu.

Yang paling saya tidak sanggup adalah pagi hari ketiga, waktu saya bangun jam enam dan melihat asap dari tungku lapangan.

Dia sedang merebus air.

Untuk dua cangkir.

Saya berdiri di sana dan menonton dia menuang dua cangkir teh manis di perkemahan depan lembah utara, di suhu minus delapan, dan meletakkan satu di peti sebelahnya, dan meminum punyanya sampai habis.

Cangkir kedua tetap di sana sampai dingin.

Lalu dia mencucinya, dan menyimpannya, dan besoknya melakukannya lagi.

Saya tidak bertanya. Saya belum pernah bertanya. Saya sudah empat belas bulan tidak bertanya.


Kami menahan tubuhnya di tenda paling utara.

Tidak dikubur. Ini penting dan saya belum mengerti kenapa waktu itu — Profesor Ganryū yang memerintahkannya, hari pertama, dengan suara yang tidak seperti orang tua yang mengantuk.

“Jangan dikubur,” katanya. “Jangan dibakar. Jangan dipindahkan dari lembah ini.”

Kepala regu bertanya kenapa.

Ganryū tidak menjawab. Dia berjalan pergi menyeret kakinya.

Saya sempat berpikir orang tua itu sudah pikun karena sedih.


Saya menulis surat wasiat sebelum berangkat.

Enam poin. Nomor lima berbunyi: kalau ternyata saya yang kembali dan Anda tidak, saya minta izin menulis riwayat hidup Anda, dan saya akan melebih-lebihkannya, dan Anda tidak berhak protes karena Anda sudah tidak ada.

Saya menulis itu sebagai lelucon.

Hari ketiga, jam sebelas malam, di tenda saya, saya mengeluarkan kertas dan pena dan saya menulis judulnya.

Lalu saya duduk di sana selama satu jam empat puluh menit dan tidak bisa menulis kalimat pertama.

Saya sudah menyusun dua puluh versi di kepala saya selama sembilan bulan, semuanya heroik, semuanya bagus. Saya sudah menyiapkan kalimat pembuka yang menurut saya sangat bagus.

Kalimat pembukanya begini: “Ada laki-laki yang datang dari dunia lain, dan dia bisa menyembuhkan apa saja.”

Saya menatapnya cukup lama.

Lalu saya mencoretnya, karena itu bohong.

Dia tidak bisa menyembuhkan apa saja.

Dia tidak bisa menyembuhkan Tokusaburō dari Ohaza. Dia tidak bisa menyembuhkan anak umur tiga belas tahun yang berada dua puluh langkah di luar dinding. Dia tidak bisa menyembuhkan lukanya sendiri di telunjuk kanan selama lima puluh tujuh hari.

Yang bisa dia lakukan cuma satu hal: memindahkan luka orang lain ke tubuhnya, dan membayarnya, dan tidak menyebutkannya kepada siapa pun selama dua tahun.

Saya menulis kalimat pertama jam satu pagi.

“Ada laki-laki yang datang dari dunia lain, dan yang paling sering dia katakan kepada saya adalah supaya saya tidur.”

Itu kalimat pembuka buku yang laku keras itu. Semua orang mengira itu lelucon.


Hari keempat, sore, saya menemukan Profesor Ganryū duduk di luar tenda medis.

Dia duduk di peti nomor empat belas dengan cangkir teh yang sudah dingin sejak pagi, memandangi lembah yang sekarang cuma lembah.

Kuromiya keluar dari tenda membawa kotak medis.

Dia melewati Ganryū tanpa menoleh.

Dan Ganryū berkata — tidak keras, tidak menoleh, ke arah lembah, seperti orang menyebutkan cuaca:

“Kuromiya-kun.”

Dia berhenti.

“Berapa lama klanmu sudah ada?”

“Enam ratus tahun.”

“Enam ratus tahun mencatat kematian orang,” kata Ganryū. “Panjang benang, tanggal, hasil. Seratus dua belas buku.”

“Anda tahu isinya?”

“Saya tahu apa yang tidak ada di dalamnya.” Dia meminum tehnya yang dingin. “Enam ratus tahun, dan tidak ada satu pun entri tentang berhasil.”

Kuromiya berdiri di salju memegang kotak medis dengan delapan puluh dua item.

“Anak bodoh,” kata Ganryū, dan suaranya pecah di kata kedua, dan itu satu-satunya kali dalam hidup saya saya melihat orang tua itu kehilangan kendali atas suaranya sendiri.

“Klanmu bukan cuma pelihat.”

Dia berdiri, dengan lutut yang berbunyi.

“Kenapa tidak sekali pun kamu bertanya kenapa namanya pemanggil?”


Kotak medis itu jatuh ke salju.

Delapan puluh dua item berhamburan. Botol-botol, jarum, gulungan kasa, semuanya, ke seluruh permukaan salju di depan tenda medis lembah utara.

Kuromiya Yuina tidak memungutnya.

Dia berlari.

Saya belum pernah melihat orang itu berlari sebelumnya, dalam sembilan bulan, sekali pun.


Bersambung ke Bab 33 — “Tujuh Puluh Dua Jam”