← The Seventh Healer

Chapter Twenty Five

Yang Dilihat dari Balkon

POV: Hoshizaki Ayaka · Musim dingin, dua hari setelah rapat


Ayah saya mengajari saya satu hal yang berguna, dan cuma satu.

Ia bilang: kalau kamu tidak mengerti kenapa seseorang melakukan sesuatu, jangan tanya mereka. Mereka akan berbohong, dan bukan karena jahat — orang berbohong tentang alasannya sendiri lebih sering daripada tentang perbuatannya.

Yang harus kamu lakukan adalah membuat daftar. Semua yang mereka lakukan, urut tanggal. Jangan ditafsirkan. Cuma dicatat.

Kalau daftarnya cukup panjang, alasannya akan menonjol sendiri seperti tulang yang patah di bawah kulit.

Saya mulai membuat daftar itu di malam festival musim gugur, jam sebelas lewat tiga puluh, sambil berdiri sendirian di pintu klinik orang lain.


DAFTAR.

Bulan kelima. Amane bertanya kapan saya makan siang. Ia menyebut angka: berapa jam saya berdiri, berapa menit saya kembali ke formasi setelah tulang selangka saya patah. Ia mengingat semua angka itu tanpa mencatat.

Bulan keenam. Malam hujan. Satu jubah. Kuromiya memegang lengannya. Saya menonton dari jendela lantai atas dan tidak memberitahu siapa pun.

Bulan ketujuh. Ia bilang “terima kasih untuk tabibnya”. Saya tidak mengirim tabib ke mana pun. Saya menyangkal dua kali dan ia tidak percaya, dan saya berhenti menyangkal.

Bulan kedelapan. Kuromiya Yuina tidak masuk kelas tiga kali dalam sebulan itu. Semua ketidakhadirannya hari Sabtu subuh. Saya mengecek jadwal kunjungan Amane ke Ohaza: hari Minggu.

Ia turun ke desa itu sehari sebelumnya.

Bulan kesembilan, malam festival. Ia menolak saya. Ia tidak memakai satu pun alasan yang mudah. Ia tidak bilang “bukan kamu, tapi keadaan”, ia tidak bilang “aku tidak layak”, ia tidak bilang salah satu dari sepuluh kalimat yang sudah saya siapkan bantahannya.

Waktu itu saya mengira ia sekadar jujur.

Sekarang saya tahu ia sedang tidak memakai satu kalimat tertentu, dan bahwa kalimat itu ada di mulutnya, dan bahwa ia menelannya.

Sepuluh hari kemudian. Halaman dalam. Delapan detik. Rambutnya memutih selama kubah itu menyala — saya berdiri di gerbang, saya melihatnya, dan saya ikut bersorak.

Saya ikut bersorak.

Saya menuliskan itu di daftar saya juga, karena daftar harus jujur.


Setelah kubah: telinga kirinya mati. Ia tidak memberitahu siapa pun. Ia mulai memiringkan kepala.

Kuromiya Yuina berpindah ke sisi kanannya hari berikutnya dan tidak pernah kembali ke sisi kiri.

Musim dingin, minggu ketiga: rambutnya dipotong. Jelek sekali. Digunting dengan gunting bedah oleh seseorang yang tidak mau menyerahkannya kepada tukang cukur akademi, padahal tukang cukur akademi ada dan gratis.

Festival salju: ia duduk di anak tangga selama dua puluh menit dan tidak bisa berdiri. Ōba duduk di sebelahnya dan berbohong soal kakinya yang pegal.

Dan Kuromiya Yuina, dari seberang halaman, berhenti bergerak selama dua puluh menit itu dan tidak mendekat.

Itu yang membuat saya berhenti menyusun daftar dan mulai mengerti.

Orang yang menyayangi seseorang akan berlari ke arahnya.

Orang yang menjaga rahasia seseorang akan berdiri diam supaya tidak ada yang menoleh.


Saya mendatangi Nikaidō Sōta hari Senin.

Saya memilih Nikaidō karena ia satu-satunya orang di akademi ini yang tidak bisa menyimpan apa pun. Anak itu menarasikan sarapannya keras-keras.

“Nikaidō.”

“HOSHIZAKI-SENPAI!” Ia melompat berdiri dari bangku kantin. “Suatu kehormatan—”

“Duduk. Satu pertanyaan.”

“Silakan!”

“Apa yang kamu dan Amane cari di arsip terbatas bulan lalu?”

Dan Nikaidō Sōta — yang belum pernah diam lebih dari sembilan detik dalam sejarah perkenalan kami — duduk kembali, meletakkan sumpitnya, dan menatap meja.

“Tidak ada apa-apa, Senpai.”

“Nikaidō.”

“Kami mencari bocoran soal.”

“Kamu tidak bisa berbohong.”

“Saya bisa,” katanya, “kalau saya sudah janji.”

Saya berdiri di kantin itu memandanginya cukup lama.

“Berapa lama kamu sudah tahu?”

Ia tidak menjawab.

“Nikaidō. Berapa lama.”

“Sejak musim gugur, Senpai,” katanya, sangat pelan, ke arah meja. “Dan saya sudah janji, dan saya tidak akan melanggarnya, dan tolong jangan tanya lagi karena saya betul-betul tidak kuat.”

Anak itu peringkat tiga puluh satu dari tiga puluh dua.

Ia menyimpan hal itu sendirian selama tiga bulan karena diminta, dan ia menolak saya, ketua kelompoknya, di depan mejanya sendiri, dan tangannya gemetar sepanjang percakapan itu.

Saya membungkuk kepadanya. Kecil, tapi saya membungkuk.

Diamnya adalah jawaban yang saya butuhkan.


Yang saya lakukan berikutnya tidak sah, dan saya tidak menyesalinya.

Keluarga Hoshizaki punya kursi di dewan pengawas akademi. Kursi itu punya hak baca terhadap arsip administratif — bukan arsip terbatas, cuma administratif: daftar penugasan, formulir, catatan personel.

Saya membaca PENUGASAN OPERASI LEMBAH UTARA — DAFTAR PERSONEL INTI.

Baris keempat dari bawah.

Jangkar ritus: Kuromiya Yuina.

Ditulis tangan. Cap arsip di sudut kanan bawah. Tanggal: hari yang sama dengan rapat, sore hari, kurang dari empat jam setelah rapat itu bubar.

Ia menulis namanya sendiri.

Saya membaca baris itu sekitar dua puluh kali, dan lalu saya menutup mapnya, dan lalu saya berjalan keluar dari ruang dewan dan menuruni tiga lantai dan keluar ke salju tanpa jubah, dan berdiri di sana sampai saya cukup marah untuk bisa berpikir lurus.


Saya menemukannya di ruang arsip Menara Selatan, hari Rabu, jam sembilan malam.

Ia sedang menyalin sesuatu. Sendirian. Satu lilin.

“Kuromiya.”

Ia mengangkat wajah. “Hoshizaki-san.”

“Kita belum pernah bicara.”

“Belum.”

“Sembilan bulan.”

“Sembilan bulan,” ia setuju.

Saya menarik kursi dan duduk di seberangnya tanpa diminta.

“Saya akan bicara cepat karena saya tidak pandai berbasa-basi dan kamu tidak pandai menanggapi basa-basi,” kata saya. “Saya sudah baca daftar personel.”

Ia meletakkan penanya.

“Itu dokumen dewan.”

“Keluarga saya punya kursi di dewan.”

“Itu tetap tidak sah.”

“Kamu memalsukan formulir penilaian ujian lapangan di musim semi,” kata saya. “Kita berdua di sini bukan orang yang bisa saling menceramahi soal formulir.”

Sesuatu yang sangat samar bergerak di wajahnya. Mungkin itu tawa. Sulit dipastikan.

“Anda tahu soal itu.”

“Semua orang di angkatan saya tahu soal itu. Kami cuma tidak tahu itu kamu.” Saya melipat tangan. “Sekarang: berapa lama waktu Amane.”


Ia tidak menjawab selama waktu yang lama sekali.

“Saya tidak bisa mengatakannya.”

“Kuromiya—”

“Hukum klan,” katanya. “Saya melanggarnya sekali seumur hidup dan orangnya meninggal satu jam lima puluh menit kemudian.”

“Kalau begitu jangan katakan angkanya.” Saya mencondongkan badan. “Katakan saja: kurang dari setahun?”

Hening.

“Kurang dari enam bulan?”

Hening.

“Kurang dari tiga?”

Ia tidak menjawab. Ia tidak berkedip. Ia duduk sangat tegak dan menatap satu titik di meja di antara kami.

Dan saya melihat tangannya — bersarung tangan, di atas meja, di dua sisi kertas yang sedang ia salin — mengetuk permukaan meja tiga kali.

Saya sudah sembilan bulan memperhatikan orang ini.

Saya tahu apa artinya tiga ketukan.

Saya duduk kembali di kursi saya dan tidak mengatakan apa-apa selama beberapa saat karena tenggorokan saya tidak bekerja.


“Kamu mendaftar jadi jangkar untuk menghentikannya,” kata saya akhirnya.

“Saya mendaftar karena tidak ada orang lain.”

“Kuromiya. Saya sudah menyusun daftar selama sembilan bulan dan saya jauh lebih pintar daripada yang orang kira.” Saya menatapnya. “Kalau Retakan ditutup cepat, tidak ada korban massal. Kalau tidak ada korban massal, dia tidak akan membuat kubah itu lagi. Itu perhitungannya, kan?”

Ia tidak menjawab, yang merupakan jawaban.

“Berapa harga kubah yang kedua?”

“Lebih besar dari yang dia punya.”

“Jadi kamu membeli waktunya dengan nyawamu.”

“Saya memperpanjangnya,” katanya. “Bukan membelinya. Tidak ada yang dibeli. Dia tetap—”

Ia berhenti.

Dan itu, akhirnya, adalah retakan pertama yang saya lihat di orang itu selama sembilan bulan: ia berhenti di tengah kalimat, dan menutup matanya, dan menarik napas satu kali.

“Dia tetap tidak akan sampai musim panas,” katanya.


Saya duduk di ruang arsip yang dingin itu dengan satu lilin di antara kami dan saya memikirkan sesuatu yang memalukan, dan saya akan menuliskannya karena daftar harus jujur:

Bagian pertama yang saya rasakan bukan sedih.

Bagian pertama yang saya rasakan adalah lega, selama mungkin dua detik penuh, karena selama sembilan bulan saya sudah kalah dari perempuan ini dan tidak pernah tahu kenapa, dan sekarang saya tahu bahwa ia tidak menang.

Dua detik.

Lalu saya jijik pada diri saya sendiri selama sisa malam itu, dan sebagian besar malam-malam setelahnya.

Manusia begitu. Saya tidak akan berpura-pura tidak.


“Hoshizaki-san,” katanya. “Saya minta satu hal.”

“Apa.”

“Jangan beritahu dia.”

“Kuromiya.”

“Dua puluh tiga hari,” katanya. “Itu yang tersisa sebelum berangkat dan sampai di sana. Dua puluh tiga hari di mana dia bisa bangun pagi tanpa mengetahui apa-apa, dan minum teh, dan mengomeli orang soal jam tidur.”

“Dan setelah dua puluh tiga hari dia akan bangun dan kamu tidak ada.”

“Iya.”

“Dan dia akan tahu bahwa semua orang di sekelilingnya sudah tahu.”

“Iya.”

“Kamu tahu itu kejam?”

“Saya tahu,” katanya. “Saya sudah memikirkannya selama dua hari. Saya tidak menemukan versi yang tidak kejam. Yang saya temukan cuma versi yang lebih pendek dan versi yang lebih panjang, dan saya memilih yang lebih panjang untuknya.”


Saya berdiri.

Saya berjalan ke pintu, dan saya berhenti di sana, dan saya berbalik, karena ada satu hal yang harus saya katakan dan saya tidak akan bisa mengatakannya kalau saya melihat wajahnya lebih lama dari yang perlu.

“Kuromiya.”

“Ya.”

“Saya sudah kenal dia sembilan bulan lebih pendek darimu dan saya tetap tahu satu hal yang jelas kamu tidak pikirkan.”

Ia menoleh.

“Kalau kamu mati di lembah utara,” kata saya, “dia akan melakukan sesuatu yang bodoh.”

Lilinnya bergoyang.

“Dia laki-laki yang menolak masuk daftar personel selama dua tahun supaya tidak ada yang punya wewenang menyuruhnya berhenti,” kata saya. “Kamu pikir dia akan berdiri di lembah itu dan menerima?”

Kuromiya Yuina tidak menjawab.

Ia tidak menjawab, dan ia tidak membantah, dan ia tidak berkata “dia tidak akan”, dan ia tidak berkata “tidak ada yang bisa dilakukannya”.

Ia cuma menatap satu titik di meja.

Dan saya berdiri di pintu ruang arsip Menara Selatan jam sepuluh malam dan menyadari, dengan jelas sekali, bahwa perempuan ini juga sudah memikirkannya — sudah, berhari-hari, mungkin berminggu-minggu — dan sudah sampai ke kesimpulan yang sama dengan saya, dan tetap menulis namanya di formulir itu.

Karena ia tidak punya pilihan lain.

Karena semua pilihan yang ia punya berakhir dengan laki-laki itu berlutut di batu, dan ia cuma memilih versi yang paling lambat.

“Baik,” kata saya.

“Anda tidak akan memberitahunya?”

“Tidak.” Saya membuka pintu. “Tapi saya ikut ke lembah utara.”

“Anda tidak ada di daftar.”

“Kuromiya,” kata saya, “kamu bukan satu-satunya orang di akademi ini yang bisa menulis namanya sendiri di formulir sebelum ada yang sempat bilang tidak boleh.”


Bersambung ke Bab 26 — “Pelukan yang Terlalu Lama”