← Pacarku Pakai Hoodie

Chapter Nine

Nomor 001

POV: Ayasha


“Aku nggak butuh kemeja baru.”

“Kamu butuh.”

“Aku punya kemeja.”

“Kancing ketiganya lepas, Esa.”

“Kancing ketiga nggak penting. Yang penting kancing atas sama bawah.”

Aku berhenti berjalan di tengah lorong lantai dua Pasar Baru, di antara deretan toko kain dan penjual seragam sekolah, dan menatap laki-laki di sebelahku. Hoodie abu-abu yang lebih belel. Rambut yang dikuncir asal-asalan karena katanya gerah. Tangan di saku. Wajah orang yang diseret ke dokter gigi.

“Kancing ketiga,” kataku pelan, “itu yang posisinya pas di dada.”

“Terus?”

“Terus kalau kancing itu lepas, pas kamu duduk atau nunduk, kemejamu kebuka. Semua orang di nikahan Wulan bakal bisa ngintip dada kamu.”

Esa diam. Dia menunduk, menatap dadanya sendiri di balik hoodie, seolah baru pertama kali menyadari dia punya dada.

“Dan aku,” lanjutku, sambil melangkah lebih dekat, sampai ujung sepatuku menyentuh ujung sepatunya, “nggak mau orang lain ngintip dada pacarku.”

“Pacar kontrak.”

“Kontraknya bilang aku boleh cemburu.”

“Nggak ada pasal itu.”

“Ada. Pasal tujuh. Tulisannya kecil, di bawah.”

Dia menatapku dengan alis terangkat. Aku menatapnya balik dengan wajah paling serius yang bisa kubuat. Dia kalah duluan: sudut bibirnya naik setengah senti, lalu dia menghela napas dan membiarkan dirinya kuseret masuk ke toko kemeja.


Hari Sabtu, Bubur mogok.

Esa bilang aki-nya soak. Aku curiga Bubur cuma lelah membonceng dua orang yang sama-sama keras kepala. Jadi kami naik KRL dari Tebet ke Juanda, lalu jalan kaki ke Pasar Baru, karena aku yang memaksa. Satu minggu lagi nikahan Wulan dan Fajar, dan setelah dua kali menanyakan Esa mau pakai apa (“hoodie” dan “hoodie yang bersih”), aku memutuskan untuk turun tangan.

Toko kemeja yang kupilih kecil, sempit, dengan rak-rak penuh kemeja batik dan kemeja polos yang digantung sampai langit-langit. Penjaganya ibu-ibu berkacamata tebal yang langsung tersenyum begitu melihatku, lalu tersenyum lebih lebar begitu melihat Esa, karena dia langsung tahu siapa yang akan membayar dan siapa yang akan menderita.

“Buat kondangan, Mbak?”

“Iya, Bu. Buat dia.” Aku menunjuk Esa. “Ukurannya L. Bahunya lebar, pinggangnya kecil. Warnanya... biru tua. Atau hitam.”

“Kok kamu tau ukuranku?” tanya Esa.

“Aku udah meluk kamu dari belakang di motor. Dua kali.” Aku mengambil kemeja biru tua dari rak dan menempelkannya ke dadanya. “Tanganku hafal.”

Ibu penjaga toko tertawa kecil di balik kacamatanya dan pura-pura sibuk melipat kain.

Esa menatap kemeja di dadanya. Lalu menatapku. Telinganya mulai memerah, dari bawah, pelan-pelan.

“Coba,” kataku, mendorongnya ke bilik ganti yang cuma ditutup tirai kain bermotif bunga.


Dia keluar lima menit kemudian.

Aku sedang memilih dasi yang tidak akan dia pakai waktu tirai tersibak, dan aku menoleh, dan aku lupa sedang memegang dasi.

Kemeja biru tua itu pas sekali. Bahunya mengisi garis jahitan dengan sempurna. Kainnya jatuh lurus sampai pinggang yang ternyata memang kecil, seperti dugaanku. Lengannya digulung asal sampai siku, memperlihatkan lengan bawah yang lebih berotot dari yang kubayangkan untuk ukuran orang yang kerjanya mengetik. Dia belum memasukkan kemejanya ke celana training, dan rambutnya masih dikuncir asal, dan dia berdiri di depan cermin dengan wajah tidak nyaman seperti kucing yang dipakaikan baju.

Dia tampan sekali.

Bukan tampan yang sopan. Tampan yang membuat ibu-ibu penjaga toko berhenti melipat kain.

“Kayak satpam,” kata Esa ke cermin.

“Nggak.”

“Kayak sales asuransi.”

“Nggak, Esa.”

“Kayak—”

Aku sudah berdiri di depannya sebelum dia sempat menyelesaikan kalimat. Tanganku terangkat ke kerahnya. Dia mengancingkan semuanya sampai ke atas, sampai ke leher, seperti anak SD di hari upacara.

“Kamu nggak bisa napas kayak gini,” kataku, membuka kancing paling atas.

Jariku menyentuh kulit lehernya. Hangat. Jakunnya bergerak waktu dia menelan.

Aku membuka kancing kedua.

“Sha.”

“Diem. Aku lagi kerja.”

Kerahnya sekarang terbuka, memperlihatkan pangkal leher dan sedikit tulang selangka. Aku merapikan kerah itu dengan kedua tangan, pelan, lebih lama dari yang perlu. Dia berdiri sangat diam. Napasnya pendek. Aku bisa merasakannya di keningku, karena wajahnya dekat, karena aku sengaja berdiri dekat.

Jariku turun ke kancing ketiga.

Lalu berhenti.

“Hm,” kataku. “Mending yang ketiga dikancingin.”

“Kenapa?”

Aku mendongak. Menatapnya dari jarak sejengkal.

“Karena kalau kubuka satu lagi,” bisikku, “aku yang nggak bisa fokus seharian.”

Esa tidak bergerak. Tidak bernapas. Matanya turun ke bibirku, cepat, lalu naik lagi, seolah tertangkap basah oleh dirinya sendiri.

“Ngapain liatin bibir aku lagi?” tanyaku, sangat pelan.

“Aku nggak—”

“Mau kuajarin cara bohong yang bener?”

Di belakang kami, ibu penjaga toko menjatuhkan setumpuk kain.

Esa melangkah mundur, terlalu cepat, dan punggungnya menabrak cermin. Cermin itu bergoyang. Ibu penjaga toko menjerit kecil. Aku tertawa sampai harus berpegangan pada rak kemeja batik.


Masalahnya baru muncul di kasir.

“Seratus delapan puluh lima ribu, Mbak,” kata ibu penjaga toko, setelah membungkus kemeja biru tua itu dengan plastik bening dan menambahkan bonus satu kaus kaki hitam karena katanya, “Masnya ganteng, kasihan kalau kaus kakinya bolong.”

Aku mengeluarkan dompet.

Tangan Esa menahan pergelangan tanganku.

Aku menoleh. Wajahnya berubah. Bukan malu. Bukan grogi. Sesuatu yang lebih keras, lebih dalam, yang tidak kukenali.

“Jangan,” katanya.

“Kenapa?”

“Aku bayar sendiri.”

“Ini hadiah.”

“Aku nggak butuh hadiah.”

“Esa, ini cuma seratus delapan puluh lima ribu.”

“Justru itu.” Dia melepaskan tanganku, mengeluarkan dompet lusuh dari saku celana training, lalu menghitung lembaran lima puluh ribuan dengan hati-hati. “Kalau cuma seratus delapan puluh lima ribu, aku bisa bayar sendiri.”

Dia membayar. Ibu penjaga toko menerima uangnya dengan wajah bingung, menatap kami bergantian.

Aku tidak berkata apa-apa sampai kami keluar dari toko, berjalan di lorong Pasar Baru yang ramai dan berbau kain baru.

“Kenapa?” tanyaku akhirnya.

“Kenapa apanya?”

“Kenapa nggak boleh aku beliin?”

Esa diam lama. Dia menatap ke depan, ke kerumunan orang, ke deretan toko yang lampunya mulai dinyalakan karena sore sudah turun.

“Aku nggak biasa,” katanya akhirnya. “Dikasih.”

Tiga kata. Diucapkan datar, seperti fakta cuaca.

Tapi aku mendengar sesuatu di baliknya. Sesuatu yang retak, sudah lama sekali, dan tidak pernah disambung.

Dan aku mengerti, untuk pertama kalinya, kenapa dia tidak pernah membalas satu pun surat terima kasih yang kukirim lewat Bu Ratna selama tujuh tahun.


Pulangnya kami naik KRL lagi, dari Juanda ke Tebet.

Gerbongnya padat. Sabtu sore, orang-orang pulang dari kantor setengah hari, dari pasar, dari mal. Kami dapat dua kursi di ujung, berdempetan. Lengan kami bersentuhan dari bahu sampai siku. Esa memangku kantong plastik berisi kemeja biru tua dan kaus kaki bonus.

Aku menyandarkan kepala ke bahunya.

Dia menegang.

“Ngantuk,” kataku, sebelum dia sempat bertanya. “Capek nyeret kamu keliling pasar.”

Dia tidak menjawab. Tapi setelah beberapa detik, aku merasakan bahunya melunak. Turun sedikit. Supaya kepalaku lebih nyaman.

Aku memejamkan mata.

Aku tidak benar-benar ngantuk. Aku cuma ingin menyandarkan kepala di bahu ini. Bahu yang sama yang dulu, bertahun-tahun lalu, menggendongku di punggung waktu aku demam tinggi dan Bu Ratna sedang ke Jakarta, dan dia, umur empat belas, berjalan kaki dua kilometer ke puskesmas sambil memegangi kakiku supaya aku tidak jatuh.

Dia tidak ingat.

Aku ingat.


Aku masuk Panti Rumah Pulang waktu umur enam tahun.

Ibuku meninggal karena demam berdarah yang terlambat dibawa ke rumah sakit. Ayahku tidak pernah ada. Tetangga yang mengantarku ke panti, dengan satu tas plastik berisi tiga baju dan satu boneka kelinci yang telinganya sudah putus sebelah.

Hari pertama di panti, aku tidak mau makan. Aku duduk di ujung meja makan panjang dengan boneka kelinci di pangkuan, menatap piring kosong, dan menangis tanpa suara. Anak-anak lain makan dengan cepat. Sangat cepat. Lauk di tengah meja habis dalam tiga menit. Waktu aku akhirnya mau makan, yang tersisa cuma nasi dan kuah sayur bening.

Lalu sebuah piring kecil didorong ke depanku.

Isinya separuh tempe goreng dan separuh telur dadar.

Aku mendongak. Seorang anak laki-laki, lebih tua, mungkin sepuluh tahun, duduk dua kursi dari situ. Rambutnya berantakan, kaosnya kebesaran, dan dia sedang makan nasi dengan kuah saja, karena separuh lauknya ada di piring kecil di depanku.

Dia tidak berkata apa-apa. Dia bahkan tidak menatapku. Dia hanya terus makan.

Besoknya, piring kecil itu ada lagi.

Lusanya juga.

Selama delapan tahun, setiap kali aku kalah cepat di meja makan (dan aku hampir selalu kalah cepat, karena aku kecil dan lambat dan selalu melamun), piring kecil itu ada. Kadang isinya separuh tempe. Kadang separuh perkedel. Kadang separuh telur. Waktu dia sudah SMA dan berangkat paling pagi, dia meninggalkan piring kecil itu di meja sebelum subuh, dengan catatan sobekan kertas yang ditempel di pintu kulkas:

Telur jangan diambil semua. Sisain buat yang kecil. — E

Semua anak di panti memanggilnya Kak Esa.

Aku juga.

Dia tidak pernah tahu nama lengkapku. Bagi dia, aku cuma salah satu “yang kecil”. Salah satu dari puluhan anak yang kalah cepat. Dia tidak pernah menyisihkan piring kecil itu khusus untukku.

Tapi aku selalu menganggapnya begitu.

Waktu aku umur empat belas, dia lulus SMA dan keluar dari panti. Hari terakhirnya, aku bersembunyi di kamar mandi dan menangis dua jam. Waktu aku keluar, dia sudah pergi. Di meja makan ada piring kecil. Separuh telur. Dan di pintu kulkas, catatan terakhir:

Jaga yang kecil-kecil. — E


Empat tahun kemudian, aku lulus SMA dengan nilai tertinggi di panti. Aku diterima di jurusan Ilmu Komunikasi universitas negeri. Dan aku tidak punya uang sepeser pun untuk membayar uang pangkal.

Bu Ratna memanggilku ke kantornya. Matanya basah.

“Ada donatur,” katanya. “Baru. Mau membiayai kuliah satu anak. Sampai lulus. Semuanya. Uang pangkal, uang semester, buku, kos, makan.”

“Siapa, Bu?”

“Rahasia, Nak. Donaturnya minta dirahasiakan.”

Aku menjadi penerima pertama Beasiswa Rumah Pulang. Nomor 001. Uangnya masuk tanggal satu Juli. Setiap bulan setelahnya, tanpa terlambat sehari pun, selama empat tahun kuliahku.

Setiap tahun, aku menulis surat terima kasih untuk donatur misterius itu dan menitipkannya ke Bu Ratna.

Tidak pernah ada balasan.

Setahun lalu, waktu aku naik jabatan jadi Brand Manager, aku pulang ke panti membawa dua kotak martabak untuk anak-anak. Bu Ratna memelukku lama sekali di dapur.

“Mas Esa pasti bangga,” katanya, sambil menepuk punggungku.

Lalu dia membeku.

Aku melepaskan pelukan dan menatapnya. Wajah Bu Ratna pucat. Tangannya menutup mulut.

“Bu?”

“Ibu salah ngomong.”

“Kak Esa?”

“Bukan. Ibu salah sebut nama. Maksud Ibu...”

“Bu Ratna.”

Bu Ratna menatapku lama. Lalu dia menghela napas, menarik kursi, dan duduk dengan berat.

“Jangan bilang Ibu yang kasih tahu,” katanya pelan. “Dia bisa marah besar. Dia nggak pernah mau kamu tahu. Nggak mau ada yang tahu.”

Malam itu aku tidak tidur. Aku membaca ulang semua surat terima kasih yang pernah kutulis. Tujuh surat. Aku menulisnya untuk orang asing. Ternyata orang itu adalah anak laki-laki berambut berantakan yang selalu menyisihkan separuh lauknya.

Dia masih menyisihkan separuh lauknya untukku.

Selama tujuh tahun. Dari jauh. Tanpa nama.


KRL berhenti di Stasiun Cawang. Pintu terbuka, orang-orang turun, orang-orang naik.

Aku masih bersandar di bahunya. Mataku masih terpejam. Aku merasakan dia bergerak sedikit, sangat pelan, seperti orang yang takut membangunkan.

Lalu aku merasakan tangannya merapikan rambutku yang jatuh menutupi pipi. Menyelipkannya ke balik telinga. Ujung jarinya menyentuh pelipisku, hanya sebentar, ringan sekali, seperti orang menyentuh sesuatu yang mudah pecah.

Aku tidak bergerak. Aku tidak membuka mata. Aku pura-pura tidur dengan seluruh kemampuan yang kupunya.

Tapi jantungku tidak bisa pura-pura.

Rencanaku waktu itu sederhana. Menemuinya di reuni. Mengucapkan terima kasih. Menyerahkan kotak kue. Pergi.

Tapi waktu aku melihatnya di balik kaca Warung Dodoy, duduk tenang dengan tangan Bram di bahunya, aku sadar aku tidak bisa cuma berterima kasih lalu pergi. Dan waktu dia menyodorkan piring kecil berisi separuh rendang padaku, tanpa tahu siapa aku, dengan wajah bingung yang sama persis seperti dua puluh tahun lalu, aku sadar sesuatu yang lebih menakutkan.

Kalau dia tahu aku siapa, dia akan pergi.

Aku melihatnya hari ini, di kasir toko kemeja. Aku nggak biasa dikasih. Laki-laki ini tidak pernah membalas surat terima kasih. Tidak pernah mau namanya diketahui. Tidak pernah mau ada yang merasa berutang padanya. Kalau dia tahu perempuan yang memeluknya di atas Bubur adalah Nomor 001, perempuan yang seluruh hidupnya dia biayai diam-diam, dia akan menganggap semua ini balas budi. Dia akan mundur. Dia akan menghilang lagi, seperti waktu umur delapan belas, meninggalkan piring kecil dan catatan di pintu kulkas.

Jadi aku memutuskan, malam di trotoar Tebet itu, untuk pura-pura tidak tahu.

Sebentar lagi. Sampai dia tidak bisa pergi.

KRL melaju dari Cawang. Gerbong berguncang pelan. Bahunya hangat.

Di suatu titik antara Cawang dan Tebet, aku berhenti pura-pura tidur.

Dan benar-benar tertidur.

Aku terbangun karena Esa mengguncang bahuku pelan.

“Sha. Tebet.”

Aku membuka mata. Ada sedikit basah di sudut bibirku. Ada noda kecil di bahu hoodie-nya.

Aku menatap noda itu. Dia menatap noda itu.

“...Itu bukan iler,” kataku.

“Iya.”

“Itu keringat.”

“Iya, Sha.”

“Keringat bibir.”

Esa menatapku dengan wajah datar sempurna, lalu berdiri, mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri, dan berkata dengan sangat tenang:

“Nggak apa-apa. Aku nggak pernah dapet iler dari cewek secantik kamu.”

Aku memukul lengannya. Keras. Dia tertawa. Tawa yang lepas dan rendah, yang belum pernah kudengar sebelumnya, yang membuat dua ibu-ibu di kursi seberang menoleh dan tersenyum.

Kami turun di Tebet dengan tangan masih bergandengan, karena dia lupa melepas tanganku setelah membantuku berdiri.

Dan aku tidak mengingatkannya.