← Pacarku Pakai Hoodie

Chapter Sixteen

Bram Ngajak Bisnis

POV: Esa


Pesan pertama masuk jam enam lewat empat menit pagi, hari Senin.

Pacar (Kontrak): Bibirku masih kerasa kamu.

Aku membacanya sambil setengah tidur. Lalu membacanya lagi sambil terbangun sepenuhnya.

Pacar (Kontrak): Dua hari. Masih kerasa.

Pacar (Kontrak): Gimana caranya aku rapat jam 9 kalau gini?

Aku duduk di kasur. Peta Kalimantan di langit-langit menatapku dengan prihatin. Kipas angin batuk.

Dua hari sejak tenda pecel lele Cak Man. Dua hari sejak aku mencium seseorang untuk pertama kalinya dalam hidupku. Aku tidak memberi tahu siapa pun soal itu. Bukan soal ciumannya, soal pertama kalinya. Dua puluh sembilan tahun. Dodoy pasti akan membuat spanduk.

Aku mengetik. Menghapus. Mengetik lagi. Lalu, untuk pertama kalinya, aku tidak menghapus.

Aku: Sama.

Centang dua. Langsung biru. Dia sudah menunggu.

Pacar (Kontrak): Sama gimana?

Aku: Masih kerasa juga.

Tiga titik muncul. Lama. Hilang. Muncul lagi. Lama sekali.

Pacar (Kontrak): Esa.

Pacar (Kontrak): Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu jam enam pagi.

Pacar (Kontrak): Aku belum mandi. Sekarang harus mandi air dingin.

Aku meletakkan ponsel tengkurap di kasur, menutup wajahku dengan bantal, dan tertawa ke dalam bantal itu sampai Bu Darsih menggedor dinding dan berteriak bahwa ini masih subuh dan orang waras masih tidur.


Dodoy tidak tidur.

Waktu aku datang ke Warung Dodoy jam sebelas siang untuk makan, dia sedang duduk di meja kasir dengan wajah orang yang baru melihat surga dan tidak yakin boleh masuk.

“Sa.”

“Doy.”

“Gue ke sekolahnya Gendis kemarin.”

Aku duduk di bangku depan etalase. Ipul langsung membawakan nasi, sayur asem, dan ayam goreng tanpa diminta.

“Nganter puding?”

“Tiga puluh puding sambal.” Dodoy menatap kejauhan. “Gue bawa pakai kotak pendingin. Gue pake kemeja. Kemeja yang lo jadiin sarung bantal, gue beli lagi yang sama.”

“Kamu pake kemeja buat nganter puding?”

“Sekolah internasional, Sa! Satpamnya pake jas!” Dodoy menggebrak meja kasir. Lalu langsung mengelusnya, menyesal. “Terus gue masuk. Gendis lagi ngajar. Kelas tiga SD. Anak-anak bule sama anak-anak orang kaya. Dia ngajar bahasa Inggris. Dia...” Dodoy berhenti. Menelan ludah. “Dia nyanyi, Sa. Lagu tentang huruf. Pakai gerakan tangan. Anak-anaknya ikut. Terus dia liat gue di pintu, terus dia senyum, terus dia bilang ke anak-anaknya, ‘Class, this is Mister Dodoy. He makes the best pudding in Jakarta.’ Terus dua puluh anak teriak, ‘HELLO MISTER DODOY!’”

Dodoy menutup wajahnya dengan dua tangan.

“Mister Dodoy, Sa,” katanya dari balik tangan. “Gue dipanggil Mister.”

“Selamat.”

“Terus dia ngajak gue nonton pentas akhir semester sekolahnya. Bulan depan. Dia yang nyutradarain.”

Aku berhenti mengunyah. “Dia ngajak kamu?”

“Dia ngajak gue.” Dodoy menurunkan tangan dari wajahnya. Matanya berkaca-kaca. “Gue harus pake apa, Sa? Kemeja lagi? Batik? Jas? Gue nggak punya jas. Gue cuma punya celemek.”

“Pake kemeja.”

“Kemeja yang mana?”

“Yang bukan sarung bantal.”

Dodoy mengangguk serius, seperti aku baru memberinya nasihat paling bijak di dunia.

Lalu pintu warung terbuka, bel berdenting, dan Bram masuk.


Dia memakai kemeja biru muda slim fit yang sama dengan malam reuni, jam tangan emas yang sama, dan rambut berpomade yang sama. Tapi wajahnya tidak sama. Ada lingkaran gelap di bawah matanya. Bibirnya kering. Dan senyumnya, waktu dia melihatku, terlihat seperti senyum yang ditempel dengan selotip.

“Sa!” Dia melambai terlalu bersemangat. “Gue cari lo di mana-mana! Untung Wulan bilang lo sering di sini.”

Dodoy berdiri dari kursi kasir. Pelan. Seperti beruang yang terbangun dari tidur musim dingin.

“Doy,” kataku. “Nggak apa-apa.”

Dodoy menatapku. Lalu menatap Bram. Lalu duduk lagi, tapi tidak melepaskan pandangannya dari Bram. Tangannya meraih spatula di meja kasir dan memegangnya seperti tongkat polisi.

Bram duduk di bangku sebelahku tanpa permisi. Dia memesan es teh dan nasi ayam goreng ke Ipul. Lalu dia mengeluarkan ponsel, membuka galeri foto, dan menyodorkannya ke depan wajahku.

Foto seorang laki-laki botak berjas putih berdiri di depan mobil sport merah, dengan latar belakang ballroom hotel dan tulisan besar di spanduk: ROYAL PRIMA WEALTH — YOUR FREEDOM STARTS TODAY.

“Ini,” kata Bram, “Pak Haryono. Diamond Director. Tiga tahun lalu dia cuma karyawan biasa. Sekarang penghasilannya dua ratus juta sebulan. Pasif.”

“Pasif,” ulangku.

“Pasif, Sa. Tidur aja duit masuk.” Bram menggeser layar. Foto lain. Pak Haryono di depan rumah besar. Pak Haryono di kapal pesiar. Pak Haryono memegang cek raksasa. “Sistemnya gampang. Lo beli paket starter, lo ajak dua orang, dua orang itu ajak dua orang lagi, dan seterusnya. Lo dapet komisi dari semua yang di bawah lo.”

“Kayak piramida.”

“Bukan piramida!” Bram mengangkat telunjuk. “Ini network. Ini sistem. Ini legal. Ada izinnya.”

“Izin apa?”

“Izin... usaha.” Bram menggeser layar lagi dengan cepat. “Pokoknya, Sa, gue ngajak lo karena gue peduli. Lo masih nganggur. Lo butuh penghasilan. Paket starter-nya cuma lima juta. Lo bisa cicil.”

Dodoy mengeluarkan suara seperti panci presto yang mau meledak.

Aku menatap foto Pak Haryono di kapal pesiar. Lalu menatap Bram. Matanya bergerak terlalu cepat, tidak pernah berhenti di satu titik. Jarinya mengetuk-ngetuk meja. Kakinya bergoyang di bawah meja.

Aku mengenali gerakan itu. Bukan dari Bram. Dari diriku sendiri, sebelas tahun lalu, waktu baru keluar panti dan tinggal di kamar kos seharga tiga ratus ribu, dengan saldo rekening dua puluh tiga ribu rupiah dan uang kos yang jatuh tempo tiga hari lagi.

Itu gerakan orang yang ketakutan.

“Bram,” kataku. “Kamu ikut ini dari kapan?”

“Dua bulan.”

“Udah dapet berapa?”

Bram berhenti mengetuk meja. “Gue... masih di tahap investasi.”

“Kamu udah keluar berapa?”

“Itu nggak penting.”

Ponsel Bram berbunyi. Nomor tanpa nama. Bram melihat layarnya, menolak panggilannya, lalu meletakkan ponsel tengkurap di meja.

Tiga detik kemudian, ponselnya berbunyi lagi. Nomor yang sama.

Bram menolak lagi.

Ponselnya berbunyi lagi. Kali ini bukan telepon. Pesan. Layar ponsel tengkurap tapi notifikasinya berbunyi dua kali, dan Bram mengangkatnya terlalu lambat, sehingga aku sempat membaca baris pertama di layar kunci:

Bapak Bram Wicaksono, angsuran kendaraan Bapak telah melewati jatuh tempo 87 hari. Mohon segera...

Bram membalik ponselnya dengan cepat. Wajahnya memerah.

“Spam,” katanya.

“Iya,” kataku.


Nasi ayam goreng Bram datang. Dia tidak menyentuhnya. Dia terus bicara. Tentang Royal Prima Wealth, tentang Pak Haryono, tentang kebebasan finansial dan kapal pesiar. Tapi semakin lama dia bicara, semakin banyak retakan yang muncul di balik kata-katanya.

“Kantor lagi gila, Sa,” katanya, tiba-tiba melenceng dari topik. “Target Q4 naik empat puluh persen. Empat puluh. Karena mau Seri C. Investor mau liat angka bagus. Gue ditekan dari atas, ditekan dari bawah. Tim gue lima orang, dua udah resign bulan ini.”

Aku diam.

“Terus ada rumor,” lanjut Bram, suaranya turun. “Katanya founder mau evaluasi. Langsung. Founder yang misterius itu. Nggak ada yang pernah liat mukanya. Katanya kalau target sales nggak kecapai, founder bakal turun tangan. Bersih-bersih.” Bram menelan ludah. “Gue Sales Manager. Kalau ada yang dibersihin duluan, ya gue.”

Sendokku berhenti di udara.

Aku tidak pernah meminta evaluasi. Aku tidak pernah bilang akan “turun tangan”. Aku bahkan tidak tahu target Q4 dinaikkan empat puluh persen. Hendra yang mengurus angka. Hendra yang bicara dengan investor. Aku cuma menandatangani deck dan menjelaskan arsitektur sistem.

Tapi seseorang di kantor itu menggunakan founder sebagai hantu untuk menakut-nakuti orang.

Menggunakan aku.

“Makanya gue ikut ini,” kata Bram, mengetuk ponselnya yang berisi foto Pak Haryono. “Buat cadangan. Kalau gue dipecat, gue masih punya penghasilan.”

“Kamu udah keluar berapa buat ini, Bram?”

Dia diam lama. Lalu menjawab dengan suara kecil:

“Tiga puluh lima juta.”

Dodoy menjatuhkan spatula.

“Pinjol?” tanyaku.

Bram tidak menjawab. Dia tidak perlu menjawab.

“Lo enak, Sa,” katanya tiba-tiba. Nadanya berubah, jadi pahit. “Serius. Lo enak. Lo nggak punya apa-apa. Lo nggak takut kehilangan apa-apa. Nggak ada cicilan mobil. Nggak ada target. Nggak ada orang tua yang nanya kapan beli rumah. Lo bisa tidur jam berapa aja, bangun jam berapa aja, pake hoodie yang sama tiap hari, dan nggak ada yang peduli.” Dia tertawa. Tawa yang tidak lucu. “Gue iri, tau nggak. Gue iri sama pengangguran.”

Aku menatap Bram.

Dua belas tahun lalu, dia menyembunyikan sepatuku di loker toilet tiga kali. Tiga minggu lalu, dia menawariku jadi OB di depan tiga puluh orang. Aku tidak pernah membencinya. Aku tidak cukup peduli untuk membencinya.

Sekarang aku melihatnya, dan aku tidak bisa membencinya bahkan kalau aku mau. Karena yang duduk di sebelahku bukan Bram kapten basket. Yang duduk di sebelahku adalah laki-laki dua puluh sembilan tahun yang ketakutan, yang terjebak di antara gengsi dan cicilan, yang menjual mimpi kapal pesiar ke orang yang dia kira lebih miskin darinya, karena itu satu-satunya cara dia bisa merasa lebih tinggi dari seseorang.

“Bram,” kataku pelan.

“Apa?”

“Makan dulu. Ayamnya dingin.”

Dia menatapku. Lalu menatap nasi ayam gorengnya yang belum tersentuh. Lalu, untuk alasan yang tidak dia mengerti, dia makan.


Waktu Bram pergi ke toilet, aku berdiri dan berjalan ke meja kasir.

“Doy,” bisikku. “Makanannya Bram. Masukin ke tagihanku.”

Dodoy menatapku. “Lo mau bayarin dia?”

“Iya.”

“Lo pengangguran, Sa! Lo makan gratis di sini tujuh tahun!”

“Makanya. Tagihan yang ini aku bayar.”

Aku mengeluarkan selembar lima puluh ribu dari dompet lusuhku dan meletakkannya di meja kasir. Dodoy menatap uang itu seperti menatap hantu.

“Lo... punya duit?”

“Dikit.”

“Dari mana?”

“Ngetik.”

Dodoy masih menatap uang itu waktu Bram keluar dari toilet. Bram berjalan ke kasir, mengeluarkan dompetnya yang ternyata berisi kartu-kartu kredit dan hanya satu lembar dua puluh ribu.

“Berapa, Mas?”

“Udah dibayar,” kata Dodoy.

Bram berhenti. “Sama siapa?”

Dodoy tidak menjawab. Dia hanya melirik ke arahku.

Bram menoleh. Menatapku yang sudah kembali duduk di bangku depan etalase, menghabiskan sayur asem.

Wajahnya berubah. Merah. Lalu lebih merah. Rahangnya mengeras.

“Lo bayarin gue?” Suaranya naik. Dua orang pelanggan di meja pojok menoleh. “Lo? Bayarin gue?”

“Cuma makan siang, Bram.”

“Gue nggak butuh dikasihani!” Bram membanting dompetnya ke meja kasir. “Apalagi sama pengangguran yang pake hoodie butut! Lo pikir lo siapa? Lo pikir karena cewek cakep mau sama lo, lo jadi lebih tinggi dari gue?”

Warung jadi hening. Ipul berhenti mengelap meja. Dodoy berdiri lagi, spatula di tangan.

Aku meletakkan sendok. Menatap Bram dengan tenang.

“Bukan kasihan,” kataku. “Kamu tadi bilang iri sama aku. Ya udah. Hari ini kamu nggak usah mikirin bayar makan siang. Sama kayak aku. Coba rasain, enak nggak.”

Bram membuka mulut. Lalu menutupnya.

Dia berdiri di depan meja kasir dengan dompet terbuka berisi kartu kredit dan selembar dua puluh ribu, dan wajahnya perlahan berubah dari marah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih kecil dan lebih rapuh.

Malu.

Dia memasukkan dompetnya ke saku. Tidak berkata apa-apa. Lalu dia berjalan keluar warung tanpa menoleh. Bel di atas pintu berdenting.

Dodoy menatap pintu yang tertutup. Lalu menatapku. Lalu duduk perlahan di kursi kasir.

“Sa,” katanya. “Lo barusan ngapain?”

“Bayar makan siang.”

“Bukan. Lo barusan...” Dodoy mencari kata. “Lo barusan baik sama orang yang ngehina lo di reuni.”

“Dia lagi susah, Doy.”

“Semua orang lagi susah.”

“Iya.” Aku menghabiskan sayur asem. “Makanya.”


Dua jam kemudian, ponselku bergetar.

Bram Wicaksono: Sa.

Bram Wicaksono: Makasih.

Bram Wicaksono: Sorry tadi.

Aku membalas: Sama-sama. Jangan beli paket starter lagi.

Centang dua. Biru. Tidak ada balasan.

Lalu aku membuka email dan menulis ke Hendra.

Hendra. Siapa yang bilang ke tim Sales bahwa founder akan “evaluasi langsung” dan “bersih-bersih” kalau target Q4 tidak tercapai? Saya tidak pernah bilang begitu. Tolong luruskan komunikasinya ke semua divisi minggu ini. Jangan pakai nama saya untuk menakut-nakuti orang.

Satu lagi. Tolong cek program bantuan finansial karyawan. Kalau belum ada, buat. Konseling utang, pinjaman tanpa bunga untuk karyawan yang terjebak pinjol. Anonim. Anggarannya dari jatah dividen saya.

Balasan Hendra datang empat menit kemudian.

Pak. Itu dari kepala divisi Sales. Saya nggak tahu dia pakai nama Bapak. Saya minta maaf. Hari ini saya urus.

Soal program bantuan, siap Pak. Boleh tahu ini karena ada kasus spesifik?

Aku menatap pesan itu.

Pokoknya, aku mengetik.

Siap Pak, balas Hendra. Lalu, satu menit kemudian: Pak E itu orang baik ya Pak.

Aku tidak membalas.


Ayasha datang ke Warung Dodoy jam enam sore, langsung dari kantor.

Dia masih memakai blazer krem dan rok pensil hitam. Rambutnya diikat rapi. Dia terlihat seperti versi foto halaman empat di deck investor, profesional dan sedikit kaku, sampai dia melihatku di depan pintu dapur, dan semua kekakuan itu luruh dalam satu detik.

Dia tidak menyapa. Dia tidak tersenyum dulu. Dia berjalan lurus ke arahku, menarik tali hoodie-ku, dan menciumku.

Di ambang pintu dapur. Di depan Dodoy yang sedang menggoreng tempe. Di depan Ipul yang sedang memotong bawang.

Dodoy menjatuhkan sutil ke penggorengan. Minyak memercik. Dia menjerit kecil, lalu buru-buru menutup mata Ipul dengan tangannya yang berminyak.

“Mas! Mas! Mata saya kena minyak!”

“Jangan liat, Pul! Ini bukan tontonan anak-anak!”

“Saya dua puluh lima tahun, Mas!”

Ayasha melepaskan ciumannya. Pelan. Dia tidak mundur jauh. Keningnya bersandar di daguku.

“Hai,” bisiknya.

“Hai.”

“Aku kangen.”

“Kita ketemu Sabtu.”

“Itu dua hari lalu.” Dia mendongak. Matanya menyipit, separuh kesal, separuh menggoda. “Kamu nggak nyamperin aku. Dua hari. Aku nunggu.”

“Kamu kerja.”

“Kamu bisa jemput.”

Aku menatapnya. Aku memikirkan jawabannya. Aku memutuskan untuk jujur, karena aku sudah capek kalah setiap kali berbohong padanya.

“Aku takut,” kataku.

Ayasha berhenti tersenyum.

“Takut apa?”

“Kalau aku nyamperin kamu,” kataku pelan, cukup pelan supaya Dodoy dan Ipul tidak bisa mendengar di balik desis minyak, “aku nggak bisa pulang.”

Ayasha menatapku lama. Bibirnya terbuka sedikit. Pipinya pelan-pelan memerah.

Lalu dia melingkarkan kedua lengannya di leherku, berjinjit, dan berbisik di telingaku dengan suara yang membuat seluruh tulang punggungku tersetrum:

“Ya jangan pulang.”

Di belakang kami, tempe Dodoy gosong.

Dodoy tidak menyadarinya, karena dia sedang berlutut di lantai dapur, menutupi mata Ipul dengan kedua tangan, dan berdoa dengan suara keras supaya Allah memberinya kekuatan untuk menjalankan usaha kuliner di tengah cobaan seberat ini.