← Pacarku Pakai Hoodie

Chapter Twenty Six

Dodoy Marah

POV: Esa


Dodoy tidak menyapaku waktu aku masuk Warung Dodoy hari Selasa jam sebelas siang.

Itu pertama kalinya dalam tujuh tahun.

Biasanya dia berteriak ESAAA dari balik meja kasir begitu bel pintu berdenting. Biasanya dia sudah menyendokkan nasi ke piring sebelum aku duduk. Biasanya Ipul langsung datang membawa es teh manis tanpa diminta.

Hari itu, Dodoy berdiri di balik meja kasir dengan tangan terlipat di dada. Celemeknya kotor. Matanya merah. Dia menatapku masuk, menatapku berjalan ke meja nomor empat, menatapku duduk.

Dia tidak bergerak.

Ipul mengintip dari pintu dapur, melihat Dodoy, melihatku, lalu menghilang lagi ke dalam dapur seperti kura-kura masuk cangkang.

Aku duduk menunggu. Tidak ada yang datang.

“Doy,” kataku.

Dodoy tidak menjawab. Dia membuka laci meja kasir, mengeluarkan selembar kertas dan pulpen, lalu menulis sesuatu dengan gerakan keras. Lalu dia keluar dari balik meja kasir, berjalan ke mejaku, dan meletakkan kertas itu di depanku.

Itu daftar menu. Ditulis tangan. Dengan harga.

Nasi putih: 5.000 Rendang: 25.000 Ayam goreng: 18.000 Sayur asem: 8.000 Es teh manis: 5.000

“Mulai hari ini,” kata Dodoy, suaranya rendah dan bergetar, “lo bayar.”

Aku menatap kertas itu. Lalu menatapnya.

“Oke,” kataku.

“Oke?” Suara Dodoy naik satu oktaf. “Oke?! Lo cuma bilang oke?!”

“Kamu bilang aku bayar. Aku bayar.”

“Lo bahkan nggak nanya kenapa!”

“Kenapa?”

Dodoy menatapku. Wajahnya berubah. Merah, lalu lebih merah, lalu matanya mulai berkaca-kaca, dan aku melihat bibir bawahnya bergetar seperti anak kecil yang menahan tangis.

“Karena lo pikir lo utang sama gue,” katanya. “Kan? Selama ini. Tujuh tahun. Lo pikir semua makanan yang gue kasih itu utang.”

Aku diam.

“Jawab, Sa.”

Aku menatap meja. Aku tidak bisa berbohong. Aku sudah kalah setiap kali mencoba berbohong pada Ayasha, dan Dodoy mengenalku lebih lama dari dia.

“...Iya,” kataku.

Dodoy mundur satu langkah, seperti orang yang baru ditampar.


“Mbak Ayasha ke sini tadi pagi,” kata Dodoy.

Aku mengangkat kepala.

“Jam lima subuh,” lanjutnya. Suaranya masih bergetar, tapi lebih pelan sekarang. Dia menarik kursi plastik dari meja sebelah dan duduk di seberangku. Berat. “Gue lagi ngangkut bawang. Dia berdiri di depan pintu dapur. Pake hoodie lo. Matanya bengkak kayak abis digebukin.”

Aku tidak bergerak.

“Dia minta pinjem dapur,” kata Dodoy. “Katanya dapur apartemennya kekecilan buat masak banyak. Katanya dia mau masakin lo. Tiap hari. Nggak tau sampai kapan.” Dodoy menelan ludah. “Gue bilang boleh. Terus gue tanya kalian kenapa. Dia nggak mau cerita. Terus dia mulai motong bawang.”

“Terus?”

“Terus dia nangis.” Dodoy menatapku dengan mata yang basah. “Nggak nangis karena bawang, Sa. Gue tau bedanya nangis karena bawang sama nangis beneran. Dia motong bawang sambil nangis sesenggukan, sampai pisaunya gemeteran. Gue ambil pisaunya. Gue suruh dia duduk di karung beras. Gue kasih teh. Gue tanya lagi.”

Aku menunggu.

“Dia bilang,” Dodoy menarik napas, “dia anak panti yang sama kayak lo. Rumah Pulang. Dia bilang lo yang ngurus dia dari kecil. Nyisain lauk. Gendong ke puskesmas. Dia bilang dia tau dari awal lo siapa, tapi dia nggak bilang, karena dia takut lo pergi. Terus lo tau. Terus lo bilang...” Dodoy berhenti. “Lo bilang utangnya udah lunas.”

Aku menatap meja.

“Gue nanya, utang apa,” kata Dodoy. “Dia cuma geleng-geleng. Nggak mau bilang. Dia bilang itu rahasia lo, bukan rahasia dia. Dia bilang dia udah cukup bikin salah, nggak mau bikin salah lagi dengan ngebocorin rahasia lo.”

Aku menutup mataku.

Bahkan sekarang. Bahkan setelah aku mengusirnya dengan ojek online dan kalimat kamu bebas, dia tetap menjaga rahasiaku. Dia tidak memberi tahu Dodoy soal beasiswa. Soal uang. Soal rumah Pondok Indah.

Dia cuma bilang aku menyisakan lauk.

“Sa,” kata Dodoy.

Aku membuka mata.

“Gue nggak tau utang apa yang lo maksud. Gue nggak peduli. Tapi gue mau nanya satu hal.” Dodoy mencondongkan badannya ke depan. Siku di atas meja. Wajahnya serius sekali. Wajah yang belum pernah kulihat selama tujuh tahun. “Lo ngusir cewek yang nangis di dapur gue, karena dia ngerasa utang sama lo?”

“Aku nggak ngusir.”

“Lo pesenin dia ojek.”

“Itu...”

“Itu ngusir, Sa! Dengan sopan! Itu lebih jahat dari ngusir!”

Aku tidak bisa membantah.


Dodoy bersandar ke kursi plastik. Dia menatap langit-langit warungnya, ke lampu-lampu bohlam kuning zig-zag dari malam reuni yang masih belum dia copot.

“Lo tau kenapa gue ngasih lo makan tujuh tahun?” tanyanya.

“Karena kamu kira aku miskin.”

“Itu salah satunya.” Dodoy tersenyum kecil, pahit. “Tapi bukan itu alasan utamanya.”

Aku menunggu.

“Nyokap gue jualan nasi uduk di depan SD,” kata Dodoy. “Tiga puluh tahun. Tiap pagi jam tiga subuh dia udah masak. Gue anak bungsu dari lima bersaudara. Duit nggak pernah cukup. Tapi tiap pagi, sebelum gue berangkat sekolah, nyokap selalu nyisihin satu bungkus nasi uduk buat gue. Pake telur. Padahal telurnya itu yang paling mahal, yang harusnya dijual.”

Dodoy menatapku.

“Gue nggak pernah ngerasa utang sama nyokap gue, Sa. Nggak sekali pun. Gue nggak pernah mikir, wah, gue harus bales nasi uduk ini. Gue cuma makan. Terus gue sayang sama dia. Terus waktu gue udah bisa masak, gue masakin dia balik. Bukan karena bayar utang. Karena gue pengin.”

Dia mengetuk meja dengan jari telunjuk.

“Itu namanya keluarga, Sa.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Lo nggak punya nyokap,” lanjut Dodoy, suaranya melembut. “Gue tau. Lo nggak pernah punya orang yang nyisihin nasi uduk buat lo tanpa ngitung. Makanya lo nggak tau rasanya. Makanya lo pikir semua orang yang ngasih lo sesuatu itu nagih utang.”

“Doy...”

“Gue bukan nagih utang, Sa.” Matanya basah. “Tujuh tahun gue ngasih lo makan. Gue nggak pernah ngitung. Gue nggak pernah nunggu lo bales. Gue cuma... gue pikir lo adek gue. Adek yang nggak punya siapa-siapa. Dan gue nggak mau adek gue kelaparan.”

Air mata Dodoy jatuh. Satu. Ke celemeknya yang kotor.

“Dan selama tujuh tahun,” katanya, “lo pikir gue nagih.”

Aku menatapnya.

Laki-laki besar dengan perut maju dan celemek kotor, yang mengantarku ke puskesmas waktu tifus, yang membagi bekal nasi kotaknya di semester satu, yang menyeretku ke reuni dengan janji makan gratis dan satu kejutan.

Aku menganggapnya sebagai orang yang kuberi utang.

Aku diam-diam membayar tunggakan sewa ruko warung ini dua tahun lalu lewat “program bantuan UMKM” fiktif yang kubuat sendiri. Dodoy masih mengira dia beruntung memenangkan undian program pemerintah. Aku melakukannya supaya impas. Supaya tujuh tahun makan gratis itu lunas.

Aku tidak pernah memikirkan bahwa Dodoy tidak pernah ingin dibayar.

“Doy,” kataku. Suaraku keluar serak. “Maaf.”

Dodoy menyeka matanya dengan ujung celemek. Kasar. Meninggalkan noda kecap di pipinya.

“Jangan minta maaf ke gue,” katanya. “Minta maaf ke dia.”

Lalu dia berdiri, mengambil kertas daftar harga dari mejaku, merobeknya jadi dua, lalu jadi empat, lalu jadi delapan, dan membuangnya ke tong sampah.

“IPUL!” teriaknya ke arah dapur. “NASI SAMA RENDANG BUAT ESA! PORSI DOBEL! GRATIS! SEUMUR HIDUP!”

Ipul muncul dari dapur dengan piring yang ternyata sudah dia siapkan dari tadi. Dia meletakkannya di depanku dengan wajah lega.

Aku menatap piring itu. Nasi putih, dua potong rendang, sayur asem, dan kerupuk. Porsi dobel.

Aku mengambil sendok. Lalu, pelan, aku mengambil piring kecil dari tengah meja.

Dodoy menatapku dari balik meja kasir.

Aku memotong satu potong rendang jadi dua. Meletakkan separuhnya di piring kecil. Mendorongnya ke seberang meja. Ke kursi yang kosong.

Dodoy menutup mulutnya dengan tangan.

“Itu buat siapa?” tanyanya dari balik tangan.

“Nggak tau,” kataku. “Buat siapa aja yang dateng.”


Lalu terdengar suara mesin.

Bukan suara mesin motor. Suara mesin yang dalam, berat, dan halus, seperti singa yang mendengkur. Suara yang tidak pernah terdengar di gang sempit Tebet.

Semua orang di Warung Dodoy menoleh ke jendela.

Sebuah SUV hitam mengilap berhenti di depan warung. Pelan. Sangat pelan, karena gangnya sempit dan mobilnya lebar, dan spionnya hampir menyentuh gerobak bakso di sisi kiri. Logo kuda jingkrak di kap depannya berkilau di bawah matahari siang.

Tukang bakso berdiri membeku dengan sendok di tangan. Dua ibu-ibu yang sedang belanja di warung sayur sebelah menjatuhkan kantong plastik. Seorang anak kecil menunjuk mobil itu dan berteriak, “MAMA, MOBIL BATMAN!”

Pintu pengemudi terbuka.

Pak Ujang turun.

Dia memakai kaos oblong putih, sarung kotak-kotak, dan sandal jepit. Dia membawa rantang susun tiga. Dia berdiri di samping Porsche itu, di tengah gang Tebet, dan menatap Warung Dodoy dengan wajah orang yang tidak sadar dia baru menyebabkan kekacauan sosial.

Aku menutup wajahku dengan dua tangan.

“Sa,” bisik Dodoy, menatap ke luar jendela dengan mulut terbuka. “Itu siapa?”

“Nggak tau.”

“Dia ngeliat ke sini.”

“Mungkin salah alamat.”

Pak Ujang membuka pintu warung. Bel berdenting. Dia melihatku, dan wajahnya langsung berseri-seri.

“MAS ESA! Alhamdulillah ketemu! Saya nanya Bu Darsih tadi, katanya Mas biasanya makan di sini!”

Seluruh warung menatapku.

Pak Ujang berjalan ke mejaku dengan rantang susun tiga. Dia meletakkannya di atas meja dengan bangga. “Akinya udah saya ganti, Mas! Kemarin! Pake duit kas rumah! Nyala, Mas! Nyala! Jadi saya pikir, sekalian ngetes, saya bawa ke sini. Nganterin opor. Bu Ratna yang nyuruh.”

Dodoy berjalan pelan dari balik meja kasir. Pelan sekali. Dia berdiri di samping Pak Ujang dan menatap Porsche di luar jendela, lalu menatap Pak Ujang, lalu menatapku.

“Pak,” kata Dodoy. “Itu mobil siapa?”

Pak Ujang membuka mulut. Lalu melihat wajahku. Wajahku yang menatapnya dengan pandangan paling memohon yang bisa kubuat, persis seperti di depan gerbang Pondok Indah.

Pak Ujang mengedip dua kali.

“Klien Mas Esa,” katanya.

Dodoy menatapku. “Klien?”

“Aku tukang wifinya,” kataku.

Dodoy menatapku sangat lama.

“Lo,” katanya pelan, “tukang wifi.”

“Iya.”

“Yang punya klien.”

“Iya.”

“Yang punya Porsche.”

“Kliennya yang punya Porsche.”

“Dan sopir klien lo,” Dodoy menunjuk Pak Ujang, “nganterin opor ke lo. Pakai Porsche. Ke gang Tebet.”

“Saya bukan sopir, Mas,” kata Pak Ujang dengan sopan. “Saya satpam komplek.”

“Satpam komplek. Nyetir Porsche.”

“Satpam komplek mahal, Mas.”

Dodoy menatap Pak Ujang. Lalu menatapku. Lalu menatap Porsche di luar jendela, yang sekarang dikerubungi enam anak kecil dan satu tukang bakso yang sedang berfoto selfie.

Lalu dia menghela napas sangat panjang, berbalik, dan berjalan kembali ke meja kasir.

“Gue lagi marah sama lo,” katanya tanpa menoleh. “Gue nggak punya energi buat ini juga. Nanti. Nanti gue tanya. Sekarang gue mau marah dulu.”

“Oke, Doy.”

“JANGAN OKE-OKE!”


Pak Ujang duduk di seberangku. Di kursi tempat piring kecil berisi separuh rendang tadi kudorong. Dia melihat piring kecil itu. Lalu menatapku.

“Buat saya, Mas?”

“...Iya, Pak.”

Pak Ujang tersenyum. Dia mengambil separuh rendang itu dan memakannya pelan-pelan, seperti orang yang memakan sesuatu yang berharga.

“Mas,” katanya setelah menelan. “Bu Ratna telepon saya tadi pagi. Nangis.”

Aku menunggu.

“Katanya Mbak Ayasha telepon Bu Ratna kemarin malem. Minta maaf. Katanya dia udah bikin Mas marah. Katanya dia minta Bu Ratna jangan nyalahin diri sendiri.” Pak Ujang mengusap kumisnya. “Bu Ratna nggak bisa tidur. Katanya semua ini salah dia. Kalau dia nggak keceplosan setahun lalu, Mbak Ayasha nggak bakal tau, terus nggak bakal ada masalah.”

“Itu bukan salah Bu Ratna.”

“Saya bilang gitu, Mas. Tapi Bu Ratna kan Bu Ratna.” Pak Ujang membuka rantang susun tiganya. Opor di susun pertama. Sambal goreng ati di susun kedua. Di susun ketiga, ada telur rebus. Satu. Dipotong dua. “Bu Ratna nitip ini. Katanya Mas pasti nggak makan.”

Aku menatap telur yang sudah dipotong dua di susun ketiga rantang.

“Mas,” kata Pak Ujang pelan. “Saya mau cerita sesuatu. Boleh?”

“Boleh, Pak.”

Pak Ujang menatap ke luar jendela. Ke Porsche yang dikerubungi anak-anak. Wajahnya tiba-tiba terlihat lebih tua.

“Saya dulu punya istri,” katanya. “Dua puluh tahun lalu. Namanya Sumi. Orangnya baik. Rajin. Dia selalu pengin bantu saya. Waktu saya kerja jadi kuli bangunan, dia pengin kerja juga, jualan kue. Saya larang. Saya bilang, laki-laki yang nafkahin. Waktu saya sakit, dia pengin jual kalungnya buat berobat. Saya larang. Saya bilang, saya nggak mau ngutang sama istri sendiri.”

Dia diam sebentar.

“Lima tahun kayak gitu, Mas. Saya nggak pernah biarin dia ngasih apa-apa. Saya pikir itu namanya jadi laki-laki yang baik. Terus suatu hari dia pulang ke rumah orang tuanya di Garut. Nggak balik lagi.”

Pak Ujang menatapku.

“Dia ninggalin surat. Isinya cuma satu kalimat.” Suara Pak Ujang bergetar. “’Kang, aku capek jadi orang yang nggak dibutuhin.’”

Aku tidak bisa bernapas.

“Saya kira saya lagi ngelindungin dia, Mas,” kata Pak Ujang. “Ternyata saya lagi ngusir dia. Pelan-pelan. Dengan sopan.”

Dia mendorong rantang susun tiga itu ke depanku.

“Jangan kayak saya, Mas,” katanya. “Itu aja. Saya pulang dulu. Porsche-nya takut kena gores anak-anak.”

Dia berdiri. Menepuk bahuku sekali. Lalu keluar dari warung, mengusir anak-anak dari sekitar Porsche dengan lambaian sarung, masuk ke mobil, dan menyetir mundur pelan-pelan sepanjang gang Tebet dengan kepala keluar jendela, menyerempet gerobak bakso sedikit dan meminta maaf ke tukang baksonya dengan membeli sepuluh mangkuk.


Aku pulang ke kos jam sembilan malam.

Seharian aku duduk di Warung Dodoy. Dodoy tidak bicara padaku lagi sampai sore, tapi setiap kali piringku kosong, dia mengisinya lagi. Gendis datang jam lima membawa puding jahe gula aren dengan sambal bawang. Dia tidak bertanya apa-apa padaku. Dia hanya meletakkan satu cup puding di depanku, menepuk kepalaku seperti menepuk kepala murid kelas tiga, lalu pergi ke dapur untuk membantu Dodoy.

Aku menaiki tangga kos. Lampu teras menyala. Laron berkerumun. Bu Darsih tidak ada di teras, tapi aku melihat tirai jendela rumah induk bergerak sedikit.

Di depan pintu kamarku, di atas keset, ada kotak plastik biru.

Kotak yang sama. Kotak sop iga yang dulu kucuci dua kali pakai sabun dan kufoto di atas kasur.

Aku berjongkok. Mengambilnya. Kotak itu masih hangat.

Aku membuka tutupnya.

Nasi. Sayur sop. Perkedel. Tempe goreng. Telur balado.

Separuh.

Semuanya separuh. Separuh perkedel. Separuh tempe. Separuh telur. Bahkan nasinya hanya mengisi separuh kotak, rapi, dibentuk dengan sendok. Seolah separuh yang lain sudah dimakan di tempat lain.

Di atas tutup kotak, ada secarik kertas sobekan buku tulis. Ditempel dengan selotip.

Tulisan tangan rapi, miring ke kanan.

Separuh. Buat kamu. Separuhnya lagi aku makan di rumah. Kamu nggak harus makan. Kamu nggak harus bales. Aku cuma pengin nyisain. — A

Aku duduk di lantai teras, di depan pintu kamarku, dengan kotak biru di pangkuan.

Lama.

Laron berjatuhan di sekitarku. Kipas angin di dalam kamar terdengar batuk lewat celah pintu. Dari balik tirai jendela rumah induk, aku tahu Bu Darsih sedang mengintip.

Lalu aku mengambil sendok plastik yang terselip di samping kotak, dan aku makan.

Sampai habis.

Aku tidak menyisihkan separuh untuk siapa pun.

Karena untuk pertama kalinya, yang disisihkan adalah untukku.