← Pacarku Pakai Hoodie

Chapter Eleven

Cium Pipi Itu Bukan Bagian Kontrak

POV: Esa


Resepsi selesai jam sepuluh malam.

Kambing guling habis sebelum aku sempat ke sana. Ayasha benar, kambingnya tidak ke mana-mana, tapi tamu-tamu lain ke mana-mana, dan mereka semua ke stand kambing. Aku makan tiga puding sambal terasi sebagai gantinya. Gendis benar. Rasanya seperti rujak.

Dodoy pulang duluan dengan mobil bak sewaan, membawa sisa puding dan Ipul yang tertidur di antara kotak pendingin. Sebelum pergi, dia menarikku ke samping dan berbisik dengan wajah serius:

“Sa. Gendis itu... udah punya pacar belum?”

“Kenapa?”

“Nanya aja.”

“Doy.”

“NANYA AJA.” Dodoy berbalik dan berjalan cepat ke mobil bak. Lalu dia berhenti, menoleh, dan berkata dengan suara yang sangat kecil: “Dia makan tiga puding gue, Sa. Pakai sambal. Nggak ada cewek yang pernah makan tiga puding gue.”

Lalu dia naik ke mobil dan pergi.

Aku berdiri di lobi menatap mobil bak itu menghilang di tikungan dan merasakan sesuatu yang aneh di dada. Seperti melihat adik kecil pertama kali naik sepeda.


Parkiran motor Gedung Graha Sarana terletak di belakang gedung, di bawah pohon ketapang besar, dengan lampu jalan yang berkedip-kedip seperti mau mati. Bubur terparkir di antara dua Vespa matik yang mengilap. Aki-nya baru kuganti tadi pagi, dan dia berdiri dengan bangga di antara Vespa-Vespa itu seperti orang tua di antara anak muda.

Ayasha menemaniku jalan ke parkiran. Taksinya baru akan datang sepuluh menit lagi.

Dia sudah melepas sepatu haknya dan menjinjingnya dengan dua jari. Telapak kakinya yang telanjang berjalan di atas aspal yang masih hangat. Gaun marunnya bergoyang. Beberapa helai rambutnya sudah lepas dari sanggul, dan dia terlihat lebih santai, lebih lelah, dan entah bagaimana lebih cantik dibanding waktu pertama kali turun dari taksi tadi.

“Kakimu kotor,” kataku.

“Nggak apa-apa.”

“Ada kerikil.”

“Nanti kucuci.”

Aku berhenti, berlutut di aspal, dan membuka resleting tas pinggang kecil yang kupakai di balik kemeja. Di dalamnya ada sandal jepit lipat. Aku selalu membawanya, karena kakiku sering lecet kalau pakai sepatu terlalu lama. Kusodorkan sandal itu ke depan kakinya.

Ayasha menatap sandal jepit hijau neon itu. Lalu menatapku yang berlutut di aspal parkiran dengan kemeja biru tua dan rambut berantakan.

Dia tidak berkata apa-apa. Dia memasukkan kakinya ke sandal itu, satu per satu, dengan satu tangan bertumpu di bahuku.

Sandal itu kebesaran tiga nomor. Kakinya terlihat seperti kaki anak kecil yang meminjam sandal bapaknya.

“Jelek,” katanya.

“Tapi nggak ada kerikil.”

“Iya.” Suaranya pelan. “Nggak ada kerikil.”

Aku berdiri. Tangannya masih di bahuku. Dia tidak melepaskannya.


Kami berdiri di samping Bubur, di bawah lampu jalan yang berkedip.

“Tadi,” kata Ayasha.

“Tadi apa?”

“Hampir, ya.”

Aku pura-pura tidak mengerti. “Hampir apa?”

Dia menatapku dengan alis terangkat. Ekspresi yang sudah kukenal: ekspresi guru yang tahu muridnya tidak mengerjakan PR.

“Jangan pura-pura,” katanya. “Tadi kamu udah dua senti.”

“Tiga.”

“Dua.”

“Aku ngitung. Tiga.”

“Oh.” Senyumnya muncul. Lambat. Puas. “Kamu ngitung.”

Aku menutup mulut. Lagi-lagi kalah dalam dua langkah.

Ayasha mengangkat tangannya dari bahuku. Jarinya turun pelan ke kerah kemeja. Merapikan kerah yang sudah miring karena dansa tadi. Menyentuh kancing kedua yang terbuka. Lalu kancing ketiga, yang terkancing.

“Kancing ini,” katanya, sambil mengetuk kancing ketiga dengan ujung kuku, “dari tadi bikin aku penasaran.”

“Penasaran apa?”

“Penasaran gimana rasanya kalau aku yang buka.”

Napasku berhenti.

Dia tidak membukanya. Jarinya hanya diam di sana. Mengetuk. Satu kali. Dua kali. Seperti orang mengetuk pintu yang belum mau dia masuki.

“Nggak sekarang,” katanya, setengah kepada dirinya sendiri. “Nanti.”

“Nanti kapan?”

Ayasha mendongak. Wajahnya diterangi lampu jalan yang berkedip. Terang, gelap, terang lagi.

“Kamu yang nanya,” bisiknya, “bukan aku.”

Ponselnya berbunyi. Notifikasi taksi. Driver Anda sudah tiba di titik jemput.

Dia menatap layar sebentar. Lalu kembali menatapku.

Lalu dia berjinjit, memakai sandal jepit hijau neon yang kebesaran tiga nomor, dan menciumku.

Di pipi.

Bukan di tengah pipi. Di ujungnya. Sangat dekat dengan sudut bibir, sampai aku tidak yakin di mana pipi berakhir dan bibir dimulai. Bibirnya lembut, hangat, dan menempel lebih lama dari ciuman pipi yang sopan. Satu detik. Dua detik. Tiga.

Lalu dia mundur.

“Itu,” katanya, “buat yang tiga senti tadi.”

Aku tidak bisa bicara.

“Sisanya,” lanjutnya, berjalan mundur menjauh dariku dengan sepatu hak di satu tangan dan sandal jepitku di kakinya, “nanti.”

Lalu dia berbalik dan berjalan ke arah gerbang parkiran, tempat sebuah Avanza putih menunggu dengan lampu hazard menyala. Dia tidak menoleh. Sekali pun tidak. Rambutnya berayun. Sandal jepitku berbunyi plak plak plak di aspal.

Pintu taksi tertutup. Taksi melaju.

Aku berdiri di samping Bubur.


Sepuluh menit kemudian, tukang parkir mengetuk jok Bubur dengan peluit.

“Mas.”

Aku menoleh. Aku ternyata sudah duduk di atas Bubur. Aku tidak ingat kapan aku naik. Helm sudah di kepala, tapi talinya belum dikaitkan. Kunci sudah di lubang kontak, tapi mesin belum dinyalakan.

“Mas, mau keluar nggak? Parkiran mau ditutup.”

“Iya, Pak.”

“Mas udah duduk di situ sepuluh menit.”

“Iya, Pak.”

Tukang parkir itu menatapku. Bapak-bapak tua dengan rompi oranye dan wajah orang yang sudah melihat segalanya. Dia melirik ke arah gerbang, tempat taksi tadi menghilang. Lalu dia kembali menatapku. Lalu dia mengangguk pelan, penuh pengertian.

“Dicium, ya, Mas?”

“...Pipi, Pak.”

“Pipi juga dicium namanya.” Dia menepuk bahuku. “Pulang, Mas. Hati-hati. Jangan sampai nabrak. Orang yang baru dicium suka nabrak.”

Dia tidak minta uang parkir.


Aku sampai di kos jam sebelas lewat lima belas tanpa menabrak apa pun. Bu Darsih sudah tidur. Pak Lurah sedang duduk di atas pagar, menatapku dengan mata kuning menyala dalam gelap, seperti hakim.

“Jangan nanya,” kataku padanya.

Pak Lurah menjilat kakinya.

Di kamar, aku melepas kemeja biru tua, menggantungnya dengan hati-hati di paku, lalu berbaring di kasur dengan kaos oblong dan celana kain sisa wisuda. Aku menatap peta Kalimantan.

Lalu aku membuka aplikasi catatan di ponsel dan mulai mengetik.

KONTRAK PACARAN PURA-PURA (VERSI YANG MASUK AKAL)

Pasal 1. Pihak Pertama (A) dan Pihak Kedua (E) setuju berpura-pura pacaran sampai Pihak Ketiga (Bram) menyerah.

Pasal 2. Pihak Kedua dibayar dengan masakan tiap minggu.

Pasal 3. Pihak Kedua wajib datang ke acara yang dihadiri Pihak Ketiga.

Pasal 4. Pihak Pertama boleh memanggil Pihak Kedua “Sayang” di depan umum.

Pasal 5. Sentuhan fisik dibatasi pada: menggandeng lengan, merapikan kerah/tali hoodie, memeluk di atas motor demi keselamatan.

Pasal 6. Merapikan kerah TIDAK termasuk membuka kancing.

Pasal 7. Pihak Pertama boleh cemburu (?? — perlu dikonfirmasi, Pihak Pertama mengklaim pasal ini ada, Pihak Kedua tidak ingat menyetujuinya)

Pasal 8. Cium pipi:

Aku berhenti mengetik.

Cium pipi: apa?

Diizinkan? Dilarang? Diizinkan dengan syarat? Syaratnya apa? Bagaimana dengan cium pipi yang posisinya sangat dekat dengan sudut bibir, yang menempel tiga detik, yang dilakukan sambil berjinjit dengan sandal jepit hijau neon kebesaran tiga nomor?

Bagaimana dengan sisanya nanti?

Aku menatap pasal delapan yang kosong selama lima menit.

Lalu aku menghapus seluruh catatan itu, membuka WhatsApp, dan mengetik pesan.

Aku: Cium pipi itu pasal berapa?

Centang dua. Langsung biru. Dia belum tidur.

Pacar (Kontrak): Pasal tambahan.

Aku: Nggak ada pasal tambahan.

Pacar (Kontrak): Ada. Baru aku bikin. Berlaku kalau Pihak Kedua ganteng pakai kemeja dua kancing kebuka.

Aku: Itu kamu yang nyuruh.

Pacar (Kontrak): Dan kamu nurut. Itu yang bikin pasalnya berlaku.

Aku menatap layar. Mengetik. Menghapus. Mengetik lagi.

Aku: Sandal jepitku.

Pacar (Kontrak): Kenapa sandal jepitmu?

Aku: Dibalikin kapan?

Pacar (Kontrak): Sama kayak hoodie.

Aku: Jadi nggak dibalikin.

Pacar (Kontrak): Kamu mulai paham sistemnya.

Aku tertawa sendiri di kamar tiga kali tiga meter. Pelan. Pak Lurah, yang ternyata sudah masuk lewat jendela dan duduk di atas lemari, menatapku dengan wajah prihatin.

Ponselku bergetar lagi.

Pacar (Kontrak): Esa.

Aku: Hm?

Pacar (Kontrak): Kamu tadi nyaris nyium aku.

Pacar (Kontrak): Di lantai dansa. Kalau kakaknya Wulan nggak teriak.

Jempolku membeku di atas layar.

Pacar (Kontrak): Iya kan?

Aku tidak bisa berbohong. Aku sudah mencoba dua kali malam ini dan dua kali kalah.

Aku: Iya.

Tiga titik muncul di layar. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi. Muncul lagi.

Pacar (Kontrak): Oke.

Pacar (Kontrak): Aku cuma mau mastiin aku nggak gila sendirian.

Pacar (Kontrak): Selamat tidur, Sayang. Ini bukan latihan.

Aku menatap kalimat terakhir itu sampai layarnya meredup sendiri.

Ini bukan latihan.


Ponselku berdering jam dua belas lewat sepuluh. Bukan Ayasha. Dodoy.

“Sa,” bisiknya. Suaranya seperti orang yang menelepon dari dalam lemari. “Sa, lo udah tidur?”

“Belum.”

“Gendis minta nomor gue.”

Aku duduk. “Serius?”

“Serius. Lewat Ayasha. Ayasha nge-DM gue barusan, katanya Gendis mau pesen puding. Yang pakai sambal. Buat arisan guru di sekolahnya.” Dodoy berhenti. Napasnya terdengar cepat. “Sa. Puding sambal. Dia mau pesen puding sambal. Itu kesalahan Ipul. Itu produk gagal. Dan dia mau pesen tiga puluh.”

“Terus?”

“Terus gue harus gimana?”

“Bikin puding sambal tiga puluh.”

“BUKAN ITU!” Dodoy menjerit dengan suara berbisik, yang secara teknis tidak mungkin, tapi dia berhasil. “Maksud gue... gue harus bales gimana? Gue kirim stiker? Gue kirim ‘Siap, Mbak’? Gue kirim ‘Siap, Mbak’ pakai emoji senyum? Emoji senyum yang mana? Yang pipinya merah atau yang biasa?”

Aku menatap peta Kalimantan.

Tujuh tahun aku bersahabat dengan Dodoy. Tujuh tahun dia mengurusiku, memberiku makan, mengantarku ke puskesmas, menyeretku ke reuni. Tujuh tahun dia tidak pernah sekali pun menanyakan saran apa pun padaku soal perempuan, karena dia tahu aku tidak tahu apa-apa soal perempuan.

Dan malam ini, aku juga tidak tahu apa-apa soal perempuan.

“Doy,” kataku.

“Apa?”

“Kirim aja ‘Siap, Mbak’. Tanpa emoji.”

“Tanpa emoji? Kenapa?”

“Karena kalau pakai emoji, kamu bakal mikirin emojinya sampai subuh.”

Hening di seberang. Lalu:

“...Lo bener.”

“Tidur, Doy.”

“Lo juga. Lo kedengerannya kayak orang abis dicium.”

Aku menutup telepon.


Senin pagi, Ayasha mengirim foto. Sepiring nasi uduk dengan telur balado, diambil dari atas meja kerjanya di kantor.

Pacar (Kontrak): Sarapan. Telurnya aku makan semua. Nggak nyisain separuh kayak kamu.

Aku: Bagus.

Pacar (Kontrak): Hari ini kamu ngapain?

Aku melirik kalender di ponsel. Ada pengingat yang kuatur sejak tiga tahun lalu, setiap Selasa minggu kedua.

Panti. Sembako. Bawa obat batuk buat Ucup.

Aku: Besok aku ke Depok. Kerjaan sampingan. Nganter barang.

Pacar (Kontrak): Kurir?

Aku: Semacam itu.

Pacar (Kontrak): Nganter ke mana?

Aku ragu sebentar. Lalu, untuk alasan yang tidak bisa kujelaskan, aku menjawab jujur.

Aku: Panti asuhan. Rumah Pulang namanya.

Centang dua. Biru.

Tidak ada balasan.

Satu menit. Tiga menit. Lima menit.

Aku mulai berpikir aku salah bicara. Mungkin dia tidak tertarik. Mungkin dia sedang rapat. Mungkin...

Pacar (Kontrak): Aku ikut.

Aku: Kamu kerja.

Pacar (Kontrak): Aku cuti. Udah kuajuin barusan.

Aku: Barusan? Lima menit tadi?

Pacar (Kontrak): Atasanku baik.

Aku: Kenapa mau ikut?

Tiga titik muncul. Lama. Hilang. Muncul lagi.

Pacar (Kontrak): Pengin liat kamu kerja.

Pacar (Kontrak): Kurir ganteng yang nyisain separuh telur.

Aku menatap layar.

Lalu aku menatap ke luar jendela kamar kos, ke langit Tebet yang abu-abu, dan entah kenapa merasa ada sesuatu yang aneh dengan cara dia mengetik kata Rumah Pulang tadi. Sesuatu dengan jeda lima menit itu.

Aku menggeleng dan mengusir pikiran itu.

Besok aku akan membawa perempuan ini ke tempat aku dibesarkan.

Aku tidak pernah membawa siapa pun ke sana. Bahkan Dodoy.