Chapter Six
Bubur Nggak Kuat Bonceng Dua Orang yang Saling Gengsi
POV: Esa
“Aku anterin,” kataku.
Ayasha berhenti melepas celemek. Simpul pita yang kuikat tadi sudah setengah terurai di tangannya.
“Naik apa?”
Aku menunjuk ke luar jendela dapur. Bubur terparkir di samping tong sampah Dodoy, spionnya miring menantang langit.
Ayasha menatap Bubur. Lalu menatapku. Lalu tersenyum lebar sekali, sampai matanya hampir hilang.
“Mau.”
Dodoy, yang sedang membungkus sisa sop iga ke tiga kotak plastik (satu untuk dirinya, satu untuk Ipul, satu yang dia klaim “buat cadangan” tapi aku tahu juga untuk dirinya), menoleh dengan dramatis.
“Lo yakin, Sa? Bubur itu nggak kuat. Kemarin gue bonceng sampai Pancoran, mesinnya bunyi kayak kakek-kakek ngeden.”
“Kamu beratnya sembilan puluh kilo, Doy.”
“Delapan puluh tujuh!”
“Dia nggak sampai setengahnya.”
Dodoy menatap Ayasha, lalu menatap perutnya sendiri, lalu kembali membungkus sop dengan wajah tersinggung.
Masalahnya, aku cuma punya satu helm.
Helm kedua ada di kos. Helm bogo cokelat yang dulu dipakai Dodoy waktu aku masih sering membonceng dia ke pasar induk subuh-subuh. Kos ada di dua gang dari sini. Jadi rencananya: aku dan Ayasha berjalan kaki ke kos sambil menuntun Bubur, ambil helm, lalu berangkat.
Rencana yang bagus, kalau saja Bu Darsih tidak sedang duduk di teras.
Bu Darsih sedang memotong kuku Pak Lurah. Pak Lurah sedang berusaha kabur dengan kekuatan penuh kucing gendut yang tidak mau kukunya dipotong. Mereka berdua berhenti bergerak begitu aku muncul di depan pagar.
Mereka menatapku.
Lalu menatap Ayasha.
Lalu menatapku lagi.
Gunting kuku di tangan Bu Darsih jatuh ke lantai.
“Assalamualaikum, Bu,” kata Ayasha.
“...Waalaikumsalam,” jawab Bu Darsih dengan suara orang yang melihat hantu di siang bolong.
Aku membuka pagar. “Saya ambil helm sebentar, Bu.”
“Tunggu.” Bu Darsih berdiri. Pak Lurah melompat dari pangkuannya dan langsung melarikan diri ke bawah motor tetangga. “Tunggu, tunggu, tunggu. Sa. Sini kamu.”
Aku mendekat. Bu Darsih mencengkeram lengan hoodie-ku dan menarikku ke samping, ke dekat pot bunga kamboja, lalu berbisik dengan volume yang bisa didengar sampai ujung gang.
“Itu siapa?”
“Temen, Bu.”
“Temen?” Bu Darsih menyipitkan mata. “Temen apa? Kamu nggak punya temen cewek. Kamu nggak punya temen sama sekali, kecuali si gendut yang punya warung itu.”
“Sekarang punya, Bu.”
“Dari mana kamu dapet temen kayak gitu?” Bu Darsih melirik Ayasha, yang berdiri di depan pagar dengan senyum sopan, kaos putih, jins pendek, dan kaki panjang yang membuat dua tukang ojek pangkalan di ujung gang lupa sedang menunggu penumpang. “Itu artis? Kamu jadi tukang ojek artis?”
“Bukan, Bu.”
Bu Darsih mencondongkan wajahnya lebih dekat. Bau minyak kayu putih.
“Sa,” bisiknya. “Jujur sama Ibu. Kamu pelet dia pakai apa?”
“Bu.”
“Ibu nggak marah. Ibu cuma pengin tahu.” Matanya berbinar dengan cara yang mencurigakan. “Ada dukun yang manjur? Buat anak Ibu yang di Bekasi. Udah tiga puluh lima belum nikah juga.”
Sebelum aku sempat menjawab, Ayasha sudah berdiri di samping kami. Aku tidak dengar dia masuk pagar. Dia bergerak seperti kucing. Lebih lincah dari Pak Lurah, setidaknya.
“Bu,” katanya, tersenyum manis. “Saya Ayasha. Pacarnya Mas Esa.”
Bu Darsih membeku.
Aku juga.
Ayasha mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan Bu Darsih dengan sopan sekali. Lalu, masih memegang tangan itu, dia berkata dengan suara lembut dan penuh rasa bersalah:
“Maaf ya, Bu, kalau Mas Esa suka telat bayar kos. Itu salah saya. Dia sibuk nganterin saya terus.”
Aku menatap Ayasha. Bagaimana dia tahu soal telat bayar kos?
Bu Darsih menatap Ayasha selama lima detik. Lalu dia menatapku. Lalu dia menatap langit.
“Ya Allah,” katanya lirih. “Doa Ibu dikabulkan.”
“Doa apa, Bu?”
“Doa supaya kamu nggak jadi bujang lapuk!” Bu Darsih tiba-tiba menepuk punggungku keras sekali sampai aku batuk. Lalu dia beralih ke Ayasha dan memegang kedua tangannya. “Nak Ayasha. Ibu titip dia, ya. Dia itu baik, cuma pelupa. Bajunya itu-itu aja. Makannya kalau gratis doang. Tolong diurus.”
“Siap, Bu.”
“Kalau dia macem-macem, lapor Ibu.”
“Pasti, Bu.”
Pak Lurah keluar dari bawah motor tetangga, berjalan pelan ke arah Ayasha, mengendus kakinya, lalu menggosokkan kepalanya ke betis Ayasha sambil mendengkur keras.
Bu Darsih ternganga. “Pak Lurah nggak pernah mau sama orang baru.”
“Kucing pinter,” kata Ayasha, menggaruk belakang telinga Pak Lurah.
Aku masuk ke kamar, mengambil helm bogo cokelat, dan keluar lagi dengan perasaan bahwa dalam lima menit, aku sudah kehilangan kendali atas kos-kosanku sendiri.
“Kok kamu tau aku telat bayar kos?” tanyaku, waktu kami sudah di ujung gang. Aku sedang memasang tali helm di dagu Ayasha karena pengaitnya macet dan dia bilang tidak bisa memasangnya sendiri.
Aku cukup yakin dia bisa.
“Tebakan,” katanya.
“Tebakan?”
“Orang yang lupa ngembaliin pensil Gendis selama dua belas tahun pasti juga lupa bayar kos.”
Aku berhenti mengaitkan tali.
“Kamu tau soal pensil?”
“Gendis cerita. Waktu reuni.” Ayasha menatapku dari balik kaca helm bogo yang kebesaran. “Dia bilang kamu ngembaliin pensilnya udah tumpul. Dan dia masih nyimpen pensil itu.”
Tali helm berhasil terkait. Bunyi klik.
Aku tidak tahu harus bereaksi apa soal informasi itu, jadi aku tidak bereaksi. Aku menaiki Bubur, menyalakan mesin, dan menunggu Ayasha naik.
Dia naik dengan anggun yang tidak masuk akal untuk ukuran jok Scoopy berlakban. Lalu, tanpa peringatan, kedua tangannya melingkar di pinggangku.
Bukan pegangan sopan di sisi jaket. Bukan pegangan di besi belakang jok seperti penumpang ojek pada umumnya. Pelukan. Kedua lengannya melingkar penuh di perutku, telapak tangannya terkunci di depan, dan tubuhnya menempel ke punggungku dari bahu sampai pinggang.
“Pegangan, kan?” bisiknya di dekat telingaku. “Biar aman.”
Bubur hampir mati mesin.
Rute dari Tebet ke apartemen Ayasha di Pancoran seharusnya dua puluh menit. Hari itu jadi empat puluh.
Bukan karena macet. Karena aku menyetir pelan sekali. Sangat pelan. Pelan seperti orang yang baru belajar naik motor, atau seperti orang yang membawa kue tart tiga tingkat, atau seperti orang yang tidak bisa berkonsentrasi karena ada perempuan cantik memeluknya dari belakang dan dagunya bertumpu di bahunya.
“Kamu biasa nyetir sepelan ini?” tanya Ayasha di lampu merah pertama.
“Hati-hati.”
“Ojek yang barusan lewat itu bawa ibu-ibu sama dua karung beras. Dia lebih cepet dari kita.”
“Dia nggak bawa kamu.”
Hening sebentar.
Lalu aku merasakan Ayasha tersenyum. Aku tidak bisa melihatnya, tapi aku bisa merasakannya, karena pipinya bergerak di bahuku.
“Kamu barusan ngegombal?”
“Nggak.”
“Itu ngegombal.”
“Itu fakta. Kalau jatuh, kamu yang luka.”
“Dan kamu nggak mau aku luka.”
“Ya nggak lah.”
“Itu ngegombal,” ulangnya, puas.
Lampu hijau. Aku melaju. Pelan.
Di jalan Saharjo, tangan Ayasha di perutku mulai bergerak. Sedikit. Ujung jarinya mengetuk-ngetuk pelan di atas hoodie, seperti orang yang mengetik di meja. Lalu telapak tangannya menekan, rata, di atas perutku.
“Hm,” gumamnya.
“Apa?”
“Perutmu keras juga.”
Bubur oleng sedikit ke kiri.
“Ngetik bikin perut sekeras ini?” lanjutnya, sangat santai, seolah dia sedang bertanya soal cuaca. Telapak tangannya bergeser sedikit ke atas. “Atau kamu diem-diem push-up tiap malem?”
“Sha.”
“Hm?”
“Tanganmu.”
“Kenapa tanganku?”
“Aku lagi nyetir.”
“Aku tau. Aku cuma pegangan.” Dia menepuk perutku dua kali, ringan. “Pegangan biar aman. Kamu sendiri yang bilang kalau jatuh aku yang luka.”
Di depan kami, seorang bapak-bapak sedang mendorong gerobak cilok menyeberang jalan dengan kecepatan siput, persis di saat Ayasha mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik:
“Jantungmu kenceng banget. Kerasa sampai punggung.”
Aku mengerem mendadak.
Ban Bubur berdecit. Ayasha terdorong ke depan, menempel lebih erat ke punggungku. Gerobak cilok berhenti setengah meter dari spion yang miring. Bapak penjual cilok menatap kami dengan mata melotot, lalu menatap Ayasha, lalu menatapku, lalu wajahnya berubah dari marah menjadi... paham.
“Hati-hati, Mas,” katanya, dengan nada seorang bapak yang dulu juga pernah muda. “Fokus.”
“Maaf, Pak.”
Bapak itu mendorong gerobaknya ke seberang. Lalu dia berhenti, menoleh, dan menyodorkan sebungkus cilok yang sudah dibumbui.
“Buat Mbaknya. Gratis. Biar Masnya fokus.”
Ayasha mengambilnya sambil tertawa. Pipinya masih menempel di bahuku, dan aku bisa merasakan tawanya bergetar sampai ke tulang punggungku.
Apartemen Ayasha ternyata bangunan delapan lantai bercat krem dengan satpam yang tertidur di posnya. Aku memarkir Bubur di depan lobi. Ayasha turun, melepas helm (yang ternyata bisa dia lepas sendiri dengan mudah, padahal tadi katanya pengaitnya macet), lalu menyerahkannya padaku.
“Makasih udah nganterin.”
“Makasih udah masakin.”
“Sop iganya habis?”
“Habis. Dua piring.”
“Aku tau. Aku ngitung.” Dia tersenyum. Lalu senyumnya berubah. Matanya turun sebentar ke bibirku, lalu naik lagi ke mataku. Cepat sekali. Tapi aku melihatnya.
“Mau mampir?” tanyanya.
Pertanyaan itu menggantung di udara Pancoran yang panas dan berdebu.
“Nggak,” kataku.
Ayasha mengangguk pelan. Lalu tersenyum lagi, lebih lebar.
“Bagus,” katanya. “Kalau kamu bilang iya, aku yang bingung harus ngapain.”
“Kamu nggak bingung harus ngapain.”
Dia mengangkat alis. “Oh ya?”
“Kamu nggak pernah bingung.”
Ayasha menatapku lama. Lalu dia melangkah maju, satu langkah, sampai berdiri tepat di samping Bubur, di samping lututku. Dia membungkuk sedikit. Wajahnya turun sampai sejajar dengan wajahku yang masih duduk di atas motor. Begitu dekat, aku bisa melihat bintik-bintik cokelat muda di iris matanya.
“Aku bingung,” bisiknya. “Tiap kali kamu ngeliatin aku kayak gitu.”
“Kayak gimana?”
“Kayak sekarang.”
Lalu dia mundur, berbalik, dan berjalan masuk ke lobi apartemen tanpa menoleh sekali pun. Rambutnya berayun. Satpam yang tadi tertidur terbangun, menatapnya lewat, lalu menatapku di luar dengan wajah prihatin.
Aku duduk di atas Bubur selama sepuluh menit.
Satpam itu akhirnya keluar dari posnya, menghampiriku, dan bertanya dengan sangat sopan apakah aku baik-baik saja, karena dia mau menutup gerbang parkir.
“Baik, Pak.”
“Masnya pacarnya Mbak Ayasha?”
Aku membuka mulut untuk bilang bukan, kontrak, pura-pura.
“Iya, Pak,” kataku.
Satpam itu mengangguk dengan penuh hormat. Lalu dia menepuk bahuku.
“Sabar ya, Mas. Mbak Ayasha itu,” dia menggeleng pelan, “udah banyak yang nyoba. Mobilnya bagus-bagus. Belum pernah ada yang dia bawa sampe lobi.”
Dia kembali ke posnya.
Aku menatap pintu lobi yang tertutup.
Lalu aku menyalakan Bubur dan pulang. Kali ini cepat. Karena kalau aku pelan-pelan, aku akan sempat memikirkan kenapa dadaku terasa penuh seperti orang yang baru makan dua piring sop iga, padahal yang kumakan cuma kata-kata.
- 1 Hoodie Abu-Abu dan Undangan yang Kubuang
- 2 Maaf Telat, Sayang
- 3 Pacarku, Katanya
- 4 Kontrak Tanpa Kertas
- 5 Kejutan dari Dodoy
- 6 Bubur Nggak Kuat Bonceng Dua Orang yang Saling Gengsi reading
- 7 Kantor Hampir Triliun Milik Orang Lain
- 8 Founder Misterius Nggak Pernah Nongol
- 9 Nomor 001
- 10 Nikahan Teman, Pacar Pura-Pura
- 11 Cium Pipi Itu Bukan Bagian Kontrak
- 12 Rumah Pulang
- 13 PIN Gerbang Rumah Sendiri
- 14 Porsche yang Akinya Soak
- 15 Utangku Belum Lunas
- 16 Bram Ngajak Bisnis
- 17 Surat yang Tidak Pernah Dikirim
- 18 Hoodie Ini Sekarang Punyaku
- 19 Pura-Puranya Udah Kedaluwarsa
- 20 Resmi, Tanpa Kontrak
- 21 Menginap karena Hujan, Katanya
- 22 Lampu yang Kumatikan Sendiri
- 23 Laporan Tahunan Beasiswa
- 24 Jadi Selama Ini, Kamu Tahu
- 25 Cara Membalas yang Salah
- 26 Dodoy Marah
- 27 Separuh Lauk
- 28 Aku yang Takut Menerima
- 29 Seri C Butuh Wajah
- 30 Founder: E.
- 31 Viral
- 32 Dia Naik Jabatan Karena Siapa?
- 33 Bram Bicara
- 34 Gantian
- 35 Bubur Pensiun?
- 36 Cicilan Pertama
- 37 Epilog: Rumah yang Akhirnya Ditinggali