← Pacarku Pakai Hoodie

Chapter Seventeen

Surat yang Tidak Pernah Dikirim

POV: Ayasha


Pesan dari Gendis masuk hari Rabu sore, waktu aku sedang mengoreksi naskah iklan untuk kampanye Desember.

Gendis Ayu: Ayasha, hai. Ini Gendis. Temen SMA Esa yang suka puding sambal.

Gendis Ayu: Kamu ada waktu Sabtu pagi? Aku pengin ngopi. Berdua aja. Ada yang mau aku omongin.

Aku membaca pesan itu tiga kali.

Berdua aja.

Ada yang mau aku omongin.

Tika, yang sedang makan keripik di meja sebelah, melirik layar ponselku tanpa izin seperti biasa.

“Mbak,” bisiknya. “Itu siapa?”

“Temen SMA-nya Esa.”

“Cewek?”

“Cewek.”

Tika meletakkan keripiknya pelan-pelan. Wajahnya serius seperti pemain catur yang melihat lawannya baru menggerakkan ratu.

“Mbak,” katanya, “itu perang.”


Kafe yang dipilih Gendis ada di Kemang. Kecil, dengan jendela besar dan tanaman gantung di mana-mana, kursi rotan, dan pelayan dengan celemek linen yang berbicara pelan seperti di perpustakaan. Kopinya mahal. Croissant-nya lebih mahal.

Aku datang lima belas menit lebih awal. Aku memakai blus putih dan celana panjang krem, riasan tipis, rambut digerai rapi. Pakaian perang. Pakaian yang bilang aku tenang, aku dewasa, aku tidak terancam.

Aku sangat terancam.

Gendis datang tepat waktu. Dia memakai gaun katun biru muda sepanjang betis, kardigan putih tipis, dan sepatu flat. Rambutnya digerai, sedikit bergelombang. Dia membawa tas anyaman kecil. Wajahnya tanpa riasan berat. Dia terlihat seperti guru SD yang semua muridnya diam-diam ingin menjadikannya ibu.

Dia tersenyum begitu melihatku, dan senyumnya hangat sekali, sampai aku langsung merasa bersalah karena memakai pakaian perang.

“Maaf ya, nunggu lama?”

“Nggak, aku baru dateng.”

Aku sudah datang dua puluh menit. Kopiku sudah setengah habis. Dia melihat cangkirku dan tersenyum lebih lebar, seolah tahu persis aku berbohong, lalu memutuskan untuk tidak mempermasalahkannya.

Dia memesan teh melati dan dua croissant. Satu untukku.

Lalu dia duduk, meletakkan tas anyamannya di pangkuan, dan memeganginya dengan dua tangan.

Terlalu erat.

Seperti malam reuni.


Kami mengobrol tentang hal-hal ringan dulu. Tentang sekolahnya. Tentang murid-murid kelas tiga yang lebih suka puding sambal daripada puding biasa sejak arisan guru. Tentang Mister Dodoy, yang tiga hari lalu datang ke sekolah mengantar puding lagi, tanpa dipesan, gratis, sebagai tanda terima kasih karena Mbak Gendis udah menyelamatkan reputasi pudingku, dan memakai kemeja yang dikancing sampai leher.

“Kemejanya kekecilan,” kata Gendis, tersenyum ke cangkir tehnya. “Kancing perutnya hampir lepas. Anak-anak ketawa. Dia malah ikut ketawa.”

“Mas Dodoy emang gitu.”

“Iya.” Gendis diam sebentar. Pipinya sedikit memerah. “Dia lucu.”

Aku menatapnya. Gendis menyadari tatapanku dan menunduk, lalu menyesap teh, lalu tersedak karena tehnya masih panas.

Aku tersenyum. Sedikit lega. Mungkin ini bukan perang.

Lalu Gendis meletakkan cangkir tehnya, menarik napas panjang, dan membuka tas anyaman di pangkuannya.

Dia mengeluarkan selembar kertas. Kertas binder bergaris, menguning, dilipat empat. Sudutnya lecek. Lipatannya hampir sobek karena terlalu sering dibuka dan ditutup.

Dia meletakkan kertas itu di meja, di antara cangkirku dan cangkirnya.

“Ini,” katanya pelan, “surat yang aku tulis buat Esa. Kelas dua belas. Seminggu sebelum kelulusan.”

Aku tidak bergerak.

“Aku nggak pernah ngirim,” lanjut Gendis. “Aku bawa ke sekolah setiap hari selama seminggu. Aku taruh di tas. Aku bilang ke diriku sendiri, hari ini, pas istirahat, kasih ke dia. Setiap hari aku nggak berani. Terus hari kelulusan dateng. Dia pulang duluan. Nggak ikut foto angkatan. Nggak ikut makan-makan. Dia langsung pergi, katanya harus kerja.”

Dia membuka lipatan kertas itu pelan-pelan dengan ujung jarinya, seperti membuka sesuatu yang bisa remuk kalau disentuh terlalu keras.

“Dua belas tahun,” katanya. “Aku bawa surat ini pindah rumah tiga kali. Kuliah. Kerja. Aku bawa ke reuni, di tas ini. Aku pikir, mungkin malam itu aku berani.”

Dia menatapku. Matanya cokelat terang, basah di sudutnya, tapi senyumnya tidak hilang.

“Terus kamu masuk,” katanya. “Dan aku telat lagi.”

Tenggorokanku tercekik.

“Gendis, aku—”

“Bukan salah kamu.” Dia menggeleng, masih tersenyum. “Sumpah. Aku nggak nyalahin kamu. Aku cuma... mau ada yang baca. Sekali aja. Sebelum aku buang.”

“Buang?”

“Udah waktunya.” Dia mendorong kertas itu ke arahku. “Mau baca?”

Aku menatap kertas binder menguning itu.

Lalu menggeleng.

“Kamu yang baca,” kataku. “Ini punya kamu.”

Gendis menatapku sebentar. Lalu dia mengambil kertas itu kembali, menegakkan punggungnya, dan membacanya. Pelan. Suaranya lembut dan sedikit bergetar, seperti suara guru yang membacakan dongeng di depan kelas.

Esa,

Kamu pasti nggak inget. Kelas sebelas, ujian matematika, pensil kamu patah. Aku pinjemin pensilku. Kamu balikin pas pulang, udah tumpul banget, ujungnya rata kayak kamu pakai buat ngukir batu. Kamu bilang, ‘Makasih. Maaf tumpul. Nanti aku ganti.’

Kamu nggak pernah ganti.

Aku juga nggak pernah minta.

Pensil itu masih aku simpen. Di kotak pensil. Nggak pernah aku raut lagi. Aku nggak tau kenapa. Mungkin karena itu satu-satunya barang yang pernah kamu pegang yang sekarang ada di aku.

Aku suka kamu dari kelas sepuluh. Dari hari pertama MOS, waktu kamu dihukum lari keliling lapangan karena nggak bawa topi, padahal topimu kamu pinjemin ke anak kelas sepuluh lain yang nangis karena topinya ketinggalan. Kamu lari sepuluh putaran. Nggak ngeluh. Pas selesai, kamu duduk di pinggir lapangan sendirian, makan nasi bungkus.

Aku pengin nemenin kamu makan nasi bungkus. Tiga tahun aku pengin. Nggak pernah berani.

Kamu selalu sendirian, Esa. Kamu selalu ngasih apa aja ke semua orang, tapi kamu nggak pernah biarin siapa pun ngasih apa-apa ke kamu.

Aku harap suatu hari ada yang berani.

Aku harap orang itu aku.

Gendis.

Dia berhenti membaca. Kafe hening. Pelayan dengan celemek linen berdiri diam di belakang meja kasir. Tanaman gantung bergoyang pelan karena kipas angin.

Aku menangis.

Aku tidak berniat menangis. Aku memakai pakaian perang. Aku datang untuk berperang. Tapi aku duduk di kursi rotan di kafe Kemang, dan air mataku jatuh ke croissant yang belum kusentuh, dan aku tidak bisa berhenti.

Kamu selalu ngasih apa aja ke semua orang, tapi kamu nggak pernah biarin siapa pun ngasih apa-apa ke kamu.

Gendis melihatnya dua belas tahun lalu. Dari kelas sepuluh. Dari lapangan sekolah.

Aku melihatnya dua puluh tahun lalu. Dari meja makan panti.

Kami melihat laki-laki yang sama dengan cara yang sama, dan tidak satu pun dari kami pernah berani memberinya apa pun.

Gendis menyodorkan tisu. Aku mengambilnya. Dia mengambil satu untuk dirinya sendiri.

“Kenapa kamu kasih tau aku?” tanyaku, suaraku serak.

Gendis melipat surat itu lagi. Pelan, mengikuti lipatan lama yang sudah hampir sobek.

“Karena,” katanya, “aku telat dua belas tahun. Aku nggak mau kamu telat juga.”

“Aku nggak telat. Aku udah sama dia.”

Gendis menatapku. Lama. Matanya yang cokelat terang menyipit sedikit, seperti guru yang melihat muridnya menyembunyikan contekan di balik kotak pensil.

“Kamu nyimpen sesuatu dari dia,” katanya. Bukan pertanyaan.

Aku membeku.

“Aku nggak tau apa,” lanjut Gendis lembut. “Aku nggak nanya. Tapi aku bisa liat. Malam reuni, kamu natap dia kayak orang yang udah kenal dia lama banget. Bukan kayak pacar baru. Kayak orang yang... nemuin sesuatu yang ilang.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Aku nyimpen surat ini dua belas tahun,” kata Gendis. “Dan selama dua belas tahun, setiap kali aku mikirin Esa, rasanya kayak ada batu di sini.” Dia menyentuh dadanya. “Bukan karena dia nggak suka aku. Dia bahkan nggak tau. Tapi karena aku nggak pernah jujur. Aku nyimpen semuanya sendiri, sampai jadi berat.”

Dia meletakkan surat itu di atas meja dan menepuknya pelan.

“Apa pun yang kamu simpen,” katanya, “jangan kelamaan. Nanti jadi batu.”


Kami keluar dari kafe jam sebelas.

Di halaman parkir kecil kafe, Gendis mengeluarkan korek api dari tas anyamannya.

“Kamu bawa korek?” tanyaku.

“Aku guru SD. Aku bawa segala macem.” Dia tersenyum. “Plester. Permen. Gunting kecil. Korek buat lilin ulang tahun.”

Dia berjalan ke tong sampah besi di sudut parkiran. Dia memegang surat itu di atas tong sampah. Lalu dia berhenti.

Lama.

“Nggak bisa,” katanya akhirnya, tertawa kecil. “Belum bisa.”

“Nggak apa-apa.”

“Nanti.” Dia memasukkan surat itu kembali ke tas. “Nanti, kalau aku udah siap. Kalau udah ada yang lain yang bikin aku nggak perlu surat ini lagi.”

“Kayak puding sambal?”

Gendis menatapku. Lalu tertawa. Tawanya meledak, tidak anggun sama sekali, sama seperti malam di nikahan Wulan waktu dia mencicipi sambal terasi.

“Kayak puding sambal,” katanya, menyeka matanya.

Lalu suara motor terdengar dari ujung jalan. Suara mesin yang sangat kukenal. Suara seperti kakek-kakek yang batuk, tapi setia.

Bubur berhenti di depan kafe. Esa duduk di atasnya dengan hoodie yang lebih belel, helm bogo cokelat tergantung di setang.

“Aku minta dia jemput,” kataku pada Gendis. “Maaf. Kalau kamu nggak nyaman—”

“Nggak apa-apa.” Gendis menatap Esa dari seberang parkiran. Senyumnya kecil, tenang, sedikit sedih, tapi tulus. “Udah lama aku nggak liat dia dari jauh tanpa ngerasa sakit.”

Esa turun dari Bubur dan berjalan ke arah kami. Dia mengangguk sopan ke Gendis.

“Gendis.”

“Esa.”

“Makasih udah ngajak Sha ngopi.”

“Sama-sama.” Gendis menatapnya sebentar. Lalu, dengan nada ringan, dia berkata: “Esa. Pensilku.”

Esa mengerutkan kening. “Pensil?”

“Kelas sebelas. Ujian matematika. Kamu bilang mau ganti.”

Esa menatapnya. Aku melihat ingatan itu muncul pelan-pelan di wajahnya, seperti foto polaroid yang baru dicetak.

“Oh,” katanya. “Iya. Maaf. Aku lupa.”

“Dua belas tahun.”

“Maaf.”

“Ganti sekarang aja,” kata Gendis. Dia menunjukku dengan dagunya. “Jagain dia baik-baik. Anggap lunas.”

Esa menatap Gendis. Lalu menatapku. Lalu kembali menatap Gendis.

“Iya,” katanya pelan. “Lunas.”

Gendis tersenyum. Lalu dia memelukku. Singkat, hangat, dengan wangi kardigan yang baru dicuci.

“Jangan kelamaan,” bisiknya di telingaku.

Lalu dia berjalan ke mobilnya, sebuah city car kecil warna putih, dan pergi.


Aku berdiri di samping Esa di parkiran kafe Kemang. Dadaku masih sesak. Mataku masih merah. Croissant-ku tertinggal di dalam, tidak tersentuh.

“Kamu nangis,” kata Esa.

“Dikit.”

“Gendis bilang apa?”

Aku menatapnya. Laki-laki yang selalu memberi, yang tidak pernah membiarkan siapa pun memberi balik. Laki-laki yang dua perempuan lihat dengan cara yang sama, dari meja makan panti dan dari pinggir lapangan sekolah.

Apa pun yang kamu simpen, jangan kelamaan.

Aku membuka mulut.

Esa, aku harus jujur. Aku Nomor 001. Aku anak yang kamu sisain separuh telur. Aku tahu kamu donaturku. Aku—

“Esa,” kataku.

“Hm?”

Kata-kata itu berhenti di tenggorokan. Seperti di taksi malam reuni. Seperti empat puluh tujuh kali latihan yang tidak pernah berhasil.

Kalau aku bilang sekarang, di parkiran kafe ini, dia akan diam. Lalu dia akan menghitung. Dia akan memikirkan setiap ciuman, setiap pelukan, setiap kali aku memanggilnya Sayang, dan bertanya-tanya berapa banyak yang tulus dan berapa banyak yang balas budi. Lalu dia akan mundur, pelan-pelan, dengan cara yang sangat sopan dan sangat dingin, seperti dia mundur dari kasir toko kemeja di Pasar Baru.

Aku nggak biasa dikasih.

Belum. Belum sekarang. Aku butuh sedikit lagi. Sedikit lagi sampai dia tidak bisa mundur.

“Aku pengin kamu,” kataku.

Esa berkedip.

Itu bukan kalimat yang kurencanakan. Itu kalimat yang keluar menggantikan kalimat yang tidak berani kukatakan. Tapi begitu keluar, aku sadar kalimat itu juga jujur. Sepenuhnya. Lebih jujur dari apa pun yang pernah kukatakan padanya.

“Bukan pura-pura,” lanjutku. “Bukan kontrak. Aku pengin kamu.”

Esa menatapku. Lama. Di belakangnya, Bubur berdiri setia dengan spion miring. Di atas kepala kami, matahari Kemang terik dan putih.

Lalu dia mengulurkan tangan dan mengusap sisa air mata di pipiku dengan ibu jarinya. Pelan. Hati-hati. Seperti dia merapikan rambutku di KRL waktu dia pikir aku tidur.

“Aku tau,” katanya pelan.

“Kamu tau?”

“Kamu nggak pernah bisa bohong soal itu.”

Lalu dia menunduk dan menciumku.

Di parkiran kafe Kemang, di siang bolong, di depan pelayan bercelemek linen yang menempelkan wajah ke kaca jendela.

Ciumannya pelan. Tidak terburu-buru. Seperti orang yang sudah tahu bahwa tidak ada yang perlu dikejar. Tangannya di pipiku. Tanganku mencengkeram hoodie-nya di bagian pinggang.

Waktu dia melepaskan ciumannya, keningnya bersandar di keningku.

“Kamu sendiri?” bisikku. “Kamu pengin aku?”

Esa tidak langsung menjawab. Dia menarik napas panjang. Napasnya hangat di wajahku.

“Dari reuni,” katanya akhirnya. “Waktu kamu nyingkirin tangan Bram dari bahuku kayak nyingkirin daun kering.”

Aku tertawa. Basah. Tersedak.

“Itu tiga minggu lalu.”

“Iya.”

“Kamu nahan diri tiga minggu?”

“Aku orang panti, Sha.” Dia tersenyum kecil. “Aku jago nunggu.”

Aku menatapnya. Lalu menarik hoodie-nya, menariknya turun lagi, dan menciumnya sekali lagi. Lebih keras. Lebih lama. Cukup lama sampai pelayan di balik jendela kafe akhirnya berbalik dan pura-pura mengelap mesin kopi.

Waktu aku melepaskannya, wajah Esa merah sampai ke telinga.

“Nanti malem,” bisikku di bibirnya, “aku ke kosmu.”

“Ngapain?”

“Balikin hoodie.”

Esa menatapku dengan alis terangkat. “Kamu bilang hoodie-nya nggak bakal dibalikin.”

“Aku berubah pikiran.” Aku tersenyum. Senyum yang kumulai dari sudut kiri, pelan, sengaja. “Aku mau balikin. Langsung dari badanku.”

Esa menelan ludah.

Aku melepaskan hoodie-nya, mengambil helm bogo cokelat dari setang Bubur, memakainya, dan naik ke jok belakang dengan posisi menyamping.

“Ayo,” kataku. “Aku laper. Croissant-nya ketinggalan.”

Esa berdiri di parkiran selama lima detik penuh sebelum ingat cara menaiki motornya sendiri.

Di tas tanganku, ponselku bergetar. Pesan dari Gendis.

Gendis Ayu: Aku liat dari spion. Nggak sopan banget kalian. Di parkiran kafe.

Gendis Ayu: Jagain dia ya.

Gendis Ayu: Dan jangan kelamaan.

Aku membaca pesan terakhir itu dua kali.

Lalu aku menyimpan ponsel ke tas, memeluk pinggang Esa dari belakang, dan membiarkan kata-kata Gendis menjadi batu kecil yang pertama di dadaku.