Chapter Ten
Nikahan Teman, Pacar Pura-Pura
POV: Esa
Dodoy menangis waktu melihatku pakai kemeja.
Bukan menangis terharu. Menangis seperti orang yang baru dikhianati.
“Lo,” katanya, menunjukku dengan spatula dari balik meja kasir Warung Dodoy, “lo nolak gue beliin kemeja lima tahun berturut-turut. Ulang tahun lo, gue kasih kemeja, lo kasih ke tukang parkir. Lebaran, gue kasih kemeja, lo bilang buat lap kaca. Tahun lalu gue kasih kemeja batik, lo jadiin sarung bantal.”
“Itu sarung bantal yang bagus.”
“DAN SEKARANG LO PAKAI KEMEJA?”
“Aku beli sendiri.”
“Lo beli sendiri karena dia yang nyuruh!” Dodoy membanting spatula ke meja. “Tujuh tahun, Sa. Tujuh tahun gue sahabatan sama lo. Dia baru tiga minggu.”
Ipul, karyawan Dodoy, mengintip dari pintu dapur, memotret, lalu menghilang lagi.
Aku menatap pantulan diriku di kaca etalase lauk. Kemeja biru tua. Kancing ketiga terpasang. Dua kancing teratas terbuka, karena Ayasha mengirim pesan jam tujuh pagi yang isinya cuma: Dua kancing atas buka. Jangan diubah. Aku cek nanti. Celana kain hitam, satu-satunya yang kupunya, sisa wisuda. Sepatu pantofel pinjaman Hasan, setengah nomor terlalu besar. Rambut dikuncir rendah, karena aku mencoba menyisirnya dan hasilnya terlihat seperti orang yang baru disetrum.
Aku terlihat seperti orang lain.
Orang lain yang tidak nyaman.
“Doy,” kataku.
“Apa?”
“Aku kelihatan aneh?”
Dodoy berhenti cemberut. Dia menatapku dari kepala sampai kaki. Lama. Lalu dia menghela napas, keluar dari balik meja kasir, dan berdiri di depanku. Dia merapikan kerahku yang sebenarnya sudah rapi, menepuk bahuku dua kali, dan tersenyum. Senyum yang jarang. Senyum kakak.
“Lo kelihatan,” katanya, “kayak orang yang akhirnya mau dirawat.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
“Udah sana.” Dodoy mendorongku ke pintu. “Gue nyusul. Gue dapet order es buah sama puding buat stand dessert-nya. Jangan lupa mampir ke stand gue. Bilang ke semua orang pudingnya enak.”
“Pudingnya enak?”
“Enak lah! Gue yang bikin!”
“Itu bukan jawaban.”
“PERGI.”
Gedung Graha Sarana di Jakarta Timur malam itu penuh lampu kristal palsu dan bunga mawar putih yang juga palsu. Ada pelaminan setinggi dua meter dengan latar belakang tirai emas. Ada band akustik di pojok yang membawakan lagu cinta dengan suara vokalis yang terlalu banyak vibrato. Ada antrean panjang di stand kambing guling, dan antrean pendek di stand puding Warung Dodoy, yang membuat Dodoy berdiri di belakang standnya dengan wajah orang yang sedang mempertimbangkan pensiun.
Aku menunggu di dekat pintu masuk, seperti yang Ayasha minta.
Tunggu di pintu. Kita masuk bareng. Biar Mas Bram liat.
Jam tujuh lewat sepuluh. Aku sudah ditanya tiga orang apakah aku petugas parkir. Ini kemajuan, karena biasanya aku ditanya apakah aku kurir.
Lalu sebuah taksi berhenti di depan lobi.
Pintu belakangnya terbuka.
Ayasha turun.
Dia memakai gaun panjang warna merah marun yang membungkus tubuhnya seperti dijahit langsung di atas kulitnya. Bahunya terbuka. Leher jenjangnya dihiasi kalung tipis dengan liontin kecil. Rambutnya disanggul rendah dengan beberapa helai sengaja dibiarkan jatuh membingkai wajah. Bibirnya merah tua, warna yang sama dengan malam reuni. Dan waktu dia melangkah, gaunnya terbelah tinggi di sisi kanan, memperlihatkan kaki panjangnya sampai di atas lutut.
Dua satpam gedung berhenti mengobrol. Seorang bapak-bapak yang sedang menurunkan istrinya dari mobil lupa menutup pintu. Istri bapak itu menyikut perutnya.
Ayasha berjalan menaiki tangga lobi. Pelan. Dia tidak terburu-buru. Matanya menyapu kerumunan sampai menemukanku, lalu berhenti, lalu turun dari wajahku ke kerah yang terbuka dua kancing, ke kemeja biru tua, ke pantofel pinjaman.
Senyumnya muncul pelan, mulai dari sudut kiri.
Dia berhenti tepat di depanku. Mengulurkan tangan. Menyentuh kerah kemejaku dengan ujung jari, mengecek, seperti guru mengecek PR.
“Dua kancing,” katanya. “Pinter.”
“Kamu yang nyuruh.”
“Dan kamu nurut.” Jarinya turun sedikit, menyusuri tepi kerah sampai ke kancing ketiga, lalu berhenti di sana. “Aku suka cowok yang nurut.”
Aku menelan ludah.
Dia mendongak. Wajahnya sangat dekat. Parfumnya malam ini berbeda. Bukan melati. Sesuatu yang lebih gelap, lebih hangat, seperti kayu manis yang dibakar.
“Kamu ganteng,” katanya. Lugas. Tanpa basa-basi. Seolah menyatakan fakta cuaca.
“Kamu...” aku mencari kata yang tepat. Tidak ketemu. “Kamu...”
“Aku apa?”
“Gaunnya robek.”
Ayasha menatapku. Lalu menunduk ke belahan tinggi di sisi gaunnya. Lalu kembali menatapku. Lalu tertawa, keras, sampai satpam di dekat pintu ikut tersenyum.
“Ini bukan robek, Esa. Ini desain.”
“Oh.”
“Kamu nggak suka?”
Aku menatap belahan gaun itu. Lalu memaksa mataku kembali ke wajahnya. Itu kesalahan, karena wajahnya lebih berbahaya.
“Aku nggak bilang nggak suka,” kataku.
Ayasha berhenti tertawa. Matanya menyipit sedikit. Puas. Seperti kucing yang baru menangkap tikus dan memutuskan untuk bermain dengannya dulu.
Dia menyelipkan tangannya ke lenganku, menggandengnya seperti malam reuni, dan berbisik di telingaku:
“Ayo. Bikin semua orang iri.”
Kami membuat semua orang iri.
Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya berjalan dengan Ayasha di lenganku. Ayasha yang melakukan semuanya: tersenyum pada setiap tamu yang menoleh, menyalami orang tua Wulan dengan kesopanan yang membuat ibu Wulan langsung bertanya “Nak Ayasha sudah punya calon?” lalu menatapku dan berkata “Oh. Oh! Oh, Esa?”, dan memperkenalkan diri ke teman-teman SMA-ku satu per satu sebagai “pacarnya Esa” dengan nada yang membuat kata pacar terdengar seperti gelar kebangsawanan.
Bram datang dua puluh menit kemudian, membawa seorang perempuan berambut pirang dengan dress hitam ketat. Dia memperkenalkannya ke semua orang sebagai “temen dekat, model, sering endorse”. Perempuan itu sibuk memotret dirinya sendiri di depan pelaminan.
Waktu Bram melihat Ayasha, dia berhenti melangkah. Wajahnya membeku. Lalu dia melihat tangan Ayasha di lenganku, dan wajahnya berubah warna, seperti lampu lalu lintas yang macet di kuning.
“Sa,” katanya. “Sha.”
“Mas Bram,” kata Ayasha manis. “Temennya cantik.”
“Makasih.” Bram melirik perempuan pirang yang masih sibuk dengan kameranya. Lalu menatapku. Kemejaku. Dua kancing yang terbuka. “Wah. Kemeja baru, Sa? Pinjem di mana?”
“Beli,” kataku.
“Beli? Pakai duit siapa?”
Ayasha menegang di lenganku. Aku menepuk tangannya dua kali, pelan. Nggak apa-apa.
“Bram,” kataku.
“Apa?”
“Kemejamu kebalik.”
Bram menunduk. Kemejanya tidak kebalik. Tapi waktu dia memeriksa, dia membalik kerahnya ke luar, lalu ke dalam, lalu ke luar lagi, panik, di depan tiga teman SMA yang mulai tertawa. Waktu dia sadar kemejanya baik-baik saja, kami sudah berjalan menjauh.
“Kamu jahat,” bisik Ayasha, menahan tawa.
“Aku cuma salah liat.”
“Bohong.”
“Iya.”
Dia menyandarkan kepalanya sebentar ke bahuku sambil tertawa tanpa suara. Hangat. Wangi kayu manis.
Gendis datang ke stand puding Dodoy waktu aku sedang mengambil es buah.
Malam itu dia memakai kebaya hijau muda dengan rambut digerai. Tetap cantik dengan caranya yang tenang. Dia menyapaku dengan senyum sopan, menyapa Ayasha dengan senyum yang lebih hangat dari yang kuduga, lalu berdiri di depan stand Dodoy dan menatap puding-puding cokelat itu dengan kening berkerut.
“Mas Dodoy,” katanya. “Ini pudingnya pakai vla?”
“Pakai, dong. Vla vanila. Bikin sendiri.”
“Kok pudingnya dikasih sambal?”
Hening.
Dodoy menatap pudingnya. Di samping setiap puding, ada mangkuk kecil berisi sambal merah.
“Itu,” kata Dodoy, “bukan sambal.”
“Merah, Mas.”
“Itu... saus stroberi.”
Gendis mencelupkan sendok kecil ke mangkuk itu, mencicipinya, dan langsung batuk.
“Mas,” katanya dengan mata berair. “Ini sambal terasi.”
Dodoy membeku. Lalu menoleh ke belakang, ke Ipul yang berdiri di samping kotak pendingin. Ipul menatap balik dengan wajah tanpa dosa.
“PUL.”
“Mas yang nyuruh bawa yang merah, Mas.”
“YANG MERAH ITU YANG DI KULKAS ATAS!”
“Yang di kulkas atas ya ini, Mas.”
Gendis, yang masih batuk, tiba-tiba tertawa. Tawanya meledak, renyah, tidak anggun sama sekali, sampai dia harus memegang meja stand. Dodoy menatapnya dengan wajah merah padam.
“Nggak lucu, Mbak.”
“Lucu, Mas,” kata Gendis sambil menyeka air mata. “Ini lucu banget. Puding sambal terasi.”
“Itu salah Ipul!”
“Iya. Iya.” Gendis menarik napas, lalu, masih tersenyum, mengambil satu puding lagi dan mencelupkannya ke sambal terasi dengan sengaja. Dia memakannya. Mengunyah. Menelan.
“Enak juga,” katanya.
Dodoy ternganga.
“Serius, Mas. Manis-pedes. Kayak rujak.”
Ayasha menarik lenganku dan membawaku menjauh dari stand itu dengan mata berbinar-binar.
“Kamu liat itu?” bisiknya.
“Liat apa?”
“Mas Dodoy. Mukanya.”
Aku menoleh ke belakang. Dodoy masih berdiri di balik stand, menatap Gendis yang sedang mengambil puding ketiga, dengan wajah yang belum pernah kulihat selama tujuh tahun bersahabat dengannya. Wajah orang yang sedang disambar petir.
“Oh,” kataku.
“Iya,” kata Ayasha. “Oh.”
Jam sembilan, band akustik berhenti memainkan lagu cinta ber-vibrato dan mulai memainkan lagu yang lebih pelan. MC mengumumkan sesi dansa untuk pengantin, lalu, setelah pengantin selesai, mengundang “pasangan-pasangan yang hadir” untuk ikut turun ke lantai dansa.
Aku langsung berbalik ke arah stand kambing guling.
Tangan Ayasha menangkap tanganku.
“Mau ke mana?”
“Kambing.”
“Nanti.”
“Kambingnya keburu habis.”
“Kambingnya nggak ke mana-mana, Esa. Kambingnya udah mati.” Dia menarikku ke tengah ruangan. “Ayo.”
“Aku nggak bisa dansa.”
“Aku juga.”
“Kalau dua-duanya nggak bisa, kenapa harus dansa?”
Ayasha berhenti di tengah lantai dansa, di antara tiga pasangan lain yang bergoyang canggung, dan berbalik menghadapku. Dia mengambil tangan kananku dan meletakkannya di pinggangnya. Di atas kain marun yang tipis. Lalu dia melingkarkan kedua lengannya ke leherku.
“Karena,” katanya, “Mas Bram lagi ngeliatin.”
Aku tidak menoleh ke arah Bram. Aku tidak bisa menoleh ke mana pun. Wajahnya terlalu dekat.
Kami bergoyang pelan. Atau tepatnya, Ayasha bergoyang pelan, dan aku berdiri kaku seperti tiang listrik yang ikut tertiup angin. Pantofel pinjaman Hasan menginjak ujung gaunnya dua kali.
“Maaf.”
“Nggak apa-apa.”
“Maaf lagi.”
“Esa.” Dia tertawa pelan. “Rileks.”
“Aku rileks.”
“Badan kamu kayak papan.”
“Papan itu rileks. Papan nggak pernah stres.”
Dia tertawa lagi, dan tawanya bergetar sampai ke tanganku di pinggangnya. Lalu tangannya bergerak. Jari-jarinya, yang tadi melingkar di leherku, naik pelan ke tengkuk. Menyusup ke rambut yang dikuncir rendah. Menggaruk pelan kulit di bawahnya.
Seluruh tulang punggungku tersetrum.
“Hm,” gumamnya. “Kamu sensitif di sini.”
“Sha.”
“Apa?”
“Tanganmu.”
“Kenapa tanganku?” Jarinya bergerak lagi. Pelan. Melingkar. “Aku cuma pegangan. Biar nggak jatuh.”
“Kita lagi berdiri. Nggak ada yang jatuh.”
“Aku bisa jatuh,” bisiknya. “Kalau kamu ngeliatin aku kayak gitu terus.”
Lagunya masih berjalan. Vokalis menyanyikan sesuatu tentang cinta yang datang terlambat. Lampu kristal palsu berkilauan. Aku berhenti menginjak gaunnya. Tubuhku, tanpa kusuruh, mulai bergoyang mengikuti gerakannya.
“Nah,” katanya pelan. “Gitu.”
“Ini latihan, kan?” tanyaku.
“Iya. Latihan.” Dia menatapku dari jarak sejengkal. Mata cokelat dengan bintik-bintik terang. “Nanti kalau beneran, kamu udah kebal.”
Aku menatapnya. Lama.
“Kayaknya aku nggak bakal kebal,” kataku.
Ayasha berhenti bergoyang.
Hanya sebentar. Satu ketukan lagu. Matanya membesar sedikit, seperti orang yang tidak menduga jawaban itu. Lalu dia tersenyum. Bukan senyum menggoda. Senyum yang lebih kecil, lebih rapuh, lebih jujur.
Lalu senyum itu berubah lagi. Matanya turun ke bibirku. Lama. Sengaja. Tidak terburu-buru. Seolah dia ingin aku tahu persis ke mana dia melihat.
“Esa,” bisiknya.
“Hm?”
“Kalau kamu cium aku sekarang,” katanya, sangat pelan, cukup pelan supaya hanya aku yang bisa mendengar di antara musik dan tawa dan denting gelas, “aku nggak bakal nolak.”
Aku berhenti bergerak.
“Cuma kasih tau aja,” lanjutnya. Jarinya di tengkukku menekan sedikit. “Biar kamu tau.”
Semua suara di gedung itu lenyap. Musik, MC, denting gelas, tawa, semuanya. Yang tersisa hanya wajahnya, bibir merah tua yang sedikit terbuka, napasnya yang hangat dan berbau kayu manis, dan jarak yang tinggal tiga senti.
Dua senti.
“MBAK AYASHA! MAS ESA! FOTO DULU!”
Kakak Wulan, perempuan berjilbab yang malam reuni menggendong bayi, berdiri di pinggir lantai dansa dengan ponsel terangkat tinggi, berteriak dengan semangat yang sangat tidak tepat waktu.
Ayasha menutup mata. Menghela napas panjang lewat hidung. Lalu membukanya lagi, menoleh ke kamera, dan tersenyum sempurna.
Aku tidak bisa tersenyum. Aku tidak tahu wajahku sedang apa.
Klik.
Di foto itu, yang dikirim kakak Wulan ke grup alumni sepuluh menit kemudian, Ayasha tersenyum ke kamera seperti bintang film, dan aku menatap Ayasha seperti orang yang baru diberi tahu bahwa dunia ini bulat.
Komentar pertama di grup:
Esa mukanya kayak abis liat malaikat wkwk
Komentar kedua, dari Bram:
[pesan ini telah dihapus]
- 1 Hoodie Abu-Abu dan Undangan yang Kubuang
- 2 Maaf Telat, Sayang
- 3 Pacarku, Katanya
- 4 Kontrak Tanpa Kertas
- 5 Kejutan dari Dodoy
- 6 Bubur Nggak Kuat Bonceng Dua Orang yang Saling Gengsi
- 7 Kantor Hampir Triliun Milik Orang Lain
- 8 Founder Misterius Nggak Pernah Nongol
- 9 Nomor 001
- 10 Nikahan Teman, Pacar Pura-Pura reading
- 11 Cium Pipi Itu Bukan Bagian Kontrak
- 12 Rumah Pulang
- 13 PIN Gerbang Rumah Sendiri
- 14 Porsche yang Akinya Soak
- 15 Utangku Belum Lunas
- 16 Bram Ngajak Bisnis
- 17 Surat yang Tidak Pernah Dikirim
- 18 Hoodie Ini Sekarang Punyaku
- 19 Pura-Puranya Udah Kedaluwarsa
- 20 Resmi, Tanpa Kontrak
- 21 Menginap karena Hujan, Katanya
- 22 Lampu yang Kumatikan Sendiri
- 23 Laporan Tahunan Beasiswa
- 24 Jadi Selama Ini, Kamu Tahu
- 25 Cara Membalas yang Salah
- 26 Dodoy Marah
- 27 Separuh Lauk
- 28 Aku yang Takut Menerima
- 29 Seri C Butuh Wajah
- 30 Founder: E.
- 31 Viral
- 32 Dia Naik Jabatan Karena Siapa?
- 33 Bram Bicara
- 34 Gantian
- 35 Bubur Pensiun?
- 36 Cicilan Pertama
- 37 Epilog: Rumah yang Akhirnya Ditinggali