Chapter Thirty Three
Bram Bicara
POV: Esa
Bram tinggal di Cibubur.
Aku tahu dari data karyawan yang dikirim Hendra jam enam pagi, bersama pesan yang hanya berisi satu kalimat: Pak, saya ikut.
Aku membalas: Nggak. Aku sendiri.
Rumahnya rumah kontrakan kecil di perumahan padat, di gang yang lebih sempit dari gang kos Bu Darsih. Pagar besi hijau yang catnya mengelupas. Teras sempit dengan dua pot tanaman yang sudah mati. Di depan rumah, tidak ada mobil. Tempat parkir kosong. Hanya ada bekas oli di lantai semen, berbentuk persegi panjang, tempat mobil yang cicilannya telat delapan puluh tujuh hari dulu diparkir.
Aku memarkir Bubur di depan pagar. Mengetuk.
Lama tidak ada jawaban.
Lalu pintu terbuka sedikit. Bram mengintip dari celahnya. Rambutnya acak-acakan. Matanya merah dan bengkak. Kaos oblong kusut dan celana pendek. Bau alkohol samar keluar dari celah pintu.
Dia melihatku. Wajahnya berubah. Pucat. Lalu lebih pucat.
Dia mencoba menutup pintu.
Aku menahannya dengan telapak tangan.
“Bram.”
“Pergi, Sa.”
“Aku cuma mau ngomong.”
“Gue nggak mau ngomong.” Suaranya serak. “Lo udah tau, kan? Hendra udah liat log-nya. Lo udah tau gue yang... yang...”
“Iya. Aku tau.”
Bram berhenti mendorong pintu.
“Terus lo mau apa?” tanyanya. Suaranya pecah. “Mau mecat gue? Mau laporin gue? Mau nuntut gue? Silakan. Gue nggak punya apa-apa lagi. Mobil udah ditarik. Tabungan abis buat MLM. Gue tinggal punya kontrakan ini sampai bulan depan.”
“Aku nggak mau mecat kamu.”
“Bohong.”
“Aku nggak bisa bohong, Bram. Udah dicoba. Kalah terus.”
Bram menatapku dari celah pintu. Lama. Lalu, pelan-pelan, dia membuka pintunya lebih lebar.
Ruang tamunya kecil dan berantakan. Sofa butut dengan bantal yang kempes. Meja kaca dengan tiga kaleng bir kosong dan sebungkus rokok yang belum dibuka. Televisi kecil yang menyala tanpa suara, menayangkan berita pagi. Di layar, potongan video pidatoku di launching. Lalu potongan video Bu Darsih yang berteriak orang kaya kok pelupa. Lalu, sebentar, tangkapan layar unggahan akun gosip itu.
Bram mematikan televisi dengan remote. Tangannya gemetar.
Dia duduk di ujung sofa. Aku duduk di kursi plastik di seberangnya. Di antara kami, tiga kaleng bir kosong.
Dia tidak menatapku.
“Kenapa?” tanyaku.
Bram tertawa. Tawa pendek yang kering. Dia mengusap wajahnya dengan dua tangan.
“Lo tau rasanya, Sa,” katanya dari balik tangannya, “duduk di meja nomor tiga, di acara paling gede kantor lo, nunggu dipanggil buat terima penghargaan Best Turnaround, terus liat cowok yang lo hina di reuni naik panggung pake sandal jepit, terus sadar dia bos lo?”
Aku diam.
“Gue duduk di sana,” lanjut Bram, menurunkan tangannya. Matanya merah. “Terus gue inget semuanya. Gue nawarin lo jadi OB. Di depan tiga puluh orang. Gue bilang gajinya UMR. Gue bilang lumayan daripada nganggur.” Dia tertawa lagi. “Gue nawarin bos gue jadi OB di kantornya sendiri.”
“Aku bilang aku mau bikinin kamu kopi.”
“IYA!” Bram berdiri. Kaleng bir di meja bergoyang. “Lo bilang lo mau bikinin gue kopi! Dan semua orang ketawa! Dan gue pikir mereka ketawa sama lo! Ternyata mereka... ternyata...”
Dia berhenti. Napasnya cepat.
“Terus gue inget di warung temen lo,” katanya, lebih pelan. “Gue nawarin lo ikut MLM. Gue nunjukin foto Pak Haryono di kapal pesiar. Ke orang yang punya duit buat beli sepuluh kapal pesiar. Terus lo bayarin makan siang gue. Dan gue teriak di depan orang-orang, gue nggak butuh dikasihani sama pengangguran.”
Dia duduk lagi. Berat. Sofa butut berderit.
“Terus program bantuan utang itu,” katanya. Suaranya hampir tidak terdengar. “Gue orang pertama yang daftar. Gue nangis di mobil pas dapet email persetujuannya. Gue doain founder tiap malem, Sa. Tiap malem. Gue bilang ke nyokap gue, Ma, bos Bram orang baik banget, Bram nggak kenal dia, tapi dia nolongin Bram.”
Bram menatapku. Air matanya jatuh.
“Ternyata gue kenal dia,” katanya. “Ternyata dia orang yang gue hina. Dan dia bikin program itu karena liat gue di warung. Karena kasihan sama gue.”
“Bukan kasihan.”
“TERUS APA?”
Aku tidak langsung menjawab.
Aku memikirkan pertanyaan itu dengan serius. Kenapa aku membuat program bantuan finansial itu? Karena Bram? Bukan. Karena Bram ketakutan. Karena aku melihat gerakan jari Bram yang mengetuk meja dan kakinya yang bergoyang, dan aku mengenalinya sebagai gerakanku sendiri sebelas tahun lalu, waktu saldo rekeningku dua puluh tiga ribu rupiah dan uang kos jatuh tempo tiga hari lagi.
“Karena aku pernah takut kayak kamu,” kataku.
Bram menatapku.
“Dulu,” lanjutku. “Pas baru keluar panti. Nggak punya duit. Nggak punya siapa-siapa. Tiap malem aku nggak bisa tidur karena takut besok nggak bisa bayar kos. Aku liat kamu di warung Dodoy, ngetuk-ngetuk meja, kaki goyang terus, HP bunyi terus dari debt collector, dan aku inget rasanya.” Aku mengangkat bahu. “Aku nggak kasihan sama kamu. Aku kenal sama rasa takutmu.”
Bram menutup wajahnya dengan dua tangan lagi. Bahunya berguncang.
“Gue mabok,” katanya dari balik tangan. “Malem itu. Abis launching. Gue pulang naik ojek, beli bir di minimarket, minum empat kaleng di sini. Sendirian. Gue buka laptop kantor. Gue nggak tau mau ngapain. Gue cuma... gue pengin ngerasa nggak kalah. Sekali aja. Gue pengin ada satu hal yang gue tau dan lo nggak tau.”
“Dokumen PHK.”
“Gue inget pernah liat folder itu di sistem HR. Dua tahun lalu, pas gue masih di panel penilai. Gue nggak tau ada nama dia di situ. Gue cuma iseng buka. Terus gue liat nama dia dicoret. Terus gue liat catatan atas permintaan Pak E.” Bram menurunkan tangannya. Wajahnya basah. “Terus gue liat foto IG panti yang nyebut dia penerima beasiswa nomor satu. Terus otak gue yang lagi mabok nyambungin semuanya. Dan gue pikir... gue pikir, nah, ini dia. Ini rahasia lo. Founder baik hati yang ternyata nyimpen cewek. Lo nggak sesuci itu.”
Dia menatapku dengan mata penuh air mata.
“Gue kirim ke akun gosip itu jam tiga pagi,” katanya. “Pake akun palsu. Gue tulis captionnya sendiri. Kalimat mereka nggak punya founder yang nyisain separuh, itu gue yang tulis. Dari pidato lo.”
Aku diam.
“Terus gue tidur,” kata Bram. “Terus gue bangun jam sembilan. Terus gue liat HP. Tiga puluh ribu share. Komentar-komentarnya...” Dia menelan ludah. “Ada yang nyebut dia simpenan. Ada yang nyebut dia perempuan murahan. Ada yang ngedit fotonya. Ada yang nyari akun Instagram pribadinya terus spam DM-nya.”
Dia berhenti. Wajahnya berubah. Bukan malu lagi. Sesuatu yang lebih buruk dari malu.
“Gue cuma pengin lo ngerasa kalah, Sa,” bisiknya. “Gue nggak mikir dia yang bakal kena. Gue lupa dia ada di situ. Gue lupa dia orang yang delapan bulan gue godain, yang nolak gue dengan sopan, yang gue kasih nilai tertinggi di panel promosi karena kampanyenya emang yang terbaik.”
Aku menatapnya.
“Kamu kasih dia nilai tertinggi?”
Bram mengangguk. “Sembilan koma empat. Dari sepuluh. Paling tinggi dari tiga penilai. Kak Dewi kasih sembilan koma satu. Kepala Produk kasih delapan koma delapan.” Dia tertawa pahit. “Gue naksir dia, Sa. Iya. Delapan bulan. Tapi pas gue baca proposal kampanyenya, gue lupa gue naksir dia. Gue cuma mikir, anjir, ini bagus banget. Gue nggak pernah liat proposal sebagus itu dari staf junior.”
“Masih ada datanya?”
“Ada. Di sistem. Gue punya akses.” Bram menatapku. “Kenapa?”
Aku mencondongkan badan ke depan. Siku di atas lutut.
“Bram,” kataku. “Aku nggak dateng ke sini buat mecat kamu. Atau nuntut kamu. Atau bikin kamu ngerasa kalah.”
“Terus?”
“Aku dateng buat minta tolong.”
Bram berkedip.
“Bantu aku bersihin nama dia,” kataku. “Bukan namaku. Namaku nggak penting. Biarin orang ngomong apa aja soal aku. Tapi nama dia.” Suaraku keluar lebih serak dari yang kumau. “Dia resign kemarin. Dia pikir semua yang dia capai di Bekal itu pemberianku. Dia pikir dia nggak pernah pantes. Aku udah bilang ke dia, Hendra udah bilang ke dia, tapi dia nggak bisa percaya kami. Karena kami orang dalem. Karena aku orang yang nyoret namanya.”
Bram menatapku.
“Tapi kamu,” lanjutku pelan, “orang yang naksir dia, yang ditolak dia, yang benci aku, yang bocorin dokumen itu. Kalau kamu yang bilang dia pantes, orang bakal percaya.”
Bram tidak bergerak. Lama sekali.
Lalu dia berdiri. Berjalan ke dapur kecilnya. Membuang tiga kaleng bir kosong ke tempat sampah. Satu per satu. Lalu sebungkus rokok yang belum dibuka.
Dia kembali ke ruang tamu dan berdiri di depanku.
“Gue bakal bilang semuanya,” katanya. “Di depan semua orang. Gue yang bocorin. Gue yang nulis captionnya. Gue yang kasih dia nilai sembilan koma empat. Semuanya.”
“Kamu bakal dipecat.”
“Gue tau.”
“Kamu bakal dihujat.”
“Gue tau.” Bram menatapku. Matanya merah tapi jernih untuk pertama kalinya pagi itu. “Gue udah hidup dua belas tahun jadi orang yang ngehina lo, Sa. Gue capek. Gue pengin sekali aja jadi orang yang bener.”
Hendra mengadakan rapat umum seluruh karyawan Bekal jam dua siang hari itu.
Tiga ratus orang. Di ruang serbaguna lantai dua puluh lima. Ditambah dua ratus lebih yang menonton lewat panggilan video dari rumah, karena banyak yang mengambil cuti setelah kekacauan akhir pekan. Hendra meminta tim komunikasi merekam rapat itu. Untuk diunggah ke akun resmi Bekal setelahnya.
Aku datang dengan hoodie abu-abu baru. Label Punya E di kerah. Sandal jepit.
Tiga ratus kepala menoleh waktu aku masuk.
Bisik-bisik. Lalu hening.
Aku tidak naik ke podium. Aku berdiri di samping podium, di sebelah Hendra, di lantai yang sama dengan semua orang.
Hendra membuka rapat. Dia bicara lima menit tentang Seri C, tentang komitmen Bekal pada transparansi, tentang dokumen yang bocor. Suaranya tenang dan profesional. Lalu dia berhenti, menatap ke barisan belakang, dan mengangguk.
Bram berjalan ke depan.
Dia memakai kemeja biru muda yang kusut. Kancing atasnya terpasang. Rambutnya disisir rapi, tanpa pomade. Matanya masih bengkak.
Tiga ratus orang menatapnya.
Dia berdiri di podium. Tangannya mencengkeram pinggiran podium sampai buku-buku jarinya memutih.
“Nama saya Bram Wicaksono,” katanya. “Sales Manager. Dan saya yang membocorkan dokumen itu.”
Ruangan meledak. Suara kaget. Suara marah. Suara kursi bergeser.
Bram menunggu. Tidak mundur.
Waktu ruangan tenang lagi, dia melanjutkan.
“Saya yang mengunduh dokumen PHK dari sistem HR jam dua pagi Minggu lalu. Saya yang mengirimkannya ke akun gosip. Saya yang menulis captionnya. Termasuk kalimat soal nyisain separuh.” Suaranya bergetar, tapi dia tidak berhenti. “Saya melakukannya karena saya iri. Karena saya malu. Karena saya mabuk. Dan karena saya pengecut.”
Hening total.
“Tapi saya juga di sini,” lanjut Bram, “untuk memberikan informasi yang tidak ada di unggahan itu.”
Dia memberi isyarat ke tim teknis. Layar besar di belakangnya menyala.
Tampilan dari sistem HR Bekal. Formulir evaluasi promosi. Dua tahun lalu, kuartal keempat. Kandidat: Ayasha Pramesti. Posisi: Brand Manager.
Tiga kolom penilaian. Tiga nama penilai.
Dewi Kusumaningrum (Kepala Divisi Marketing): 9,1
Arief Santoso (Kepala Divisi Produk): 8,8
Bram Wicaksono (Sales Manager): 9,4
Di bawahnya, catatan dari masing-masing penilai. Bram memperbesar catatannya sendiri.
Proposal kampanye “Bekal untuk Semua” adalah proposal terbaik yang pernah saya baca dari staf mana pun di perusahaan ini, junior atau senior. Strateginya presisi, risetnya mendalam, dan naskahnya ditulis dengan empati yang tidak bisa diajarkan. Saya rekomendasikan promosi tanpa syarat.
Bram menoleh ke ruangan.
“Saya menulis itu dua tahun lalu,” katanya. “Waktu saya sedang naksir dia. Waktu dia sedang menolak saya untuk ketiga kalinya. Waktu saya punya setiap alasan untuk kasih nilai rendah.” Dia menelan ludah. “Saya kasih nilai tertinggi. Karena kampanyenya memang yang terbaik. Founder tidak ada di panel itu. Founder tidak tahu ada promosi itu. Founder bahkan tidak tahu dia bekerja di sini sampai dua bulan lalu.”
Dia menatap tiga ratus orang di depannya.
“Ayasha Pramesti tidak naik jabatan karena siapa pun,” katanya. “Dia naik jabatan karena dia lebih bagus dari kita semua. Dan sekarang dia resign karena saya. Karena saya membuat dia percaya bahwa dia tidak pantas.”
Suaranya pecah di kalimat terakhir.
“Saya minta maaf,” katanya. “Ke dia. Ke founder. Ke kalian semua. Saya akan mengundurkan diri hari ini.”
Dia mundur dari podium.
Ruangan hening.
Lalu, dari barisan tengah, seseorang berdiri.
Tika. Dengan poni lurus dan mata bengkak. Dia berdiri di tengah tiga ratus orang yang duduk, dan dia bertepuk tangan. Pelan. Sendirian.
Bukan untuk Bram. Aku tahu itu. Untuk Ayasha.
Lalu Kak Dewi berdiri. Lalu kepala divisi Produk. Lalu seluruh divisi Marketing. Lalu, pelan-pelan, satu per satu, seluruh ruangan.
Tepuk tangan itu berlangsung lama.
Bram berdiri di samping podium dengan wajah menunduk, tidak tahu tepuk tangan itu untuk siapa, dan dia menangis tanpa suara.
Lalu Hendra menyerahkan mikrofon padaku.
Aku tidak naik ke podium. Aku berdiri di tempatku.
“Saya juga mau minta maaf,” kataku.
Ruangan tenang lagi.
“Dua tahun lalu, saya mencoret satu nama dari daftar PHK,” kataku. “Bukan karena saya tahu siapa dia. Saya tidak tahu. Saya cuma lihat satu baris di satu CV: Penerima Beasiswa Rumah Pulang. Itu panti tempat saya dibesarkan. Saya pikir, nggak ada anak dari rumah itu yang boleh kehilangan kerjaan. Jadi saya telepon Hendra jam sebelas malam dan bilang jangan yang itu.”
Aku berhenti sebentar.
“Itu salah,” kataku.
Beberapa orang di ruangan saling pandang.
“Bukan karena dia nggak pantas dipertahankan. Dia pantas. Data tadi buktinya. Tapi karena saya cuma menyelamatkan satu orang karena satu kata. Sementara tiga puluh sembilan orang lain juga punya rumah. Juga punya orang yang nunggu mereka pulang bawa gaji. Juga punya anak yang mungkin kalah cepat di meja makan.”
Aku menatap ruangan itu. Tiga ratus wajah. Banyak yang kukenal dari foto di deck investor. Banyak yang tidak kukenal sama sekali.
“Saya terlalu sibuk menyembunyikan diri sampai lupa bahwa setiap nama di daftar itu adalah orang,” kataku. “Mulai bulan ini, Bekal akan menghubungi ketiga puluh sembilan orang yang di-PHK dua tahun lalu. Kami akan tawarkan posisi kembali untuk yang mau. Kompensasi tambahan untuk semuanya. Dan beasiswa penuh untuk anak-anak mereka, sampai lulus kuliah. Dananya dari saham saya.”
Ruangan hening.
“Saya nggak bisa mengubah dua tahun lalu,” kataku. “Tapi saya bisa berhenti menyembunyikan apa yang saya lakukan. Dan berhenti memilih siapa yang pantas diselamatkan berdasarkan satu kata di CV.”
Aku menyerahkan mikrofon kembali ke Hendra.
Tidak ada yang bertepuk tangan. Belum. Ruangan masih mencerna.
Lalu, dari barisan depan, Mbak yang kuingat dari foto tim Customer Service (namanya Wulan, katanya; banyak sekali Wulan di Jakarta) mengangkat tangan.
“Pak,” katanya. “Mbak Rara. Dari CS. Yang di-PHK dua tahun lalu. Dia temen saya. Dia sekarang jualan kue di Bekasi. Anaknya tiga.” Suaranya bergetar. “Boleh saya yang telepon dia, Pak? Saya mau jadi yang pertama ngasih tau.”
Aku menatapnya.
“Boleh,” kataku. “Makasih.”
Dan baru setelah itu ruangan bertepuk tangan.
Aku menemukan Bram di toilet lantai dua puluh lima, setengah jam setelah rapat selesai.
Dia berdiri di depan wastafel, membasuh wajahnya berulang-ulang dengan air dingin. Matanya merah. Kemejanya basah di bagian kerah.
“Bram.”
Dia menatapku lewat cermin.
“Surat resign lo,” kataku. “Hendra nggak bakal proses.”
Bram berbalik. “Sa, gue bocorin dokumen rahasia...”
“Kamu juga baru bersihin nama orang yang kamu sakitin. Di depan tiga ratus orang. Pake bukti.” Aku bersandar di kusen pintu toilet. “Kamu bakal dipindah. Bukan dipecat. Divisi Kemitraan Sosial, di bawah Program Bantuan Finansial. Kamu yang bakal ngurusin karyawan-karyawan yang kejebak pinjol kayak kamu.”
Bram menatapku dengan mulut terbuka.
“Kamu tau rasanya,” kataku. “Kamu tau gerakan jarinya. Kamu tau bunyi HP yang nggak berhenti. Kamu bakal ngenalin mereka lebih cepet dari siapa pun.”
“Sa...”
“Dan sisa utang pinjolmu,” lanjutku, “udah dilunasin program. Sisa cicilan mobil yang ditarik leasing juga. Kamu nyicil ke program, tanpa bunga, dari gaji. Dua tahun.”
Bram menatapku lama. Lalu dia berbalik ke wastafel, mencengkeram pinggirannya, dan menunduk.
Bahunya berguncang.
Aku menunggu.
“Kenapa?” tanyanya akhirnya, tanpa menoleh. “Kenapa lo baik sama gue? Dua belas tahun gue jahat sama lo.”
Aku memikirkan pertanyaan itu.
“Karena kamu tadi berdiri,” kataku. “Di depan semua orang. Dan bilang yang bener. Padahal kamu tau bakal dihujat.”
Aku membuka pintu toilet.
“Dua belas tahun lalu kamu ngumpetin sepatuku di loker toilet,” kataku. “Hari ini kamu berdiri di toilet yang sama dengan muka basah. Itu udah cukup buat aku.”
Aku keluar.
Di belakangku, aku mendengar Bram menangis. Keras. Di toilet lantai dua puluh lima gedung kantor yang sewanya kutandatangani empat tahun lalu dengan satu huruf.
Video rapat umum itu diunggah ke akun resmi Bekal jam lima sore.
Jam tujuh malam, sudah ditonton satu juta kali.
Komentar-komentarnya berbeda dari kemarin.
Gue nangis liat Mas Bram ngaku. Butuh nyali gede.
Sembilan koma empat dari orang yang ditolak delapan bulan. Itu bukan jalur beasiswa, itu jalur talenta.
Founder-nya minta maaf ke 39 orang yang di-PHK. Bayangin bos lo ngakuin salah kayak gitu.
Mbak Ayasha harus balik. Plis. Kampanyenya yang bikin gue daftar beasiswa Bekal buat adek gue.
Akun gosip yang kemarin udah hapus postingannya. LOL.
Aku tidak membacanya sampai habis.
Aku duduk di anak tangga teras kos Bu Darsih dengan ponsel di tangan, menunggu satu pesan.
Jam tujuh lewat dua belas menit, pesan itu datang.
Ayasha 🩶: Aku nonton.
Aku menatap dua kata itu.
Ayasha 🩶: Cak Man. Jam delapan. Aku traktir.
Ayasha 🩶: Kali ini jangan bayarin aku. Biarin aku yang bayar.
Aku menatap pesan terakhir itu lama.
Aku: Iya. Kamu yang bayar.
Tenda Cak Man malam itu hujan.
Bukan hujan deras seperti malam ciuman pertama. Gerimis. Pelan. Tetes-tetes kecil yang jatuh di terpal biru dan mengalir di pinggirannya seperti tirai.
Dia sudah di sana waktu aku datang. Di bangku plastik pojok. Di bawah bagian terpal yang paling jauh dari jalan. Dia memakai hoodie abu-abu yang lebih belel, rambut digerai, tanpa riasan. Di depannya, dua piring pecel lele yang masih mengepul. Dua teh manis panas.
Dan satu piring kecil kosong di tengah meja.
Aku berdiri di bawah terpal. Gerimis menetes dari ujung rambutku.
Dia mendongak. Menatapku.
Matanya bengkak. Bibirnya pucat. Tapi waktu dia melihatku, sesuatu di wajahnya melunak.
“Duduk,” katanya.
Aku duduk. Di sebelahnya. Bukan di seberang.
Cak Man, di balik gerobak, mematikan radio. Lalu menyalakannya lagi. Lagu dangdut tentang orang yang menunggu di stasiun. Volume pelan.
Kami diam lama.
“Bram telepon aku,” kata Ayasha akhirnya. “Tadi sore. Abis rapat. Nangis. Minta maaf. Lima belas menit.”
“Kamu maafin?”
“Belum.” Dia menatap pecel lele di piringnya. “Tapi nanti. Mungkin.”
Diam lagi.
“Sembilan koma empat,” katanya pelan.
“Iya.”
“Dari Bram.”
“Iya.”
“Aku nggak pernah tau nilaiku berapa.” Dia tersenyum kecil. Basah. “HR cuma bilang aku lolos.”
Dia menoleh padaku.
“Esa.”
“Hm?”
“Yang di surat. Yang kamu titipin ke satpam.” Dia mengeluarkan secarik kertas dari saku hoodie. Kertas sobekan buku tulis yang kutitipkan bersama sepatu hak. Lipatannya sudah lecek. “Itu satu-satunya hal yang pernah aku lakuin buat kariermu. Satu kali.”
“Itu bener.”
“Aku tau. Sekarang aku tau.” Dia menatap kertas itu. “Tapi satu kali itu tetep ada, Esa. Satu kali itu fondasinya.”
“Iya.”
“Aku resign bukan karena marah sama kamu.”
“Aku tau.”
“Aku resign karena aku harus tau aku bisa berdiri tanpa fondasi itu.”
Aku menatapnya. Perempuan yang dua tahun lalu kucoret namanya dari daftar PHK tanpa tahu siapa dia. Perempuan yang sekarang duduk di sebelahku, menolak fondasi yang kuberikan, karena dia ingin tahu kakinya sendiri cukup kuat.
“Kamu bisa,” kataku.
“Kamu nggak tau itu.”
“Aku tau.” Aku tersenyum kecil. “Empat puluh tujuh nomor. Sembilan koma empat. Tujuh surat. Lima sendok nasi goreng di depan pintu yang ketutup. Kamu bisa, Sha. Kamu udah bisa dari dulu. Aku cuma nyingkirin satu batu di jalan.”
Dia menatapku lama. Lalu tertawa. Kecil. Tersedak.
“Batu,” katanya.
“Kenapa?”
“Nggak.” Dia menggeleng, menyeka mata. “Gendis yang ngajarin aku soal batu. Nanti aku ceritain.”
Gerimis di atas terpal. Kucing belang tiga keluar dari bawah gerobak, menatap kami, lalu duduk di atas sandal jepitku.
Lalu Ayasha melakukan sesuatu.
Dia mengambil piring kecil kosong di tengah meja. Memotong separuh lelenya. Meletakkannya di piring kecil. Lalu mendorongnya ke depanku.
Aku menatap piring kecil itu.
“Kamu nggak harus terima,” katanya pelan. “Tapi aku mau nyisain.”
Aku tidak menjawab. Aku mengambil piring kecil itu, menariknya ke depanku, dan makan separuh lele itu. Pelan. Sampai habis.
Ayasha menonton. Matanya berkaca-kaca.
“Esa,” katanya.
“Hm?”
“Malam itu. Waktu kamu bilang utangku udah lunas.” Dia menatap terpal di atas kami. “Kamu salah.”
Aku menunggu.
“Bukan aku yang utang,” katanya. “Aku pikir aku yang utang. Tujuh tahun aku pikir aku yang utang. Tapi sekarang...” Dia menatapku. “Sekarang aku nggak tau siapa yang utang sama siapa.”
Aku meletakkan sendok.
Aku sudah memikirkan ini. Sepanjang minggu. Di kamar kos, di tangga darurat hotel, di ruang tamu Bram, di toilet lantai dua puluh lima. Aku memikirkan apa yang kukatakan malam itu di tenda ini. Kalimat yang membuat wajahnya hancur.
Utangmu udah lunas. Anggap aja lunas.
Aku salah. Bukan karena kalimatnya kejam. Karena kalimatnya terbalik.
“Belum,” kataku.
Ayasha menatapku.
“Belum lunas, Sha,” kataku pelan. “Tapi bukan utangmu.”
Aku menatap piring kecil kosong di depanku. Piring kecil yang tadi berisi separuh lele darinya.
“Yang belum lunas itu aku,” kataku. “Sama kamu.”
Ayasha tidak bergerak.
“Kamu sisain separuh lauk tujuh malam di depan pintuku. Kamu nunggu. Kamu nggak maksa. Kamu bikin empat puluh tujuh nomor. Kamu beliin aku hoodie dan jahitin namaku di kerahnya. Kamu jagain rahasiaku dari Dodoy, bahkan setelah aku ngusir kamu. Kamu ngajarin aku goreng telur.” Suaraku pecah. “Kamu ngajarin aku nerima, Sha. Dua puluh tahun aku nggak bisa. Kamu ngajarin aku dalam dua bulan.”
Air mata jatuh dari matanya.
“Itu utangku,” kataku. “Dan aku nggak mau lunas. Aku mau nyicil. Seumur hidup.”
Ayasha menutup mulutnya dengan dua tangan.
Lalu dia menurunkan tangannya. Dan dia tertawa sambil menangis, keras, di bawah terpal biru tenda Cak Man, dengan gerimis yang menetes di pinggiran dan radio yang memutar lagu tentang orang yang menunggu di stasiun.
“Kamu tau nggak,” katanya, tersedak, “malam itu, pas aku naik ojek, aku ngomong sesuatu. Nggak pake suara.”
“Aku liat bibirmu gerak.”
“Kamu tau aku ngomong apa?”
“Nggak.”
Dia menatapku. Matanya merah dan basah dan sangat terang.
“Pulang,” katanya.
Aku membeku.
“Aku bilang pulang,” ulangnya pelan. “Bukan ke kamu. Ke diriku sendiri. Karena aku pikir aku nggak punya tempat buat pulang lagi. Kamu udah nutup pintunya.” Dia menyeka matanya dengan lengan hoodie. “Terus malam itu aku ke apartemenku. Terus aku sadar. Unit itu bukan rumah. Panti juga bukan rumah lagi. Rumahku itu...”
Dia berhenti.
Dia tidak melanjutkan. Dia tidak perlu melanjutkan.
Aku mengangkat tanganku dan menangkup pipinya. Ibu jariku menyusuri tulang pipinya yang basah. Persis seperti malam itu, di tenda ini, waktu dia menciumku pertama kali dan aku tidak melepaskannya.
“Sha,” bisikku. “Boleh?”
Dia tertawa. Basah. Bergetar.
“Kamu masih nanya?”
“Iya.”
“Masih masa percobaan?”
“Udah lulus.”
Ayasha menatapku. Lalu dia memegang tanganku yang di pipinya, dan dia menarikku mendekat.
“Boleh,” bisiknya di bibirku. “Selalu boleh.”
Aku menciumnya.
Di tenda Cak Man. Di bawah gerimis. Di tempat yang sama di mana semuanya dimulai, dan di mana semuanya hampir berakhir.
Ciuman itu pelan. Tidak terburu-buru. Seperti dua orang yang sudah tahu bahwa tidak ada lagi yang perlu dikejar, dan tidak ada lagi yang perlu dibayar.
Di balik gerobak, Cak Man membesarkan volume radio. Volume penuh. Speaker bergetar.
Lagu tentang orang yang menunggu di stasiun berganti jadi lagu tentang orang yang akhirnya datang.
Waktu kami berhenti, kening kami bersandar satu sama lain.
“Esa,” bisik Ayasha.
“Hm?”
“Aku yang bayar pecel lelenya.”
“Iya.”
“Beneran. Jangan diem-diem bayarin.”
“Nggak.”
“Janji?”
Aku tersenyum di keningnya.
“Janji.”
Dia membayar pecel lele itu. Empat puluh ribu rupiah. Dengan dua lembar dua puluh ribu dari dompetnya sendiri. Cak Man menerimanya dengan senyum kumis tipis yang sangat lebar.
Dan aku, untuk pertama kalinya dalam dua puluh sembilan tahun, membiarkan seseorang membayar makan malamku, tanpa menghitung bagaimana cara membalasnya.
- 1 Hoodie Abu-Abu dan Undangan yang Kubuang
- 2 Maaf Telat, Sayang
- 3 Pacarku, Katanya
- 4 Kontrak Tanpa Kertas
- 5 Kejutan dari Dodoy
- 6 Bubur Nggak Kuat Bonceng Dua Orang yang Saling Gengsi
- 7 Kantor Hampir Triliun Milik Orang Lain
- 8 Founder Misterius Nggak Pernah Nongol
- 9 Nomor 001
- 10 Nikahan Teman, Pacar Pura-Pura
- 11 Cium Pipi Itu Bukan Bagian Kontrak
- 12 Rumah Pulang
- 13 PIN Gerbang Rumah Sendiri
- 14 Porsche yang Akinya Soak
- 15 Utangku Belum Lunas
- 16 Bram Ngajak Bisnis
- 17 Surat yang Tidak Pernah Dikirim
- 18 Hoodie Ini Sekarang Punyaku
- 19 Pura-Puranya Udah Kedaluwarsa
- 20 Resmi, Tanpa Kontrak
- 21 Menginap karena Hujan, Katanya
- 22 Lampu yang Kumatikan Sendiri
- 23 Laporan Tahunan Beasiswa
- 24 Jadi Selama Ini, Kamu Tahu
- 25 Cara Membalas yang Salah
- 26 Dodoy Marah
- 27 Separuh Lauk
- 28 Aku yang Takut Menerima
- 29 Seri C Butuh Wajah
- 30 Founder: E.
- 31 Viral
- 32 Dia Naik Jabatan Karena Siapa?
- 33 Bram Bicara reading
- 34 Gantian
- 35 Bubur Pensiun?
- 36 Cicilan Pertama
- 37 Epilog: Rumah yang Akhirnya Ditinggali