← Pacarku Pakai Hoodie

Chapter Nineteen

Pura-Puranya Udah Kedaluwarsa

POV: Ayasha


Senin pagi, untuk pertama kalinya dalam delapan bulan, tidak ada kopi di sudut mejaku.

Aku menyadarinya jam sepuluh lewat dua puluh. Tika menyadarinya jam sepuluh lewat dua puluh satu, karena dia yang biasanya meminum kopi itu.

“Mbak,” bisiknya dengan wajah cemas. “Kopi Mas Bram mana?”

“Nggak tau.”

“Mas Bram sakit?”

“Nggak tau, Tik.”

“Mas Bram meninggal?”

“TIKA.”

Tika kembali ke mejanya, tapi dia terus melirik ke arah lorong divisi Sales setiap tiga menit, seperti anak kucing yang menunggu tukang ikan.

Jam sebelas, sebuah email masuk ke semua alamat karyawan Bekal. Pengirimnya Kak Hendra. Subjeknya:

[PENGUMUMAN] Klarifikasi Target Q4 & Program Bantuan Finansial Karyawan

Teman-teman,

Ada dua hal yang ingin saya sampaikan.

Pertama, saya mendengar ada informasi yang beredar bahwa founder akan melakukan “evaluasi langsung” atau “pembersihan” jika target Q4 tidak tercapai. Informasi itu tidak benar. Founder tidak pernah menyampaikan hal tersebut. Saya mohon maaf atas kebingungan dan tekanan yang ditimbulkan. Target Q4 akan ditinjau ulang bersama kepala divisi minggu ini agar lebih realistis.

Kedua, mulai bulan ini Bekal meluncurkan Program Bantuan Finansial Karyawan. Program ini mencakup konseling keuangan gratis dan fasilitas pinjaman tanpa bunga untuk karyawan yang membutuhkan, termasuk untuk melunasi pinjaman berbunga tinggi. Seluruh proses bersifat rahasia.

Program ini adalah inisiatif langsung dari founder, dan didanai dari dana pribadi beliau.

Founder berpesan: “Tidak ada yang boleh berhenti hidup tenang hanya karena tidak ada yang menunjukkan jalan keluar.”

Salam, Hendra

Aku membaca email itu dua kali.

Kalimat terakhir. Tidak ada yang boleh berhenti hidup tenang hanya karena tidak ada yang menunjukkan jalan keluar.

Struktur kalimatnya sama persis dengan kalimat pertama dokumen visi. Orang yang sama yang menulisnya. Pak E. Founder misterius dengan satu huruf.

Dadaku hangat. Aku tidak tahu siapa orang itu. Tapi setiap kali dia menulis sesuatu, rasanya seperti dia menulis untuk orang-orang seperti aku. Orang-orang yang dulu tersesat.

“Mbak Sha,” Tika memanggil pelan dari mejanya. Matanya merah. “Founder kita baik banget, ya.”

“Iya, Tik.”

“Aku pengin ketemu dia.”

“Aku juga.”

Lalu, di ujung lorong, aku melihat Bram.


Dia berjalan ke mejaku pelan-pelan, tanpa kopi.

Kemejanya masih biru muda slim fit, tapi kancing atasnya sekarang terpasang. Rambutnya tidak berpomade. Dia tidak memakai jam tangan emas. Wajahnya lelah, matanya merah, tapi ada sesuatu yang berbeda di sana. Seperti orang yang baru meletakkan karung berat yang sudah lama dia pikul.

Dia berhenti di depan mejaku. Tidak bersandar di partisi. Tidak berdiri terlalu dekat. Dia berdiri satu meter dariku, dengan tangan di saku, seperti orang yang tidak yakin dia diizinkan berdiri di situ.

“Sha,” katanya.

“Mas Bram.”

“Gue cuma... mau ngomong sebentar. Boleh?”

Tika, di meja sebelah, berhenti mengunyah keripik.

“Boleh,” kataku.

Bram menatap lantai. Lalu menatapku. Lalu menatap lantai lagi.

“Gue minta maaf,” katanya akhirnya. “Delapan bulan. Kopi. Tawaran nganter pulang. Berdiri kedeketan. Semuanya. Gue... gue pikir lo cuma jual mahal. Gue nggak pernah mikir lo emang nggak mau.” Dia tertawa kecil, pahit. “Kedengerannya bodoh banget kalau diomongin keras-keras.”

Aku tidak menjawab.

“Gue nggak bakal ganggu lo lagi,” lanjut Bram. “Sumpah. Selamat. Sama Esa.”

Aku menatapnya. Lama. Bram tidak berbohong. Aku sudah melihat Bram berbohong delapan bulan, dan aku tahu bentuk wajahnya waktu berbohong. Ini bukan bentuk itu.

“Kenapa tiba-tiba?” tanyaku.

Bram diam sebentar. Lalu dia menarik napas.

“Minggu lalu gue ketemu Esa,” katanya. “Di warung temennya. Gue... gue nawarin dia ikut MLM. Bego, ya. Gue nawarin pengangguran ikut MLM, padahal gue sendiri udah rugi tiga puluh lima juta.”

Aku tidak tahu soal ini. Esa tidak pernah cerita.

“Terus dia bayarin makan siang gue,” kata Bram. Suaranya bergetar sedikit. “Gue marah. Gue teriak di depan orang-orang. Gue bilang gue nggak butuh dikasihani sama pengangguran pake hoodie butut. Terus dia bilang...” Bram berhenti. Menelan ludah. “Dia bilang, ‘Kamu bilang iri sama aku. Ya udah. Hari ini kamu nggak usah mikirin bayar makan siang. Sama kayak aku. Coba rasain, enak nggak.’”

Bram menatapku dengan mata yang semakin merah.

“Gue pulang hari itu,” katanya, “terus gue nangis di mobil yang cicilannya telat tiga bulan. Kayak orang gila. Karena dari semua orang di dunia, yang bayarin makan siang gue itu orang yang paling sering gue hina.”

Aku menutup mulutku dengan tangan.

“Terus pagi ini,” lanjut Bram, sambil mengangkat ponselnya, layarnya menampilkan email dari Kak Hendra, “ada ini. Program bantuan utang. Dari founder.” Dia tertawa lagi, kali ini lebih basah. “Gue udah daftar tadi jam sembilan. Gue orang pertama yang daftar.”

“Mas Bram...”

“Gue nggak tau siapa founder kita,” katanya. “Tapi gue doain dia tiap malem mulai sekarang. Sama Esa.”

Dia mundur satu langkah. Mengangguk ke arahku. Mengangguk ke arah Tika, yang sekarang menangis diam-diam di balik bungkus keripik.

“Jagain dia, Sha,” kata Bram. “Esa itu... orang baik. Gue aja yang telat sadar dua belas tahun.”

Lalu dia berbalik dan berjalan kembali ke lorong divisi Sales, dengan langkah pelan dan bahu yang tidak lagi tegak dibuat-buat.

Aku duduk di kursiku dengan tangan masih menutup mulut.

Tika menyeka hidungnya dengan tisu dan berbisik dengan suara serak:

“Mbak. Mas Esa itu siapa sih sebenernya? Malaikat?”

Aku tidak menjawab.

Karena aku sedang memikirkan sesuatu yang membuat dadaku dingin.

Bram menyerah.

Kontrak kami dibuat untuk satu tujuan: sampai Bram menyerah. Pasal satu. Esa yang menulisnya. Esa yang bilang, malam di kosnya kemarin, selama Bram belum nyerah, kontraknya jalan.

Bram sudah menyerah.

Kontrak kami sudah selesai.


Esa menjemputku di lobi kantor jam enam sore.

Aku tidak memintanya. Dia mengirim pesan jam lima: Aku di bawah. Bubur parkir di depan lobi. Satpamnya ngeliatin terus.

Aku turun dengan lift, jantung berdebar karena alasan yang tidak sepenuhnya menyenangkan. Aku sudah memikirkan kalimat sepanjang sore. Esa, Bram nyerah. Kontraknya selesai. Terus kita gimana? Aku sudah memikirkan kemungkinan jawabannya. Kemungkinan yang baik. Kemungkinan yang buruk. Kemungkinan dia bilang ya udah, makasih ya dan pergi dengan hoodie dan Bubur dan tidak pernah kembali.

Aku keluar dari lift dan melihatnya.

Dia berdiri di dekat pintu kaca lobi gedung SCBD yang mengilap, di antara karyawan-karyawan berjas dan bersepatu kulit yang berjalan cepat menuju parkiran. Hoodie abu-abu yang lebih belel. Celana training. Sandal jepit. Helm bogo cokelat di tangan. Rambut dikuncir asal. Dia terlihat seperti kurir yang tersesat di gedung yang salah.

Satpam lobi menatapnya dengan curiga dari meja resepsionis.

Esa melihatku. Wajahnya berubah. Tidak tersenyum lebar. Hanya sedikit. Sudut bibir naik. Mata melembut. Cara yang sama dia menatapku di tenda pecel lele.

Semua kalimat yang kusiapkan sepanjang sore hilang.

Aku berjalan ke arahnya. Cepat. Hampir berlari dengan sepatu hak. Aku berhenti di depannya dan, tanpa memedulikan satpam, karyawan berjas, atau resepsionis yang menatap kami dengan mulut terbuka, aku memeluknya.

Dia membeku sebentar. Lalu tangannya melingkar di punggungku. Helm bogo cokelat menempel di pinggangku.

“Kenapa?” bisiknya di rambutku.

“Nggak apa-apa.”

“Kamu meluk kayak orang mau ditinggal.”

Aku tidak menjawab. Aku hanya memeluknya lebih erat.

Lalu, dari arah lift eksekutif, terdengar bunyi ting.

Aku mengangkat kepala dari dada Esa dan menoleh. Pintu lift eksekutif terbuka. Kak Hendra keluar, memakai kemeja biru muda yang kusut dan membawa tumbler kopi besar, menunduk menatap ponselnya.

Lalu dia mengangkat kepala.

Dan melihat kami.

Kak Hendra berhenti melangkah. Wajahnya membeku. Matanya membesar. Mulutnya terbuka. Dia menatap Esa. Lalu menatapku dalam pelukan Esa. Lalu menatap Esa lagi.

Tumbler kopinya jatuh.

Bunyinya keras sekali di lantai marmer lobi. Kopi tumpah ke mana-mana. Satpam lobi berlari mengambil kain pel.

“Kak Hendra?” panggilku.

Kak Hendra tidak menjawab. Dia menatap Esa dengan wajah orang yang melihat hantu. Bibirnya bergerak, membentuk kata yang tidak terdengar. Kata yang dimulai dengan P.

Lalu dia berbalik. Tanpa memungut tumblernya. Tanpa sepatah kata. Dia berjalan cepat kembali ke lift eksekutif, menekan tombolnya berkali-kali, dan masuk begitu pintunya terbuka. Pintu tertutup.

Aku menatap pintu lift itu. Lalu menatap Esa.

Esa sedang menatap langit-langit lobi dengan sangat serius. Telinganya merah.

“Itu CEO-ku,” kataku pelan.

“Oh.”

“Dia aneh banget hari ini.”

“Mungkin capek,” kata Esa, masih menatap langit-langit. “CEO kan capek.”

“Dia ngeliatin kamu kayak liat setan.”

“Mungkin dia nggak suka hoodie.”

“Esa.”

“Hm?”

“Kamu kenal Kak Hendra?”

Esa akhirnya menunduk dan menatapku. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.

“Aku tukang wifi, Sha,” katanya. “Aku kenal banyak orang.”

Aku menatapnya lama. Lalu tertawa, karena itu jawaban paling Esa yang pernah kudengar. Dan karena aku tidak mau memikirkannya lebih jauh. Sudah ada satu batu di dadaku hari ini. Aku tidak sanggup menambah batu kedua.

“Ayo pulang,” kataku.


Bubur berhenti di depan lobi apartemenku di Pancoran jam tujuh lewat lima belas. Satpam yang biasa tertidur di pos sedang tidak tidur. Dia sedang makan nasi goreng, dan begitu melihat kami, dia mengangguk ke Esa seperti mengangguk ke rekan sejawat.

Aku turun dari motor. Melepas helm. Esa tetap duduk di atas Bubur.

Kami diam beberapa detik.

“Bram nyerah,” kataku akhirnya.

“Iya. Dia nge-chat aku. Bilang makasih.”

“Dia minta maaf ke aku tadi pagi.”

“Bagus.”

Aku memegang helm bogo cokelat di depan dadaku dengan dua tangan. Terlalu erat. Seperti Gendis memegang tas anyamannya.

“Berarti,” kataku, “kontraknya selesai.”

Esa diam.

“Pasal satu,” lanjutku. Suaraku keluar lebih kecil dari yang kumau. “Sampai Bram nyerah. Bram udah nyerah. Jadi...”

Esa masih diam. Dia menatapku dari atas Bubur. Lampu lobi apartemen menerangi separuh wajahnya.

“Sha,” katanya akhirnya.

“Hm?”

“Kalau kontraknya selesai,” katanya pelan, “kamu masih mau ke kosku?”

Aku menatapnya.

“Masih mau masakin aku? Masih mau pakai hoodie-ku? Masih mau...” dia berhenti, mencari kata, “...ada?”

Dadaku sesak.

Dia tidak bertanya apakah kontraknya bisa diperpanjang. Dia tidak bertanya apakah kita harus berhenti. Dia bertanya apakah aku masih mau ada. Seperti anak kecil yang bertanya apakah keluarga yang mengadopsinya akan tetap menjemputnya besok pagi.

Dan aku sadar ini kesempatanku.

Jangan kelamaan, kata Gendis.

Ini saatnya. Di sini, di depan lobi apartemen, di bawah lampu kuning, dengan satpam yang makan nasi goreng. Aku bisa bilang semuanya. Esa, aku masih mau ada. Aku udah ada dari dulu. Dari umur enam tahun. Aku Nomor 001. Aku anak kecil yang kamu sisain separuh telur. Aku tahu kamu donaturku. Aku tahu dari setahun lalu. Aku dateng ke reuni bukan karena Bram, tapi karena aku mau bilang makasih, dan aku nggak bisa, karena kamu nyodorin kerupuk dan aku jatuh cinta lagi. Aku jatuh cinta sama kamu dua kali, Esa. Sekali waktu umur enam, sekali di reuni. Dan aku bohong, terus-terusan, karena aku takut kamu pergi kalau tahu.

Aku membuka mulut.

“Esa,” kataku. “Ada yang harus aku—”

“Aku duluan,” potongnya.

Aku berhenti.

Esa turun dari Bubur. Berjalan dua langkah. Berdiri tepat di depanku. Dia mengambil helm bogo cokelat dari tanganku, pelan, melepaskan cengkeramanku yang terlalu erat, dan menggantungkannya di spion Bubur yang miring.

Lalu dia memegang kedua tanganku.

“Aku nggak mau nanya di parkiran,” katanya. “Atau di lobi. Atau di atas motor.”

“...Nanya apa?”

“Besok,” katanya. “Aku mau nanya yang bener. Besok.”

Dia menatapku dengan mata yang serius sekali. Mata yang biasanya cuek dan setengah mengantuk, sekarang sepenuhnya terjaga.

“Aku mau nembak kamu,” katanya. “Yang bukan kontrak. Yang beneran. Dan aku nggak mau ngelakuinnya di depan satpam yang lagi makan nasi goreng.”

Satpam itu berhenti mengunyah.

Aku menatap Esa. Laki-laki yang tidak pernah membiarkan siapa pun memberinya apa pun. Laki-laki yang sekarang berdiri di depanku dan bilang dia ingin memintaku. Meminta. Sesuatu yang belum pernah dia lakukan seumur hidupnya.

Kalimat yang ada di tenggorokanku turun lagi. Kembali ke dada. Menjadi batu.

Batu kedua.

“Oke,” bisikku. “Besok.”

“Kamu tadi mau ngomong apa?”

Aku menatapnya. Lalu menggeleng dan tersenyum.

“Nanti,” kataku. “Setelah kamu nembak aku.”

Itu bohong. Aku tahu itu bohong. Aku tahu aku akan menunda lagi besok, dan lusa, dan minggu depan, karena setiap hari yang lewat membuat kebenaran itu semakin berat dan semakin menakutkan.

Tapi malam itu, dengan tangannya yang memegang tanganku dan matanya yang terjaga sepenuhnya, aku tidak bisa.

Aku menarik tangannya. Pelan. Ke arah pintu lobi.

“Mau naik?” bisikku. “Lima menit aja.”

Esa menatap pintu lobi. Lalu menatapku.

“Kalau aku naik,” katanya, “lima menit jadi lima jam.”

“Terus masalahnya di mana?”

Satpam di pos menjatuhkan sendoknya.

Esa tertawa pelan. Tawanya rendah, hangat. Lalu dia menunduk dan menciumku di kening. Lama. Lembut. Bukan ciuman yang menggoda. Ciuman yang menjanjikan sesuatu.

“Besok,” katanya di keningku. “Aku mau ngelakuin semuanya dengan urutan yang bener.”

“Kamu kaku banget.”

“Aku orang panti. Kami suka antre.”

Aku tertawa, basah, dan memukul dadanya pelan.

Dia naik ke Bubur. Memakai helm bogo cokelat yang tadi untukku, karena dia lupa dia punya helm sendiri. Menyalakan mesin. Lalu dia menoleh.

“Sha.”

“Hm?”

“Besok. Jam tujuh. Warung Dodoy.”

“Kenapa Warung Dodoy?”

“Karena di situ pertama kali kamu manggil aku Sayang.” Dia menurunkan kaca helm. “Aku mau nanya di tempat yang sama.”

Bubur melaju. Lampu belakangnya mengecil di ujung jalan.

Aku berdiri di depan lobi sampai lampu itu hilang.

Lalu aku masuk, naik lift ke lantai enam, membuka pintu unit, menyalakan lampu, dan duduk di lantai ruang tamu dengan punggung bersandar di pintu.

Aku membuka ponsel. Membuka percakapan dengan Gendis.

Aku: Gendis.

Gendis Ayu: Hai! Kenapa?

Aku: Batunya nambah satu.

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi.

Gendis Ayu: Ayasha.

Gendis Ayu: Jangan sampai jadi gunung.

Aku menatap pesan itu. Lalu meletakkan ponsel di lantai, memeluk lututku, dan menangis. Pelan. Tanpa suara. Di dalam hoodie abu-abu yang sekarang milikku.

Besok dia akan menembakku.

Dan aku akan bilang iya.

Dan aku masih belum jujur.