← Pacarku Pakai Hoodie

Chapter Twenty Four

Jadi Selama Ini, Kamu Tahu

POV: Esa


Aku membalas pesannya jam tujuh pagi, hari Minggu.

Aku: Nanti malem ketemu. Cak Man. Jam tujuh.

Centang dua. Langsung biru. Dia sudah bangun. Atau dia belum tidur.

Ayasha 🩶: Kamu ke mana semalem? Aku khawatir.

Ayasha 🩶: Kamu nggak apa-apa?

Ayasha 🩶: Esa?

Aku tidak membalas lagi.

Tiga menit kemudian:

Ayasha 🩶: Oke. Jam tujuh.

Lalu, satu menit setelahnya, satu pesan lagi:

Ayasha 🩶: Esa. Kamu udah baca, ya.

Bukan pertanyaan. Tidak ada tanda tanya.

Aku menatap pesan itu lama. Lalu menyimpan ponsel ke saku, menyalakan Bubur, dan pulang dari Pondok Indah ke Tebet dengan tujuh surat di dalam tas ransel.


Tenda Cak Man malam itu sepi.

Tidak hujan. Langit Jakarta bersih dan berbintang, jarang sekali. Terpal biru tenda tidak bocor. Lampu neon tidak berkedip. Cak Man berdiri di balik gerobak, menggoreng ayam sambil mendengarkan radio dengan volume pelan. Kucing belang tiga tidur di bawah bangku plastik.

Aku datang jam tujuh kurang sepuluh. Aku duduk di bangku plastik yang sama. Pojok. Di bawah bagian terpal yang paling jauh dari jalan.

Cak Man menoleh, melihatku, dan tersenyum. “Mas! Yang kemarin! Mbaknya mana?”

“Sebentar lagi, Cak.”

“Pesen yang sama? Dua pecel lele, dua ayam, sambel ekstra?”

“Satu aja, Cak.”

Senyum Cak Man memudar sedikit. Dia menatapku lebih lama. Lalu mengangguk dan kembali menggoreng tanpa bertanya lagi. Volume radionya dia kecilkan lagi.

Ayasha datang jam tujuh tepat.

Dia naik ojek online. Dia turun di depan tenda, melepas helm ojek, menyerahkannya ke pengemudi, lalu berdiri di pinggir jalan dan menatapku dari sana.

Dia memakai hoodie abu-abu. Hoodie yang lebih belel. Yang kemarin pagi dia pakai waktu mengajariku menggoreng telur. Rambutnya digerai, tidak disisir rapi. Wajahnya tanpa riasan sama sekali. Matanya merah dan sembap. Bibirnya pucat.

Dia terlihat seperti orang yang tidak tidur semalaman.

Aku juga tidak tidur semalaman.

Dia berjalan ke bawah tenda. Pelan. Dia berhenti di depan mejaku, tidak duduk.

“Hai,” katanya.

“Hai.”

Dia menatapku. Lalu menatap tas ransel di sampingku. Lalu kembali menatapku.

“Kamu udah baca,” katanya. Masih bukan pertanyaan.

Aku membuka tas ransel. Mengeluarkan satu amplop. Yang paling putih. Yang paling tebal. Aku meletakkannya di atas meja plastik, di antara kami, di samping botol kecap dan wadah sendok.

Untuk Kakak Donatur. Dari 001.

Ayasha menatap amplop itu.

Wajahnya berubah pucat. Lebih pucat dari sebelumnya, kalau itu mungkin. Tangannya terangkat sedikit ke arah amplop itu, lalu berhenti di udara, lalu turun lagi.

Dia duduk. Pelan. Di bangku plastik di seberangku. Bukan di sebelahku, seperti malam hujan itu.

Di seberang.


Kami diam lama.

Cak Man meletakkan sepiring pecel lele di depanku. Dia melirik Ayasha, melirik amplop di meja, lalu pergi tanpa kata. Radio dia matikan sepenuhnya. Kucing belang tiga terbangun, menatap kami, lalu pergi ke bawah gerobak.

“Sejak kapan?” tanyaku.

Suaraku tenang. Terlalu tenang. Aku mendengar ketenangan itu di telingaku sendiri dan tidak mengenalinya.

Ayasha menatap amplop di meja. “Setahun.”

“Sebelum reuni.”

“Iya.”

“Waktu kamu dateng ke reuni, kamu udah tau siapa aku.”

“Iya.”

“Kamu tau aku donaturmu.”

“Iya.”

“Kamu tau aku anak yang dulu nyisain separuh telur.”

Suaranya pecah sedikit. “Iya.”

“Kamu tau rumah Pondok Indah itu rumahku.”

Dia mengangkat wajahnya. Matanya basah. “Aku tau dari PIN. Nggak sebelumnya. Sumpah. Waktu kamu bilang rumah klien, aku cuma... nebak. Tanggal itu. Terus kebuka.”

“Kerupuk,” kataku.

Dia menutup mata. “Aku nggak punya kucing.”

“Aku tau.”

Dia membuka mata. Air mata pertama jatuh. Dia tidak mengusapnya.

“Apa lagi?” tanyaku. “Apa lagi yang kamu tau dan aku nggak tau kamu tau?”

Ayasha menatapku. Lama. Seperti sedang memeriksa sesuatu di dalam kepalanya.

“Itu aja,” katanya akhirnya. “Kamu donaturku. Kamu yang dulu di panti. Rumah itu rumahmu. Itu aja.”

Aku menatapnya.

Dia tidak tahu soal Bekal.

Aku bisa melihatnya di wajahnya. Dia tidak tahu aku pendiri kantornya. Dia tidak tahu aku yang menulis kalimat yang membuatnya melamar. Dia tidak tahu aku yang menyetujui halaman empat deck investor dengan fotonya. Dia tidak tahu aku yang dipanggil Pak E.

Sesuatu yang tajam dan tidak nyaman menusuk dadaku.

Aku juga menyembunyikan sesuatu darinya. Sesuatu yang besar. Aku duduk di sini, menuntutnya jujur, sementara aku sendiri belum jujur tentang hal yang setidaknya sama besarnya.

Tapi aku tidak berbohong soal perasaanku.

Itu yang kukatakan pada diriku sendiri. Aku menyembunyikan siapa aku. Dia menyembunyikan kenapa dia di sini.

Itu berbeda.

Aku memutuskan itu berbeda.


“Kenapa kamu nggak bilang?” tanyaku.

Ayasha menarik napas. Bergetar.

“Aku dateng ke reuni mau bilang makasih,” katanya. “Itu aja. Cuma itu rencanaku. Aku latihan empat puluh tujuh kali di taksi. Terima kasih, Kak. Tiga kata. Terus kasih kotak kue. Terus pergi.”

“Terus?”

“Terus aku liat Bram nyengkeram bahu kamu. Terus aku masuk. Terus kamu nyodorin kerupuk.” Suaranya bergetar. “Kamu nyodorin piring kecil, Esa. Separuh rendang. Kayak dulu. Kayak dua puluh tahun lalu. Kamu nggak kenal aku, tapi kamu tetep nyodorin piring kecil.”

Air matanya jatuh lagi. Kali ini dia mengusapnya dengan lengan hoodie. Hoodie-ku.

“Terus aku nggak bisa bilang,” lanjutnya. “Karena aku liat kamu di kasir Pasar Baru. Aku nggak biasa dikasih. Aku liat tujuh suratku di laci, nggak pernah dibuka. Aku tau kalau kamu tau aku siapa, kamu bakal mundur. Kamu bakal ngira semua ini balas budi. Kamu bakal pergi kayak waktu umur delapan belas. Ninggalin piring kecil terus pergi.”

“Jadi kamu bohong.”

“Aku nggak bohong soal perasaanku.”

“Kamu bohong soal semuanya yang lain.”

Dia tidak menjawab.

Aku menatap amplop di meja. Lalu aku menatapnya.

Aku sudah memikirkan pertanyaan ini sepanjang malam. Di kursi kerja dengan plastik di sandaran kepala. Di depan tujuh surat yang berjajar. Di depan Pak Ujang yang bilang ya ditanya, masa ditebak.

Aku menanyakannya.

“Kamu sayang aku,” kataku pelan, “atau kamu ngerasa utang?”


Ayasha membeku.

Pertanyaan itu menggantung di udara di bawah terpal biru. Di antara amplop putih dan sepiring pecel lele yang mulai dingin. Di antara dua orang yang dua malam lalu saling menyuapi separuh dari separuh dari separuh.

Aku menunggu.

Aku ingin dia menjawab sayang. Langsung. Tanpa jeda. Tanpa ragu. Satu kata, dan aku akan percaya. Aku akan menyimpan semua surat itu, dan pertanyaan itu, dan dua puluh tahun piring kecil itu, dan aku akan percaya.

Satu detik.

Dua detik.

Ayasha membuka mulut.

“Awalnya,” katanya.

Hanya itu. Satu kata. Lalu dia berhenti, seperti menyadari kata itu salah begitu keluar dari mulutnya. Matanya membesar. Tangannya terangkat ke mulut.

“Esa, bukan, maksudku...”

Tapi aku sudah mendengarnya.

Awalnya.

Awalnya dia datang untuk membalas. Awalnya dia menggandeng lenganku karena utang. Awalnya dia memanggilku Sayang karena aku membayar kuliahnya. Awalnya dia memasakkanku sop iga sebagai cicilan. Awalnya dia menciumku di tenda ini dan bilang utangku belum lunas.

Aku tahu dia ingin melanjutkan kalimat itu. Aku tahu ada tapi yang akan datang setelah awalnya. Awalnya aku dateng buat bales, tapi sekarang...

Tapi aku tidak bisa mendengarnya.

Karena aku tidak tahu di mana awalnya berakhir. Aku tidak tahu ciuman mana yang masih bagian dari awalnya. Pelukan mana. Malam mana. Apakah malam Jumat itu, dalam gelap, waktu dia bilang aku di sini, apakah itu juga bagian dari awalnya?

Aku tidak tahu.

Dan aku tidak akan pernah bisa tahu.

Itu yang paling menyakitkan.


“Esa,” kata Ayasha. Suaranya pecah. “Dengerin aku dulu. Awalnya iya, aku dateng buat bilang makasih. Buat bales. Tapi abis itu...”

“Nggak apa-apa,” kataku.

Dia berhenti.

“Nggak apa-apa, Sha.”

Suaraku masih tenang. Masih terlalu tenang. Aku berdiri dari bangku plastik. Aku memasukkan amplop putih itu kembali ke tas ransel, pelan, hati-hati, seperti memasukkan sesuatu yang mudah pecah.

Lalu aku menatapnya.

“Utangmu,” kataku, “udah lunas.”

Wajah Ayasha hancur.

Tidak ada cara lain untuk menggambarkannya. Wajahnya runtuh, seperti bangunan yang fondasinya tiba-tiba dicabut.

“Jangan,” bisiknya.

“Anggap aja lunas,” kataku. “Kuliah, kos, buku, makan. Separuh telur. Jaket biru. Gendong ke puskesmas. Semuanya. Kamu udah bayar. Kamu udah bilang makasih. Kamu udah masakin aku. Kamu udah...” aku berhenti. Menelan sesuatu yang tajam. “Udah. Lunas. Kamu nggak utang apa-apa lagi.”

“Esa, aku nggak...”

“Kamu bebas, Sha.”

Aku mengucapkan kalimat itu dengan sungguh-sungguh. Aku ingin dia bebas. Itu yang selalu kuinginkan. Itu sebabnya aku tidak pernah memberitahu siapa pun. Supaya tidak ada yang terikat. Supaya tidak ada yang merasa berutang. Supaya tidak ada yang tinggal karena kewajiban.

Tapi waktu aku mengucapkannya, aku melihat wajahnya, dan aku sadar kebebasan yang kuberikan terasa seperti pintu yang ditutup dari luar.

Aku mengeluarkan dompet lusuh. Meletakkan selembar lima puluh ribu di meja. Untuk pecel lele yang tidak kumakan.

Lalu aku mengeluarkan ponsel dan memesan ojek online. Untuknya. Tujuan: apartemennya di Pancoran.

“Ojeknya lima menit lagi,” kataku.

Ayasha menatapku dari bangku plastik. Air matanya terus jatuh. Dia tidak mengusapnya lagi.

Lalu dia berdiri. Tangannya bergerak ke resleting hoodie.

“Hoodie-nya,” katanya, suaranya bergetar hebat. “Aku balikin...”

“Jangan.”

Dia berhenti.

“Itu punyamu,” kataku.

Aku tidak tahu kenapa aku mengatakannya. Mungkin karena aku tidak sanggup melihatnya melepas hoodie itu. Mungkin karena kalau dia mengembalikannya, rasanya seperti semuanya benar-benar sudah dibayar lunas. Mungkin karena aku masih ingin dia memiliki sesuatu dariku yang tidak bisa dihitung.

Ayasha menatapku. Tangannya masih di resleting.

“Esa,” bisiknya. “Jangan pergi kayak dulu.”

Aku berhenti.

Kayak dulu. Umur delapan belas. Hari terakhir di panti. Piring kecil di meja makan, catatan di pintu kulkas, dan anak perempuan kecil yang bersembunyi di kamar mandi dua jam karena tidak mau melihatku pergi.

Aku tidak tahu waktu itu ada yang menangis karena aku pergi.

Sekarang aku tahu.

“Aku nggak pergi,” kataku. Pelan. “Aku cuma butuh tau mana yang beneran.”

“Semuanya beneran.”

“Termasuk awalnya?”

Ayasha tidak menjawab.

Dia tidak bisa menjawab. Karena dia jujur. Bahkan sekarang, bahkan setelah semua kebohongan, dia tidak bisa berbohong tentang ini.

Itu, entah kenapa, membuatnya lebih buruk.

Ojek online berhenti di depan tenda. Pengemudinya, laki-laki muda dengan jaket hijau, menatap kami berdua dengan wajah canggung.

“Atas nama Esa? Tujuan Pancoran?”

“Iya, Mas,” kataku. “Dia.”

Ayasha tidak bergerak.

“Sha,” kataku. “Pulang. Hati-hati.”

Sopan. Sangat sopan. Seperti orang yang mengantar tamu ke pintu.

Ayasha menatapku dengan wajah yang tidak akan pernah bisa kulupakan. Lalu dia berjalan ke ojek. Pelan. Dengan hoodie abu-abuku. Dia memakai helm ojek. Dia naik ke jok belakang.

Sebelum ojek melaju, dia menoleh sekali.

Dia tidak berkata apa-apa. Tapi bibirnya bergerak. Membentuk kata yang tidak terdengar.

Aku tidak tahu kata apa itu.

Ojek melaju. Lampu belakangnya mengecil di ujung jalan Pakubuwono.


Aku duduk lagi di bangku plastik.

Pecel lele di depanku sudah dingin. Sambalnya sudah mengering. Aku menatap piring itu.

Cak Man keluar dari balik gerobak. Dia membawa segelas teh manis panas yang tidak kupesan dan meletakkannya di depanku. Lalu dia duduk di bangku plastik di seberangku. Bangku tempat Ayasha tadi duduk.

Dia tidak bertanya apa-apa. Dia hanya menyalakan rokok kretek, menghisapnya, dan menatap jalan.

“Mas,” katanya akhirnya, setelah lama sekali.

“Cak.”

“Saya nggak denger semuanya. Saya nggak mau denger.” Dia mengembuskan asap. “Tapi saya liat Mbaknya dua kali di sini. Kemarin waktu hujan sama sekarang.”

Aku diam.

“Kemarin waktu hujan,” lanjut Cak Man, “pas Mas nyisihin separuh paha ayam ke piring kecil, Mbaknya nangis diem-diem. Mas nggak liat, soalnya Mas lagi ngeliatin sambel.”

Aku mengangkat kepala.

“Saya liat,” kata Cak Man. “Dua puluh tahun saya jualan pecel lele, Mas. Saya udah liat orang nangis karena kepedesan, karena putus, karena ditagih utang, karena seneng. Saya bisa bedain.”

Dia mengisap kreteknya lagi.

“Itu bukan nangis orang bayar utang, Mas.”

Aku menatap Cak Man.

“Itu nangis orang yang ketemu rumahnya,” katanya.

Lalu dia berdiri, mematikan rokok di asbak kaleng, dan kembali ke balik gerobak. Radio dia nyalakan lagi. Pelan. Lagu dangdut tentang orang yang menunggu di stasiun.

Aku duduk di bawah tenda biru sampai Cak Man tutup.

Teh manisnya kuminum habis.

Pecel lelenya tidak.

Di ponselku, tidak ada pesan dari Ayasha.

Untuk pertama kalinya sejak malam reuni, tidak ada Selamat tidur, Sayang.

Dan aku baru sadar, di bawah langit Jakarta yang jarang sekali berbintang, bahwa selama ini aku tidak pernah menghitung pesan-pesan itu.

Tapi aku langsung tahu waktu pesan itu tidak datang.