Chapter Thirty Two
Dia Naik Jabatan Karena Siapa?
POV: Ayasha
Aku terbangun karena Sari menarik-narik lengan hoodie-ku.
“Kak Aya. Kak Aya. HP Kak Aya bunyi terus.”
Aku membuka mata. Langit-langit kamar anak-anak kecil di panti. Langit-langit yang sama dengan dua puluh tahun lalu. Ada noda air berbentuk bulan sabit di dekat lampu, dan bekas tempelan stiker bintang yang sudah lepas. Dulu stiker itu menyala dalam gelap. Sekarang cuma tersisa lemnya.
Sari duduk di sebelahku di kasur tipis, memeluk boneka kain, menatapku dengan mata besar dan cemas.
Ponselku bergetar di bawah bantal. Tanpa henti. Seperti jantung yang terlalu cepat.
Aku mengambilnya.
Seratus delapan belas notifikasi.
Aku tidak perlu membuka semuanya. Aku hanya perlu membuka satu: pesan dari Tika, yang dikirim jam lima lewat tiga menit pagi, dengan tautan dan satu kalimat.
Tika: Mbak jangan buka ini sendirian. Mbak telepon aku dulu.
Aku membukanya sendirian.
Aku membaca semuanya. Keempat slide. Lalu komentar-komentarnya.
Aku membaca dengan cara yang aneh, seperti membaca berita tentang orang lain. Seperti ada kaca tebal di antara mataku dan layar ponsel.
Slide satu: aku memeluk Esa di lobi. Aku ingat hari itu. Hari Bram minta maaf. Hari aku takut kontrak kami berakhir.
Slide dua: unggahan Instagram panti. Bu Ratna yang mengunggahnya, setahun lalu, dengan bangga. Aku memberikan izin waktu itu. Aku senang. Aku membagikannya ke akun pribadiku.
Slide tiga.
Aku berhenti di slide tiga.
Daftar Rasionalisasi Karyawan — Q3, Dua Tahun Lalu.
Empat puluh nama. Aku mengenali beberapa. Mas Yogi dari Desain. Mbak Rara dari Customer Service. Dio, staf IT yang dulu suka membawakan pisang goreng untuk satu lantai. Mereka semua pergi dua tahun lalu, dalam satu minggu yang sangat buruk, yang di kantor disebut Jumat Kelabu. Aku ingat menangis di toilet waktu Mbak Rara memelukku di hari terakhirnya.
Aku ingat merasa beruntung.
Aku ingat berpikir, aku selamat karena kerjaku bagus. Aku ingat bekerja dua kali lebih keras setelah itu, karena aku merasa harus membuktikan bahwa aku pantas selamat.
Nama ke-dua puluh tiga di daftar itu dicoret dengan tinta merah.
Ayasha Pramesti — Staf Marketing Junior.
Dicoret atas permintaan Pak E.
Aku menatap tulisan tangan itu.
Aku tidak selamat karena kerjaku bagus.
Aku selamat karena dia.
Sari menarik lengan hoodie-ku lagi.
“Kak Aya kenapa?”
Aku menoleh. Sari menatapku dengan wajah cemas. Tujuh tahun. Baru tiga bulan di panti. Masih sering kalah cepat di meja makan.
“Kakak nggak apa-apa,” kataku. Suaraku keluar datar. Kosong.
“Kak Aya nangis.”
Aku menyentuh pipiku. Basah. Aku tidak sadar.
Sari meletakkan boneka kainnya di pangkuanku.
“Pinjem,” katanya. “Kalau Sari nangis, Sari peluk ini.”
Aku menatap boneka kain itu. Boneka beruang yang sudah usang, satu matanya hilang, diganti kancing cokelat.
Persis seperti boneka kelinciku.
Aku memeluknya. Lalu aku memeluk Sari. Dan aku menangis di kamar anak-anak kecil panti Rumah Pulang, di kasur tempat aku tidur dua puluh tahun lalu, sementara anak tujuh tahun menepuk-nepuk punggungku dengan tangan kecilnya dan berbisik nggak apa-apa, Kak, nggak apa-apa, persis seperti yang dulu dilakukan Bu Ratna padaku.
Bu Ratna masuk ke kamar jam enam. Dia sudah melihat ponselnya. Wajahnya pucat dan matanya bengkak.
Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya duduk di tepi kasur dan memelukku dari samping. Sari ikut memeluk dari sisi lain.
Kami bertiga duduk di sana sampai matahari naik.
“Itu postingan Ibu,” bisik Bu Ratna akhirnya. “Yang slide kedua. Ibu yang posting. Ibu nggak tau bakal kayak gini.”
“Bukan salah Ibu.”
“Ibu yang keceplosan. Ibu yang posting. Semua salah Ibu.”
“Bu.” Aku memegang tangannya. “Ibu bangga sama aku. Itu bukan salah.”
Bu Ratna menangis lebih keras.
Aku tetap pergi ke kantor.
Bu Ratna melarang. Tika melarang lewat telepon, sambil menangis. Gendis melarang lewat pesan suara empat menit yang suaranya bergetar. Kak Dewi menelepon jam tujuh pagi dengan suara sangat hati-hati dan bilang, Sha, kamu WFH aja dulu seminggu. Bukan hukuman. HR yang minta. Biar redaan dulu.
Aku tetap pergi.
Bukan karena berani. Karena aku harus tahu. Aku harus melihat dengan mataku sendiri. Aku harus berdiri di lantai dua puluh tiga dan merasakan apakah lantai itu masih milikku.
Aku memakai baju yang dipinjamkan Bu Ratna dari lemari donasi panti. Kemeja putih kebesaran dan celana kain hitam. Hoodie abu-abu kuikat di pinggang. Aku tidak punya sepatu, jadi aku memakai sandal jepit milik Bimo yang dua nomor lebih besar.
Aku naik KRL dari Depok. Dua jam. Berdiri berpegangan pada tali di langit-langit.
Di gerbong perempuan, dua mahasiswi di depanku sedang menonton sesuatu di ponsel. Video pidato Esa. Lalu mereka menggeser ke unggahan akun gosip. Salah satunya berkata ke temannya, cukup keras untuk kudengar:
“Gila ya. Pacaran sama bos biar naik jabatan. Terus pura-pura dari panti.”
“Bukan pura-pura. Dia beneran dari panti. Itu ada postingan panti-nya.”
“Ya tapi kan dimanfaatin. Anak panti, cantik, dapet beasiswa dari cowok kaya, terus kerja di kantor cowoknya. Itu namanya dipelihara.”
Aku menatap jendela KRL. Stasiun-stasiun lewat. Pondok Cina. Universitas Indonesia. Lenteng Agung.
Dipelihara.
Lobi gedung kantor di SCBD terasa berbeda.
Satpam yang biasanya menyapaku dengan senyum, hari ini menyapaku dengan senyum yang terlalu lama. Resepsionis menunduk ke layar komputernya waktu aku lewat. Dua karyawan dari lantai lain yang menunggu lift bersamaku berhenti mengobrol begitu aku masuk lift, lalu mulai saling mengirim pesan di ponsel dengan jempol yang bergerak sangat cepat.
Lantai dua puluh tiga.
Pintu lift terbuka.
Lantai itu sunyi. Terlalu sunyi untuk jam sembilan pagi hari Senin. Biasanya ada suara keyboard, suara telepon, suara Tika tertawa. Hari ini hanya ada dengung AC.
Lalu aku melangkah keluar dari lift, dan semua kepala di divisi Marketing menoleh.
Lalu, satu per satu, semuanya menunduk kembali ke layar.
Aku berjalan ke mejaku. Sandal jepit Bimo berbunyi plak plak plak di lantai karpet, keras sekali di tengah kesunyian itu.
Ada sesuatu di mejaku.
Sticky note kuning. Ditempel di tengah layar laptop. Tulisan tangan yang tidak kukenal, dengan spidol hitam:
Jalur Beasiswa 👀
Aku menatap sticky note itu.
Lalu Tika berdiri dari mejanya. Wajahnya merah. Matanya bengkak. Dia berjalan ke mejaku dengan langkah cepat, mencabut sticky note itu, meremasnya jadi bola kecil, dan berbalik menghadap seluruh divisi Marketing.
“SIAPA YANG NULIS INI?”
Hening.
“SIAPA?” Suara Tika pecah. “Kalian semua tau Mbak Sha kerja kayak gimana! Kalian liat dia lembur sampe jam sebelas malem tiap kampanye! Kalian liat dia nulis naskah iklan sendiri! Kalian liat dia nangis di toilet waktu kampanye pertamanya ditolak klien! KALIAN SEMUA LIAT!”
Tidak ada yang menjawab. Tidak ada yang mengangkat kepala.
Tika berdiri di tengah ruangan dengan sticky note yang sudah diremas di tangannya, gemetar, dan tidak ada satu pun yang berdiri bersamanya.
Aku menyentuh lengannya.
“Tik,” kataku pelan. “Udah.”
Tika menoleh padaku. Air matanya jatuh.
“Mbak,” bisiknya. “Mereka jahat.”
“Nggak,” kataku. “Mereka cuma nggak tau.”
Tapi aku juga tidak tahu. Itu masalahnya. Aku juga tidak tahu lagi.
Aku mengetuk pintu ruangan Kak Hendra jam sembilan lewat dua puluh.
Dia membukanya sendiri. Dia memakai kemeja yang sama dengan semalam, jas Italia tergantung di kursi, dan wajahnya seperti orang yang tidak tidur tiga hari. Begitu melihatku, dia tidak menjatuhkan tumbler, tidak kabur ke lift, tidak berkeringat.
Dia hanya menatapku dengan mata merah dan bilang:
“Masuk, Sha. Duduk.”
Aku duduk di kursi di depan mejanya. Dia duduk di kursinya. Kami saling menatap selama beberapa detik.
“Kak,” kataku. “Dokumen PHK itu asli?”
Kak Hendra tidak berbohong. Aku menghargai itu, nanti. Saat itu aku tidak merasakan apa-apa.
“Asli,” katanya.
“Catatan tangan itu?”
“Tulisan saya.”
“Pak E yang minta namaku dicoret?”
Kak Hendra menarik napas.
“Pak E minta saya nggak memecat siapa pun yang di CV-nya ada Beasiswa Rumah Pulang,” katanya pelan. “Dia nggak nyebut nama. Dia nggak tau itu kamu. Dia nggak baca nama-nama di daftar itu. Dia nggak pernah baca nama. Dia cuma liat satu baris di satu CV, terus telepon saya jam sebelas malem, terus bilang, Hendra, yang dari Rumah Pulang, jangan.”
Aku menatap Kak Hendra.
“Dia nggak tau itu aku?”
“Dia nggak tau, Sha. Sumpah. Dia baru tau kamu kerja di sini dua bulan lalu. Waktu saya kirim deck investor. Dia keselek kopi sachet. Bu kosnya sampai teriak dari kamar sebelah.” Kak Hendra tersenyum sedikit. Lelah. “Saya denger lewat telepon.”
Seharusnya itu membuatku lega.
Dia tidak tahu itu aku. Dia tidak sengaja menyelamatkanku. Dia menyelamatkan anak panti, siapa pun itu, dan kebetulan anak panti itu aku.
Tapi itu tidak membuatku lega.
Karena itu tidak mengubah apa pun.
“Promosiku,” kataku. “Jadi Brand Manager.”
“Itu murni dari review tim penilai. Kak Dewi, kepala divisi Produk, sama...” Kak Hendra berhenti sebentar. “Sama Bram. Waktu itu Bram masih di panel. Pak E nggak pernah ikut. Pak E nggak pernah liat. Pak E bahkan nggak tau ada promosi di divisi Marketing, karena dia nggak pernah ngurus hal-hal kayak gitu.”
“Kampanye Bekal untuk Semua?”
“Ide kamu. Naskah kamu. Eksekusi kamu. Pak E baru liat waktu masuk deck investor. Itu juga karena saya yang masukin.” Kak Hendra menatapku dengan sungguh-sungguh. “Sha. Semua yang kamu capai di sini, kamu yang capai. Saya saksinya.”
Aku menatapnya lama.
“Kak,” kataku. “Kalau dua tahun lalu namaku nggak dicoret, aku di mana sekarang?”
Kak Hendra membuka mulut. Lalu menutupnya.
“Aku bakal di-PHK,” kataku. Suaraku pelan dan sangat tenang. Ketenangan yang sama dengan Esa di tenda Cak Man. Aku baru mengerti sekarang, ketenangan itu bukan tenang. Itu kehancuran yang tidak punya tenaga untuk berteriak. “Bareng Mbak Rara. Bareng Dio. Bareng tiga puluh delapan orang lain. Aku bakal cari kerja lain. Mungkin dapet. Mungkin nggak. Mungkin aku bakal jadi admin di kantor lain. Mungkin aku nggak bakal pernah bikin kampanye Bekal untuk Semua. Mungkin aku nggak bakal pernah jadi Brand Manager.”
Kak Hendra tidak menjawab.
“Semua yang aku capai setelah itu,” lanjutku, “kampanyenya, promosinya, halaman empat deck investor, MC di launching, semuanya dibangun di atas satu hal yang dia kasih ke aku tanpa aku tau.”
“Sha, itu nggak...”
“Kayak rumah, Kak.” Aku tersenyum. Senyum yang tidak lucu. “Aku pikir aku bangun rumah sendiri. Bata demi bata. Ternyata fondasinya dia yang pasang. Diem-diem. Jam sebelas malem. Lewat telepon.”
Kak Hendra menunduk.
“Aku nggak marah sama dia,” kataku. “Sumpah. Aku tau dia nggak niat jahat. Aku tau dia cuma pengin anak panti nggak kehilangan kerjaan. Itu baik banget. Itu Esa banget.”
Mataku panas.
“Tapi kebaikannya bikin aku nggak tau lagi siapa aku.”
Aku menulis surat pengunduran diri di meja Kak Hendra. Di selembar kertas HVS yang kuminta darinya. Dengan pulpen yang kupinjam dari gelas pulpennya.
Satu paragraf.
Dengan hormat, saya mengundurkan diri dari posisi Brand Manager di Bekal, efektif hari ini. Terima kasih untuk dua tahun yang sangat berarti. Saya bangga pernah menjadi bagian dari perusahaan ini.
Ayasha Pramesti.
Kak Hendra membaca surat itu. Lalu menatapku.
“Sha. Jangan.”
“Aku harus, Kak.”
“Kamu nggak salah apa-apa.”
“Aku tau.” Aku berdiri. “Tapi kalau aku tetep di sini, aku nggak bakal pernah tau. Setiap kali aku dapet pujian, setiap kali kampanyeku berhasil, aku bakal mikir: ini karena aku, atau karena aku masih di sini gara-gara dia?”
“Kamu bisa buktiin...”
“Di sini, aku nggak bisa buktiin apa-apa, Kak. Semua orang udah liat dokumen itu. Selamanya aku bakal jadi jalur beasiswa.” Aku menatap Kak Hendra. “Aku harus pergi ke tempat di mana nggak ada yang pernah nyoret namaku. Terus mulai lagi dari nol. Biar aku tau aku bisa.”
Kak Hendra menatapku sangat lama.
Lalu dia mengambil surat itu. Melipatnya. Memasukkannya ke laci mejanya.
“Saya simpen,” katanya. “Belum saya proses. Kalau kamu berubah pikiran, kapan aja, kamu ambil lagi. Saya robek.”
“Aku nggak bakal berubah pikiran.”
“Saya tetep simpen.”
Aku mengangguk. Lalu berbalik ke pintu.
“Sha.”
Aku berhenti.
“Waktu di launching,” kata Kak Hendra pelan. “Waktu kamu bilang saya dulu salah satu anak itu, dan ada seseorang yang menunjukkan jalan.”
Aku tidak menoleh.
“Saya nangis,” katanya. “Bukan karena saya tau kamu ngomongin Pak E. Saya nangis karena kamu ngomong kayak orang yang udah sampai.”
Aku menutup mataku.
“Kamu udah sampai, Sha,” kata Kak Hendra. “Siapa pun yang nunjukin jalannya, kamu yang jalan.”
Aku membuka pintu dan keluar tanpa menjawab.
Aku membereskan mejaku dalam lima belas menit.
Tidak banyak. Dua tahun bekerja di sini, dan semua yang kumiliki di meja ini muat dalam satu kardus bekas kertas fotokopi. Mug bergambar kucing pemberian Tika. Tanaman kaktus kecil. Buku catatan berisi coretan ide kampanye. Bingkai foto kecil berisi foto tim Marketing waktu kampanye Bekal untuk Semua menang penghargaan, semua orang tersenyum lebar memegang piala kaca.
Aku menatap foto itu. Lalu memasukkannya ke kardus, wajah menghadap ke bawah.
Tika berdiri di samping mejaku sepanjang waktu. Menangis tanpa suara. Tidak membantu. Hanya berdiri.
Waktu aku mengangkat kardus itu, dia akhirnya bicara.
“Mbak mau ke mana?”
“Nggak tau, Tik.”
“Mbak balik lagi?”
Aku menatapnya. Gadis dua puluh tiga tahun dengan poni lurus, yang meminum kopi Bram selama delapan bulan, yang menjuluki Esa Mas Hoodie, yang meremas sticky note di depan seluruh divisi dan tidak ada satu pun yang berdiri bersamanya.
Aku meletakkan kardus. Memeluk Tika.
“Makasih udah berdiri,” bisikku.
Tika menangis keras di bahuku.
Dari ujung lorong, aku melihat meja divisi Sales. Meja Bram kosong. Kursinya didorong rapi ke bawah meja. Laptopnya tertutup. Seseorang di meja sebelah bilang Bram izin sakit pagi ini.
Aku tidak tahu, saat itu, kenapa.
Aku pulang ke apartemenku di Pancoran jam dua siang. Naik ojek. Dengan kardus di pangkuan dan hoodie terikat di pinggang.
Satpam yang biasa tertidur di pos sedang tidak tertidur. Dia berdiri begitu melihatku turun dari ojek. Wajahnya serius.
“Mbak Ayasha.”
“Pak.”
Dia menatapku. Kardus di tanganku. Sandal jepit Bimo yang kebesaran. Mataku yang bengkak.
Lalu dia mengambil sesuatu dari balik meja posnya. Kantong plastik putih dari minimarket.
“Tadi pagi,” katanya, “Masnya dateng. Jam enam. Naik motor.”
Aku tidak bergerak.
“Dia nggak naik, Mbak. Saya tawarin naik, dia bilang nggak. Katanya Mbak bilang jangan dulu.” Satpam itu menyodorkan kantong plastik. “Dia cuma nitip ini. Terus pergi.”
Aku mengambil kantong plastik itu.
Di dalamnya, sepasang sepatu hak hitam. Sepatu pinjaman Kak Dewi. Yang kutinggalkan di anak tangga darurat Hotel Grand Sudirman tadi malam. Seseorang sudah membersihkannya. Debu beton di ujungnya sudah hilang. Talinya sudah dirapikan.
Di antara kedua sepatu itu, ada secarik kertas sobekan buku tulis. Dilipat dua.
Aku membukanya di lobi apartemen, di depan satpam, dengan kardus berisi dua tahun kerjaku di kakiku.
Tulisan tangan miring. Terburu-buru. Lebih panjang dari biasanya.
Sepatumu.
Aku nggak naik. Kamu bilang jangan dulu.
Aku cuma mau kamu tau satu hal. Kamu boleh nggak percaya. Tapi aku mau kamu tau.
Dua tahun lalu, aku nggak tau itu kamu. Aku cuma liat “Rumah Pulang” di satu CV. Aku nggak baca namanya. Aku nggak pernah baca nama.
Kalau aku tau itu kamu, aku tetep bakal coret. Tapi bukan karena kamu Nomor 001. Karena kamu anak panti, dan nggak ada anak panti yang boleh berhenti hanya karena nggak ada yang nunjukin jalan.
Itu satu-satunya hal yang pernah aku lakuin buat kariermu. Satu kali. Sisanya kamu.
Aku tau itu nggak cukup buat kamu percaya. Kayak empat puluh tujuh nomor itu nggak langsung bikin aku percaya.
Jadi aku nggak minta kamu percaya.
Aku cuma nunggu.
— E
Aku membaca kertas itu tiga kali.
Lalu aku melipatnya dan memasukkannya ke saku kemeja kebesaran dari lemari donasi panti. Di samping kertas lain. Kertas sobekan buku tulis yang kusimpan sejak malam tumpeng di Warung Dodoy, yang tidak pernah lepas dari saku apa pun yang kupakai.
Mau jadi pacarku? Yang beneran. Yang nggak pakai kontrak. Yang tiap hari aku sisain separuh. — E.
Dua kertas. Dua tulisan tangan miring. Dua — E.
Aku mengangkat kardus. Menggantungkan kantong plastik berisi sepatu di pergelangan tangan. Lalu aku naik lift ke lantai enam, membuka pintu unit, menyalakan lampu, dan duduk di lantai ruang tamu dengan punggung bersandar di pintu.
Persis seperti malam dia bilang besok aku mau nembak kamu.
Aku mengeluarkan ponsel. Membuka percakapan dengan Hoodie 🩶.
Aku mengetik. Aku percaya. Hapus.
Aku mengetik. Aku resign. Hapus.
Aku mengetik. Aku nggak tau siapa aku sekarang. Hapus.
Aku menatap layar kosong itu sangat lama.
Lalu aku mematikan ponsel, meletakkannya tengkurap di lantai, dan memeluk lututku di dalam hoodie abu-abu yang dulu miliknya, yang sekarang milikku, yang sudah tidak wangi siapa pun lagi.
Selama tujuh tahun aku menulis surat terima kasih kepada orang yang tidak pernah membacanya.
Dan sekarang, setelah akhirnya dia membacanya, aku tidak tahu lagi untuk apa aku berterima kasih.
Untuk kuliahku.
Untuk pekerjaanku.
Atau untuk seluruh hidupku, yang ternyata, dari umur enam sampai dua puluh lima, selalu berdiri di atas sesuatu yang dia sisihkan diam-diam untukku.
- 1 Hoodie Abu-Abu dan Undangan yang Kubuang
- 2 Maaf Telat, Sayang
- 3 Pacarku, Katanya
- 4 Kontrak Tanpa Kertas
- 5 Kejutan dari Dodoy
- 6 Bubur Nggak Kuat Bonceng Dua Orang yang Saling Gengsi
- 7 Kantor Hampir Triliun Milik Orang Lain
- 8 Founder Misterius Nggak Pernah Nongol
- 9 Nomor 001
- 10 Nikahan Teman, Pacar Pura-Pura
- 11 Cium Pipi Itu Bukan Bagian Kontrak
- 12 Rumah Pulang
- 13 PIN Gerbang Rumah Sendiri
- 14 Porsche yang Akinya Soak
- 15 Utangku Belum Lunas
- 16 Bram Ngajak Bisnis
- 17 Surat yang Tidak Pernah Dikirim
- 18 Hoodie Ini Sekarang Punyaku
- 19 Pura-Puranya Udah Kedaluwarsa
- 20 Resmi, Tanpa Kontrak
- 21 Menginap karena Hujan, Katanya
- 22 Lampu yang Kumatikan Sendiri
- 23 Laporan Tahunan Beasiswa
- 24 Jadi Selama Ini, Kamu Tahu
- 25 Cara Membalas yang Salah
- 26 Dodoy Marah
- 27 Separuh Lauk
- 28 Aku yang Takut Menerima
- 29 Seri C Butuh Wajah
- 30 Founder: E.
- 31 Viral
- 32 Dia Naik Jabatan Karena Siapa? reading
- 33 Bram Bicara
- 34 Gantian
- 35 Bubur Pensiun?
- 36 Cicilan Pertama
- 37 Epilog: Rumah yang Akhirnya Ditinggali