Chapter Twenty Eight
Aku yang Takut Menerima
POV: Esa
Aku tidak pernah menceritakan ini kepada siapa pun.
Tidak kepada Dodoy. Tidak kepada Hendra. Bu Ratna tahu, karena Bu Ratna ada di sana. Tapi kami tidak pernah membicarakannya. Sejak hari itu, dua puluh tahun lalu, cerita itu tersimpan di suatu tempat di dalam dadaku, dikunci, seperti tujuh amplop di laci meja kerja yang tidak pernah kubuka.
Malam itu, di anak tangga teras kos Bu Darsih, dengan Pak Lurah mendengkur di pangkuanku dan Ayasha duduk di sebelahku dengan kotak merah muda dan mata basah, aku membuka kunci itu.
“Umur sembilan,” kataku, “aku diadopsi.”
Ayasha diam. Dia tidak bertanya. Dia hanya meletakkan kotak nasi gorengnya di anak tangga dan menatapku.
“Keluarga Wiryawan. Di Bintaro. Pak Wiryawan kerja di bank. Bu Wiryawan guru SD.” Aku menatap laron yang berputar di sekitar lampu neon teras. “Mereka udah sepuluh tahun nikah, belum punya anak. Dokter bilang nggak bisa. Jadi mereka dateng ke panti. Mereka liat semua anak. Mereka milih aku.”
“Kenapa kamu?”
“Kata Bu Ratna, karena aku yang paling pinter.” Aku tersenyum kecil. “Kata Bu Wiryawan, karena aku yang paling sopan. Aku nggak tau mana yang bener.”
Pak Lurah menggeliat di pangkuanku. Aku mengelus punggungnya.
“Rumahnya gede,” lanjutku. “Ada taman. Ada kolam ikan. Mereka kasih aku kamar sendiri. Kamar sendiri, Sha. Di panti aku tidur sama dua belas anak di satu kamar. Di sana, aku punya kamar sendiri dengan selimut biru dan lampu tidur bentuk bulan.”
Ayasha menahan napas.
“Mereka beliin aku sepatu baru. Sepatu sekolah hitam yang bisa nyala kalau dipake jalan. Mereka beliin aku tas ransel. Buku. Baju. Semuanya baru. Nggak ada yang bekas orang.” Aku diam sebentar. “Terus waktu ulang tahunku, tanggal lima Maret, mereka beliin aku sepeda.”
“Sepeda,” ulang Ayasha pelan.
“BMX. Merah. Ada stiker petir di rangkanya.” Aku masih bisa melihatnya. Dua puluh tahun kemudian, aku masih bisa melihat warna merahnya yang mengilap di bawah lampu garasi. “Aku belum pernah punya sepeda. Di panti cuma ada satu sepeda buat dua puluh anak, rantainya putus terus. Pak Wiryawan ngajarin aku naik sepeda di jalan depan rumah. Tiga hari. Aku jatuh tujuh kali. Lututku berdarah. Bu Wiryawan ngobatin pake obat merah sambil niupin lukaku.”
Aku berhenti.
Ayasha menunggu.
“Lima bulan,” kataku. “Aku tinggal di sana lima bulan.”
“Terus?”
“Terus Bu Wiryawan hamil.”
Ayasha menutup mulutnya dengan tangan.
“Dokter bilang mukjizat,” kataku. Suaraku tetap datar. Aku sudah melatih suara datar itu selama dua puluh tahun. “Sepuluh tahun nggak bisa, terus tiba-tiba bisa. Mereka seneng banget. Aku juga seneng. Aku pikir aku bakal punya adek.”
“Esa...”
“Tiga minggu kemudian, Pak Wiryawan nganter aku balik ke panti.”
Laron berjatuhan dari lampu neon. Satu jatuh di lenganku. Aku tidak menyingkirkannya.
“Dia bilang,” lanjutku, “’Esa, kamu anak baik. Kamu anak paling baik yang pernah kami kenal. Tapi sekarang kami punya anak sendiri. Kami nggak sanggup ngurus dua. Kamu ngerti, kan?’”
“Kamu ngerti?” bisik Ayasha.
“Aku bilang ngerti.” Aku tersenyum. Senyum yang tidak lucu. “Aku umur sembilan. Aku bilang ngerti. Aku nggak nangis. Aku bahkan bilang makasih.”
Ayasha menangis. Diam-diam. Air matanya jatuh ke kotak merah muda di sampingnya.
“Aku masuk ke mobil,” kataku. “Bawa tas ransel. Isinya baju-baju lama dari panti. Bukan baju baru. Bu Wiryawan bilang, baju baru itu buat adek nanti. Sepatu yang bisa nyala, ditinggal. Selimut biru, ditinggal. Lampu tidur bulan, ditinggal.”
Aku menatap telapak tanganku sendiri.
“Sepedanya juga ditinggal,” kataku. “Aku tanya, boleh nggak sepedanya kubawa. Pak Wiryawan bilang, ‘Itu kan punya rumah ini, Nak.’”
Pak Lurah berhenti mendengkur.
“Punya rumah ini,” ulangku. “Bukan punyaku. Hadiah ulang tahunku. Tapi punya rumah ini. Karena aku bukan bagian dari rumah itu lagi, jadi hadiahnya juga bukan punyaku lagi.”
Aku menatap Ayasha.
“Waktu itu aku belajar sesuatu,” kataku. “Semua yang dikasih ke kamu bisa diambil lagi. Bareng sama kamu. Kalau kamu nerima sesuatu dari orang, kamu jadi milik mereka. Dan kalau suatu hari mereka nggak butuh kamu lagi, mereka bakal ngembaliin kamu. Bareng sama semua yang pernah mereka kasih.”
Ayasha tidak bisa bicara. Dia menangis tanpa suara, dengan kedua tangan menutup mulut.
“Jadi aku berhenti nerima,” kataku. “Dari umur sembilan. Aku nggak mau punya apa-apa yang bisa diambil lagi. Aku mau jadi orang yang ngasih. Karena kalau kamu yang ngasih, nggak ada yang bisa ngembaliin kamu. Kamu yang pegang kendali. Kamu bisa pergi kapan aja.”
Aku menatap kotak biru di pangkuanku. Separuh nasi goreng. Separuh telur ceplok. Belum tersentuh.
“Waktu aku tau kamu Nomor 001,” kataku pelan, “aku nggak marah kamu bohong. Sumpah, Sha. Aku nggak marah.”
“Terus?”
“Aku takut.”
Ayasha menurunkan tangannya dari mulut.
“Kalau kamu di sini karena utang,” kataku, dan suaraku akhirnya pecah, setelah dua puluh tahun dilatih untuk tetap datar, “nanti kalau utangnya lunas, kamu pergi. Kayak Pak Wiryawan. Kamu bakal bilang, ‘Esa, kamu orang baik. Tapi sekarang aku udah bales semuanya. Kamu ngerti, kan?’”
Air mata jatuh dari mataku. Pertama kali dalam dua puluh tahun. Jatuh ke bulu Pak Lurah.
“Dan aku bakal bilang ngerti,” bisikku. “Aku bakal bilang makasih. Terus aku bakal pulang ke kos ini sendirian. Kayak umur sembilan.”
Ayasha tidak berkata apa-apa.
Dia bergeser. Pelan. Menyingkirkan kotak merah muda dari anak tangga. Mendekat sampai bahunya menempel di bahuku. Lalu dia mengangkat kedua lengannya dan memelukku. Dari samping. Kepalanya di bahuku. Lengannya melingkar di leherku.
Pak Lurah, yang terjepit di antara kami, mengeong protes, lalu memutuskan untuk tetap di sana.
Ayasha memelukku sangat lama.
Aku merasakan dia gemetar. Aku merasakan air matanya membasahi kaos oblongku di bagian bahu. Aku merasakan napasnya yang tersengal di leherku.
“Aku nggak bakal ngembaliin kamu,” bisiknya.
Aku tidak bisa menjawab.
“Aku nggak bakal ngembaliin kamu, Esa.” Suaranya lebih keras sekarang. Bergetar, tapi keras. “Sampai kapan pun. Mau utangnya lunas, mau nggak, mau kamu jadi pengangguran beneran, mau kamu jual Bubur, mau kamu nggak bisa goreng telur sampai umur delapan puluh. Aku nggak bakal ngembaliin kamu.”
Aku menutup mataku.
“Kamu nggak bisa janji kayak gitu,” kataku.
“Aku bisa.”
“Pak Wiryawan juga janji.”
“Aku bukan Pak Wiryawan.” Ayasha melepaskan pelukannya. Dia memegang wajahku dengan kedua tangan. Memaksaku menatapnya. Matanya merah, basah, dan sangat, sangat serius. “Kamu nanya aku waktu itu. Di tenda Cak Man. Aku sayang kamu atau aku ngerasa utang.”
“Kamu bilang ‘awalnya’.”
“Iya. Aku bilang awalnya.” Dia tidak berpaling. “Karena itu jujur. Awalnya aku dateng buat bales. Aku nggak mau bohong lagi soal itu.”
Aku menatapnya.
Dia melepaskan wajahku. Dia meraih tas tangannya yang tergeletak di anak tangga. Mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bersampul cokelat. Membukanya di halaman pertama.
Lalu dia menyodorkannya padaku.
KENAPA AKU SAYANG ESA.
1. Karena dia bayarin kuliahku. Dicoret.
2. Karena dia nyisain separuh telur buat aku tiap hari selama delapan tahun. Dicoret.
3. Karena dia gendong aku ke puskesmas. Dicoret.
4. Karena dia pakein aku jaket biru. Dicoret.
“Itu yang pertama kali keluar,” kata Ayasha pelan. “Aku nulis malem Senin, abis kamu pesenin aku ojek. Empat-empatnya keluar tanpa aku mikir. Dan empat-empatnya utang.”
Aku menatap empat baris yang dicoret itu.
“Kenapa kamu coret?”
“Karena itu bukan alasan aku sayang kamu,” katanya. “Itu alasan aku berutang sama kamu. Dan aku baru bisa bedain dua hal itu minggu ini. Gendis yang bantu.”
Dia membalik halaman.
Halaman kedua. Judul yang sama. Tulisan tangan yang sama, tapi lebih cepat, lebih miring, seperti orang yang menulis tanpa berhenti.
1. Karena telinganya merah dari bawah ke atas kayak termometer kalau dia malu.
2. Karena dia nggak bisa bohong. Udah nyoba berkali-kali dan kalah terus.
3. Karena dia nyetir Bubur dua puluh kilo per jam kalau aku bonceng.
Aku membaca.
7. Karena dia nggak bisa goreng telur. Dua puluh sembilan tahun. Cangkangnya ikut masuk.
10. Karena dia nanya “kamu yakin?” tiga kali. Tiga kali. Waktu semua orang lain cuma ngambil.
13. Karena dia nggak ngambil hoodie-nya balik. Bahkan waktu dia lagi patah.
Aku terus membaca. Halaman ketiga. Halaman keempat. Empat puluh tujuh nomor. Hal-hal kecil. Hal-hal bodoh. Cara aku mengunyah kerupuk. Cara aku menatap Bu Darsih dengan sabar. Cara aku memanggil Pak Lurah seperti memanggil orang.
31. Karena dia nyebut Pak Lurah “dia”, bukan “kucingnya”. Kayak Pak Lurah itu warga kos juga.
38. Karena dia nggak tau dia ganteng. Beneran nggak tau.
44. Karena waktu dia tidur, tangannya ngepal. Kayak anak kecil yang takut barangnya diambil. Aku buka kepalannya pelan-pelan. Dia nggak bangun. Tapi tangannya langsung pegang tanganku.
Aku berhenti di nomor empat puluh empat.
Aku tidak tahu itu. Aku tidak tahu aku tidur dengan tangan terkepal. Aku tidak tahu dia membuka kepalanku malam itu. Aku tidak tahu tanganku menggenggam tangannya dalam tidur.
47. Karena dia nyisain separuh rendang buat cewek asing yang ngaku pacarnya. Tanpa tau siapa cewek itu. Tanpa nanya. Tanpa ngitung.
Dia nggak inget aku. Dia nyisain buat aku karena itu emang dia.
Dan itu yang bikin aku jatuh cinta. Bukan yang dulu. Yang di reuni.
Aku menutup buku itu.
Tanganku gemetar.
“Nggak ada satu pun di situ yang utang,” kata Ayasha. “Empat puluh tujuh. Aku hitung. Nggak ada satu pun yang ada hubungannya sama beasiswa, sama separuh telur di panti, sama jaket biru. Semuanya tentang kamu. Yang sekarang. Yang aku temuin lagi di reuni.”
Dia menatapku.
“Aku sayang kamu dua kali, Esa,” katanya. “Sekali waktu umur enam. Itu terima kasih. Itu pemujaan. Itu anak kecil yang nganggep kamu pahlawan.”
Dia mengambil tanganku. Membuka kepalan tanganku yang ternyata, aku baru sadar, sedang terkepal di atas buku catatan.
“Sekali lagi waktu umur dua puluh lima,” katanya. “Di Warung Dodoy. Waktu kamu nyodorin kerupuk. Itu bukan terima kasih.”
Dia menyelipkan jari-jarinya di antara jari-jariku.
“Itu cinta,” katanya.
Aku menatap tangan kami yang bergandengan di atas buku catatan cokelat.
“Masalahnya,” lanjutnya pelan, “aku biarin yang pertama berdiri di depan yang kedua. Nutupin. Sampai kamu nggak bisa bedain. Sampai aku sendiri hampir nggak bisa bedain. Itu salahku. Bukan salahmu.”
Aku tidak bisa bicara.
“Aku nggak minta kamu percaya sekarang,” kata Ayasha. “Aku tau itu susah. Aku tau kamu umur sembilan pernah percaya, terus dibalikin. Aku cuma minta...”
Dia berhenti. Menelan ludah.
“Aku cuma minta kamu biarin aku nyisain separuh buat kamu,” katanya. “Tiap hari. Tanpa ngitung. Sampai kamu percaya.”
Aku menatapnya.
Perempuan dengan hoodie-ku, yang matanya bengkak karena menangis seminggu. Perempuan yang memasak tujuh malam berturut-turut dan meletakkan separuhnya di keset depan pintuku, lalu pergi tanpa mengetuk. Perempuan yang duduk di anak tangga teras dan makan lima sendok nasi goreng sendirian di depan pintu yang tertutup.
Perempuan yang bisa pergi kapan saja.
Dan memilih untuk tidak pergi.
“Aku butuh waktu,” kataku akhirnya. Suaraku serak. “Buat percaya.”
“Aku tau.”
“Mungkin lama.”
“Aku tunggu.” Ayasha tersenyum. Kecil. Basah. “Aku juga anak panti, Esa. Aku juga jago nunggu.”
Sesuatu di dadaku bergeser.
Bukan terbuka sepenuhnya. Belum. Tapi bergeser. Seperti kunci yang diputar setengah. Seperti pintu yang selama dua puluh tahun terkunci rapat, sekarang sedikit terbuka. Cukup untuk ada cahaya yang masuk.
“Sha,” kataku.
“Hm?”
“Boleh peluk?”
Ayasha menatapku. Lalu wajahnya runtuh. Bukan sedih. Lega. Lega yang sangat besar sampai seluruh wajahnya tidak bisa menahannya.
“Kamu,” katanya, tersedak tawa dan tangis sekaligus, “nanya?”
“Iya.”
“Kamu nanya boleh peluk aku?”
“Iya.”
“Dua puluh sembilan tahun, kamu nggak pernah nanya boleh apa-apa ke siapa-siapa.”
“Aku lagi belajar.”
Ayasha tidak menjawab. Dia hanya menjatuhkan dirinya ke dadaku. Menindih Pak Lurah, yang langsung meloncat kabur dengan ngeongan marah. Lengannya melingkar di leherku. Wajahnya di leherku. Dia menangis di sana, keras, tanpa menahan apa pun.
Aku memeluknya.
Lama.
Di teras kos Bu Darsih, di bawah lampu neon yang dikerubungi laron, di antara dua kotak plastik berisi separuh nasi goreng dan separuh telur ceplok.
Dari balik tirai jendela rumah induk, aku mendengar Bu Darsih membuang ingus. Keras sekali.
Kami makan bersama setelah itu.
Separuh nasi goreng di kotak biru, punyaku. Separuh nasi goreng di kotak merah muda, punya Ayasha. Separuh martabak telur dingin di piring kecil hijau Pak Lurah. Kami duduk berdempetan di anak tangga teras dan saling menyuapi lagi, seperti malam hujan itu. Separuh dari separuh.
Pak Lurah duduk di anak tangga paling bawah, menatap kami dengan wajah orang yang dikhianati, karena tidak ada satu pun dari kami yang menyisakan apa pun untuknya.
“Pak Lurah lagi diet,” kataku padanya.
Pak Lurah memalingkan wajah.
Bu Darsih keluar membawa dua gelas teh manis panas lagi dan sepiring pisang goreng. Dia meletakkannya di kursi plastik, menatap kami berdua, lalu menatap langit.
“Ya Allah,” katanya pelan. “Ibu udah tua. Jantung Ibu nggak kuat liat drama Korea live kayak gini tiap malem.”
“Maaf, Bu,” kata Ayasha.
“Nggak usah minta maaf.” Bu Darsih menyeka matanya dengan ujung daster. “Bayar kos aja tanggal satu. Dua-duanya.”
“Saya nggak ngekos di sini, Bu.”
“Sebentar lagi juga ngekos,” gumam Bu Darsih sambil berjalan masuk. “Kamar sebelah Esa kosong. Ibu kasih diskon.”
Jam sepuluh kurang lima, aku mengantar Ayasha sampai pagar.
Ojek online-nya belum datang. Kami berdiri di samping Bubur, di bawah lampu jalan gang yang berkedip.
Dia memegang buku catatan cokelat di dadanya. Hoodie abu-abuku masih di tubuhnya. Matanya masih bengkak. Tapi wajahnya sudah berbeda dari seminggu lalu di tenda Cak Man.
Wajahku juga, mungkin.
“Sha,” kataku.
“Hm?”
Aku menatapnya.
Masih ada satu hal lagi. Satu hal besar. Dia sudah membuka semua kartunya malam ini. Panti, beasiswa, empat puluh tujuh nomor, dua kali jatuh cinta. Dan aku masih menyimpan satu.
Bekal.
Kantornya. Kalimat yang membuatnya melamar. Halaman empat deck investor. Program bantuan finansial yang membuat Bram menangis. Pak E yang dia ingin ucapkan terima kasih. Launching dua minggu lagi.
Semua itu aku.
Kalau aku tidak memberitahunya sekarang, dia akan tahu dengan cara lain. Dan setelah malam ini, setelah empat puluh tujuh nomor dan aku nggak bakal ngembaliin kamu, aku tidak bisa membiarkannya tahu dengan cara lain.
“Ada satu lagi,” kataku.
Ayasha menatapku.
“Satu hal yang belum aku bilang,” lanjutku. “Soal aku. Yang kamu juga harus tau.”
Ayasha diam sebentar. Lalu dia mengulurkan tangan dan menempelkan telunjuknya di bibirku.
“Satu-satu dulu,” katanya pelan.
“Sha, ini penting...”
“Aku tau.” Dia tersenyum. Lelah. Lembut. “Tapi malam ini kamu udah cerita soal Pak Wiryawan. Soal sepeda merah. Soal umur sembilan. Itu udah banyak banget, Esa. Aku liat mukamu waktu cerita. Kamu kayak orang yang abis lari maraton.”
Aku membuka mulut. Dia menekan telunjuknya lebih kuat.
“Malam ini cukup satu,” katanya. “Besok-besok, kalau kamu udah siap, cerita lagi. Aku nggak ke mana-mana. Inget?”
Aku menatapnya.
Dia sedang melindungiku. Dengan cara yang sama seperti aku dulu melindunginya dengan tidak memberitahu siapa aku. Dengan kebaikan. Dengan menunda.
Dan aku, setelah dua puluh tahun tidak pernah menerima apa pun, menerimanya.
“Oke,” kataku di balik telunjuknya. “Habis launching kantormu.”
Ayasha menurunkan telunjuknya. Mengerutkan kening.
“Kenapa habis launching kantorku?”
“Biar kamu tenang dulu. Kamu kan mau ketemu founder-mu. Mau bilang makasih.” Aku tersenyum kecil. “Selesain itu dulu. Habis itu aku cerita.”
Ayasha menatapku. Lama. Lalu tertawa pelan.
“Kamu peduli banget sama aku ketemu founder-ku,” katanya.
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku tidak menjawab.
Ojek online berhenti di depan pagar. Ayasha memakai helm. Naik ke jok belakang. Lalu dia menoleh, mengangkat kaca helm, dan berkata:
“Esa. Selamat malam, Sayang.”
Untuk pertama kalinya dalam seminggu.
“Selamat malam,” kataku.
Ojek melaju. Lampu belakangnya mengecil di ujung gang.
Aku berdiri di depan pagar sampai lampu itu hilang.
Lalu ponselku bergetar.
Hendra Kusuma: Pak E. Maaf malem-malem. Mr. Lim konfirmasi. Launching dua minggu lagi, Sabtu, ballroom Hotel Grand Sudirman. Bapak naik panggung jam 8 malem. Saya udah siapin pidato draft. Tolong review.
Hendra Kusuma: Satu lagi Pak. Mr. Lim minta Brand Manager kita yang jadi pembawa acara pembuka. Karena kampanyenya. Saya udah konfirmasi ke Kak Dewi.
Hendra Kusuma: Pak. Dia bakal di panggung. Waktu Bapak naik.
Hendra Kusuma: Pak, Bapak harus bilang ke dia sebelum itu. Saya mohon.
Aku menatap pesan-pesan itu di bawah lampu jalan yang berkedip.
Habis launching kantormu.
Aku baru saja berjanji untuk menunda.
Dan dia baru saja berterima kasih karena aku mau menunda.
Aku mengetik balasan ke Hendra. Lalu menghapusnya. Lalu mengetik lagi.
Aku: Iya. Sebelum itu. Aku bilang.
Aku menyimpan ponsel ke saku dan menatap gang yang sekarang kosong.
Ada sesuatu yang jatuh ke dadaku. Berat. Keras. Seperti batu.
Aku tidak tahu, malam itu, bahwa Ayasha sudah membawa tiga batu seperti itu selama berminggu-minggu. Aku baru membawa satu, dan rasanya sudah sulit bernapas.
- 1 Hoodie Abu-Abu dan Undangan yang Kubuang
- 2 Maaf Telat, Sayang
- 3 Pacarku, Katanya
- 4 Kontrak Tanpa Kertas
- 5 Kejutan dari Dodoy
- 6 Bubur Nggak Kuat Bonceng Dua Orang yang Saling Gengsi
- 7 Kantor Hampir Triliun Milik Orang Lain
- 8 Founder Misterius Nggak Pernah Nongol
- 9 Nomor 001
- 10 Nikahan Teman, Pacar Pura-Pura
- 11 Cium Pipi Itu Bukan Bagian Kontrak
- 12 Rumah Pulang
- 13 PIN Gerbang Rumah Sendiri
- 14 Porsche yang Akinya Soak
- 15 Utangku Belum Lunas
- 16 Bram Ngajak Bisnis
- 17 Surat yang Tidak Pernah Dikirim
- 18 Hoodie Ini Sekarang Punyaku
- 19 Pura-Puranya Udah Kedaluwarsa
- 20 Resmi, Tanpa Kontrak
- 21 Menginap karena Hujan, Katanya
- 22 Lampu yang Kumatikan Sendiri
- 23 Laporan Tahunan Beasiswa
- 24 Jadi Selama Ini, Kamu Tahu
- 25 Cara Membalas yang Salah
- 26 Dodoy Marah
- 27 Separuh Lauk
- 28 Aku yang Takut Menerima reading
- 29 Seri C Butuh Wajah
- 30 Founder: E.
- 31 Viral
- 32 Dia Naik Jabatan Karena Siapa?
- 33 Bram Bicara
- 34 Gantian
- 35 Bubur Pensiun?
- 36 Cicilan Pertama
- 37 Epilog: Rumah yang Akhirnya Ditinggali