← Pacarku Pakai Hoodie

Chapter Thirteen

PIN Gerbang Rumah Sendiri

POV: Esa


Pesan dari Pak Ujang masuk hari Jumat siang, waktu aku sedang menambal celah keamanan di sistem pembayaran klien Belanda.

Pak Ujang: Mas. Maaf ganggu. Orang PLN mau dateng besok jam 1 siang buat ganti meteran. Katanya yang punya rumah harus ada, tanda tangan. Saya udah bilang saya yang jaga, katanya nggak bisa. Harus yang namanya di sertifikat.

Pak Ujang: Terus paket dokumen dari Bu Ratna udah saya taruh di meja kerja Mas. Tebel. Ada surat-surat juga.

Pak Ujang: Terus Porsche-nya Mas. Akinya udah nggak mau nyala sama sekali. Saya dorong-dorong tiap Minggu juga nggak mau.

Pak Ujang: Mas masih hidup kan?

Aku membalas: Besok saya ke sana, Pak. Jam satu.

Pak Ujang: Alhamdulillah. Saya masak apa Mas?

Aku: Nggak usah, Pak. Cuma sebentar.

Pak Ujang: Saya masak opor ya Mas. Udah dua tahun saya nggak masakin orang.

Aku menatap pesan terakhir itu lama. Lalu mengetik: Iya, Pak. Opor.

Masalahnya, besok Sabtu, dan Sabtu sudah kujanjikan untuk Ayasha.

Kami punya rencana: makan siang di Blok M, lalu dia ingin mencari sepatu kets baru, lalu kami mungkin ke kafe di dekat Taman Literasi kalau tidak hujan. Rencana itu dia susun sendiri, dalam bentuk daftar berpoin yang dikirim ke WhatsApp dengan judul JADWAL KENCAN PURA-PURA #4 (TAPI SERIUS).

Aku mengetik pesan, menghapusnya, mengetik lagi.

Aku: Besok aku harus mampir sebentar ke Pondok Indah. Jam satu. Ada kerjaan.

Pacar (Kontrak): Kerjaan apa?

Aku: Cek rumah klien. Benerin wifi sama CCTV. Sebentar.

Centang dua. Biru. Tiga titik muncul, hilang, muncul lagi.

Pacar (Kontrak): Aku ikut.

Aku: Nggak seru. Cuma rumah.

Pacar (Kontrak): Aku pengin liat kamu kerja. Lagi.

Pacar (Kontrak): Terakhir aku liat kamu kerja, aku dapet tempe gratis sama nyaris dibully anak-anak panti. Seru banget.

Aku: Itu bukan nyaris. Kamu beneran dibully.

Pacar (Kontrak): Jemput jam 12. Aku pakai sandal jepitmu.


Dia benar-benar memakai sandal jepitku.

Sandal jepit hijau neon kebesaran tiga nomor, dipadukan dengan rok midi putih bermotif bunga-bunga kecil, kaos tanpa lengan warna krem, dan rambut digerai yang tertiup angin begitu dia naik ke Bubur. Kakinya terlihat seperti kaki anak kecil yang mencuri sandal bapaknya. Tapi kalau melihat dari pinggang ke atas, dia terlihat seperti orang yang mau difoto untuk sampul majalah.

“Kamu pakai rok naik motor,” kataku.

“Iya.”

“Nanti terbang.”

“Makanya aku duduk nyamping.” Dia naik ke jok belakang dengan posisi menyamping, kedua kaki di satu sisi, seperti ibu-ibu kondangan. Lalu kedua tangannya melingkar di pinggangku, lebih erat dari biasanya, karena posisi nyamping lebih tidak stabil. “Dan pegangan lebih kenceng.”

“Itu bukan alasan.”

“Itu alasan keselamatan. Pasal lima.”

Aku tidak membantah lagi. Aku sudah membaca ulang pasal lima di kepalaku sepanjang minggu ini. Pasal itu memang menulis memeluk di atas motor demi keselamatan. Aku sendiri yang menulisnya. Aku sendiri yang memberinya senjata.


Rumah di Pondok Indah itu terletak di jalan yang lebar dan sepi, dengan pohon-pohon trembesi yang daunnya menutupi langit dan pagar-pagar tinggi yang menyembunyikan rumah-rumah di baliknya. Rumahku ada di ujung jalan. Pagar besi hitam setinggi dua setengah meter. Gerbang otomatis. Panel kunci digital di tiang kanan, dengan layar kecil dan sembilan tombol angka.

Aku memarkir Bubur di depan gerbang.

Ayasha turun, membetulkan roknya, lalu mendongak menatap pagar itu. Lalu menatap pohon kamboja putih di balik pagar. Lalu menatap atap rumah yang terlihat di balik pohon kamboja, atap genteng abu-abu dengan dua jendela loteng.

“Klienmu kaya,” katanya.

“Lumayan.”

“Lumayan?” Dia menunjuk dua kamera CCTV di atas pagar. “Itu kamera beneran, ya? Bukan yang palsu yang cuma ada lampu merahnya?”

“Beneran.”

“Klienmu kerja apa?”

“Nggak tau. Aku cuma tukang benerin wifi.”

“Kamu nggak tau klienmu kerja apa?”

“Aku nggak suka ribet.”

Ayasha menatapku dengan wajah yang sangat, sangat datar. Lalu dia tersenyum. Senyum yang dimulai dari sudut kiri dan tidak pernah sampai ke matanya, karena matanya sedang sibuk menahan tawa.

“Oke,” katanya. “Tukang wifi.”

Aku berjalan ke panel kunci digital. Aku menatap sembilan tombol angka itu.

Lalu aku sadar.

Aku masih tidak ingat PIN-nya.


Percobaan pertama: 1708.

Tujuh belas Agustus. Aku memilih tanggal penting, kan? Tidak ada yang lebih penting dari hari kemerdekaan.

Layar berkedip merah. PIN SALAH. 2 PERCOBAAN TERSISA.

Ayasha, yang berdiri di belakangku, berdeham pelan.

“Klienmu nggak ngasih PIN-nya?”

“Ngasih.”

“Terus?”

“Aku lupa.”

“Kamu lupa PIN rumah klien?”

“Aku lupa banyak hal.”

Percobaan kedua: 0503. Tanggal lahir di akta kelahiran buatan panti. Lima Maret. Tanggal yang dipilih Bu Ratna karena di hari itu aku ditemukan di depan pagar panti, dibungkus selimut biru, menangis keras sekali.

Layar berkedip merah. PIN SALAH. 1 PERCOBAAN TERSISA. GERBANG AKAN TERKUNCI 30 MENIT SETELAH PERCOBAAN BERIKUTNYA GAGAL.

Aku menatap layar itu. Keringat mulai menetes di pelipisku. Bukan karena panas. Karena di dalam rumah ini ada Pak Ujang yang sedang memasak opor untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ada petugas PLN yang akan datang dalam lima belas menit, dan aku, yang namanya tercantum di sertifikat, tidak bisa masuk ke rumahku sendiri.

Aku bisa menelepon Pak Ujang. Pak Ujang bisa membukakan pintu samping. Tapi kalau Pak Ujang keluar, dia akan menyapaku dengan cara Pak Ujang menyapaku, di depan Ayasha.

“Mau aku coba?” tanya Ayasha.

Aku menoleh. “Kamu nggak tau PIN-nya.”

“Siapa tau keberuntunganku bagus.” Dia melangkah maju, menyelinap di antara aku dan panel kunci. Rambutnya menyapu daguku. “Satu kali. Kalau gagal, kita tunggu tiga puluh menit sambil makan es dawet di pinggir jalan.”

“Sha, itu percobaan terakhir.”

“Aku tau.”

Dia mengangkat jari telunjuknya ke tombol angka. Lalu berhenti sebentar. Sangat sebentar, kurang dari satu detik.

Lalu dia mengetik.

0.

1.

0.

7.

Bunyi bip pendek. Layar berkedip hijau.

Gerbang besi hitam setinggi dua setengah meter itu bergeser ke samping dengan dengung halus.

Aku menatap gerbang yang terbuka. Lalu menatap Ayasha.

Dia menoleh padaku dengan wajah polos sempurna.

“Wah,” katanya. “Beruntung.”

“...Kok bisa?”

“Asal tebak.”

“Asal tebak? Ada sepuluh ribu kombinasi.”

“Terus?”

“Peluangnya nol koma nol satu persen.”

“Berarti aku beruntung banget.” Dia mengangkat bahu. “Mungkin aku jodoh sama rumah ini.”

“Kenapa nol satu nol tujuh?”

Ayasha diam satu detik. Lalu dua detik.

“Satu Juli,” katanya. “Ulang tahun kucingku.”

“Kamu punya kucing?”

“Punya. Dulu. Namanya...” Dia berhenti sebentar. “Kerupuk.”

“Kerupuk.”

“Iya. Kucing oranye. Gendut. Mirip Pak Lurah. Lahirnya satu Juli.” Dia menatapku dengan mata lebar dan bulu mata panjang yang berkedip pelan. “Kenapa? Nggak percaya?”

Aku menatapnya.

Satu Juli.

Aku memilih tanggal itu sebagai PIN dua tahun lalu. Aku ingat sekarang, samar-samar, seperti mimpi yang sisanya tinggal sedikit di pagi hari. Aku memilih tanggal penting. Tanggal yang berarti. Tapi kenapa satu Juli berarti untukku? Aku tidak ingat. Rasanya seperti ada jawabannya di ujung lidah, tapi setiap kali aku mencoba meraihnya, jawabannya meleset.

Dan sekarang perempuan di depanku mengetiknya dengan satu jari, setelah jeda kurang dari satu detik, lalu bilang itu ulang tahun kucingnya yang bernama Kerupuk.

Dia sedang berbohong. Aku tahu dia sedang berbohong. Bibirnya sedikit terlalu kaku waktu menyebut Kerupuk. Matanya berkedip satu kali lebih banyak dari biasanya.

Tapi aku tidak tahu kenapa dia berbohong. Dan aku tidak tahu kenapa dia tahu angkanya.

Jadi aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan sebelumnya.

Aku melangkah maju. Mendekat sampai dia harus mundur satu langkah dan punggungnya menyentuh tiang pagar. Aku mengangkat satu tangan dan menumpukannya di tiang, di samping kepalanya. Aku menunduk sedikit, sampai wajahku sejajar dengan wajahnya.

Ayasha berhenti bernapas. Matanya membesar.

“Sha,” kataku pelan.

“...Hm?”

“Kamu cantik banget kalau lagi bohong.”

Hening.

Untuk pertama kalinya sejak malam reuni, aku melihat Ayasha Pramesti kehilangan kata-kata sepenuhnya. Bukan pura-pura. Bukan menahan tawa. Benar-benar kehilangan. Pipinya memerah dari tulang pipi sampai ke telinga, cepat sekali, seperti tinta tumpah di kertas tisu. Bibirnya terbuka sedikit. Tangannya, yang tadi santai di sisi tubuhnya, sekarang mencengkeram rok bunga-bunganya.

“Aku nggak bohong,” katanya akhirnya. Suaranya kecil sekali.

“Telingamu merah.”

“Panas.”

“Pondok Indah adem. Banyak pohon.”

“Panas di hati.”

“Itu alasan Ucup.”

Dia memukul dadaku. Pelan. Tidak berniat menyakiti. Tangannya tetap di sana setelah memukul, telapak terbuka, menempel di dadaku di atas hoodie.

“Kamu,” katanya, mendongak, matanya berkilat antara kesal dan sesuatu yang lain, “nggak boleh kayak gini.”

“Kayak gimana?”

“Tiba-tiba ngegombal. Itu kerjaanku.”

“Aku belajar dari kamu.”

“Kamu belajarnya kecepetan.”

“Aku juara olimpiade. Aku cepet belajar.”

Ayasha menatapku dari jarak sejengkal. Tangannya di dadaku. Jantungku pasti terasa di telapak tangannya. Dia pasti tahu persis seberapa cepat jantungku berdetak.

“Esa,” bisiknya.

“Hm?”

“Jantungmu.”

“Kenapa jantungku?”

“Kenceng banget.”

“Aku tau.”

“Karena aku?”

Aku tidak menjawab. Aku tidak perlu menjawab. Dia sudah tahu jawabannya. Telapak tangannya sudah memberitahunya.

Matanya turun ke bibirku. Lalu naik lagi. Lalu turun lagi.

“Kamu tau nggak,” bisiknya, “kalau sekarang kamu nunduk dua senti lagi...”

“LHO, MAS ESA MASIH HIDUP?”

Kami berdua terlonjak.

Pak Ujang berdiri di ambang gerbang yang terbuka, memakai celemek bergambar sapi, membawa sendok sayur, dengan wajah berseri-seri seperti orang yang baru melihat keponakan pulang dari rantau. Badannya kurus, kulitnya gelap terbakar matahari, dan kumisnya tebal seperti sikat sepatu.

Aku melepaskan tanganku dari tiang pagar dan mundur dua langkah.

“Pak,” kataku. “Kita nggak saling kenal.”

Pak Ujang berhenti tersenyum. Matanya bergerak dari wajahku, ke Ayasha yang masih bersandar di tiang dengan pipi merah, lalu kembali ke wajahku. Aku menatapnya dengan pandangan paling memohon yang bisa kubuat.

Pak Ujang mengedip dua kali.

“...Siap,” katanya pelan. “Nggak kenal.”

“Saya tukang wifi.”

“Siap. Tukang wifi.” Pak Ujang mengangguk dengan serius. “Saya... satpam komplek. Kebetulan lewat. Ngecek gerbang. Gerbangnya kebuka, saya kira maling.”

“Bawa sendok sayur, Pak?” tanya Ayasha dengan manis.

Pak Ujang menatap sendok sayur di tangannya. Lalu menatap celemek bergambar sapi.

“Satpam komplek,” ulangnya pelan, “juga harus bisa masak, Mbak. Untuk... jaga-jaga.”

“Jaga-jaga apa, Pak?”

“Jaga-jaga kalau ada yang lapar.”

Ayasha menutup mulutnya dengan dua tangan. Bahunya bergetar hebat.

Pak Ujang menatapku. Aku menatap Pak Ujang. Di antara kami lewat seluruh dua tahun opor yang tidak pernah dimasak, Porsche yang dipanaskan setiap Minggu, dan pesan-pesan Mas masih hidup kan? yang kubalas dengan satu kalimat.

“Masuk, Mas Tukang Wifi,” katanya akhirnya, dengan nada yang sangat sopan. “PLN udah nunggu. Yang punya rumah... nitip tanda tangan ke Mas, katanya. Mas yang tanda tangan aja. Nggak apa-apa. Saya saksinya.”

“Makasih, Pak.”

“Sama-sama, Mas yang Saya Nggak Kenal.”

Dia berbalik dan berjalan masuk, sendok sayur diangkat tinggi seperti tongkat komando.

Ayasha menurunkan tangannya dari mulut. Matanya basah karena menahan tawa terlalu lama.

“Satpam komplek kalian,” katanya pelan, “multitalenta banget.”

“Komplek mahal.”

“Iya.” Dia melangkah melewatiku, masuk ke halaman, sandal jepit hijau neonnya berbunyi plak plak plak di jalan setapak batu. Lalu dia berhenti dan menoleh dari balik bahunya. “Tukang wifi.”

“Hm?”

“Dua senti tadi,” katanya, “aku catet. Kamu utang dua senti.”

Lalu dia masuk ke rumah. Rumahku. Yang PIN-nya dia ketik dengan satu jari tanpa ragu.

Aku berdiri di depan gerbang, menatap panel kunci yang layarnya sudah kembali gelap.

0107.

Satu Juli.

Kucing bernama Kerupuk.

Aku mengeluarkan ponsel, membuka catatan, dan mengetik satu baris:

Cari tau: kenapa 0107.

Lalu aku menyimpannya, dan masuk ke rumahku sendiri seperti tamu.